It’s My Life


Jalan-jalan ke Singapura (Bagian 1): Mimpi Jadi Kenyataan
Maret 21, 2008, 7:31 am
Filed under: Umum

“Bermimpilah. Kelak, mimpimu akan jadi kenyataan,” itu kata-kata yang sering saya lontarkan pada diri sendiri. Tiap kali membersihkan sebuah sudut di kamar tempat saya menaruh suvenir dari teman-teman yang berkunjung ke luar negeri, saya kerap berkata, “Kapan-kapan, saya mendatangi negara-negara ini.” Jika ada yang mendengar, pastilah saya ditertawakan. “Mimpi,” kata suamiku suatu waktu. 

16 April, mimpiku jadi kenyataan. Koran Tokoh mendapat undangan berkunjung ke Singapura dan saya ditugaskan berangkat. Keluargaku tertawa, wah, akhirnya keturutan juga. Mereka ingat tingkah konyolku dua tahun lalu: mampir ke kawasan pemukiman elit Pakuwon Surabaya yang disulap bak Little Singapore. “Kita sudah tiba di Singapura,” kelakarku waktu itu sambil berpose dekat patung singa yang diimpor dari Singapura.

Ini pengalaman pertama. Aku senang, tapi keder juga. Seorang teman menenangkanku, “Kalau di bandara kebingungan, ikuti saja orang-orang yang satu pesawat denganmu. Itu saya lakukan jika berpergian ke luar negeri,” pesannya. Sederet wanti-wanti disampaikan padaku plus sebuah kartu telepon genggam keluaran operator telepon Singapura. 

Pesannya tak cukup efektif. Kartu imigrasi yang seharusnya bisa saya dapatkan di pesawat sebelum mendarat, saya lewatkan. Pramugara GA 840 yang saya tumpangi, tak menawarkan padaku. Mungkin saya disangkanya satu kelompok dengan perempuan Singapura yang duduk berdampingan denganku dan menolak kartu itu. Bodohnya, saya tak meminta. 

Bandara Changi Singapura. Rute menuju pemeriksaan imigrasi agak jauh. Saya baru ‘ngeh’ harus punya kartu imigrasi ketika berada dalam antrian panjang sebelum pemeriksaan. Saya perhatikan, semua orang membawa kartu putih dengan kotak-kotak berwarna merah muda. “Wah, itu yang di dalam pesawat tadi,” pikirku. Saya perhatikan meja pemeriksaan. “Lengkapi diri dengan paspor dan kartu imigrasi Anda.” Alamak.

Where I can get immigration card?” tanyaku pada seorang perempuan muda. “Over there,” jawabnya sambil menunjuk meja formulir. Mau tak mau, antrian panjang itu kutinggalkan. Di bandara superluas ini, pedoman mengikuti penumpang dalam satu pesawat tak efektif. Kalau tidak tahu, bertanya sajalah. 

Perlu waktu sejam sejak pesawat mendarat agar saya bisa melewati pemeriksaan petugas imigrasi. “I’m afraid missing you,” ujar supir yang menjemputku. Logat Inggrisnya agak berbeda. Singlish, begitu sebutan logat orang Singapura yang merupakan campuran bahasa Inggris, Cina, Melayu dan Tamil. Dia lega, akhirnya ketemu juga. Dia bingung karena aku molor sejam lebih dari jadwal penjemputan.  

“Apa itu cash card?” tanyaku. Di Singapura, seluruh pengendara mobil harus menggunakan cash card. Itu aku baca di billboard dekat tempat parkir bandara. Cash card ibarat kartu ATM yang digunakan untuk pembayaran biaya parkir. Tak ada juru parkir di sana, semuanya tersistem secara elektronik. Di atas dash board mobil dekat supir, ada sejenis alat untuk memasukkan cash card itu. “Jika akan keluar dari tempat parkir, masukkan kartu ini dan uang yang tersimpan di dalamnya secara otomatis akan berkurang,” jelasnya.

Bersama enam wartawan lainnya dari Indonesia, Singapore Tourism Board menginapkan kami di Park Hotel. Orang-orang di sana lebih mengenalnya dengan sebutan Crown Prince Hotel, nama hotel itu sebelumnya. Kabarnya, hotel itu diminati wisatawan dari Indonesia. Lokasinya di 270 Orchard Road, tak jauh dari berbagai macam pusat perbelanjaan.  

Orchard Road kini sedang dipromosikan sebagai kawasan belanja hingga tengah malam. “Late Night Shopping at Orchard” begitu baliho kecil di sepanjang jalan Orchard. Kalau ingin sekadar jalan-jalan hingga tengah malam, tak ada masalah. Singapura sangat aman, meskipun bukan berarti tak ada kasus kejahatan samasekali. Pejambret pun ada, tapi sangat minim. 

Di dekat hotel, ada pusat perbelanjaan Takashimaya. Kalau tak punya banyak uang, jangan belanja di sana. Mahal. Ada juga Gedung Paragon, Lucky Plaza, dan sederet pertokoan kecil. Di Lucky Plaza, ada restoran soto ayam khas Surabaya. “Meski makanan ala Surabaya, mending kamu makan di lantai 3. Di sana ada restoran yang menyajikan masakan Melayu. Rasanya lebih ‘Indonesia’ ketimbang soto ayam Surabaya,” kata tanteku.


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

I read this piece of writing fully concerning the comparison
of newest and earlier technologies, it’s amazing article.

Komentar oleh discount on




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: