It’s My Life


Adversity Quotient, Kemampuan Mengatasi Kesulitan
Maret 20, 2008, 9:10 pm
Filed under: Umum

Hamil Tiga Bulan, Ibu Muda Gantung Diri. Begitu salah satu berita harian warga kota, Denpost, Senin, 28/3. Dugaan penyebab kenekadan wanita muda itu karena kesulitan ekonomi yang membelenggunya. Tak cuma Ni Wayan Diah, begitu namanya, yang melakukan aksi nekad. Belakangan, makin banyak berita yang mengabarkan, pria dan wanita dari seluruh golongan usia memilih untuk mengakhiri hidup karena tak tahan dengan berbagai tekanan. Tak hanya di Bali. Di beberapa daerah di Indonesia, masalah ini merebak. Beberapa siswa SD juga dikabarkan melakukan aksi serupa karena malu sekolah akibat orangtua tak bisa membayar SPP. Hidup di zaman yang serba mudah dan canggih ternyata memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Beberapa diantara kita malah tak sanggup menyelesaikannya dan memilih jalan paling pintas; bunuh diri. Hidup seakan tak punya harapan. Dalam dunia yang sama, sebagian orang sangat mudah menyerah. Sebagian lagi, mirip perjuangan Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma saat mengawinkan medali emas dalam Olimpiade Barcelona; melelahkan namun sampai juga ke puncak. Kehidupan ini ibarat pohon. Makin tinggi, makin kencang anginnya. Sama halnya dengan persoalan yang kita hadapi dalam hidup. Berada dalam sekolah kehidupan, sama halnya ketika kita harus menyelesaikan jenjang pendidikan kita satu persatu. Mulai TK, SD, SMP, SMA sampai universitas. Tiap naik kelas atau tingkat, kita wajib menyelesaikan ujian dengan baik. Nilai standar kelulusan minimal 4 harus berhasil kita lewati. Jika tidak, kita tak akan pernah naik tingkat. Demikian halnya hidup.  Namun, apa yang telah membedakan kita? Mengapa ada orang yang mudah menyerah dan sebagian lagi tidak? Pendidikan kita yang lebih mementingkan Intelligent Quotient (IQ) perlahan mulai tergeser. Sebagian kalangan pendidikan mulai merasakan pentingnya mengembangkan Emotional Quotient (EQ) yang sampai sekarang masih dijadikan tolok ukur kemampuan berempati dengan orang lain. Pemikiran Daniel Goleman itu pun kini ditambah lagi dengan pentingnya mempertinggi Spiritual Quotient (SQ). Namun rupanya, itu belum cukup. Masih ada yang ketinggalan, Adversity Quotient (AQ).  Kecerdasan yang dipopulerkan Paul G. Stoltz, Ph.D ini penting saat hidup serasa tak indah lagi. AQ mengukur kemampuan kita dalam mengatasi kesulitan. Hidup tentu tak akan pernah lepas dari masalah dan karena masalah itu-lah kita menjadi lebih baik dalam menyikapi hidup. Di dalam kesulitan, selalu ada kesempatan, begitu kata orang. Saat bergelut dengan masalah, sesungguhnya kita sedang menyempurnakan hidup. Kadang, sesuatu yang tak nyaman dalam kehidupan ini, sesungguhnya merupakan penyempurnaan sisi spiritual bagi diri kita. Sayang, tak semua orang menyadarinya. Perjuangan Andrie Wongso, pria yang tak lulus SD namun berhasil dengan pabrik kata-kata mutiaranya, Harvest, bisa kita jadikan contoh. Ketika bertemu beberapa waktu silam, ia berkata, “Jika lebih baik itu bisa, baik saja tak cukup.” Ia membuktikannya. Tak ada alasan untuk menyerah.  Musuh yang paling berbahaya sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Siapa orang pertama yang mengatakan kita tidak pintar? Siapa pula yang pertama berkata, kita tak bisa berhasil? Diri kita sendiri. Kita bahkan tidak mempercayai diri kita bahwa kecerdasan yang kita miliki lebih dari apa yang ada sekarang. Kemampuan otak yang kita pergunakan seperti fenomena gunung es. Hanya puncaknya yang kelihatan. Sesedikit itulah kemampuan yang baru kita manfaatkan. Menjadi anak zaman sekarang sebenarnya lebih banyak yang harus dipelajari. Selain bertumpuknya kurikulum yang harus dikejar, anak didik sudah selayaknya mendapat pelajaran mengenal hidup sejak dini. Tekanan atas berbagai persoalan yang mereka rasakan harus bisa mereka kenali sebagai suatu respon. Mengajarkan kepada mereka dalam bahasa yang paling sederhana, tentu memberi pengertian agar mereka tak mudah putus asa. Ibarat terhalang tembok tinggi padahal mereka harus berada di seberangnya, anak-anak harus diajarkan mencari jalan keluar. Jangan bertindak bodoh dengan membenturkan diri ke tembok yang keras karena itu sangat menyakitkan. Ajak mereka berpikir, kita bisa melompati tembok itu dengan bantuan sebuah tangga. Tak berhasil? Hmm..pasti ada seutas tali untuk memanjat. Tak ada juga? Kita harus yakin, ada jalan lain untuk memutar. Bukannya berkutat di depan tembok yang keras.  


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

makasih atas tulisannya, sy tampilkan di fb he he

Komentar oleh Syn S




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: