It’s My Life


Meningkatkan Minat Baca, Optimalkan Peran Perpustakaan, Jadikan Kebutuhan
Juli 26, 2008, 10:52 pm
Filed under: Umum

Rendahnya tingkat kunjungan ke perpustakaan tentu karena berbagai sebab. Tapi, itu bukan menjadi alasan untuk tidak melakukan suatu tindakan agar perpustakaan menjadi sebuah kebutuhan bagi masyarakat.

Apa yang harus dilakukan?

Ibarat sebuah produk, perpustakaan adalah produk yang harus dijual. Untuk menjualnya, tentu perpustakaan harus memiliki brand tersendiri. Orang acapkali bertimbang pada faktor brand. Seperti ketika memilih sebungkus sabun cuci, merek apa yang akan Anda beli? Begitu juga dengan perpustakaan. Ada indikator nilai dari sebuah brand yang menyebabkan seseorang memilihnya.

Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2002), perpustakaan bermakna tempat, gedung, ruang yang disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan koleksi buku dsb., atau koleksi buku, majalah, bahan kepustakaan lainnya yang disimpan untuk dibaca, dipelajari, dibicarakan. Namun, jika meminjam makna yang diberikan The American Library Association (1970), perpustakaan adalah pusat media, pusat belajar, pusat sumber pendidikan, pusat informasi, pusat dokumentasi dan pusat rujukan.

Pertanyaannya, makna mana yang akan dipakai? Sebuah gedung yang disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan koleksi buku dsb. atau pusat berbagai macam informasi dan pendidikan? Pemilihan ini tentu tergantung pada tujuan didirikannya sebuah perpustakaan. Jika tujuan yang diharapkan adalah pemanfaatan perpustakaan yang optimal, saya yakin, kita harus memilih makna yang dibeberkan The American Library Association.

Yang kedua, kenali siapa calon pengguna perpustakaan tersebut. Kalangan bawah, menengah, atau atas? Laki-laki atau perempuan? Berapa usia mereka? Apa pendidikan mereka? Segmentasi pasar ini penting untuk penyediaan produk yang tepat.

Perpustakaan harus berusaha mengakomodir semua kepentingan pengguna. Hampir dapat dipastikan, seluruh kalangan masyarakat tanpa kecuali, dapat menggunakan jasa layanan di perpustakaan. Tapi yang menjadi pertanyaan, apa kebutuhan mereka datang ke perpustakaan? Orangtua yang mengantarkan anak-anak atau balita mereka? Mahasiswa atau pekerja kantor? Tentu, kebutuhan mereka berbeda-beda. Minat mereka juga pasti tak sama.

Hal inilah yang harus diperhatikan oleh perpustakaan. Jenis bacaan yang disediakan haruslah beragam dan up to date. Minat ibu-ibu dan bapak-bapak pasti berbeda. Karena kebanyakan tugas domestik dalam rumah tangga diurus oleh ibu, bisa jadi minat mereka terhadap bacaan yang berisi kumpulan resep masakan lebih tinggi dibandingkan bapak-bapak. Agar kelompok ibu-ibu itu mau datang ke perpustakaan, tentu kebutuhan mereka harus disediakan.

Yang menjadi masalah, kerapkali ibu-ibu tak bisa meninggalkan anak-anaknya (terutama balita) sendirian di rumah, apalagi hanya untuk ke perpustakaan. Karena itu, jenis bacaan yang disukai anak-anak pun harus tersedia agar mereka bisa mengajak anaknya ke perpustakaan. Komik, cerita rakyat, dongeng, dsb. harus tersedia secara lengkap dan jangan sampai kalah dengan koleksi toko buku.

Begitu juga dengan pekerja kantor. Mereka pasti memerlukan berbagai macam buku tentang manajemen, pemberdayaan diri, motivasi, dll. untuk pengembangan diri dan karir mereka. Berbeda dengan mahasiswa yang mungkin lebih banyak membutuhkan literatur untuk menunjang pendidikan yang ditempuhnya.

Sekali lagi, perpustakaan haruslah menyediakan berbagai jenis bahan bacaan, yang disesuaikan dengan target market dan up to date. Seringkali ditemukan adanya perpustakaan yang minim jenis dan jumlah bahan bacaan, dan yang paling parah: hanya menyediakan bahan bacaan masa lampau! Jika kondisinya seperti itu, mungkin lebih baik mereka duduk berjam-jam di toko buku yang menyediakan buku contoh yang bisa dibaca di tempat.

Selain itu, perpustakaan juga harus menyediakan berbagai fasilitas multimedia. Internet harus menjadi salah satu fasilitas utama karena mulai dirasakan manfaatnya oleh sebagian masyarakat. Bagi masyarakat yang tidak bisa menggunakan internet, jaringan komputer di perpustakaan bisa menjadi salah satu tempat mereka berlatih. Agar lebih mudah, perpustakaan harus dilengkapi dengan hot spot. Jika ada pengguna perpustakaan yang membawa laptop, personal digital assistant atau communicator, mereka bisa mengakses internet dengan perlengkapan mereka. Tentu saja, perpustakaan juga harus melengkapi diri dengan perangkat komputer yang bisa digunakan bagi siapa saja yang datang ke sana. Tapi jangan hanya satu atau dua komputer, layaknya sebuah syarat keberadaan.

Untuk mengembangkan pendidikan, perpustakaan juga wajib menyediakan sarana audio visual. Misalnya, kaset dan video/digital compat disc untuk belajar listening dalam bahasa Inggris. Hal ini membantu siswa yang tak mampu mengikuti les bahasa Inggris dengan biaya yang relatif tinggi. Tak hanya itu, perpustakaan juga bisa menyediakan berbagai macam rekaman pementasan teater. Dengan dokumentasi itu, kelompok-kelompok teater bisa belajar tentang sebuah pementasan seperti totalitas akting dan penyutradaraan.

Saat ini, lembaga yang menyediakan sarana belajar praktikum sangat minim (atau boleh dibilang malah tak ada). Perpustakaan bisa mengambil alih peran tersebut seperti menciptakan laboratorium ‘kering’. Contohnya, sarana belajar tentang gravitasi berupa permainan.

Jika masalah itu sudah teratasi, yang harus dipikirkan adalah penempatan bahan bacaan. Ibu-ibu yang datang bersama anak balitanya tentu tak akan merasa nyaman membaca di ruang yang berjauhan. Apalagi sampai berbeda lantai. Anak-anak juga tak akan merasa nyaman jika tempat duduk yang disediakan untuk mereka seperti bangku sekolah umumnya.

Bagi orang dewasa yang membaca bahan bacaan yang bersifat hiburan, tentu tak akan menikmati bacaan tersebut jika duduk seperti di kursi kantor. Mereka akan datang ke perpustakaan, tapi tidak akan kembali lagi. Anak-anak, remaja, atau orang dewasa, laki-laki atau perempuan, siswa SD, mahasiswa, ibu rumah tangga, sopir angkot, pekerja kantor, direktur, semuanya memerlukan kenyamanan. Karena itu, sarana dan prasarana yang tersedia haruslah diciptakan senyaman mungkin bagi pengguna perpustakaan.

Lihat saja, di berbagai kota besar, termasuk Denpasar, berbagai macam kafe disulap layaknya sebuah rumah. Contoh saja Bali Bakery Café di Kuta. Pengelola kafe menyiapkan berbagai model kursi yang diperuntukkan bagi pengunjung. Jika akan bernegosiasi dengan klien, mereka akan menggunakan kursi yang lebih formal, sedangkan ketika bersantai dengan keluarga, mereka akan memilih sofa. Jika diformat lesehan, jangan lupa siapkan bantal duduk dengan beberapa ukuran. Suasana semacam itu harus bisa dihadirkan di sebuah perpustakaan.

Orang juga tak suka ruwet. Mereka memerlukan kemudahan. Bagaimana dengan sistem katalog bagi pengguna perpustakaan? Mereka memerlukan informasi yang cepat. Oleh sebab itu, dukungan teknologi diperlukan perpustakaan. Sistem katalog wajib berbasis komputer. Dengan satu kali klik kata kunci (misalnya berdasarkan nama pengarang, judul buku atau penerbit), mereka bisa menemukan rak yang tepat di mana bahan bacaan yang mereka inginkan diletakkan. Dengan kata kunci, pengunjung juga bisa membaca sinopsis sebuah buku. Kalau mereka tak menemukan buku yang diinginkan, buku lain yang sejenis bisa jadi penggantinya.

Petugas pelayanan juga berperan penting. Pelayanan yang berbelit-belit dan sangat birokratis seharusnya dihindari. Berempatilah kepada pengguna layanan perpustakaan. Sekali lagi, semua orang memerlukan kemudahan dan itulah yang harus diberikan petugas perpustakaan! Servis yang baik kepada pengguna perpustakaan adalah salah satu upaya promosi yang paling bagus. Pasalnya, orang tentu terkesan dengan servis yang baik. Tanpa diminta, mereka akan mempromosikannya dari mulut ke mulut dan ini sangat efektif.

Juga hindari kekurangtahuan petugas perpustakaan terhadap jasa yang mereka tawarkan. Petugas perpustakaan harus profesional. Kalau ternyata petugas inpassing menjadi kendala, tutup masalah dengan memberikan pelatihan dan pendidikan yang tepat bagi mereka. Jika mereka tak mau melayani dengan baik, jangan biarkan mereka bekerja sebagai petugas perpustakaan. Membentuk sebuah relasi yang baik dengan pengguna perpustakaan juga ide bagus. Ajaklah mereka dalam suatu kegiatan bersama yang diadakan pengelola perpustakaan. Lakukan secara kontinyu, karena sebuah hubungan yang erat harus dilakukan secara berkesinambungan.

Promosi (selain berkat promosi dari mulut ke mulut karena produk dan servis yang bagus dari sebuah perpustakaan) juga perlu dilakukan. Sekarang ini, perpustakaan sepertinya kalah pamor dibandingkan tempat rental play station, mal, bahkan lebih minim peminat ketimbang tempat penyewaan buku atau rumah buku. Beberapa tempat rekreasi (termasuk mal) malah menjadi pilihan bagi sekolah-sekolah untuk dikunjungi tiap kali tahun ajaran berakhir. Mengapa perpustakaan tidak?

Perpustakaan harus berupaya menempelkan brand-nya di benak masyarakat. Berbagai cara bisa dilakukan, misalnya bekerja sama dengan sekolah-sekolah agar mereka mau melakukan kunjungan bersama murid-muridnya.

Memperkenalkan keberadaan dan fungsi perpustakaan sejak dini adalah hal penting. Selain itu, anak-anak adalah market yang paling potensial. Jika mereka tertarik, tentu mereka akan mengajak orangtuanya datang ke perpustakaan. Uniknya, banyak orangtua yang ‘susah’ menolak keinginan anaknya. Anak-anak adalah influencer yang paling efektif dan itulah yang harus dibidik pengelola perpustakaan.

Selain itu, pengelola perpustakaan juga harus membidik kelompok-kelompok perempuan. Misalnya dengan memperkenalkan keberadaan perpustakaan di berbagai kegiatan keperempuanan. Dalam masyarakat patriarki, peran perempuan dalam pengasuhan anak sangat dominan. Karena itu, pengaruh mereka juga harus dimanfaatkan. Ibu mana yang tak ingin anaknya pintar dan berwawasan? Jika mereka tahu, tentu perpustakaan menjadi salah satu tempat ‘bermain’ keluarga. Apalagi, kunjungan ke perpustakaan tak menyebabkan pengeluaran tak terduga keluarga membengkak. Dijamin, ibu-ibu pasti tak keberatan berkunjung ke perpustakaan.

Perpustakaan juga harus aktif memberikan informasi terbaru yang dimiliki ke berbagai perusahaan, instansi, dll. Buat agar mereka tertarik datang ke perpustakaan. Cara itu bisa dilakukan melalui direct mail (bisa faksimile, surat, atau e-mail).

Ada baiknya, perpustakaan memiliki link dengan sejumlah perpustakaan lain di satu wilayah. Misalnya, perpustakaan daerah memiliki link dengan perpustakaan umum, perpustakaan perguruan tinggi, sekolah tinggi, dan sekolah-sekolah. Pengguna jasa layanan masing-masing perpustakaan dapat mengetahui berbagai hal yang dimiliki perpustakaan lainnya hanya dengan bantuan internet. Seandainya, mereka tak menemukan buku yang diinginkan di salah satu perpustakaan, ia bisa datang ke perpustakaan lain yang memiliki koleksi tersebut.

Saran berikutnya adalah pengelola perpustakaan sebaiknya mengadakan even di tempatnya bekerja. Seminar bertema “Meningkatkan Minat Baca” akan lebih tepat diadakan di aula perpustakaan. Usai seminar, peserta bisa digiring langsung ke perpustakaan sehingga mereka tahu, apa saja yang bisa didapatkan di perpustakaan. Database peserta seminar harus disimpan karena sesekali, bagus juga kalau mereka diundang berkunjung ke perpustakaan bersama grupnya. Jangan adakan seminar sejenis jika hanya sebagai tempat keluh-kesah bahwa minat baca bangsa ini sangat rendah tapi tak pernah ada tindak lanjutnya.

Selain seminar, adakan juga kegiatan yang membuat anak-anak merasa betah berada di perpustakaan. Perpustakaan bukan tempat yang sangat formal, karena itu jangan dibuat formal. Misalnya, adakan lomba mendongeng untuk orangtua, lomba bercerita untuk anak-anak, dan lomba membaca cepat. Atau lomba bercerita dan mengeja dalam bahasa Inggris. Jika tak berlomba, perpustakaan juga dapat mendatangkan pendongeng dari dalam/luar daerah untuk mengisi acara.

Dalam sebuah proses, yang paling perlu diperhatikan adalah kualitas. Begitu juga dengan perpustakaan. Jangan pernah melupakan kualitas karena perpustakaan tengah bersaing dengan berbagai macam sarana dan prasarana pendidikan dan hiburan!

Jadikan Kebutuhan

Asumsi penilaian minat baca masyarakat masih rendah, tak sepenuhnya benar. Ini dapat dilihat dari tingginya tingkat konsumsi masyarakat. Seorang teman yang bekerja di sebuah restoran cepat saji mengungkapkan, dua restoran tempatnya bekerja di Denpasar bahkan bisa meraup omzet lebih dari Rp 1 milyar. Beberapa restorannya rata-rata bisa menghasilkan pendapatan Rp 500 juta. Perusahaan itu sangat rajin mempromosikan restorannya agar masyarakat terus datang dan berbelanja. Walaupun mereka tahu, junk food bukan makanan yang baik bagi mereka.

Mengapa buku tidak diminati? Jika toko buku sudah mulai ramai, mengapa perpustakaan tidak? Ketika Gramedia Mal Bali Galeria mengadakan Pesta Buku, Juli lalu di Kuta, pengunjung membludak. Tak sampai sehari, lima koli buku ludes. Demikian juga, dengan tempat penyewaan buku. Meski mengeluarkan uang sebesar Rp 1.000 – Rp Rp 2.000 per hari untuk menyewa komik, rental itu lebih diminati masyarakat ketimbang perpustakaan. Mengapa?

Sekali lagi, ini masalah kebutuhan. Orang membeli sabun mandi karena mereka memerlukannya tiap hari. Begitu juga dengan susu atau beras. Mereka perlu, karena itu mereka beli. Apakah masyarakat sudah menganggap perpustakaan sebagai sebuah kebutuhan? Kalau belum, mereka tak akan datang ke perpustakaan. Demikian juga dengan buku atau bahan bacaan lainnya.

Sebagai contoh, kita perhatikan saja kebanyakan perempuan yang sangat menginginkan kulitnya menjadi lebih putih, flek di wajah hilang, jerawat lenyap. Saya yakin, berapa pun harga produk kosmetik yang ditawarkan, mereka berusaha membelinya. Seringkali saya dapatkan, banyak perempuan menjadi tidak rasional karena itu. Ini menimpa banyak perempuan dengan penghasilan sedang-sedang saja, tapi rela merogeh kocek Rp 500 ribu tiap bulan demi mendapatkan hasil yang maksimal. Mengapa mereka tidak menyisihkan pendapatannya untuk membeli buku saja?

Dapat diperkirakan, mereka tak merasa penting untuk membaca banyak hal. Sepanjang apa yang dikerjakannya cukup, membaca tak perlu dilakukan apalagi kalau harus meluangkan waktu ke perpustakaan.

Anak-anak amat jarang berpikir jangka panjang. Mereka amat jarang tahu arti penting dari sebuah buku. Yang mereka tahu, jika ada buku yang menarik perhatiannya, mereka (minimal) akan membukanya. Bukankah rasa ingin tahu anak-anak lebih tinggi ketimbang orang dewasa? Dari sekadar melihat gambar, mereka akan membacanya. Jika terus disediakan bahan bacaan baru, mereka akan terbiasa membuka (dan kita berupaya agar mereka membacanya).

Lagi-lagi, ini masalah kebutuhan. Perpustakaan harus bisa membangkitkan kebutuhan masyarakat dan menyediakan berbagai macam sarana dan prasarana yang memadai dan mengakomodir semua kelompok. Informasi apa pun yang dibutuhkan masyarakat, ada di perpustakaan. Dengan sendirinya, mereka akan merasa ada sesuatu yang kurang bila tidak ke perpustakaan. Tanpa dipaksa, mereka pun akan berminat membaca.

Ibarat merek, perpustakaan harus bisa meningkatkan awareness pengguna. Meminjam sebuah tagline supermarket di Denpasar, gunakan ‘pencerahan’ bagi masyarakat: “Perpustakaan, Lengkap dan selalu Baru”. Artinya, jika menginginkan berbagai macam informasi terlengkap dan terbaru, datang saja ke perpustakaan. Selanjutnya, biarkan tagline itu menempel di benak mereka.

About these ads

4 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Ini tulisan yang tersimpan di komputer, tapi nggak pernah aku muat di mana-mana. Udah lama, pengen berbagi aja. Masih relevankah?

Komentar oleh erhanana

hi mbak..terimakasih atas tulisan yg di atas..sangat membantu saya dalam pencerahan Tugas Akhir saya …hi hi
saya mahasiswa jurusan Desain Interior yang berencana membuat TA perpustakaan umum..
terimaksih tulisannya :)

Komentar oleh Harry Liang

Thanks for sharing your thoughts on charging. Regards

Komentar oleh tablette graphique wacom bamboo




Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: