It’s My Life


Porno
Maret 15, 2008, 6:29 am
Filed under: Fiksi

“Ini masalah moral. Jika pornografi dan pornoaksi tidak dibuatkan undang-undangnya, negara kita bisa hancur. Apa jadinya generasi penerus bangsa ini nanti? Bangsa Indonesia ini bangsa yang berketuhanan, bangsa yang bermoral dan berbudaya luhur,” kata Pak Sono di warung kopi milik Tukijem.

“Betul Pak. Seksualitas kini makin diumbar di depan umum. Lihat aja artis-artis kita. Wong nyanyi aja pakai goyang erotis. Gimana syahwat laki-laki nggak terusik?” timpal Parno.

Tukijem yang dari tadi cuma mendengarkan, tiba-tiba ketawa.

“Wah, wah, wah. Terusik gimana Pak? Yang biasanya diam jadi bergerak begitu?” selorohnya.

“Huss..lha iya toh Jem, gimana laki-laki nggak terusik, wong goyangannya bisa bikin laki-laki ‘berdiri’. Itu kan membahayakan. Apalagi kalau semua syahwat laki-laki kompak berdiri. Ini jelas-jelas merusak moral,” ujar Parno.

“Ya nggak bisa gitu dong. Itu urusan laki-laki. Masa’ dia nggak bisa mengatur syahwatnya? Nggak cuma kolbu yang harus di-manage, tapi juga syahwat,” tukas Tukijem. Ia benar-benar dongkol. “Wong karena goyang aja kok disalahkan. Laki-laki aja nggak tahu diri, horny kok di mana-mana. Kalo otak sudah ngeres, liat kucing lewat juga on,” gerutunya.

“O o o..nggak bisa gitu Jem. Perempuan itu memang pembawa petaka. Inget kan petuah orangtua. Hati-hati terhadap harta, tahta dan wanita. Sudah jelas, semua sumber masalah ada pada perempuan,” tandas Pak Sono.

Napas Tukijem tertahan. “Lalu?”

“Ya jelas. Masalah pornografi dan pornoaksi itu nyata-nyata karena kesalahan perempuan. Lihat saja, gambar-gambar perempuan di majalah, tabloid dan tv-tv. Semuanya mengumbar payudara, pusar dan paha. Belum lagi nonjol-nonjolin pantat. Siapa pelakunya? Jelas perempuan. Perempuan itu membahayakan. Nanti kalau ada kasus perkosaan, laki-laki yang disalahkan. Padahal, perempuan yang mengundang laki-laki supaya mendekati dia. Makanya, perempuan harus dikasih aturan supaya negara ini aman,” lanjut Pak Sono.

Belum lagi Tukijem menjawab, Pak Sono berkata, “Agar lebih aman, perempuan harus diatur sedetil-detilnya. Perempuan nggak boleh menggunakan pakaian you can see. Terserah, mau ‘you can see my ketiak’, ‘you can see my paha’, ‘you can see my dada’ atau ‘you can see my udel’. Semuanya harus dilarang.”

“Setuju Pak. Sangat setuju,” sambung Parno.

“Mana bisa begitu? Memangnya negara punya hak apa sampai mengatur sedetil-detilnya. Apa negara ngasih uang untuk beli baju seluruh rakyatnya?” sergah Tukijem. Telinganya memanas. Ini keterlaluan. Nggak pakai mikir panjang, Parno sudah setuju-setuju aja.

“Dasar laki-laki egois. Perkara pakai baju terbuka aja sudah ribut. Sepanjang yang makai nyaman-nyaman aja, kenapa diributin? Toh nggak menganggu yang lain. Gimana-gimana perempuan lebih tahu aturan ketimbang laki-laki. Perempuan masih punya malu. Coba pikir, siapa sesungguhnya yang paling senang kalau ada perempuan pakai baju terbuka? Laki-laki kan? Jangan pura-pura,” sindir Tukijem.

“Laki-laki itu munafik. Itu juga terjadi pada sebagian masyarakat kita Pak. Menghujat tapi malah ikut menikmati. Saya jadi kasihan sama kaum saya Pak. Disalahi terus. Padahal mereka cuma dijadikan objek. Lihat saja gambar-gambar perempuan di tabloid, tayangan tv, majalah. Mereka hanya jadi model. Mereka dikasih bayaran supaya bisa menghidupi dirinya dan keluarga. Apa itu salah?” Tukijem tambah panas. “Sekali-kali, Pak Sono dan Parno ini harus diajari oleh perempuan kecil seperti aku,” pikirnya.

“Tapi bukan begitu caranya Jem,” sela Pak Sono.

“Oke, jadi harus bagaimana?” tantang Tukijem. Ia makin gemas. “Sekarang, gimana kalau kita balik? Saya mau buat peraturan, yang melakukan pemerkosaan gara-gara melihat perempuan pakai baju yang terbuka sedikit di bagian dada dikenakan hukuman 30 tahun penjara. Atau, bapak mau denda satu milyar? Boleh, tinggal pilih. Saya jadi pengen tahu, apa iya mereka masih nggak bisa me-manage syahwatnya? Selain itu, perempuan seperti itu pasti karena ada demand, ada permintaan. Nah, siapa yang punya permintaan itu? Siapa pasar yang mengonsumsinya? Laki-laki kan? Siapa yang ditawarin? Perempuan kan? Dari situ, jelas siapa yang lebih berkuasa, laki-laki! Kalau bapak ndak percaya, coba deh bapak survai di lokalisasi Dolly yang terkenal itu. Kalau PSK-nya yang disuruh nawarin laki-lakinya pakai kondom, apa iya mereka berkuasa? Kalau PSK-nya maksa harus pakai kondom, laki-lakinya ndak mau, dia nggak bakal dapat order. Nggak dapat duit. Hayo, siapa yang berkuasa? Siapa yang korban? Nah, kalau begitu, laki-laki yang harusnya dibenahi,” omelnya panjang lebar.

Parno tak berkomentar. Secangkir kopi yang mulai dingin itu seruputnya.

“Kenapa kamu malah menghukum laki-laki?” tanya Pak Sono. Ia bingung mau menjawab apa.

“Ya, kenapa juga bapak menyalahkan perempuan?” serang Tukijem.

“Baik, baik. Tapi lagi-lagi Jem, ini masalah moralitas. Kamu nggak mikirin bagaimana nasib anakmu nanti kalau perempuan terus mengumbar tubuhnya? Ini harus dibenahi. Karena itu, semuanya harus dibatasi. Pakai baju terbuka itu bukan budaya kita Jem. Budaya kita adalah budaya timur, budaya yang bernilai luhur. Kita adalah orang-orang yang memiliki moral dan akhlak yang mulia. Seksualitas itu nggak boleh diumbar,” jejal Pak Sono.

“Gombal,” kata Tukijem sinis. “Yang benar itu, kita itu sok moralis Pak. Omongan sama tindakan kok nggak kompak. Saya khawatir, negara kita ini dipenuhi orang-orang seperti bapak.”

“Kok kamu jadi marah gitu Jem?”

“Bapak sih, kayak nggak tahu aja. Kalau seksualitas itu hanya urusan ranjang, cerita orang-orang zaman dulu tentang lingga – yoni tentu nggak bakal pernah ada. Kalau sekadar urusan ranjang dan karena itu nggak boleh dibahas, apa bapak nggak berpikir anak-anak kita bisa mengaksesnya dari mana-mana? Ini zaman globalisasi Pak. Di WC aja bisa ngakses internet.”

Tukijem tambah semangat. Ia senang melihat Pak Sono tak bisa berkutik.

“Kalau ukurannya hanya moral, nggak cuma pornografi Pak. Korupsi sudah menghancurkan bangsa kita. Apa itu nggak urusan moral juga? Sebagai bangsa berketuhanan, koruptor besar-kecil itu juga nggak takut tuhan lagi. Boro-boro takut dosa, malu juga ndak Pak.Yang penting kaya. Bukan budaya malah membudaya. Masih mending goyang ngebor dah. Cari duit halal. Nggak nyusahin orang. Dibilangin pakai baju yang lebih ‘sopan’, ya nurut. Lha ketimbang dikasih tahu jangan korupsi tapi terus aja, piye iku? Wis lah Pak, nggak usah ceramah lagi. Tukijem ini, yang cuma rakyat kecil, maunya bapak bisa jadi panutan. Nggak cuma bisa ngomong. Kalau nanti saya main ke rumah Bapak, semoga saja saya nggak nemui majalah bergambar perempuan dengan baju terbuka. Kalau memang bapak bisa, Tukijem salut, pasti nurut. Wong yang diturutin nggak bisa, mana mungkin saya mau nurut?”

Pak Sono dan Parno bengong.

“Sudah, jangan bengong. Warung Ijem mau tutup. Cepet pulang!” hardik Tukijem.

“Lho Jem, kopiku belum habis nih. Kan belum jamnya tutup?” tanya Parno keheranan.

“Terserah. Aku mau tutup warung jam berapa aja kan terserah aku. Aku pengen tidur. Capek ngomongin moral sama bapak-bapak ini.” Kedua laki-laki itu masih terbengong-bengong.

 “Warung tutup. Hari ini aku baik hati. Kopi itu gratis!”

Denpasar, 12 Februari 2006


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: