It’s My Life


Visi
Maret 20, 2008, 9:06 pm
Filed under: Umum

Meski tak bisa digeneralisir, sepertinya kini ada fenomena minimnya generasi muda yang memiliki visi yang jelas dalam kehidupannya. Padahal, visi sangat penting dalam kehidupan. Dengan visi, seseorang tahu apa yang akan dilakukan, dan bagaimana melakukannya. Dengan visi, seseorang akan memiliki hasrat yang bisa menggerakkannya menggapai tujuan yang dimaksud.

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2002), salah satu arti visi adalah pandangan atau wawasan ke depan. Tapi saya lebih senang mengunakan terjemahan bebas seperti yang disampaikan Herman Josep Soewono, S.E., seorang motivator dalam sebuah seminar marketing di Kuta, Juli lalu. “Misi adalah what we want to have, dan visi adalah what we want to be,” katanya.

Tanpa visi, kita tak pernah tahu, kita akan menjadi apa kelak. Hal yang termudah kita temui adalah minimnya generasi muda yang memiliki tekad, dia akan yang menjadi apa kelak. Ini terlihat dari banyaknya lulusan SMU yang mendaftar fakultas apa saja yang diyakini bisa menerimanya, tanpa tahu, mengapa dia harus memilihnya. Harapan mereka hanya satu, setelah lulus dapat pekerjaan.

Mereka tak tahu, kuliah bukan sebuah jalan keluar untuk mendapatkan pekerjaan. Saya ingat jawaban Prof. Dr. Luh Suryani, Sp.Kj. 12 tahun lalu, ketika saya mengasuh rubrik “Problem Kamu” di Tabloid Wiyata Mandala, “Jika ingin kerja, saya sarankan Anda mengikuti kursus keterampilan, tapi jika ingin meningkatkan daya nalar, maka sebaiknya Anda kuliah.”

Salah satu orang yang saya nilai memiliki visi adalah teman di SMAN 3 Denpasar. Eva Suarthana, sahabat saya itu, sejak kecil bercita-cita menjadi dokter. Ia berhasrat menjadi dokter ketika melihat adiknya mengalami kecelakaan dan patah tulang. Kala itu, ia tak bisa menolongnya. Cita-cita itu tak pernah berubah. Naik kelas 2 SMA, seluruh siswa kelas 1 diminta memilih jurusan yang sesuai dengan mereka. Ketika banyak siswa ‘dipilihkan’ jurusan karena tak jelas mau memilih jurusan apa, Eva dengan mantap memilih jurusan biologi.

Begitu juga ketika ia tamat SMA. Fakultas kedokteran UI disambarnya melalui PMDK. Ia pun menuntaskan pendidikan kedokterannya hingga jenjang S3 di Belanda, berkat beasiswa. Terakhir kali menerima e-mail darinya beberapa hari lalu, ia minta doa restu karena mendapatkan beasiswa untuk sebuah penelitian dan pendidikan lanjutan di Kanada, Amerika Serikat.

Visi, itulah yang dimiliki seorang Eva. Banyak orang (termasuk public figure) berkata, “Saya jalani saja semuanya seperti air mengalir. Terserah nanti gimana. Yang penting, saya melakukan yang terbaik.” Mereka lupa, anak sungai tak sekadar mengalir. Anak sungai memiliki tujuan: laut. Dalam perjalanannya menjadi laut, anak sungai dihadang berbagai permasalahan; batuan besar, turunan tajam. Kemampuan anak sungai menyesuaikan dengan ‘wadahnya’ membuat anak-anak sungai itu mencapai muaranya.

Untuk meraih what we want to be, seseorang memerlukan proses dan kerja keras. Sayang, banyak sekali saya temui generasi muda yang tak mau bekerja keras. Pengalaman ini saya rasakan ketika mengelola perusahaan outsourcing lima tahun lalu.

Ketika membuka lowongan tenaga pemasar sebuah bank nasional, saya mendapat lebih dari 100 pelamar. Tapi dari jumlah itu, mungkin hanya 10 orang yang memenuhi syarat. Beberapa orang diterima dengan catatan, perlu ekstraperhatian. Saat interview dalam sesi pengenalan profesi, mayoritas di antara mereka mundur sebelum berjuang. “Wah, kalau jadi tenaga marketing, saya nggak mau. Saya nggak biasa dengan target,” begitu salah satu jawaban mereka.

Target identik dengan kerja keras. Banyak kendala untuk mencapainya, dan itu tak mau mereka lakukan. Sambil bercanda, saya menawarkan mereka gaji Rp 600 ribu di luar bonus dan tunjangan untuk jadi tenaga pemasar, dan Rp 300 ribu jika bekerja sebagai staf administrasi. Sebagian besar dari mereka memilih menjadi staf administrasi!

Visi menentukan sikap kita. Dengan sikap yang tepat, kita bisa bergerak maju. Sikap menjadi sangat penting. Itu sebabnya, James Gwee T.H., MBA, seorang trainer dari Singapura menempatkan attitude pada posisi pertama, disusul skill dan knowledge sebagai rahasia sukses seseorang (Marketing, Agustus 2006).

Kondisi serba-instan juga memengaruhi sikap generasi muda. Banyak sekali orang yang ingin sukses, tapi sangat sedikit orang yang mau mengalami penderitaan yang umumnya dilalui orang-orang sukses sebelum mencapai posisi puncak.

Nilai-nilai hidup pun berubah. Sebagian orang berorientasi melulu pada uang. Ironisnya, karena uang, visi bisa diabaikan, termasuk dalam pembangunan untuk rakyat. Tak sedikit kebijakan yang memengaruhi hajat hidup orang banyak berubah karena pergantian pemimpin. Mereka tak memiliki visi yang jelas, akan menjadi apa wilayah yang mereka pimpin kelak.

Karena itu, jangan abaikan visi. Kelak, jika generasi muda menggantikan posisi para pendahulunya di bidang masing-masing, mereka bisa seperti air; tahu ke mana akan mengalir, bagaimana harus mengalir, dan tak goyah meski dihadang bermacam tantangan.


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Salam kenal Mba Erha, aku setuju dgn tulisan Mba..dalam hidup qta harus punya visi, jd qta jelas mengetahui apa yg ingin qta raih

Komentar oleh Rahmah Muchtar

Salam kenal juga. Terima kasih telah berkunjung.

Komentar oleh Ratna




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: