It’s My Life


Cinta dan Kehormatan
Maret 15, 2008, 7:39 pm
Filed under: Gender

Salah satu prinsip pertama tentang kehormatan dan cinta adalah bahwa satu pihak tidak boleh menundukkan pihak lain…Jika seorang laki-laki memiliki seorang perempuan seolah-olah perempuan itu adalah hartanya, hubungan ini pada hakekatnya tidak bisa dianggap sebagai kehormatan. Kehormatan adalah persamaan dan keadilan dalam hak-hak manusia. Cinta yang terhormat adalah cinta yang dibangun di atas persamaan keadilan seperti ini. (Nawal El Saadawi, Perempuan Dalam Budaya Patriaki)

Membaca sederetan kalimat itu, aku jadi teringat beberapa teman perempuan yang mengalami tindak kekerasan. Setengah depresi, mereka datang ke rumah, minta diramal. Pertanyaannya seputar itu-itu saja, bagaimana nasibku nanti. Atas nama cinta dan kehormatan, mereka mempertahankan hubungan yang penuh tindak kekerasan. Ada tiga kasus yang paling menyolok; Ayu, karyawati bank asing, Agung, general manager dan Sri, ibu rumah tangga.

Ayu, baru berusia 25 tahun, sarjana dan belum menikah. Enam tahun pacaran, tak hentinya-hentinya ia mengalami kekerasan fisik. Sudah empat tahun aku mengenalnya. Empat tahun itu pula, ia tak bisa lepas dari pacarnya. Aku tak mengorek terlalu dalam tentang awal percintaannya. Tapi, sepanjang kenal dengannya, tak pernah ada cerita bagus dari hubungannya itu.

Ary, sebut saja begitu, seorang pegawai negeri sipil yang tengah menempuh pendidikan S2. Usai pendidikan, hampir dipastikan ia menduduki jabatan penting di kantornya. Aku tak bisa menilai Ary terlalu dalam, pasalnya, aku amat jarang berhubungan dengannya. Tapi dari cerita Ayu, Ary sangat pencemburu. Ia tak boleh berhubungan dengan teman-temannya, meski sesama perempuan. Aku mendapat kekhususan, karena Ary tahu, aku menjadi tempat curhat Ayu. Sepulang kantor, Ayu harus segera kembali ke rumah karena Ary akan mengeceknya.

Pernah suatu ketika, teman kantornya, laki-laki, berkunjung ke rumahnya. Tanpa ada basa-basi, Ary langsung pasang tampang masam. Melihat gelagat tak menyenangkan, teman laki-lakinya itu segera pamitan. Tak sampai lima menit, Ayu diseret ke kamar. Ia dipaksa ganti baju dan ditarik ke rumah Ary. Di rumah itu, Ayu dikurung. Ia hanya bisa menangis dan menjerit. Tapi percuma, tak ada yang mendengarkan. Rumah itu terlalu besar. Ia hanya bisa meronta sambil melihat Ary bersama kawan-kawannya minum arak sampai pagi. Mabuk bersama.

Ayu mengaku, ia tak bisa memutuskan Ary. Cintanya terlalu dalam. Aku tertawa. Cinta yang mana? Ia sudah tiga kali minta izin bunuh diri padaku. Kali ketiga, aku bilang saja, “Aku punya cara paling ampuh untuk bunuh diri. Mau mencoba?” Dia menangis. Ia merasa tak berharga lagi. Ary selalu bilang, “Jika aku membuangmu ke tong sampah pun, tak akan ada orang yang akan mau menerimamu.” Kata-kata yang terus tergiang dan Ayu makin merasa tak berharga. Beruntung, sebelum aku berhenti bekerja dari kantor yang sama, aku telah merekomendasikan posisi yang lebih baik untuknya. Ia menjadi berharga.

Beberapa waktu lalu, ia minta aku menemaninya kembali. Hebatnya, kini ia memiliki dua pacar. Ary dan Dewa. Pada Dewa, ia melampiaskan semua dendamnya terhadap Ary; memperlakukan Dewa persis seperti Ary memperlakukan dirinya. Pada Ary, ia sedang berlatih “merancang pembunuhan” melalui novel-novel, tayangan pembunuhan di televisi dan mengasahnya dalam imajinasi. Khayalan yang mungkin kelak bisa terwujud jika ia tak berhasil melepaskan tekanan dan menguasai diri untuk keluar dari lingkaran perasaannya.

Berbeda dengan Agung, perempuan yang tengah menempuh pendidikan pascasarjana ini sempat melepaskan pekerjaannya untuk mengasuh putri semata wayangnya yang menderita autisme. Jabatan penting di sebuah hotel berbintang tak lebih penting dibandingkan kesehatan anak. Agung juga tercatat sebagai salah satu kader parpol besar dan aktif mengkampanyekan pemberdayaan perempuan.

Ketika ia memutuskan bekerja kembali karena kondisi sang anak telah membaik dan pada saat yang sama ia mendapat tawaran menjadi general manager di perusahaan besar, suaminya berulah. Apapun bisa menjadi sumber masalah. Tubuh Agung kerap menjadi sasaran “latihan bertinju”. Suatu hari, ia mengalami tindakan yang sangat parah. Wajahnya disemprot dengan pembasmi serangga, kepalanya dibenturkan ke tembok, tubuhnya dipukul. Agung tak melawan. Ia hampir sekarat.

Ia hanya mendatangi dokter dan berharap dokter mengingat, bahwa malam itu ia berobat padanya. Agung hanya berkata, ia terjatuh di tangga rumah. Tentu saja, dokter tak percaya. Tapi ia tak mau melanjutkan. Agung juga tak melapor pada polisi. Ketika aku menanyakannya, Agung hanya menjawab, “Ini demi kehormatan. Demi nama baik keluarga.” Ya, keluarganya adalah orang terpandang di kota ini. Jika kejadian itu sampai terdengar ke luar, Agung khawatir hal tersebut dapat merusakkan martabat keluarganya.

Begitu pun dengan Sri, ibu rumah tangga, berusia 40 tahun yang hanya tamat SMA. Jika timbul masalah dalam keluarganya, ia dan suaminya akan mudah saling melemparkan bogem mentah. “Emang enak. Kalau dipukul, ya melawan,” ujarnya sengit. Aku tak tega tiap kali melihatnya usai bertengkar. Kadang, ia minta aku merekomendasikan dokter gigi terbaik karena giginya hancur kena pukulan. Kadang pula aku melihat mata dan pipinya membiru.

Aku kerap kali komplin, kenapa nggak kabur ke kantor polisi saja. Toh rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari kantor polisi. Jawabannya klise, “Ini masalah rumah tangga. Ini aib. Untuk itu, harus ditutupi. Malu kalau tetangga tahu masalah itu.” Sama dengan kebanyakan alasan pencabutan laporan kasus serupa yang sampai ke meja polisi.

Aku jadi teringat, e-mail yang dikirim seorang teman padaku. E-mail tentang cinta seorang perempuan pada suaminya. Tiap kali usai dipukul, tiap kali itu pula suaminya akan datang meminta maaf dan membawakan bunga untuknya. Hari pertama, hari kedua, hari ketiga dan seterusnya, sang istri selalu memaafkan karena cintanya pada suami.  Hingga hari terakhir, ia tak bisa lagi memaafkan suaminya karena bunga yang diterimanya menjadi hiasan nisannya. Ia meninggal karena pukulan-pukulan itu. Ia meninggal karena besarnya cinta pada suami.

Aku menjadi miris. Dalam suatu hubungan, laki-laki dengan mudah merasa perempuan adalah miliknya, yang dengan bebas diperlakukan semaunya. Ia akan mudah bersikap ekstrim; memukul dan menendang atau mengirim bunga mawar merah permintaan maaf.

Aku juga miris, soal cinta dan kehormatan, rupanya tak dipengaruhi oleh status keluarga, pendidikan dan jabatan. Cinta begitu membutakan hingga kekerasan tak bisa bisa dikenali. Buruknya, aku lebih sering melihat perempuan yang mengalah karena alasan cinta dan kehormatan itu. Para perempuan bersikap pasif karena sejak kecil ia telah dibebankan watak bawaan itu oleh masyarakat. Hingga mereka tak mampu melihat, salah satu prinsip cinta dan kehormatan adalah bahwa salah satu pihak tidak boleh menundukkan pihak lain. Kata Nawal El Saadawi, perempuan yang tunduk kepada tekanan mental, psikologi dan seksual samasekali tidak memiliki pilihan selain tindakan pengorbanan. Padahal, menurutku, dalam cinta tak pernah ada pengorbanan.

  


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Mba. izin copas ya…. artikelnya bagus.

Komentar oleh Black Angel




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: