It’s My Life


Pemberitaan Kasus KDRT di Media Massa Bali
Maret 15, 2008, 7:56 pm
Filed under: Gender

Tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga tak serta-merta membuat pemberitaan kasus tersebut di media massa meningkat. Berdasarkan data yang tercatat di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Provinsi Bali, pada tahun 2004 kasus kekerasan dalam rumah tangga terhitung 7 kasus, meningkat menjadi 35 kasus pada tahun 2005, dan 81 kasus pada tahun 2006. Namun jika dicermati, pemberitaan media massa mengenai kasus tersebut masih bisa dihitung dengan jari. 

Media massa memunyai peran penting dalam memengaruhi opini publik. Di sisi lain, media massa memiliki pijakan untuk mengarahkan sebuah pemberitaan, termasuk pemberitaan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Kebijakan dalam arah pemberitaan yang dipilih oleh sebuah media massa dalam pemberitaan kasus kekerasan dalam rumah tangga bisa berdampak positif maupun negatif. Positif, jika media massa tersebut mengambil posisi sebagai agen konstruksi. Sebagai agen kontruksi, media menentukan bagaimana realitas digambarkan. Berita bukan cermin dari suatu realitas. Berita adalah  hasil konstruksi wartawan dan media.[1] Media yang berbeda bisa menghasilkan gambaran beragam mengenai kasus kekerasan dalam rumah tangga. 

 

Media Massa dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Salah satu alasan minimnya pemberitaan mengenai kasus kekerasan dalam rumah tangga tak terlepas dari persyaratan awal sebuah pemberitaan yaitu adanya nilai berita atau kelayakan berita suatu kejadian. Secara umum, kejadian yang dianggap mempunyai nilai berita atau layak berita adalah yang mengandung satu atau beberapa unsur, yakni significance (penting), magnitude (besar), timeliness (waktu), proximity (kedekatan), prominence (tenar), dan human interest (manusiawi).[2] 

Kebanyakan konflik adalah layak berita. Konflik fisik seperti perang atau perkelahian adalah layak berita karena biasanya ada kerugian dan korban. Kekerasan itu sendiri membangkitkan emosi dari yang menyaksikan dan mungkin ada kepentingan langsung.[3] Lalu, bagaimana dengan kasus kekerasan dalam rumah tangga? 

Setiap tulisan mengenai publik, mulai dari gagasan, kemudian melalui pengembangan, sampai pada naskah akhir, merupakan hasil dari beberapa tingkat keputusan, yaitu penugasan (data assignment) yang menentukan apa yang layak diliput dan mengapa; pengumpulan (data collecting) yang menentukan bila informasi itu dikumpulkan itu cukup; evaluasi (data evaluation) yang menentukan apa yang penting untuk dimasukkan dalam berita; penulisan (data writing) yang menentukan kata-kata yang perlu digunakan; dan penyuntingan (data editing) yang menentukan berita mana yang perlu diberikan judul yang besar dan dimuat di halaman muka, tulisan mana yang perlu dipotong, cerita mana yang perlu diubah.[4] 

Meski kasus kekerasan dalam rumah tangga masuk dalam ranah konflik yang selalu ada korban dan kerugian namun kasus itu jarang dipilih untuk diberitakan, apalagi diangkat menjadi berita utama, karena kekerasan rumah tangga merupakan ruang domestik. Permasalahan di ruang domestik tidak menarik diberitakan bila dibandingkan dengan masalah yang bersifat umum seperti masalah politik, tawuran pelajar, konflik antarlembaga, dsb. 

Kasus kekerasan dalam rumah tangga tak lepas dari ketidakadilan gender yang terjadi di masyarakat dan mayoritas, perempuan adalah korbannya. Dalam UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) disebutkan, kekerasan rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Seorang suami yang kerap membentak istrinya tak menarik untuk diberitakan karena dianggap tidak memiliki nilai berita. Namun, jika si suami tersebut melakukan tindak kekerasan lain sehingga menimbulkan dampak yang luar biasa buruk, dapat diangkat sebagai berita. Contoh, seorang suami yang memukul kepala istrinya dengan palu hingga mengalami gegar otak.

Kenyataannya, praktik jurnalistik yang banyak diterapkan adalah netral gender. Dalam praktik jurnalistik yang netral gender, posisi media sebagai saluran yang netral dan bebas. Berita yang yang dipublikasikan adalah cermin dari refleksi kenyataan. Oleh karena itu, berita sama dan sebangun dengan realitas. Kondisi ini menuntut wartawan bersikap netral dan sebagai pelapor. Wartawan merupakan bagian dari tim media dalam newsroom di mana masing-masing punya tanggung jawab dan peran tersendiri.[5] 

Pemberitaan Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Pemberitaan mengenai kasus kekerasan dalam rumah tangga oleh media massa di Bali sangat beragam. Ada lima hal yang perlu dicatat, yaitu penggunaan bahasa, perempuan/istri selalu ditempatkan sebagai penyebab munculnya kekerasan, pencitraan negatif perempuan, perempuan/istri diposisikan sebagai subordinat laki-laki/suami dan adanya peran media dalam mensosialisasikan UU PKDRT. 

Penggunaan Bahasa Dalam Pemberitaan Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Media massa di Bali memiliki kecenderungan menggunakan kata-kata sensasional dan terkesan sadis. Pilihan kata sensasional itu dianggap menarik, terutama dalam penulisan judul. Dalam praktik jurnalisme, membuat judul yang menarik memang mutlak. Padahal di sisi lain, kata-kata yang sensasional itu menimbulkan efek kekerasan mendalam.Contoh, ”Kepala Mita Dibenturkan ke Tembok (1)”[6] dan ”Cemburu, Suami Jambak dan Seret Istri”[7]. Kedua judul berita itu menggambarkan sesuatu yang sadis, yang dianggap menarik bagi pembaca.  

Perempuan/Istri Selalu Ditempatkan Sebagai Penyebab Munculnya Kekerasan

Pada pemberitaan kasus kekerasan dalam rumah tangga, perempuan/istri selalu diposisikan sebagai penyebab munculnya tindak kekerasan seperti pemberitaan portal beritabali.com berikut ini. 

”Gara-gara HP, Suami Aniaya Istri Hingga Babak Belur”[8] 

Sangsit. Warga Dusun Peken, Desa Sangsit, Kecamatan Sawan Selasa siang dikejutkan dengan aksi penganiayaan yang dilakukan Nyoman Suparta terhadap istrinya, Komang Suardani yang dipicu lantaran korban Suardani melemparkan sebuah handphone yang diserahkan oleh pelaku Suparta.”Tidak berselang lama, sang suami datang dalam keadaan mabuk dan menyerahkan handphone yang diminta korban. Namun setelah di tangan korban, handphone tersebut dilempar hingga membuat pelaku tersinggung,” papar Pahumas. 

Perempuan sebagai pemicu tindak kekerasan dalam rumah tangga tampak pula dalam pemberitaan Harian Bali Post sbb.  

“Tersinggung, Istri Ditendang Hingga Tewas”[9] 

Banyuwangi (Bali Post)-  Kekerasan dalam rumah tangga kembali memakan korban. Gara-gara dibilang pengangguran, Marnapi (45) warga Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi nekat menghabisi nyawa istrinya, Selasa (18/9) malam. Korban adalah Aniyati (36). Dia tewas setelah dihajar dengan tendangan kaki. Kuat dugaan, korban meregang nyawa karena terbentur dinding rumah.…. 

Pertanyaannya, apakah ketersinggungan merupakan pembenar untuk melakukan tindak kekerasan terhadap perempuan/istri? 

Pencitraan Negatif Perempuan

Pada media yang tidak sensitif gender, secara disadari atau tidak, media tersebut memberi sumbangan terhadap pelestarian nilai ketidakadilan gender, salah satunya stereotipe atau pencitraan negatif terhadap perempuan seperti yang termuat dalam narasi berita SCTV berikut ini. 

”Anak Dianiaya Ibu Tiri”[10] 

Liputan6.com, Denpasar: Seorang bocah berusia sembilan tahun di Denpasar, Bali diduga menjadi korban penyiksaan ibu tirinya. Ika Yuliana Dewi, siswa kelas 3 Sekolah Dasar Dauh Puri Denpasar ini, belum lama ini, terpaksa dipindahkan ke rumah tetangga. Warga Jalan Pulau Batanta mengungsikan Ika lantaran bocah ini mengaku sering dianiaya Erna.Bilur-bilur bekas luka masih nampak di sekujur tubuh Ika. Menurut dia, dalam beberapa bulan terakhir ini, Erna kerap menyiksanya tanpa alasan yang jelas. Adinata Kusuma, ayah kandung Ika, mencoba mengambil kembali anaknya yang diamankan warga. Namun tak diizinkan karena takut penganiayaan terulang lagi mengingat Adinata jarang berada di rumah. 

Berita televisi ini membangun ciri negatif yang melekat pada status ibu tiri. Stigma ini tentu membuat perempuan yang menyandang status ibu tiri mengalami kesulitan dalam beradaptasi dan secara tidak langsung akan dipersepsikan sebagai orang yang berkelakuan negatif.

Demikian pula dalam kutipan berita yang dimuat Koran Tokoh berikut ini. 

”Kasus Ayah Menyiksa Anak Kandung (2)Lupa Sikat Gigi, Rino Diikat di Pohon”[11] 

…. Rino mengeluh tak tahan menerima siksaan ayahnya. Olehnya, Rino tak henti-hentinya mengiba tinggal bersamanya. Tetapi, wanita yang masih menjanda dan bekerja sebagai kasir di Planet Hollywood ini mengaku tak bisa berbuat banyak.

 Pemilihan kata ’menjanda’ ini seakan-akan menunjukkan bahwa status janda adalah sesuatu yang buruk. Selama ini, persepsi masyarakat terhadap perempuan bersatus janda sangat negatif, berbeda halnya dengan duda. Status perempuan janda pun lebih sering dimasukkan dalam unsur keterangan pelengkap dalam berita ketimbang lelaki duda tanpa maksud yang jelas.Dalam berita itu, tanpa menggunakan keterangan ’masih menjanda’ pun, kalimat itu sudah cukup dimengerti. 

Perempuan Subordinat Laki-laki

Media pun dapat melanggengkan pandangan masyarakat terhadap perempuan, yakni perempuan adalah subordinat laki-laki. Sebagai subordinat laki-laki, perempuan digambarkan sebagai sosok yang lemah dan tidak berdaya. Sebaliknya, kepentingan laki-laki lebih dikedepankan. Persepsi ini tentu merugikan perempuan karena pada dasarnya, dua penyebab utama kekerasan dalam rumah tangga adalah budaya patriarkis yang mendudukkan laki-laki sebagai mahluk yang dianggap superior dan perempuan sebagai mahluk inferior serta pemahaman yang keliru terhadap ajaran agama sehingga menganggap bahwa laki-laki boleh menguasai perempuan.[12]

Pemahaman bahwa perempuan adalah properti dan hak milik laki-laki makin memperlemah posisi perempuan. Dengan anggapan seperti itu, perempuan bebas diperlakukan apa saja termasuk mendapat tindakan kekerasan oleh laki-laki seperti yang muncul dalam pemberitaan sbb. 

”Cemburu, Suami Jambak dan Seret Istri”[13] 

Banjar. Lantaran dipicu api cemburu, Ketut Sugata, warga Dusun Sekar Sari, Desa Banyu Sri, Kecamatan Banjar, tega melakukan kekerasan terhadap istrinya, Luh Sumindri. Ia menjambak rambut dan menyeret istrinya dari dalam rumah ke pekarangan.           

 ”Minta Cerai, Pukul Istri, Suami Dipolisikan”[14]   

Singaraja, Denpost. Aksi kekerasan dalam rumah tangga kembali terjadi di wilayah hukum Polres Buleleng. Komang Kartini Dewi (28), alamat Jalan Pulau Seribu, Kelurahan Banyuning melaporkan suaminya Wayan Ardiasa (24) ke Mapolres Buleleng.                  

Ceritanya, Selasa (18/9) sore, korban baru datang dari rumah temannya. Begitu sampai di rumah, suaminya langsung menarik tangan korban ke kamar dan memintanya untuk bercerai. Saat itu juga terjadi pertengkaran. Pelaku nekat memukul muka dan leher istrinya. 

Adanya Peran Media Dalam Mensosialisasikan UU PKDRT

Selain memberi pengaruh negatif, media juga berperan positif dalam upaya mensosialisasikan UU PKDRT. Hal ini tampak melalui pemberitaan kasus kekerasan dalam rumah tangga yang pada akhirnya merujuk UU PKDRT untuk menjerat pelaku seperti yang termuat di Koran Bali Post sbb. 

“Tersinggung, Istri Ditendang Hingga Tewas”[15] 

….Kapolsek Tegalsari Iptu Setyo Widodo seizin Kapolres Banyuwangi AKBP Ery Nursatari membenarkan kasus pembunuhan tersebut. Hasil visum sementara menguatkan korban tewas setelah dianiaya suaminya. Tengkuk korban lebam dan membiru. Begitu juga kening korban sedikit benjol dan lebam bekas benturan benda tumpul. Tersangka akan dijerat dengan UU No. 23 tahun 2004 tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). “Ancaman hukumannya bisa 15 tahun penjara,” terang Kapolsek. (udi) 

Selain mengedukasi pembaca mengenai akibat tindak kekerasan dalam rumah tangga, media massa juga berperan mensosialisasikan undang-undang tersebut bahwasanya UU PKDRT yang ditelurkan bukanlah merupakan perangkat hukum yang meningkatkan kasus perceraian seperti yang ditakutkan sebagian kalangan. Sebaliknya, keberadaan UU PKDRT adalah sebagai salah satu upaya terwujudnya keluarga harmonis, bebas dari kekerasan baik fisik, psikologis, seksual, maupun kekerasan ekonomi seperti kutipan berita yang dimuat Koran Tokoh sbb. 

“Mesra Sepulang dari LP”[16] 

Karangasem membuktikan, menghukum pelaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tidak selalu berujung pada perceraian.Pasangan Mashudi (25) dan Rusnah (21) tampak sumringah pagi itu. Padahal Senin (31/11) besok, Mashudi harus “menginap” di LP Amlapura selama 12 hari. Bapak seorang anak laki-laki itu divonis Pengadilan Negeri (PN) Amlapura 1 bulan penjara potong tahanan karena terbukti melakukan kekerasan (pemukulan) terhadap istrinya, Rusnah. “Saya menyesal,” kata lelaki berwajah tampan itu kepada Tokoh di rumahnya di Karang Langko, Amlapura.Perkara Mashudi hanya satu dari belasan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang telah divonis PN Amlapura. Hebatnya, tujuh dari para pesakitan (yang sempat menyampaikan pengakuan) itu mengaku menyesal dan ingin kembali ke keluarga masing-masing. Istri mereka pun menyatakan setuju dan siap menerima kembali kehadiran suami mereka di tengah keluarga. Hanya Made Sani -sebutlah begitu- yang menyatakan masih pikir-pikir.  

Media juga berperan memberikan pencerahan bagi masyarakat terkait UU PKDRT dan gerakan penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Selama ini, kekerasan dalam rumah tangga dianggap sebagai aib keluarga dan merupakan ruang domestik di mana publik tidak bisa ikut campur. Ketidaktahuan perempuan/istri yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga bahwa tindakan tersebut bukanlah bentuk kewajaran dan merupakan pelanggaran hukum pun dapat dibongkar dengan pemberitaan yang mendukung gerakan penghapusan kekerasan dalam rumah tangga seperti yang diberitakan Koran Tokoh sbb. 

”Lembur Sepulang dari Tahanan”[17] 

Mashudi tidak pernah menduga kalau pemukulan terhadap istrinya itu bisa berbuntut penahanan, pengadilan, dan penjara. ”Baru sekarang tahu. Tadinya saya pikir, memukul istri itu yaaa, begitulah, tidak sampai menjadi urusan polisi,” ungkap Mashudi yang harus menjalani sisa hukumannya selama 12 hari di LP Karangasem sejak Senin (13/12) ini. 

Penutup

Media memiliki peran besar dalam gerakan penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Sikap media massa dalam pemilihan dan penekanan isu serta penggunaan bahasa dan tampilan yang sesuai harus diterapkan agar media tidak terus-menerus melanggengkan nilai-nilai ketidakadilan gender yang merugikan perempuan/laki-laki dan membuat suara perempuan makin tak terdengar. Sudah seharusnya media dijadikan sebagai salah satu saluran untuk menyebarluaskan informasi yang lebih mendalam dan mengedukasi pembaca/pemirsa/pendengar mengenai penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Pemberitaan yang tidak menonjolkan sensasi di balik permasalahan perempuan bisa menjadi langkah produktif dalam penyadaran terhadap masyarakat mengenai kekerasan dalam rumah tangga. 

Daftar Bacaan 

Bali Post. Edisi Kamis 20 September 2007 hlm. 19.Denpost. Edisi Kamis 20 September 2007 hlm. 4.

Eriyanto. Mendeteksi Bias Gender Dalam Berita. Makalah Ini Disampaikan Dalam Training of Trainers Jurnalisme Berperspektif Gender, Yayasan Jurnal Perempuan, Jakarta 22-26 Februari 2005.

Iman Subono, Nur. Jurnalisme Berperspektif Gender. Makalah Ini Disampaikan Dalam Training of Trainers Jurnalisme Berperspektif Gender, Yayasan Jurnal Perempuan, Jakarta 22-26 Februari 2005.

Ishwara, Luwi. Catatan-catatan Jurnalisme Dasar. Seri Jurnalistik Kompas hlm. 53, 91-92. Penerbit Buku Kompas Jakarta. 2005.Siregar, Ashadi dkk. Bagaimana Meliput dan Menulis Berita untuk Media Massa hlm. 27-28. Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerbitan Yogya. 2007.

Subiyantoro, Eko Bambang. Jurnalisme Berperspektif Gender. Makalah Ini Disampaikan Dalam Short Course Jurnalisme Berperspektif Gender, Koran Tokoh, Denpasar 22 April 2006.

Tokoh. Edisi 454 Tanggal 9-15 September 2007 hlm. 17.

Tokoh. Edisi 455 Tanggal 16-22 September 2007 hlm. 14.

www. beritabali.com. Buleleng & Kriminal. 27 Juli 2007.

http://www.beritabali.com. Buleleng & Kriminal. 4 September 2007.

www.cybertokoh.com. 18 Januari 2006.

www. liputan6.com. 14 April 2007. Kasus KDRT.

Venny, Adriana. Panduan untuk Jurnalis: Memahami Kekerasan terhadap Perempuan hlm. 7-8. Yayasan Jurnal Perempuan & The Japan Foundation. Jakarta. 2003.            


[1] Eriyanto. Mendeteksi Bias Gender Dalam Berita. Makalah Ini Disampaikan Dalam Training of  Trainers Jurnalisme Berperspektif Gender, Yayasan Jurnal Perempuan, Jakarta 22-26 Februari 2005.
[2] Siregar, Ashadi dkk. Bagaimana Meliput dan Menulis Berita untuk Media Massa hlm. 27-28. Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerbitan Yogya. 2007.
[3] Ishwara, Luwi. Catatan-catatan Jurnalisme Dasar. Seri Jurnalistik Kompas hlm.53. Penerbit Buku Kompas Jakarta. 2005.
[4] Ishwara, Luwi. Catatan-catatan Jurnalisme Dasar. Seri Jurnalistik Kompas hlm.91-92. Penerbit Buku Kompas Jakarta. 2005.
[5] Eriyanto. Mendeteksi Bias Gender Dalam Berita. Makalah Ini Disampaikan Dalam Training of  Trainers Jurnalisme Berperspektif Gender, Yayasan Jurnal Perempuan, Jakarta 22-26 Februari 2005
[6] Koran Tokoh Edisi 454 Tanggal 9-15 September 2007 halaman 17.
[7] Beritabali.com. Buleleng & Kriminal. 27 Juli 2007.

[8] Beritabali.com. Buleleng & Kriminal. 4 September 2007.

[9] Bali Post, Kamis 20 September 2007 halaman 19.

[10] Liputan6.com. 14 April 2007. Kasus KDRT.

[11] Koran Tokoh Edisi 455 Tanggal 16-22 September 2007 halaman 14.

[12] Venny, Adriana. Panduan untuk Jurnalis: Memahami Kekerasan Terhadap Perempuan hlm.7-8. Yayasan Jurnal Perempuan & The Japan Foundation. Jakarta. 2003.

[13] Beritabali.com. Buleleng & Kriminal. 27 Juli 2007.

[14] Denpost. Kamis 20 September 2007 hlm. 4.

[15] Bali Post, Kamis 20 September 2007 halaman 19.

[16] www.cybertokoh.com. 18 Januari 2006.

[17] www.cybertokoh.com. 18 Januari 2006.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: