It’s My Life


Pakai Kondom, Siapa Takut?
Maret 15, 2008, 7:43 pm
Filed under: Gender

Saya jadi tertarik ketika membaca tulisan Rahmat Susanta, “Stigmatisasi Kondom” dalam rubrik “Marketingsiana” di majalah Marketing edisi pertama tahun ini. Analisis pemimpin redaksi majalah “Marketing” ini dalam paragraf terakhir membuat saya mengeryitkan dahi. Di sana, Rahmat mengevaluasi markas polisi sebagai lokasi ATM kondom yang tengah dilakukan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Rahmat menulis, secara geografis, markas besar polisi umumnya ada di kota besar sehingga mudah diakses. Market size? Lumayan besar. Puluhan bahkan ratusan wanita tuna susila (WTS) yang terjaring bisa masuk di tempat tersebut. Market density? Kalau membayangkan kantor polisi disesaki banyak WTS, mestinya kerapatan antar “potential buyer” sangat tinggi. Market behavior? Nah, ini dia! WTS mana yang mau beli kondom lewat ATM di kantor polisi? Bisa-bisa dia ditegur polisi, “Dasar enggak kapok-kapok, mau dimasukin sel lagi?”

Paragraf inilah yang membuat saya makin mengernyitkan dahi. Mengapa hanya WTS yang disebut sebagai bagian market size ATM kondom? Saya mulai menghubungkan dengan tulisannya dalam paragraf lain, …hubungan seks suami-istri beberapa kali terjadi karena spontanitas dan tidak direncanakan. Memakai kondom bisa merusak “skenario bebas” tersebut. Itulah sebabnya mengapa kondom cocok berada di tempat prostitusi, karena hubungan seks yang terjadi sudah direncanakan.

Selain itu, Rahmat juga mengatakan, kampanye kondom sebagai penangkal HIV/AIDS inilah yang akhirnya menggeser image kondom dari “fungsi mulianya” sebagai alat kontrol populasi penduduk menjadi produk seks (bebas). Pria baik-baik akhirnya jadi malu membeli kondom di supermarket. Dalam bagian lain, lanjutnya, itulah sebabnya, pembeli yang tepat untuk kondom ini adalah wanita. Wanita lebih kelihatan “sayang suami” kalau membeli kondom ketimbang sebaliknya. Pun di tempat-tempat prostitusi, yang menjadi sasaran kebanyakan adalah wanitanya – bukan kliennya.

Tiga hal yang menjadi perhatian saya adalah “pencitraan” kondom yang dilakukan Rahmat melalui tulisannya, bahwa kondom cocok berada di tempat prostitusi, pembeli sebaiknya adalah wanita dan wanita pembeli kondom melalui ATM di markas polisi adalah WTS. Saya tidak ingin “menghakimi” Rahmat. Tapi buat saya, sebaiknya kita membantu pemerintah mensosialisasikan kondom dengan memberikan alternatif solusi, jika kebijakan badan yang berwenang ternyata tak tepat sasaran.

Saya sepakat dengan Rahmat bahwa kampanye kondom sebagai penangkal HIV/AIDS telah menggeser image kondom sebagai salah satu alat kontrasepsi. Dalam tayangan televisi yang sekilas saya tonton beberapa waktu yang lalu, didistribusikannya ATM kondom ini adalah untuk meningkatkan pengguna kondom di kalangan pria. Tentu, BKKBN bermaksud baik. Tujuannya agar pria tak malu lagi jika harus membeli kondom karena ia tak perlu berhadapan dengan kasir (yang kadang-kadang tersenyum penuh arti saat transaksi terjadi).

Sampai saat ini, akseptor KB pria masih minim. Menurut Dr. Sumarjati Arjoso, S.K.M. selaku Kepala BKKBN Pusat di sebuah pertemuan pada pertengahan tahun lalu di Sanur, Bali, akseptor KB pria tak sampai 2% dari total akseptor KB di Indonesia. Angka ini tentu sangat kecil. Upaya untuk meningkatkan jumlah akseptor KB pria telah dilakukan sejak April 1986. Waktu itu diadakan penelitian sehubungan dengan rencana produksi kondom “Dua Lima”. Promosi dilakukan dengan penekanan pada tahap persuasif, perubahan nilai dan kebiasaan, tahap mencoba dan akhirnya tahap sasaran pemakaian yang kontinyu. Hambatan umum pemasaran kondom saat itu, di samping hambatan psikologis dan ekonomis, juga hambatan sosial, kultur bahkan politis dan agama. (Tantangan Profesi Wartawan, Berita Kisah Widminarko, Pustaka TOKOH Jakarta, 2001)

Kini, kondom adalah barang biasa yang “tak biasa”. Biasa, karena sesungguhnya kondom sangat mudah didapatkan. Mulai supermarket, apotik sampai pedagang jamu kaki lima. Menjadi tak biasa karena masih banyak pria yang menolak menggunakan kondom dalam hubungan seksual dengan pasangannya. Alat kontrasepsi ini tak disukai pria dengan berbagai alasan, salah satunya adalah mengurangi kenyamanan saat bersetubuh. Ironisnya, menurut Gede Putu Abadi, Kepala BKKBN Bali, kebanyakan orang yang mengatakan hal tersebut malah tak pernah mencobanya.

Pada beberapa kesempatan mengobrol dengan teman pria, saya iseng melakukan “survai” kecil-kecilan. Perasaan adanya sesuatu yang “mengganjal” di penis saat senggama merupakan alasan pertama mereka tak memakai kondom. Ketika saya “memancing”, bagaimana cara mereka menggunakan kondom, tawa saya meledak. O o, ternyata, sepertinya, sebagian besar pria melakukan teknik yang keliru saat memakai kondom. Mereka langsung memakai kondom di awal senggama. Padahal, pada periode awal itu diperlukan rangsangan yang memadai agar pasangan siap melakukan hubungan seksual. Jika tidak, pemakaian kondom hanya akan menyebabkan lecet pada bagian dalam vagina. Akibatnya, ketidaknyamanan itu pun akan dikomplin pasangan (hmm..saya tahu betul masalah ini karena suami saya akseptor KB pria).

Permasalahan baru muncul ketika sebagian pria “baik-baik” membeli kondom. “Persepsi negatif” yang ditudingkan kepadanya bisa membuat mereka malas membeli kondom. Padahal, sementara ini kondom adalah salah satu alat kontrasepsi yang paling mudah diterima pria. Jika ini terus berlanjut dan pencitraan kondom hanya sebatas pada penangkal HIV/AIDS, bukan mustahil jika akseptor KB pria malah bertambah minim.

Jika ini terjadi, lagi-lagi, wanita-lah yang menanggung akibatnya. Wanita yang akan terus “dipaksa” ber-KB. Wanita seakan-akan tak punya pilihan lain bila tak ingin terus hamil. Ada baiknya, kini sosialisasi KB pria makin digencarkan. ATM kondom bisa menjadi salah satu jembatan agar pria tak malu lagi untuk membeli kondom.

Pemerintah atau badan terkait harus membuat pencitraan baru terhadap keberadaan kondom. Kondom jangan hanya dicitrakan sebagai penangkal HIV/AIDS (yang bisa berarti mereka melakukan hubungan seksual dengan orang lain selain pasangannya). Kondom bukan hanya diperuntukan bagi daerah prostitusi dengan alasan cocok karena kondom dipakai untuk hubungan seksual yang direncanakan. Namun kondom memang wajib dipakai di daerah prostitusi dengan alasan mencegah penularan PMS. Kondom juga cocok dipakai untuk hubungan seksual yang “tidak direncanakan” yang kerap terjadi dalam hubungan suami-istri.

Pencitraan kondom sebagai alat kontrasepsi dalam keluarga bisa dilakukan dengan meniru kondom “Dua Lima” yang berniat mengatakan, dua anak cukup (ingat iklannya, dua jari artinya dua anak, kemudian lima jari terbuka semua yang bisa dikonotasikan stop/cukup). Slogan “Lebih terasa lebih nikmat”, “Tiada nikmat setipis sentuhannya”, “Full time for love”, “Designed for the pleasure” yang lebih menggunakan pendekatan pada kenikmatan pemakai (seperti pendekatan yang digunakan kondom “King Tex” dan “Slode Tex” zaman dulu sebaiknya dihindari).

Dengan adanya sosialisasi tersebut, saya rasa, bisa membuat pria (atau pun wanita) tak malu membeli kondom. Bukan alasan yang tepat bahwa jika wanita yang membeli kondom berarti sayang suami. Toh kasir tak pernah menanyakan wanita tersebut sudah menikah/belum atau akan dipakai berhubungan seksual dengan siapa kondom yang dibelinya. Solusi itu juga tak akan meminimalisir jumlah pria yang berhubungan badan dengan PSK.

Berkaitan dengan ATM kondom, lagi-lagi saya sepakat dengan Rahmat bahwa pendistribusian ATM kondom perlu memperhatikan channel design strategy. Harus jelas, untuk apa ada ATM kondom? Siapa target market-nya? Jika sasarannya untuk meningkatkan akseptor KB pria, wah, sebaiknya nggak perlu ATM kondom di tempat-tempat ramai seperti mal. Alasannya, ada kecenderungan yang berbeda antara pria pembeli kondom sebagai akseptor KB dan pria yang menggunakan kondom untuk berhubungan dengan wanita lain. Sebagai akseptor KB, pria cenderung membeli dalam jumlah yang relatif banyak, minimal satu dos. Itu dilakukan sebagai upaya penyetokan kondom jika terjadi hubungan seksual yang tidak direncanakan. Sebaliknya, pria yang niatannya untuk berhubungan intim dengan wanita lain cenderung membeli kondom secara eceran. Jika memang ATM kondom harus ada, bahkan di markas polisi sekali pun dan kelak ada wanita yang membelinya, jangan sertamerta mendeskriditkan ia sebagai WTS.

Jadi, sekarang waktunya pria berubah. Pria perlu pencerahan agar “rela” menjadi akseptor KB. Pakai kondom, siapa takut?


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Wah, saya setuju dengan Mbak. Kondom memang tidak lagi efektif secara praktis di lapangan. Walaupun secara kualitas dan produk, bisa mencapai 96%.

Komentar oleh yauma




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: