It’s My Life


Ketika Menunda Kehamilan Menjadi Pilihan
Maret 15, 2008, 7:38 pm
Filed under: Gender

Tiba-tiba saya teringat percakapan dengan almarhumah mbah uti ketika masih duduk di bangku SD. “Kamu itu anak perempuan, kalau bangun tidur segera beresin tempat tidur. Jangan lupa rambut disisir yang rapi, jangan diurai kayak gitu. Gimana nanti kalau kamu sudah kawin?” nasihatnya. Ia tak senang melihat saya bangun siang, keluar kamar dengan rambut acak-acakan dan kamar tak dibereskan. Sebagai cucu yang bandel, saya selalu asal menjawab, “Tenang aja mbah. Nanti kalau sudah kawin, saya punya pembantu buat ngeberesin rumah.” Tentu saja, sambil berbicara begitu saya harus segera kabur dari kamar. Saya harus melakukan nasihatnya karena saya perempuan.

Beberapa tahun kemudian, target menikah pada usia 25 tahun dipatahkan keluarga. “Apa bedanya menikah sekarang dan lima tahun lagi? Toh kamu menikah dengan orang yang sama?” begitu kata mereka. Ketika saya putuskan untuk menikah, teman-teman menganggap aneh. “Kamu MBA (married by accident) Rat? Nggak mungkinlah kamu bisa kawin muda begini,” begitu kalimat yang selalu dilontarkan.

Beberapa bulan kemudian, pertanyaan baru muncul. “Kok kamu belum hamil?” begitu kata orang-orang. Saya berharap dapat menunda kehamilan pertama. Saya masih punya target yang lain dan bukan harus hamil. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, pertanyaan mereka selalu sama, “Kamu mandul Rat? Kok nggak hamil-hamil?” Saya berharap tidak melakukan kunjungan ke rumah keluarga karenanya. Tiap kali berkunjung, tiap kali itu pula saya harus mendengarkan pertanyaan, nasihat dan keluhan yang sama. Ketidakhamilan itu karena kemandulan saya, ketidakmampuan saya bereproduksi. Padahal, saya sehat-sehat saja. Entahlah, bagaimana mereka bisa men-judge saya seperti itu. Akhirnya, hampir setahun berikutnya saya pun hamil.

Ketika anak saya berumur tiga tahun, pertanyaan serupa muncul lagi. “Anakmu sudah mulai besar lho. Nggak buat lagi?” Sabar. Empat tahun, sabar juga. Saat anak saya berumur tujuh tahun, tuntutan mulai meningkat. “Kamu gimana sih? Nggak mikirin suami namanya. Ntar suamimu keburu tua. Keburu pensiun. Masa’ anak masih sekolah, bapak udah pensiun?” begitu kata tetangga. Eh, ternyata keluarga sama saja. Sebagai anak tertua di keluarga suami, saudara saya selalu mempertanyakan “keputusan” beranak satu. Keempat adik ipar saya, masing-masing sudah beranak dua. Kenapa kakaknya cuma

satu? Padahal, saya tak memutuskan beranak satu. Saya hanya menunda kehamilan berikutnya.

Datanglah saya ke psikolog. “Semua meminta saya hamil lagi, tapi saya belum berminat untuk hamil,” ujar saya. Ia malah menyarankan, “Anak Ibu sudah besar. Memang sudah seharusnya punya anak lagi. Nggak baik lho. Nggak baik buat Ibu, juga anak Ibu.”

Nggak puas, saya berbincang dengan teman psikiater. “Apa yang kamu khawatirin? Kalau urusan rejeki, tiap anak ada rejekinya masing-masing. Nggak usah dipikirin.” Waduh. Kalau begitu kan mending saya punya anak banyak ya? Curhat ke teman kantor, sama saja. Ngobrol dengan sahabat lama, sarannya juga sama.

Saya jadi berpikir, apa nggak boleh saya menunda kehamilan ini lebih lama lagi? Ini bukan perkara banyak anak, banyak rejeki atau tiap anak ada rejekinya masing-masing. Ini masalah pilihan dan saya memilih menunda kehamilan berikutnya. Nggak perlu dipautkan dengan umur, rejeki atau yang lain. Ini pilihan saya. Masih banyak hal lain yang harus dipikirkan untuk memutuskan hamil kembali.

Saya berpikir, menjadi hamil adalah pilihan dengan kesadaran dan kemauan yang tinggi. Menjadi hamil sangat membanggakan buat saya. Dalam perut yang bisa melar ini, saya membawa kehidupan baru. Pengalaman melahirkan buat saya lebih dari nikmatnya ber-bungy jumping dari ketinggian 60 m di Kuta. Melahirkan bayi imut membuat saya tertarik melakukannya lagi. Tapi, saya punya pilihan. Pilihan saya, kehidupan baru itu haruslah selalu lebih baik dan indah. Jika hamil karena tekanan pihak luar, bagaimana saya bisa membawa kehidupan baru yang lebih baik dan indah itu?

Saya ingat pesan ibu saat hamil dulu. Waktu itu, saya diminta bersabar karena sikap tetangga yang tak menyenangkan. “Jangan mbatin ya. Sing sabar. Nanti anakmu jadi anak yang suka mbatin lho,” nasihatnya. Meski mengiyakan, toh tetap saja saya mbatin. Akhirnya, anak saya pun lebih suka menutup diri dan memendam masalahnya sendiri. Itulah sebabnya, saya percaya kuatnya hubungan ibu dan janin dalam kandungan. Itu sebabnya pula, saya harus punya kesadaran dan kemauan yang kuat dari dalam diri untuk hamil lagi.. Dengan kesiapan fisik dan mental yang matang, saya bisa membawa kehidupan baru yang lebih baik itu. Bukan karena desakan keluarga, tetangga, psikolog, psikiater atau rekan sejawat. Tapi karena saya memang memilih untuk hamil.

Siang itu, ketika saya bertemu seorang teman aktivis di Westin Resort Nusa Dua, Bali dan mengutarakan ini, dia tertawa. “Ini masalah hak atas tubuhmu ya?” katanya pendek. Saya jadi teringat Eko Bambang Subiyantoro dalam tulisannya, “Perempuan dan Perkawinan: Sebuah Pertaruhan Eksistensi Diri” (Jurnal Perempuan edisi 22, 2002). Ia menulis, …Perempuan memilih menikah adalah haknya, tetapi bukan sesuatu yang kodrati seolah-olah menjadi kewajiban. Perempuan mempunyai hak untuk tidak menikah. Karena pilihan menikah adalah pilihan rasionalitas individu bukan pilihan yang ditentukan oleh masyarakat.

Jika begitu, hamil atau menunda kehamilan pun saya pikir sama saja.

    


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: