It’s My Life


Maret 15, 2008, 8:14 pm
Filed under: Fiksi

tunggu saja

kan kukatakan padamu

jika waktunya tiba

Denpasar, 15 Maret 2008

Iklan


Maret 15, 2008, 8:13 pm
Filed under: Fiksi

tuhan

tunjukkan padaku

apa yang kau mau

Denpasar, 9 Februari 2007



Maret 15, 2008, 8:11 pm
Filed under: Fiksi

Lalat-lalat pun jenuh menunggumu

Denpasar, 22 Januari 2007



Pemberitaan Kasus KDRT di Media Massa Bali
Maret 15, 2008, 7:56 pm
Filed under: Gender

Tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga tak serta-merta membuat pemberitaan kasus tersebut di media massa meningkat. Berdasarkan data yang tercatat di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Provinsi Bali, pada tahun 2004 kasus kekerasan dalam rumah tangga terhitung 7 kasus, meningkat menjadi 35 kasus pada tahun 2005, dan 81 kasus pada tahun 2006. Namun jika dicermati, pemberitaan media massa mengenai kasus tersebut masih bisa dihitung dengan jari. 

Media massa memunyai peran penting dalam memengaruhi opini publik. Di sisi lain, media massa memiliki pijakan untuk mengarahkan sebuah pemberitaan, termasuk pemberitaan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Kebijakan dalam arah pemberitaan yang dipilih oleh sebuah media massa dalam pemberitaan kasus kekerasan dalam rumah tangga bisa berdampak positif maupun negatif. Positif, jika media massa tersebut mengambil posisi sebagai agen konstruksi. Sebagai agen kontruksi, media menentukan bagaimana realitas digambarkan. Berita bukan cermin dari suatu realitas. Berita adalah  hasil konstruksi wartawan dan media.[1] Media yang berbeda bisa menghasilkan gambaran beragam mengenai kasus kekerasan dalam rumah tangga. 

  Baca lebih lanjut



Aborsi, Sebuah Potret Buram Pelayanan Kesehatan bagi Perempuan
Maret 15, 2008, 7:51 pm
Filed under: Gender

Awal bulan Februari tahun lalu, warga Denpasar, Bali dihebohkan penangkapan sarjana kedokteran gigi yang melakukan praktik aborsi ilegal. Tersangka Arik Widiantara mengaku menerima empat sampai lima pasien per hari selama empat tahun dengan tarif bervariasi, Rp 600 ribu hingga Rp 4 juta/orang. Jika dihitung rata-rata empat pasien/hari, Arik telah melakukan aborsi terhadap 5.840 pasien! Dengan peralatan seadanya dan jauh dari standar, empat di antara pasien Arik meninggal dunia dan enam orang dikabarkan harus berobat ulang ke rumah sakit karena menderita infeksi rahim. Arik pun menerima ganjarannya. Ia diseret ke meja hijau. Sayang, Arik hanya dinyatakan sebagai tersangka pembantu dalam kasus tersebut. Sedangkan tersangka utama ditujukan kepada para perempuan pelaku aborsi.

Baca lebih lanjut



Aktivis Perempuan Bermuka Dua
Maret 15, 2008, 7:46 pm
Filed under: Gender

Sore itu, pukul 17.30 wita. Ketika hendak berangkat ke tempat les anakku, seorang teman bersama bayi dan anaknya yang masih berumur 2 tahun 9 bulan datang tergopoh-gopoh.“Mbak Ratna, aku minta uang buat bayar angkutan. Tolong aku,” ujarnya. Dengan serta-merta aku mengambil uang, memberi kepadanya dan menggendong bayinya.

Bayi itu pesing banget, tidak bercelana, dan dekil. Begitu pula kakak laki-lakinya. Jojo (nama samaran), tak kuberi kesempatan menjelaskan duduk perkaranya. “Mandi, makan, baru kamu cerita,” kataku.Anaknya sungguh kelaparan. Mereka tak sabar menunggu masakan ibuku matang. Sementara itu, perut mereka kuganjal dengan roti dan sereal. Wah, kedua anaknya sampai gemetar saking laparnya. “Aku diajak menggelandang mbak,” tutur Jojo sembari menyuapi kedua anaknya secara bergantian. Ketut (juga nama samaran), suaminya, bertengkar dengan Jojo. Baca lebih lanjut



Pakai Kondom, Siapa Takut?
Maret 15, 2008, 7:43 pm
Filed under: Gender

Saya jadi tertarik ketika membaca tulisan Rahmat Susanta, “Stigmatisasi Kondom” dalam rubrik “Marketingsiana” di majalah Marketing edisi pertama tahun ini. Analisis pemimpin redaksi majalah “Marketing” ini dalam paragraf terakhir membuat saya mengeryitkan dahi. Di sana, Rahmat mengevaluasi markas polisi sebagai lokasi ATM kondom yang tengah dilakukan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Rahmat menulis, secara geografis, markas besar polisi umumnya ada di kota besar sehingga mudah diakses. Market size? Lumayan besar. Puluhan bahkan ratusan wanita tuna susila (WTS) yang terjaring bisa masuk di tempat tersebut. Market density? Kalau membayangkan kantor polisi disesaki banyak WTS, mestinya kerapatan antar “potential buyer” sangat tinggi. Market behavior? Nah, ini dia! WTS mana yang mau beli kondom lewat ATM di kantor polisi? Bisa-bisa dia ditegur polisi, “Dasar enggak kapok-kapok, mau dimasukin sel lagi?”

Baca lebih lanjut