It’s My Life


Mencari Tuhan
Maret 15, 2008, 6:27 am
Filed under: Fiksi

Zaman makin edan. Kata sesepuh supranatural, ini karena kita berada di zaman kaliyuga. Seorang pemuka agama mengatakan, saat kita berada di era kaliyuga, satu dharma melawan tiga adharma. Perlu perjuangan berat menuju ke kebaikan. Berada pada titik jenuh, kita mulai bingung mencari Tuhan. Tuhan tak ada. Tuhan menghilang. “Halo, Tuhan, Engkau di mana?” Tuhan tak menjawab. Tuhan benar-benar menghilang.

Aku benar-benar bingung mencari Tuhan. Kita ciptakan “rumah Tuhan” agar kita mudah bertemu denganNya. Aku mencarinya ke kuil, ke masjid, ke gereja, ke pura, ke mana-mana. Tapi aku tak juga berjumpa. Aku makin emosi. Tuhan bohong. Ia cuma diciptakan para pemuka agama agar dharma tak hanya satu. Adharma-lah yang harus satu. Aku berteriak lagi, “Tuhan, ini aku. Di mana Engkau? Tuhan, muncullah Tuhan.” Tuhan tak juga nongol. Aku lelah. Aku mulai frustasi. Tuhan tak ada.

Aku mulai menarik diri. Melarikan diri dari keramaian. Melarikan diri dari segala rutinitas. Aku mulai bosan. Di luar sana masih ribut. Berbagai tuntutan sedang bergaung. Pusing. Telinga  ini terasa bebal. Hanya ribut-ribut tanpa solusi. Aku hanya memerlukan jalan keluar. Aku perlu Tuhan untuk menuntun jalan ini. Tapi Tuhan juga tak ada. Ia pergi. Atau Ia memang tak ada?

Aku mulai mengeluh. Makin mengasingkan diri. Menyembunyikan diri. Diam dalam kesepian. Berbicara sendiri. Menangis tersedu sedan. “Aku nggak kuat lagi,” begitulah kata-kata yang mencerca. Tuhan tak ada. Siapa lagi yang bisa diajak bicara? Tak ada orang yang bisa mendengar. Semua penuh kepentingan.

Sepi. Sunyi. Tak ada lagi suara yang bisa keluar. Bahkan sebuah keluh. Tubuh ini meradang. Seperti sebuah spiral ditarik, menegang. Kencang. Kemudian terlepas. Mengendur. Tak tahan. Yang ada hanya diam. Lelah. Otot wajah makin mengendur ketika tiba-tiba tubuh ini terasa mengeluarkan cahaya. Aku tak bisa membuka mata. Tubuh ini makin bercahaya. “Apa ini?” pikirku. Aku berusaha menggerakkan badan. Tak kuasa. Mengapa selemas ini?

Aku melihat tubuh ini makin memendarkan cahaya. Hijau dan biru berkelebat. Putih keluar. Lama-lama, aku melihat warna ungu di cakra ajna. Begitu kencang. Seperti aliran air keran di belakang rumah. Tiba-tiba, ada nama Tuhan dalam huruf Arab berwarna kuning keemasan di sana. “Itu Tuhan?” Sepi, tak ada jawaban. Tubuh ini terus bercahaya.

“Kamu hanya perlu integritas,” tiba-tiba ada suara itu. “Maksudnya?” Aku tak tahu sedang berbicara dengan siapa. Tubuh bercahaya ini makin ringan. “Integritas.” Tak ada suara lagi. Hilang. Seperti dikejutkan, aku membuka mata. “Siapa tadi?” Bulu kudukku berdiri. Tak ada siapa-siapa. Ini masih dini hari dan tubuhku masih bersila di atas kasur yang tak empuk lagi.

Aku berlari keluar. Aku mencari suara itu. “Itukah Tuhan? Kenapa Ia tak menampakkan wajahNya?” Tuhan, Kau pergi ke mana?” teriakku. Sepi. Hanya suara jangkrik di kebun rumah yang terdengar. Tuhan bermain-main denganku. Ia mulai mempermainkanku. Aku ingin marah. Ia tak sungguh-sungguh ingin berbicara denganku.

Aku menggebrak pintu kamar. “Tuhan mempermainkanku,” tangisku sesenggukan. Berpuluh masalah tergantung di punggungku tak juga dilorotkanNya. Ia membiarkanku memikul beban yang terlalu berat. Ia tak adil. Tangisku menjadi. Ingus dan air mata tumpah ruah di bantal kusam yang jarang berganti sarung.

Air mataku mulai kering. Tapi dada ini masih sesak. Tuhan benar-benar tak adil Kenapa cuma aku? Kenapa hanya aku yang bertumpuk-tumpuk masalah? Kenapa aku tak boleh mempunyai pilihan? Mataku terasa berat. Menangis hanya satu-satunya cara agar pikiranku tak berlebihan menyikapi masalah. “Aku di sini,” lagi-lagi aku mendengar suara itu. Tapi mataku sudah sangat berat. Aku merasakan tangan itu mengelus punggungku. Seperti elusan tangan ibuku ketika aku minta dininabobokan dulu. Lembut. Menenangkan. “Kamu harus belajar mendengarkan. Lihatlah, Aku ada di mana-mana. Aku bahkan ada di dekatmu. Sangat dekat,” ujar suara itu lagi. Tapi aku tak sanggup lagi. UsapanNya benar-benar meninabobokanku. Aku terlelap dalam sekejab.

*

Badanku kaku. Aku seperti telah melakukan perjalanan jauh semalam. Aku mencoba mengingat. Tak ada yang terekam. Aku hanya ingat pada integritas. Suara itu. Tangan yang lembut. Tubuh yang bercahaya. Entahlah. Aku tak tahu apa yang terjadi.

 Mataku yang sembab memastikan bahwa aku menangis terlalu lama semalam. Aku harus pergi lagi. Tapi ke mana? Aku teringat suara itu, Aku ada di mana-mana. Ia ada di dekatku. Sangat dekat. Entahlah. Aku benar-benar tak mengerti.

Aku putuskan saja keluar dari rumah ini. Aku hanya mau pergi.

Di taman kota itu, aku termangu. Sebuah pohon beringin kokoh berdiri di salah satu sudut taman. Aku hanya memandanginya. Dari bawah ke atas. Atas ke bawah. Angin barat yang kencang tak berhasil mengibaskan tubuhnya.

“Begitulah manusia,” tiba-tiba aku mendengar suara itu. Perlu banyak masalah agar bisa mengerti. Masalah itu untuk mendewasakannya. Agar ia bisa memaknai hidup dengan lebih baik. Lihatlah pohon beringin itu. Ia harus menancapkan akar sedalam-dalamnya agar bisa berdiri kokoh di sana. Agar angin tak berhasil merobohkannya. Bandingkan dengan pohon yang lebih kurus, yang lebih kecil dan tak perlu menanamkan akar sedalam mungkin. Apa yang terjadi? Bahkan jarimu yang kecil itu bisa mencabut begitu saja, dalam hitungan detik.

Aku tersentak. Siapa lagi ini? Tak ada orang. Aku bergidik. Setengah berlari aku menuju ke halaman parkir dan terduduk di trotoar. Kakiku lemas. Beberapa jengkal dari tempatku, seorang laki-laki separuh baya tengah berusaha berjalan dengan kakinya yang tak utuh lagi. Di sampingnya, anak berusia belasan mendampinginya. Mereka menepi, duduk tepat di sampingku. Rasa iba terbersit di benakku.

Tanpa kuduga, ia menyapaku lebih dulu. Bapak yang ramah. Anaknya tak bisa sekolah lagi. Lima tahun lalu, saat ia menemani istrinya ke pasar, ia ditabrak sedan mewah. Lelaki perlente yang menabraknya malah menyalahkannya karena dianggap tak hati-hati. Mobil mewahnya jadi ternoda dengan darah. Bodi belakang penyok karena mobil di belakangnya tak cukup waktu mengerem mendadak. Istrinya meninggal di tempat. Kakinya tak lagi utuh. Tragis. Lebih tragis lagi ketika ia tak mendapat bantuan penguasa meminta haknya untuk ganti rugi.

Ia malah diminta memikirkan ongkos perbaikan mobil ratusan juta itu. “Saya hanya orang kecil. Mana mungkin bisa melakukannya, termasuk meminta hak saya?” ujarnya datar. Tak ada kesedihan. Ia malah tersenyum. Mereka lebih peduli pada mobil mewah itu. “Apalah artinya saya ini, apalagi jika disejajarkan dengan sebuah mobil mewah? Mobil itu lebih berarti, ketimbang saya,” sambungnya. Ironis.

Ia terus saja bercerita. Ketakutanku menghilang. Terharu. Segala macam masalah yang semalam bertumpuk seakan lenyap. Bapak ini lebih susah, tapi hebatnya, ia tetap tersenyum.

“Beruntunglah Anda,” selanya.

“Maksud Bapak?”

“Lihatlah saya. Kaki pun tak utuh lagi. Anda masih bisa berjalan normal,” jawabnya. Aku tercenung. Betapa banyak orang yang ribut menginginkan sepatu dan sandal baru. Sudah punya satu, minta dua. Sudah punya dua, minta lima. Begitu seterusnya. Tak pernah puas. Tapi Bapak ini? Ia bahkan tak bisa merasakan bangganya memamerkan sepatu baru. Atau sandal baru.

“Bapak siapa?” tanyaku tiba-tiba. Mataku tajam memandang.

“Maksud adik?” tanyanya bingung. Aku berpikir aneh. Jangan-jangan…Aku teringat lagi suara itu. Aku ada di mana-mana. Aku sangat dekat denganmu. Bahkan sangat dekat. Buru-buru aku meninggalkan mereka.

Suara itu menggema lagi. “Aku ada di mana-mana. Aku sangat dekat denganmu. Bahkan sangat dekat. Dapatkah kau merasakannya sekarang?” Aku makin kencang berlari. Taman itu sepi sekali.

“Berhentilah,” ujar suara itu. Aku yang ketakutan, menyerah. “Duduklah,” perintahnya. Aku menurut. “Tariklah napasmu perlahan-lahan, rasakan kehadiranKu. Aku di dekatmu,” sambungnya.

“Dengarlah,” suara itu terasa lembut tapi tegas. “Aku ada dalam dirimu. Jauh di lubuk hatimu. Engkau hanya perlu mendengarkan suaraKu. Jika kau sibuk dengan urusanmu, engkau tak akan pernah mendengarkanKu. Berhentilah sejenak. Rasakan kedekatanKu denganmu. Tak pernahkah engkau berpikir, semua yang ada di alam ini adalah sebuah pesan? Pesan yang harus kau dengarkan. Aku sedang berbincang denganmu melalui pohon beringin itu. Aku sedang bercakap denganmu melalui Bapak tadi. Aku terus menerus berkomunikasi denganmu, tapi kau tak pernah memperhatikanKu. Kau anggap remeh orang yang lebih rendah pangkatnya darimu, padahal Aku sedang menitip pesan melalui dia. Kau bahkan tak ingat sepatah kata yang dia ucapkan. Aku ingin mengatakan langsung padamu, tapi itu tak ingin aku lakukan. Aku ingin kau belajar memahami. Mengerti semua pertanda yang Aku berikan. Bahwa semua kejadian bukanlah suatu kebetulan. Aku sudah menentukannya. Suatu saat, kau akan mengerti maksudku…”


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: