It’s My Life


Aktivis Perempuan Bermuka Dua
Maret 15, 2008, 7:46 pm
Filed under: Gender

Sore itu, pukul 17.30 wita. Ketika hendak berangkat ke tempat les anakku, seorang teman bersama bayi dan anaknya yang masih berumur 2 tahun 9 bulan datang tergopoh-gopoh.“Mbak Ratna, aku minta uang buat bayar angkutan. Tolong aku,” ujarnya. Dengan serta-merta aku mengambil uang, memberi kepadanya dan menggendong bayinya.

Bayi itu pesing banget, tidak bercelana, dan dekil. Begitu pula kakak laki-lakinya. Jojo (nama samaran), tak kuberi kesempatan menjelaskan duduk perkaranya. “Mandi, makan, baru kamu cerita,” kataku.Anaknya sungguh kelaparan. Mereka tak sabar menunggu masakan ibuku matang. Sementara itu, perut mereka kuganjal dengan roti dan sereal. Wah, kedua anaknya sampai gemetar saking laparnya. “Aku diajak menggelandang mbak,” tutur Jojo sembari menyuapi kedua anaknya secara bergantian. Ketut (juga nama samaran), suaminya, bertengkar dengan Jojo.

Selama ini, kehidupan mereka morat-marit. Lebih kurang tiga minggu sebelum kejadian itu, mereka datang ke rumah. Kondisi perekonomian mereka amburadul. Ketut berhenti bekerja. Jojo berusaha menopang perekonomian keluarga. Namun, karena dia tugas di Kupang dan anak tertuanya tak boleh diajak serta, Jojo tak sanggup bertahan. Kembali ke Denpasar, Jojo tak diperkenankan bekerja oleh Ketut. Alasannya, dia harus mengasuh anak. Di satu sisi, Ketut tak mau berusaha. “Saya kecewa karena hasil kerja saya nggak dihargai mbak. Masa’ saya digaji kecil,” keluhnya. Saya sarankan, dalam kondisi seperti itu, apa saja harus mau dilakukan, yang penting jalan dulu. Dia menolak. “Pokoknya, saya harus dapat gaji besar,” katanya serius.

Wah, ini repot. Kakak laki-laki Ketut pun menyerah. Ketut terbantu oleh salah seorang kakak perempuannya, yang tak setuju dengan pernikahan Jojo dan Ketut. Kakak perempuannya itu pula yang menyokong pernikahan Ketut dengan wanita lain. Dia menampung istri Ketut itu (Jojo bahkan tak tahu, dia istri pertama atau kedua), memberi Ketut uang Rp 20 ribu tiap hari. Dengan istri -sebut saja Laksmi- Ketut tak mengalami masalah keuangan karena dukungan kakak perempuan.Sialnya, Jojo ditelantarkan. Tiba di Denpasar, mereka malah tak punya tempat kos. Berkat pertolongan teman sesama gereja, Jojo bisa menyewa kamar dan dapat beras cukup untuk sebulan. Jojo ingin bekerja, tapi Ketut tetap melarang. Setiap Ketut datang ke kos Jojo, ia diajak berdiskusi. Namun, tiap kali itu pula Jojo harus siap ditampar atau dicekik. “Saya akan kamu buat kamu menderita. Kamu itu sampah. Kalau aku buang ke tong sampah pun tak ada yang mau memungutmu,” teriak Ketut. Hingga hari itu, Jojo dan kedua anaknya diajak menggelandang, berjalan kaki hingga 30 km, dan tidur di sepanjang emperan toko atau trotoar yang mereka lewati. “Saya nggak punya uang mbak. Dia gila. Anak nggak dikasih makan. Saya malu. Mau minum pun harus minta air putih ke orang-orang yang rumah atau tokonya saya lewati,” kisah Jojo. Itu sebabnya, saat tiba di rumahku, kedua anaknya gemetar kelaparan. Jojo dan kedua anaknya berhasil kabur ketika suaminya tidur pulas di trotoar di depan sebuah gedung SD, 1 km dari rumahku.Aku tak bisa menolong banyak malam itu. Sejam kemudian, suaminya menyusul.

Mengadu

Empat hari kemudian, Jojo meneleponku. “Mbak, tolong bantu aku. Masalah ini ruwet sekali. Aku bingung mau gimana lagi,” katanya. Kami bertemu dan aku mengantarnya ke sebuah lembaga pemberdayaan perempuan. Jojo berharap, dia pulang kampung saja bersama kedua anaknya. Tapi dia tak punya uang. Saya tak berani memulangkannya begitu saja. Alasanku, dia berstatus menikah hanya secara adat dan aku tak tahu banyak soal hukum. Saya kuatir, Ketut akan mempermasalahkan kepergiannya yang tanpa pamit dengan membawa kedua anak mereka. Apalagi mengamati kasus perceraian yang terjadi pada perkawinan adat Bali, hak asuh anak mayoritas pada bapaknya. 

“Mbak nggak bisa pergi begitu saja. Status pernikahan harus jelas, meski secara adat. Kalau mau cerai, ya harus cerai dulu, baru pergi. Jika tidak, mbak dapat dituntut suami kelak, jika dia keberatan,” papar seorang aktivis perempuan. Dia tak menawarkan solusi lain. Aktivis itu menawarkan diri menjadi mediator. Tentu saja aku bingung. Menurutku, itu bukan solusi. Si aktivis pejuang perempuan itu malah ngeyel, dia tak dapat membantu jika Jojo bersikukuh ingin pergi tanpa kejelasan status perceraian. Jika Jojo harus bertahan di Denpasar; ia hidup tanpa uang, tanpa jaminan perlindungan dari kekerasan fisik ataupun psikis yang diterima dari suaminya kapan saja suaminya datang. Kami pergi.

Saya kecewa mendapat jawaban yang tak cukup membantu seperti itu. Perkiraan saya benar, Ketut datang ke kos Jojo, dan dia minta secara paksa kepada Jojo agar mau melakukan aktivitas seksual. “Aku kesakitan mbak. Aku nangis, dia tak hirau,” sedunya.Aku merasa beruntung ketika seorang teman di sebuah pusat pemberdayaan perempuan meneleponku. “Rat, kamu temui saja Kaka (nama samaran). Dia pengacara, pembela perempuan yang tertindas, dan sedaerah dengan Jojo. Dia mau membiayai kepulangan Jojo dan memberi kepastian hukum untuknya,” yakinnya. Sayang, kebahagiaanku hanya sesaat. “Ngapain bantu orang seperti itu. Salah dia sendiri. Sarjana kok bodoh. Biar itu jadi pembelajaran buat dia. Toh sekarang dia sudah dibantu teman gereja, pasti sudah ditanggung semuanya. Saya kan nggak mungkin ngasih uang untuk dia,” katanya ketus. Dia menawarkan diri menemui orang gereja itu dan mencari tahu tentang Jojo.“Kalau cuma urusan uang, aku akan bantu meski harus berutang ke mana-mana. Saya nggak perlu jadi pembela perempuan, atau orang sesama daerah untuk menolong orang,” kataku geram. Sebal. Saya yang kecewa, ngeloyor begitu saja.

Sore harinya, si pengacara itu malah dengan entengnya mengirim SMS kepada teman yang mereferensikannya padaku, “Tenang aja Pak. Semua sudah berhasil diatasi. Korban dibantu oleh pihak gereja. Nggak ada masalah.” Seperti itu gambaran pejuang kaum perempuan? Huh, kalau ada berita yang dimuat di koran, semua sok baik mau membantu. Belum lagi ada aktivis perempuan lainnya yang bertanya, agama Ratna apa sih, kok mau ngeluarin uang buat Jojo? Dia kan beda agama.Hah? Aku tambah muak. Orang-orang -pejuang-pejuang perempuan itu- di depan media tak pernah berkata seperti itu. Semuanya manis-manis. Heran, masih ada yang berpikir cupet kayak gitu.Ini bukan kali pertama saya mendapat jawaban buruk dari aktivis perempuan. Seseorang yang disebut tokoh perempuan pun pernah berujar, “Rat, ngapain belain perempuan itu? Dia anak nakal. Pelacur. Kita bela orang yang tepat saja. Tapi ini off the record ya,” jawab tokoh perempuan itu.

Sebulan kemudian, ketika kasus ini berkembang dan jadi sorotan, tokoh perempuan yang sinis itu dengan entengnya beraudiensi dengan penegak hukum, agar keadilan ditegakkan. Syaratnya, nggak boleh ada orang lain yang mengikutinya dalam kegiatan itu. Hebat!Saya yakin, tak semua aktivis perempuan bersikap seperti itu. Tapi saya juga yakin, tak sedikit pula aktivis perempuan bersikap senada. Teriak lantang di depan publik, tapi melecehkan di belakang layar -tak jarang demi sebuah popularitas-. Maaf, tapi ini kenyataan yang saya temui. Dalam kasus ini saya beruntung, tiga teman -hanya atas nama kemanusiaan dan tidak bersikap mbulet– membantu dengan syarat, tidak dipublikasikan. 


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

brgitu liciknya sikap seorang aktifis perempuan yang ada dalam cerita dia atas, dan sungguh picik seseorang yang bermuka dua..

Komentar oleh Efendy Ahmad




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: