It’s My Life


Aborsi, Sebuah Potret Buram Pelayanan Kesehatan bagi Perempuan
Maret 15, 2008, 7:51 pm
Filed under: Gender

Awal bulan Februari tahun lalu, warga Denpasar, Bali dihebohkan penangkapan sarjana kedokteran gigi yang melakukan praktik aborsi ilegal. Tersangka Arik Widiantara mengaku menerima empat sampai lima pasien per hari selama empat tahun dengan tarif bervariasi, Rp 600 ribu hingga Rp 4 juta/orang. Jika dihitung rata-rata empat pasien/hari, Arik telah melakukan aborsi terhadap 5.840 pasien! Dengan peralatan seadanya dan jauh dari standar, empat di antara pasien Arik meninggal dunia dan enam orang dikabarkan harus berobat ulang ke rumah sakit karena menderita infeksi rahim. Arik pun menerima ganjarannya. Ia diseret ke meja hijau. Sayang, Arik hanya dinyatakan sebagai tersangka pembantu dalam kasus tersebut. Sedangkan tersangka utama ditujukan kepada para perempuan pelaku aborsi.

Arik tak sendiri. Tanpa data yang jelas, praktik aborsi tumbuh subur di Indonesia. Selain itu, biaya yang cukup besar tak memberi jaminan keamanan dan keselamatan akibat tindakan aborsi bagi pasien, yang notabene adalah perempuan. Menurut Dirjen Binkesmas Departemen Kesehatan, Prof. Dr. Azrul Anwar, aborsi menyumbang hingga 50% pada tingginya Angka Kematian Ibu (AKI). Prof. DR. Gulardi Wiknyosastro dalam Survai Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2000 mengemukakan, AKI di Indonesia mencapai 396/100.000 kelahiran (www.rahima.or.id/Sr/09-03/opini2.htm). Dibandingkan data UNFPA, AKI di Indonesia mencapai 650/100.000 kelahiran, menduduki peringkat kedua dari negara-negara berpenduduk mayoritas Islam setelah Afganistan dengan AKI sebesar 1.700/100.000 kelahiran (www.rahima.or.id/Sr/09-03/Info.htm).

Banyak ahli berpendapat, AKI ini hampir pasti terlalu rendah mengingat besarnya jumlah aborsi yang tidak tercatat. Nurfaizi dari Polri mengatakan, kasus aborsi hanya terungkap jika perempuan yang melakukan aborsi menderita sakit atau meninggal dunia. Keputusan yang menimbulkan pro dan kontra itu makin pelik mengingat banyak hal yang harus dipikirkan saat memutuskan tindakan aborsi.

Dalam dunia kesehatan, abortus berarti berakhirnya kehamilan sebelum janin mampu hidup di luar kandungan. Batasan yang dipakai adalah kehamilan kurang dari dua minggu dan berat badan janin kurang dari 500 gram. Ada dua jenis abortus, yaitu abortus spontan dan abortus provocatus (dengan kesengajaan). Abortus spontan dalam masyarakat awam kerap disebut keguguran. Sedangkan abortus provocatus dibagi lagi menjadi dua, yaitu abortus provicatus therapeuticus/medicinalis dan abortus provocatus criminalis. Abortus provocatus therapeuticus dilakukan secara sengaja dengan indikasi medis. Abortus provocatus criminalis dilakukan secara sengaja tanpa indikasi medis.

Pemerintah Indonesia selama ini tak berani bersikap tegas. Dalam UU Kesehatan No. 23 tahun 1992 dikatakan, abortus atas alasan apa pun juga dilarang dengan ancaman hukuman paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 500 juta. Hal itu ditegaskan dalam UU KUHP pasal 346 – 349 tentang aborsi yang mengancam pelaku dan perempuan yang meminta aborsi dengan ancaman hukuman antara satu sampai 15 tahun. Namun, Mahkamah Agung memberi kebijaksanaan dengan pernyataan, abortus untuk keselamatan jiwa ibu diperbolehkan (www.geocities.com/Vienna/Strasse/2994/aborsi.html).

Penelitian “Penghentian Kehamilan tak Diinginkan yang Aman Berbasis Konseling” yang dilakukan Zumrotin K. Susilo dari Yayasan Kesehatan Perempuan di sembilan kota di Indonesia pada Juni sampai Desember 2002 menunjukkan, terdapat 1.289 pasien melakukan aborsi dari 1.446 orang yang menginginkannya. 58% klien berusia lebih dari 30 tahun. 87% klien berstatus menikah dan 12% belum menikah. Dari seluruh klien, 48% adalah Ibu Rumah Tangga, 43% klien yang bekerja di sektor nondomestik, 7% pelajar dan lainnya 2%. Dewi dalam Population Council (1998) mengatakan, lebih dari 80% aborsi dilakukan perempuan menikah yang hidup harmonis dan telah punya beberapa anak. Mengapa bisa begitu?

1.343 klien datang ke fasilitas kesehatan dengan keluhan mengalami “gagal KB”, begitu temuan Zumrotin. Yogyakarta menempati urutan pertama dengan 89 klien, disusul Denpasar 70 klien dan Medan dengan 60 orang. Karena kegagalan tesebut, mereka pun memutuskan untuk menghentikan kehamilan dengan berbagai alasan. Alasan psikososial yang menambah risiko psikis menjadi alasan terbanyak yang diungkapkan, sebesar 54%. Gagal KB juga dijadikan 40% klien sebagai alasan melakukan aborsi. Sisanya, 6% menyatakan karena indikasi medis.

Di sisi lain, upaya klien menghentikan kehamilannya sebelum ke fasilitas kesehatan berbeda-beda. 41,7% klien mencoba menggugurkannya dengan minum ramuan tradisional atau jamu, 41,7% minum pil, 13,9% dengan ginekosid/cytotex dan 1,4% lompat-lompat. Saat pengambilan keputusan, 90% klien tetap berniat menghentikan kehamilannya dan hanya 6% yang melanjutkannya. Keputusan akhir ini 82% diambil klien bersama pasangan, 8% ditetapkan sendiri dan lainnya 2%.

Dari data tersebut, dapat ditarik beberapa hal yang merugikan perempuan sebagai kaum marjinal. Pertama, kurangnya akses mendorong perempuan melakukan unsafe abortion. Kasus aborsi yang dilakukan Arik Widiantara menjadi sebuah potret buram pelayanan kesehatan bagi perempuan. Perempuan dengan kondisi terjepit tak bisa mengambil keputusan atas tubuhnya sendiri. Hal ini menunjukkan, dominasi laki-laki yang kerap menekan perempuan. Sudah menjadi pengetahuan publik, budaya dalam masyarakat Indonesia, istri dididik untuk mematuhi suami. Dengan alasan demi kepentingan bersama, mereka melupakan risiko buruk jika unsafe abortion dilakukan. Sarana dan prasarana kesehatan  yang tak mendukung memaksa mereka menerima saja tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. Padahal, unsafe abortion menjadi salah satu tingginya AKI di Indonesia. Belum lagi risiko lain seperti cacat yang bisa ditanggung perempuan.

Kedua, kurangnya pengetahun perempuan mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi. Penelitian “Pemahaman Perempuan tentang Saluran Reproduksinya” di dua Puskesmas di DKI Jakarta yang dilakukan Sapariah Sadli, Ninuk Widiantoro dan Anita Rahman pada tahun 1994 menunjukkan, dokter dan bidan di dua Puskesmas tersebut tidak pernah menjelaskan mengenai keputihan yang kerap ditanyakan pasien dan menganggap keputihan adalah hal yang wajar bagi perempuan.

Pemerintah juga kurang memperhatikan pentingnya pengetahuan itu bagi perempuan. Ini terlihat dari RAPBN tahun 2000 yang menentukan biaya kesehatan hanya 3,5% dan program kesehatan produksi menjadi bagian kecil dari 10 program “Indonesia Sehat 2010”. Hal itu diperparah dengan faktor kemiskinan, ketidaksetaraan gender antara laki-laki dan perempuan, mitos-mitos budaya yang berkaitan dengan kesehatan, pemahaman ajaran agama yang sempit dan kebijakan pemerintah yang dituangkan dalam UU (Kumpulan Tulisan Aborsi dan Kesehatan Reproduksi, Yayasan Jurnal Perempuan).  BKKBN sampai sekarang bahkan tetap memakai UU tentang Tata Cara Menyusui untuk Menjarangkan Anak tahun 1970.

Selain itu, perempuan menjadi korban dalam perundang-undangan pidana. Pasalnya, mereka yang tidak memutuskan sendiri tindakan aborsi itu menjadi tersangka utama dalam tiap kasus abortus provocatus criminalis. Padahal, tak sedikit perempuan yang merasa bersalah karena tindakan pengguguran tersebut. Penelitian di dua provinsi di Canada selama lima tahun tentang dampak psikologis aborsi pada perempuan mengungkapkan, setelah delapan minggu, 44% perempuan mengalami kecemasannya, 36% mengalami gangguan tidur, 31% menyesali keputusannya dan 11% memerlukan obat penenang dari psikiater. Juga ditemukan 60% memiliki ide bunuh diri setelah aborsi, 28% diantaranya pernah mencoba bunuh diri (Panduan Workshop “Peliputan dan Penulisan Berita Aborsi yang Komprehensif untuk Wartawan dan Polisi”, Info Kespro).

Bagaimana dengan Indonesia? Perempuan di belahan dunia mana pun pasti memiliki perasaan yang sama. Kini, sudah waktunya pemerintah melakukan berbagai perbaikan. Pertama, merevisi UU dan kebijakan nasional. Adanya UU dan peraturan yang jelas mengenai aborsi yang aman sangat diperlukan untuk menurunkan tingkat kesakitan dan AKI. Kedua, memberikan pendidikan mengenai isu aborsi kepada masyarakat untuk mengimplementasikan pelayanan aborsi yang aman dan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan (Pengetahuan, Sikap dan Praktik Aborsi di Indonesia). Ketiga, memberikan porsi yang lebih besar dalam anggaran kesehatan bagi perempuan, termasuk program kesehatan reproduksi. Pemerintah juga selayaknya meningkatkan kualitas dan kuantitas saran dan prasarana kesehatan bagi masyarakat, melakukan advokasi kepada tenaga kesehatan, tokoh agama dan komponen masyarakat lainnya serta merevisi kurikulum kedokteran agar pengetahuan aborsi yang rendah pada mahasiswa kedokteran dapat ditingkatkan dengan harapan mereka mampu menerapkan pendekatan yang berorientasi pasien.

 Bali Sruti 2006


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

harus ada Undang undang yang jelas tentang abortus
baNGSA INI SEPERTINYA TERLALU MEMIKIRKAN AKHLAK, PADAHAL DIBALIK SEMUA ITU PARAH, KORUPSI MERAJALELA.
JADI KEPADA KAUM AGAMA JANGAN MEMPERLAMBAT UNDANG UNDANG YANG JELAS MENGENAI ABORTUS TOH INI BUAT KAUM WANITA
ATAU GALAKKAN SAJA TENTANG KAMPANYE SEKS AMAN, ATAU METODE APA SAJA YANG MEMBUKA WACANA KESEHATAN.
JANGAN MUNAFIK JADI ORANG LAH HAI KAUM AGAMA, DIMANA KALIAN SAAT KORUPSI MERAJALELA, GILIRAN PAHA DAN ALAT KELAMIN KALIAN RIBUTIN MULU, HEHEHEHEHEHE

WASSALAM

Komentar oleh utu

Hi there! I know this is kinda off topic but I’d figured I’d ask.
Would you be interested in trading links or maybe
guest writing a blog article or vice-versa? My website
discusses a lot of the same subjects as yours and I believe we could greatly benefit from each other.

If you’re interested feel free to send me an email. I look forward to hearing from you! Excellent blog by the way!

Komentar oleh credit




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: