It’s My Life


“Para Laki-laki, sudah Saatnya Berbagi Tanggung Jawab!”
Maret 15, 2008, 7:40 pm
Filed under: Gender

Pernah nonton iklan Super Pell? Itu loh, cairan pembersih lantai yang biasa dipakai untuk mengepel. Kalau belum, sekali-kali tontonlah. Tiap kali iklan itu ditayangkan, saya selalu tersenyum. Ceritanya, seorang laki-laki sedang mengepel rumah memakai Super Pell itu. Ada satu bagian lantai yang tak pernah bisa bersih. Dia terus mengepel bagian itu. Pada akhir cerita, istrinya yang sedang membaca, memberi tanda tanpa bicara, menunjuk langit-langit rumah mereka. “Bukan lantainya yang kotor. Tapi langit-langit rumahnya,” mungkin begitu maksudnya. Ada noda hitam kecil di langit-langit rumah mereka. Saking bersihnya mengepel dengan Super Pell, lantai pun ibarat cermin: bisa memantulkan kotoran yang ada di langit-langit rumah mereka.

Eits, tunggu dulu. Saya tidak sedang membahas positioning Super Pell sebagai cairan pembersih lantai yang ampuh, bisa bikin lantai kinclong. Bukan pula tentang cerita itu yang menurut saya, mudah dicerna dan pas dalam penyampaian pesannya. Yang bikin saya tersenyum, peran suami istri di cerita itu. Jarang-jarang loh ada iklan seperti itu. Istri, dengan pakaian lebih rapi, duduk manis, asyik membaca koran. Sang suami, sibuk membersihkan rumah. Andai, ada banyak suami di dunia nyata (tak hanya di iklan televisi) yang mau melakukannya. Mau membantu istri, mengurus rumah mereka. Pasti, para istri itu punya lebih banyak waktu untuk mengembangkan diri atau hanya sekadar untuk merawat diri mereka.

Sayangnya, tak banyak suami mau melakukannya. Pemisahan peran sebagai pemegang kendali pekerjaan rumah tangga masih diserahkan sepenuhnya kepada perempuan. Terserah, apakah perempuan itu bekerja atau tidak. Jika ada keluarga yang bisa memiliki pekerja rumah tangga, bersyukurlah.

Saya tak mau mengambil contoh jauh-jauh. Paling gampang ya diri sendiri. Ups, ini bukan komplin terhadap suami. Tapi ini sekadar contoh. Bekerja dan mengurus rumah sekaligus memang terasa luar biasa berat. Saya dan suami, hingga saat ini belum pernah memakai jasa PRT. Dulu, ia pernah menyarankan saya menggunakan jasa PRT. Tapi saya selalu menolaknya. Alasan saya klasik. Rumah yang kami tempati tak  terlalu besar. Hanya tipe 38 berikut pengembangan sedikit di belakang rumah. Dari depan sampai belakang, rumah itu penuh dengan perabotan. Agar lapang, sampai-sampai saya tak mau ada sofa di ruang tamu. Mending lesehan.

Dengan kondisi itu, saya tak bisa menyediakan kamar tidur yang layak untuk PRT, jika ia tinggal bersama kami. Saya tak mau ia tidur di sembarang tempat seperti beberapa PRT teman saya. Pertimbangan berikutnya, rasa-rasanya saya kok nggak bisa menggaji PRT. Kalau cuma membayar Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu, saya masih sanggup. Tapi saya nggak tega. Dengan duit segitu, PRT bisa apa. Padahal, pastinya mereka juga perlu kehidupan yang lebih baik. Pekerjaan rumah tangga itu berat sekali. Kalau saya boleh memilih, saya pasti milih bekerja di kantor saja. Ada waktunya berhenti. Kalau pekerjaan rumah? Ada aja yang harus diselesaikan.

Akhirnya, saya dan suami sepakat melakukannya sendiri. Dengan catatan, dia tak bisa terlalu banyak membantu. Hasilnya, capek juga. Pasalnya, urusan rumah tangga itu tak melulu membersihkan rumah, memasak, mencuci perabotan, mencuci pakaian. Mengurus anak, juga bagian dari pekerjaan rumah dan itu memerlukan waktu yang tak sedikit. Mungkin, banyak laki-laki tak mengetahuinya.

Mari kita berhitung. Untuk bisa meninggalkan rumah dalam keadaan bersih, saya harus bangun pukul 04.30. Waktu itu tidak termasuk mencuci pakaian dan memasak. Jika saya ingin melakukan semuanya, saya harus bangun lebih awal, pukul 03.00. Pukul 05.30 pekerjaan rumah itu harus sudah selesai karena giliran anak saya yang harus diurus, persiapan ke sekolah. Pukul 06.15 ia harus sudah di depan rumah menunggu bus sekolah. Perlu waktu 15 menit menemaninya berdiri di depan rumah. Persiapan diri sebelum ke kantor memerlukan waktu lebih kurang 30 menit. Pukul 07.10 saya harus sudah berangkat ke kantor agar tak terlambat.

Pukul 17.00 saya sudah di rumah dan pekerjaan rumah telah menanti. Usai membersihkan rumah, jadwal berikutnya menemani anak belajar. Saya tak mau melakukan kegiatan lain, termasuk menulis, sebelum anak saya tidur. Dia juga perlu berinteraksi dengan saya karena sudah seharian kami tidak bertemu. Jika ingin membaca, saya akan melakukannya bersama anak. Mengajak dia membaca koran hari itu, majalah atau buku. Pukul 22.00 kami harus sudah tidur.

Jika saya ingin melakukan kegiatan untuk diri sendiri seperti menulis dan meditasi, saya harus bangun lebih awal lagi, pukul 01.00. Pekerjaan saya sebagai jurnalis merangkap marketing tak memungkinkan menulis pada jam kantor. Terlalu banyak sela dan menulis jadi tak mengasyikkan. Itu sebabnya saya memilih jam menulis adalah dini hari. Sepertinya, pekerjaan rumah akan baik-baik saja sepanjang saya tidak sakit atau tugas ke luar kota. Pasalnya, suami tak terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga.

Jika saya sakit atau kelelahan, ia lebih senang melihat rumah agak kotor ketimbang harus menyapunya sendiri. Urusan domestik, ia hanya mau mencuci pakaian (tinggal cemplung, pasang selang, putar timer mesin cuci). Kalau dilihat mbah, saya pasti kena marah. “Jangan pernah membiarkan laki-laki mencuci pakaiannya sendiri. Apalagi pakaian istrinya. Nggak sopan,” begitu kata-kata beliau dulu. Ia juga akan merasa tidak percaya diri jika harus membersihkan rumah. Seringkali, jika ada suami yang membersihkan rumah, para istri orang lain akan bergunjing, “Wuiih..masa’ suami yang bersihin rumah? Istrinya ke mana?”

Begitulah. Cerita tadi hanya sebuah ilustrasi kondisi perempuan kebanyakan. Perempuan di kota atau di desa, memakai sebagian besar waktunya untuk bekerja. Saya yakin, sampai sekarang, tanggung jawab domestik masih didominir perempuan. Dari masa ke masa, pembagian peran berdasarkan jenis kelamin ini masih diturunkan. Doktrin nenek moyang yang menempatkan laki-laki pada posisi lebih tinggi dibandingkan perempuan sehingga “tak layak” mengurusi pekerjaan rumah tangga, masih ada. Akhirnya, perempuan pun mengganggap hal yang “aneh” jika laki-laki melakukan pekerjaan itu dan berpikiran, sudah sangat wajar perempuan yang bertanggung jawab atas hal itu.

Pemikiran-pemikiran itulah yang mungkin agak susah dihapus dari benak laki-laki. Apalagi, tanpa disadari, masyarakat pun ikut melanggengkan “warisan pemikiran” itu. Lihat, berapa banyak iklan yang menggambarkan peran laki-laki yang mengurus pekerjaan rumah, padahal begitu banyak iklan produk rumah tangga? Lihat pula, betapa hanya tabloid dan majalah wanita yang mengulas tentang dapur, tips merawat rumah dsb. Majalah laki-laki? Otomotif, olahraga. Semuanya seakan-akan memperkokoh pemikiran bahwa tanggung jawab domestik hanya dipegang oleh perempuan. Sesekali, berkunjunglah ke biro iklan. Bawalah koran wanita yang tak memiliki rubrik tentang dapur dan perawatan rumah. Saya yakin, mereka tak percaya jika koran Anda adalah koran untuk wanita.

Pernah suatu ketika saya berkata pada suami, “Saya tak percaya laki-laki lebih kuat daripada perempuan. Sudah seharusnya, perempuan yang lebih perkasa.” Dia tertawa. ”Paling urusan gender lagi,” ledeknya. Tak lama saya bertugas ke Jakarta selama dua minggu. Baru juga tiga hari, telepon berdering, “Nggak bisa dipercepat?” tanyanya. Saya tertawa. Dua minggu kemudian, giliran saya memberikan bukti, betapa perempuan itu lebih perkasa. Tak ada pekerjaan rumah yang bisa diurusnya dengan baik. Di pojok-pojok ruangan mulai ada sarang laba-laba. Debu di rak buku mulai menebal. Lantai rumah terlihat kusam. Kaca buram. “Pekerjaan remeh” itu tak ada yang bisa ditanganinya kecuali mencuci piring dan pakaian. “Makanya, jangan pernah meremehkan. Ini pekerjaan berat. Jika perempuan tidak boleh tergantung pada lak-laki secara ekonomi, sudah seharusnya, laki-laki juga tidak tergantung pada perempuan urusan domestik begini,” ujar saya. Sudah saatnya pula, laki-laki merasakan sendiri betapa perlunya berbagi peran itu agar perempuan punya waktu lebih banyak untuk beristirahat, merawat diri dan mengembangkan dirinya.

  


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: