It’s My Life


Catatan Perjalanan ke Kuala Lumpur: Firasat Buruk Itu Terjadi juga
Maret 21, 2008, 7:52 am
Filed under: Umum

Dapat hadiah undian tiket pesawat Denpasar-Kuala Lumpur p.p. plus akomodasi di hotel mewah? Belum pernah terbayangkan sebelumnya. Tetapi, itulah yang saya alami. Senang? Tentu. Takut? Iya juga. Senang karena saya tak pernah bepergian ke Kuala Lumpur dan baru kali ini dapat hadiah undian. Takut karena saat mendapat hadiah, berita panas dari negeri jiran itu sedang ramai di negeri ini. Belum usai berita pemukulan wasit karateka oleh Polisi Diraja Malaysia, saya membaca berita pemerkosaan wartawati asal Kalimantan oleh salah seorang TKI, dan penahanan istri diplomat yang sedang jalan-jalan di sekitar Masjid Jamek oleh pasukan Rela. 

Kalau sekadar jalan-jalan, saya tak ingin berangkat sendiri. Saya ingin bersama keluarga. Karena itu, saya putuskan melakukan liputan sembari jalan-jalan. Liputan tempat wisata. Permintaan kemudahan -minimal ada yang menemani saya untuk memberi penjelasan selama di sana- yang saya ajukan kepada konsulat Malaysia, tak saya teruskan karena birokrasi yang berbelit. Keputusan final: saya berangkat sendiri, tanpa pemandu selama di sana.

“Sampai di sana dijemput siapa?” tanya ibuku. “Ya nggak ada,” jawabku. Ibuku kuatir. Pertama kali ke luar negeri, saya diundang Singapore Medicine. Ketika datang, saya dijemput pakai Toyota Camry yang waktu itu diidamkan jadi mobil dinas Bupati Badung. Selama perjalanan ada pemandu yang selalu memberi informasi detil. Sekarang, ini hadiah terbatas. Terbatas pemenangnya, terbatas pula fasilitasnya.

Firasat buruk yang saya rasakan sejak tiga hari sebelum keberangkatan, akhirnya terjadi juga. Untungnya, buatku itu ‘tak buruk-buruk amat’. Enam pesawat Garuda yang disegel di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta membuat jadwal penerbangan berantakan. Lima menit setelah boarding pass dirobek, ada pengumuman. Pesawat Garuda GA 401 tujuan Jakarta ditunda karena gangguan teknis. “Maaf mbak, penerbangan ditunda hingga pukul 09.00,” ujar petugas di pintu jaga. “Jangan sampai pukul 11.00 aja mas,” sahutku. “Semoga,” jawabnya.

Benar juga celetukanku. Pukul 09.00 ada info lanjutan. Pesawat ditunda hingga pukul 11.00. Wah, ini masalah. Dua turis yang hendak ke Singapura mulai resah. Jika pesawat ditunda hingga pukul 09.00, mereka hanya punya waktu 10 menit untuk transit di Jakarta guna pindah pesawat. Ditunda pukul 11.00? Saya sendiri ketinggalan pesawat ke Kuala Lumpur, apalagi mereka.

Akhirnya kami diminta menunggu di lounge. Membosankan. Untungnya, saya sempat melakukan negosiasi pemuatan iklan di koran Tokoh. Jadi ada kerjaan. Sejam kemudian, ada pengumuman. Penerbangan pesawat Garuda GA 401 tujuan Jakarta, dibatalkan. Hah? Saya segera membatalkan cap keimigrasian di paspor, menuju konter Garuda. Petugas meminta saya menunggu sampai pukul 11.00, saya akan ditransfer menggunakan Malaysia Airlines, langsung ke Kuala Lumpur.

Aduh, ini masalah lagi. Saya dapat titipan 1 kg sambal goreng udang buatan ibu untuk teman di Jakarta. Kalau langsung ke Kuala Lumpur, mau diapakan udang itu? Seorang ibu hamil di depanku jadi sasaran. “Mending kasih ibu ini aja,” pikirku. Saya tunggu beberapa saat untuk bisa mendekatinya. Tiba-tiba telepon berdering. “Jangan kasih orang lain dulu, barangkali nanti berubah lagi,” kata temanku. Dia memang ngidam berat ingin makan udang buatan ibuku. Saya dongkol. Dia lebih peduli udang daripada penantianku yang tak kunjung jelas selama berjam-jam di bandara.

Eh, ternyata yang dia katakan benar. Garuda tak bisa memindahkan saya ke pesawat Malaysia Airlines. Tiketku gratisan, pakai kode staf. Penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur hari itu terlewati. Jumat (26/10), saya masih bisa berangkat. Tetapi, penerbangan Denpasar-Jakarta pagi hari dengan Garuda penuh. Terpaksa, saya berangkat ke Jakarta hari itu juga, menginap semalam, dan mendapat ucapan, “Wah, makasih ya, udangnya uenak tenan.” 

Naik kereta

Akhirnya, saya tiba juga ke Kuala Lumpur. Pesawat Garuda GA 820 mendarat pukul 13.40 di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Waktu di Kuala Lumpur sama dengan waktu di Denpasar. Wajah-wajah Melayu membuatku merasa tak jauh dari rumah. Saya mulai memperhatikan sekeliling. Rambu-rambu penunjuk ditulis dalam dua bahasa: Melayu dan bahasa Inggris. Bahasa Melayu didahulukan.

Kata pertama yang saya hapal adalah tandas, karena itu fokusku dan saya sudah menahan kencing sejak sebelum mendarat. Tandas artinya toilet. Saya mulai tertawa-tawa sendiri. “Aduh, aku dituntut nih,” kelakarku dalam hati. Pengambilan bagasi disebut tuntutan bagasi. Itu sebabnya saya terkekeh-kekeh.

“Ke mana jalan ke luarnya dik?” tanya seorang ibu dari Bogor. “Tenang bu, saya sendiri nggak tahu kok. Dari tadi saya memperhatikan rambu penunjuk,” jawabku. Agar dia merasa nyaman, saya tanyakan kepada seorang petugas. Oh, rupanya kami harus naik aerotrain. Kereta cepat dalam lingkungan KLIA ini membawa kami ke arah pintu keluar selama dua menit. KLIA sangat luas. Beragam fasilitas ada di sana: restoran, café, pusat refleksologi dan pijat, loker elektronik yang berfungsi untuk menitipkan barang bila kita ingin berjalan-jalan di sekitar KLIA, butik, toko cokelat, akses internet gratis dan movie lounge.

Untuk mencapai pusat kota, ada dua alternatif kendaraan yang bisa saya pakai: taksi atau KLIA Express. Saya pilih KLIA Express. Biayanya lebih murah -35 ringgit sekali jalan- dan hanya perlu waktu tempuh 28 menit sampai KL Central. Kalau pakai taksi, saya bisa menghabiskan 70 ringgit sampai hotel. Di terminal KL Central, saya tinggal ganti taksi dan membayar sebesar 20 ringgit hingga ke hotel. Lagi pula, saya hampir tidak pernah naik kereta. Pernah dua kali naik kereta jurusan Gambir-Bogor p.p. Stasiun bawah tanah KLIA terlihat sepi. Keherananku diamini lelaki Oman yang juga pertama kali datang ke Malaysia.

Where will you go?” tanyanya. “I don’t know,” jawabku. Dia kaget. Perjalanan pertama kali, tanpa teman, tanpa kejelasan rencana perjalanan. Saya memang tak tahu. Ada beberapa tempat yang ingin saya kunjungi setelah menjelajah di internet tapi itu urusan nanti. Yang penting saya ke hotel dulu.

Kekuatiran saya kembali menjadi kenyataan. Front officer Pacific Regency Hotel Apartement tempat saya menginap mengatakan, seharusnya saya check in tanggal 25, bukan 26. Saat mengalami penundaan, saya sempat menghubungi Merry di AlamKulkul Resort yang mengurus akomodasiku untuk memberitahu pihak hotel bahwa kemungkinan saya check in tanggal 25 atau 26, tergantung keberangkatan. Pemberitahuan itu saya lakukan untuk berjaga-jaga. Petugas bilang, tak ada pemberitahuan lanjutan. Dia tak mau tahu, masa tinggal saya sisa semalam. Tentu saja saya ngotot. Lebih baik ngeyel daripada saya keleleran di negeri orang. Toh prosedur yang saya lakukan sudah benar. Saya jadi sebal dengannya. Tidak mau menanyakan ke atasan dulu dan tidak bisa tersenyum. Kok ya bisa jadi front officer. Lima belas menit kemudian, saya bernapas lega. Compliment saya tetap berlaku dua malam. 

Sebutan Indon

Urusan dengan hotel selesai, hal terpenting yang harus dilakukan adalah membeli kartu telepon genggam. Nomor telepon saya tak bisa dipakai di luar negeri karena saya tak rela membayar uang jaminan sebesar Rp 3 juta untuk digunakan di luar negeri. Terlalu mahal. Mini-mart di lantai dasar gedung Pan Global tak menjual kartu perdana. “Are you Indon?” tanyanya. “No, I’m not Indon. I’m Indonesian,” jawabku. Orang Malaysia menyebut orang Indonesia dengan sebutan Indon. Konon, sebutan itu untuk TKI dan mengandung makna merendahkan. Tentu saja saya tak rela. “Oh, yes. You are Indon,” susulnya. “No, I’m not. I’m Indonesian,” tegasku. “Okay, you are Indonesian,” lanjutnya sembari mengatakan, saya bisa menanyakan kepada orang Indonesia lainnya yang tinggal di hotel yang sama, di mana tempat membeli kartu perdana.

Malaysia Tourism Centre menjadi tujuan berikutnya. Pusat informasi pariwisata di Jalan Ampang ini merupakan gedung bersejarah yang direferensikan untuk didatangi. Gedung ini dibangun pada tahun 1935 pada saat masa kolonial oleh Eu Tong Seng sebagai kediaman keluarganya. Selanjutnya, rumah itu dijadikan basis militer oleh tentara Inggris dan kantor pusat tentara Jepang selama Perang Dunia II. Beberapa peristiwa penting terjadi di gedung ini, antara lain digunakan oleh parlemen Malaysia pertama kali dan upacara kerajaan.

Yang terpenting buatku, saya bisa merencanakan perjalanan selama di Kuala Lumpur secara efektif mulai dari gedung ini.


7 Komentar so far
Tinggalkan komentar

“Are you Indon?” tanyanya.

“No, I’m not Indon. I’m Indonesian,” jawabku. Orang Malaysia menyebut orang Indonesia dengan sebutan Indon. Konon, sebutan itu untuk TKI dan mengandung makna merendahkan. Tentu saja saya tak rela.
<I beg to differ. That is what Indonesians think (or rather being influenced by your own media) of the word “Indon”. We have been using the words for ages (repeat: for ages!) and no complains heard until recently for reasons God knows. “Indon” is just a shortform for “Indonesia”, which word when pronounced in daily chats sounds so official and a bit unpleasant to tounge. To Malaysians, there is no different if you are tourist, expat or TKI, you are still courteosly be referred as Indon, with NO NEGATIVE connotation at all. This is part of Malaysian culture, and even of Singapore and Brunei (you can check the language they use in their newspaper). Fortunately (or rather unfortunately), Malaysians listens to Indonesian politicians’ grouses and bury this languange culture for the sake of her Indonesians brothers and sisters.

“Oh, yes. You are Indon,” susulnya. “No, I’m not. I’m Indonesian,” tegasku. “Okay, you are Indonesian,”

In my investment banking office, we used to have a high position manager of Indonesia citizenship and all of us addressed him as Indon and he truly understood that as part of our culture. Does that make him a construction worker?

As this issue is not an important matter in Malaysia, most of us will still use the word “Indon” and will be. For the same matter, not many Malaysians want to talk about it like I do. I just feel I need to correct the wrong perception.

Peribahasa Melayu “Jangan rosakkan susu sebelanga dengan nila setitik”. Your are always welcomed in when you’re in Malaysia…

Komentar oleh kassorga

totally agree with kassorga….
yes…u’re always welcome.

Komentar oleh achtung

Here: http://www.jt-banka.com

Komentar oleh comment

You actually make it seem really easy together with your
presentation however I in finding this matter to be really something which I feel I’d by no means understand. It sort of feels too complicated and extremely huge for me. I am taking a look forward in your next put up, I will try to get the cling of it!

Komentar oleh christmas gift

When someone writes an article he/she keeps the plan of a user in his/her brain that how a user
can be aware of it. Thus that’s why this paragraph is great. Thanks!

Komentar oleh Elise

Wonderful post! We are linking to this particularly great
article on our site. Keep up the good writing.

Komentar oleh Myntra coupons

This article is really a good one it helps new internet viewers, who are wishing in favor of blogging.

Komentar oleh healthy chicken recipes




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: