It’s My Life


Sandera
Maret 15, 2008, 6:30 am
Filed under: Fiksi

Indonesia geger. Berbagai stasiun televisi siaran langsung dari plaza termegah di Jakarta. Sebuah stasiun televisi yang mengklaim diri sebagai stasiun berita, malah tak memutus tayangan itu. Ini berita bagus. Iklan pasti bertambah karena rating mendadak naik. Apalagi kalau beritanya tentang penyanderaan. Wah, ini tentu menghebohkan. Tak kalah dengan kasus bom Kuningan atau bom Bali. Semua program yang sudah direncanakan lewat begitu saja. Berita ini lebih penting.

Tukijem memang lagi apes. Ia disandera perampok di plaza itu. Ini pengalaman pertama Tukijem disandera. Ia tak pernah membayangkan kalau peristiwa ini bisa terjadi pada dirinya. Secepat kilat, perampok itu sudah menodongkan pistol di perut Tukijem. Ia terkejut. Perampok itu lebih sigap lagi. Tangan kiri Tukijem dipelintirnya ke belakang. Semua orang berlari menghindar. Semua orang menjerit ketakutan. Tapi Tukijem tidak latah. Ia hanya terkejut. Saking terkejutnya, ia hanya bisa ternganga persis ketika orang melihat hantu. Ia tak mampu berbuat banyak. Satu-satunya tindakan yang bisa dilakukannya adalah menuruti kemauan perampok itu.

“Jangan bergerak atau kamu mati sekarang juga,” hardik perampok itu. Tukijem tak menyahut. Ia hanya diam. Sebenarnya ia ingin menangis. Ia juga takut tapi ia tak bisa melakukan apa pun. Ia ingat pesan emaknya jika menghadapi masalah: tetap tenang. Itulah yang harus dilakukannya. Tukijem berusaha mengatur keterkejutannya tadi. Ia sedang menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Perampok itu berteriak ke arah kerumunan orang-orang. “Jika kalian bertindak macam-macam, perempuan ini mati!”

Orang-orang itu tampak ketakutan. Ngeri. Mereka tak bisa membayangkan jika berada dalam posisi Tukijem. Mereka takut, dalam sekejab saja Tukijem bisa mati. Pistol perampok akan mengoyak tubuh perempuan desa yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di Jakarta. Baju branded yang dipakainya akan tercabik-cabik. Dalam hitungan menit, harta dan nyawa Tukijem bisa melayang. Bagaimana nasib anaknya nanti, jika ternyata ia sudah menikah? Bagaimana pula dengan kedua orangtuanya, jika mereka masih hidup? Kalau mereka melihat Tukijem sedang disandera, mereka pasti shock.

Sebagian orang mulai menangis. Mereka tak sanggup melihat Tukijem disandera. Kasihan Tukijem. Tapi semua orang juga merasa beruntung, bukan mereka yang disandera. Siaran langsung itu terus saja diputar. Sesekali, wajah Tukijem dan perampok itu tampak di-close up. Sesekali, ia berada dalam long shoot.

Sirine mobil polisi terdengar meraung-meraung. Satu peleton dalmas disiagakan. Puluhan sniper dikerahkan. Tanpa banyak komando lagi, personel polisi itu bersiap di posisinya masing-masing.

“Menyerahlah! Kami sudah mengepungmu!” seru komandan pengepungan itu. Perampok itu malah makin marah. Tangan Tukijem makin dipelintirnya. Pistol yang dibawanya makin dirapatkan tepat di arah jantung Tukijem. Suasana makin tegang. Semua orang bergidik. Tampak beberapa orang saling berpelukan, ngeri.

Polisi hanya bisa bersiaga. Ini jelas membahayakan. Seperti judi, ini gambling. Jika kalah cepat, Tukijem bisa mati. Perampok itu bisa kalap. Polisi mulai menghalau orang-orang yang berkerumun. Mereka tak mau perampok itu memuntahkan pelurunya secara brutal.

Satu jam berlalu.

Tukijem mulai kelihatan lelah. Ia lelah karena tangannya terus saja dipelintir. Ia juga lelah karena terus menerus harus berdiri. Kakinya mulai pegal-pegal. Ia ingin duduk. Ia bingung, akankah perampok ini menuruti keinginannya?

“Jika aku tak pernah mencobanya, bagaimana aku tahu jika ia menuruti aku atau tidak?” pikir Tukijem dalam hati.

Pelan-pelan, Tukijem menggerakkan jari tangan kirinya. Perampok itu terkejut. “Jangan macam-macam!” hardiknya sambil menodongkan pistol. Polisi makin bersiaga.

“Maaf mas, tapi saya lelah. Tangan saya sakit. Saya tak akan melakukan apa pun, tapi tolong, tangan saya jangan dipelintir lagi,” pinta Tukijem. Perampok itu tak peduli.

“Mas, apa sampeyan nggak capek juga? Kita sudah berdiri lama sekali. Mas boleh terus menyandera saya, tapi tolonglah, tangan ini jangan dipelintir terus. Saya nggak bawa pistol. Mas bisa ngelakuin apa saja terhadap saya,” katanya memelas. Lagi-lagi, perampok itu tak peduli. Tukijem adalah satu-satunya alasan untuk bebas. Ia tak boleh dilepaskan.

“Mas, plis mas..”

Dor! Semua tersentak. Perampok itu menembak lantai di sekitar mereka.

“Diam atau kamu yang saya tembak!” sergah perampok itu.

“Menyerah!” seru polisi. Tapi mereka tak melakukan tindakan lain selain bersiaga. Tukijem pucat pasi. Tapi ia sadar, ia harus melakukan tindakan.

“Mas, tolonglah, lepaskan tangan saya. Peluang kita sama mas. Kita bisa mati di sini kapan saja. Bedanya, saya atau mas yang mati. Atau malah kita berdua. Entahlah. Saya ditembak mati oleh mas dan polisi menembak mati mas. Sama saja,” tukas Tukijem. Ia berharap perampok itu melonggarkan pegangannya. Ia juga berharap, penyanderaan konyol ini segera selesai. Perampok itu masih bergeming.

“Mas, saya akan membantu mas asal mas menolong saya juga,” pinta Tukijem makin memelas.

Empat jam berlalu.

Tukijem menjadi bintang. Penyanderaan itu berakhir damai. Perampok itu menyerah. Ia bahkan menangis dan memeluk Tukijem. Kamera tv menyorotnya. Kontan saja, Tukijem menjadi narasumber penting hari itu. Semua stasiun tv berebutan mewawancarainya.

“Apa yang Anda lakukan hingga perampok itu mau melepas Anda tanpa syarat?” uber seorang reporter tv.

“Saya tak melakukan hal yang luar biasa. Saya hanya berbicara dari hati- ke hati padanya dalam situasi yang serba terjepit itu. Saya yakin, meski dia perampok, dia manusia yang punya hati. Bagaimana pun, jika hatinya terketuk, ia tak mungkin membunuh saya. Itulah yang saya lakukan,” jawab Tukijem tersenyum lega.

“Mengapa Anda bisa tetap tenang dan bertahan dalam situasi sulit seperti itu?” tanya reporter tv yang lain.

“Karena saya orang Indonesia,” katanya bangga.

“Maksud Anda?”

“Saya orang Indonesia asli. Urusan susah, orang Indonesia sudah terbukti tahan banting. Terserah, mau kena krisis ekonomi atau dampak bom, rakyat Indonesia tetap tahan banting. Ya..nanti juga bangkit lagi, begitu kan? Dibandingkan yang lain, rakyat Indonesia itu hebat. Tidak pernah menikmati zona kenyamanan. Katanya, kalau berada di zona kenyamanan, kita bisa terbuai. Kita jadi lengah. Urusan mati, saya sudah pasrah. Kapan saja saya bisa mati. Saking ‘hebatnya’, urusan mati pun bisa dipilih. Mau menunggu umur habis atau dihabisi sendiri. Makanya, jangan kaget kalau tingkat bunuh diri meningkat karena nggak tahan banting,” ujarnya panjang lebar.

“Oh ya,” lanjut Tukijem. “Perampok itu salah pilih. Dia pikir saya perempuan kaya yang bisa menebus jaminan kalau disandera. Dia hanya melihat baju yang saya pakai. Wong, saya cuma orang kecil, sama seperti dia. Saya pengen kelihatan kaya, pakai baju branded. Padahal baju itu cuma seharga sepuluh ribu, saya  beli di pasar baju bekas. Tas ini juga saya semir lagi supaya mengkilap,” katanya tersenyum.

Brukk!

Semua orang kaget. Tukijem pingsan.

Denpasar, 12 Februari 2006


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: