It’s My Life


Jalan-jalan ke Singapura (Bagian 2): Ndeso, Makan-Minum tetap Berlabel Indonesia
Maret 21, 2008, 7:40 am
Filed under: Umum

Singapura memang sangat dekat dengan Indonesia. Penerbangan dari Denpasar hanya memerlukan waktu 2,5 jam perjalanan. Konon kabarnya, orang Singapura doyan makan. Di mana-mana kami dapat melihat tempat makan. Buatku yang bermasalah urusan makan, tempat makan sebanyak itu tetap tak bisa menggugah selera.

MacKENZIE REX Restaurant di 66 Prinsep Street #01-01 Singapore menjadi tujuan makan pertama kali di Negeri Merlion itu. Di depan restoran yang menjual masakan Cina itu tertera label ‘halal’. Label itu tak sekadar berarti restoran tidak menjual makanan yang mengandung babi, tapi juga tidak menyediakan minuman yang mengandung alkohol. “Bahkan tamu restoran berlabel ‘halal’ dilarang membawa minuman yang mengandung alkohol,” begitu kata Mohamed Yusoff Mahmood, guide yang mengantar kami selama di Singapura.

Agar keinginan Joni Rizal, wartawan Jambi Independent yang malam itu ingin minum bir tercapai, dia dianjurkan pesan “ginger beer”. Itu satu-satunya bir yang dijual di restoran yang berdiri sejak 1966 ini. Usai menghabiskan sebotol “ginger beer” dia komplain. “Rasanya angin di perutku keluar semua,” ujarnya. Kontan, kami tertawa. “Namanya juga ‘ginger’, jelas bikin angin keluar,” selorohku. “Ginger beer” tak lain adalah minuman jahe. Ginger berarti jahe dalam bahasa Indonesia.

Tiap kali pesan menu ayam, saya yang paling beruntung. Ratna  first, begitu pesan Yusoff. Dia tahu, dalam email soal pantangan makanan, saya paling banyak mengirim daftar. Tidak makan daging babi, makan daging sapi amat jarang, hanya makan daging ayam bagian dada, tidak makan selada, dan sederet pantanganku lainnya. Karena itu, tiap kali makan ayam, saya harus duluan. Yusoff meminta bagian dadanya untukku. Menu Hainan Chicken Rice yang dihidangkan di MacKENZIE REX nikmat untuk disantap.

Ternyata, urusan makan bukan masalahku saja. Saat sarapan, wartawan Pontianak Post, Andri Januardi, bingung. “Aku biasa makan bubur ayam saat sarapan,” katanya. Alhasil, bubur tanpa ayam pun disantap. Andri hanya menambahkan bawang, kecap dan kuah. “Rasanya nggak karuan,” katanya terkekeh. Satu-satunya yang hobi makan, Karnadi Ang dari Harian Global Medan. “Aku pengen jadi wartawan kuliner,” katanya. Tak mengherankan, tiap kali sarapan dia bisa menghabiskan empat gelas minuman dengan rasa yang berbeda -jus apel, jus buah campur, susu kedelai, dan jus jambu- sekaligus.

Singapore Tourism Board rupanya cukup mengerti soal perut para wartawan yang ndeso ini. Kami diajak makan siang di sebuah restoran di Hyatt Hotel. “Semua makanan yang ada di sini boleh kalian habiskan,” tantang Yusoff. Berbagai menu ada di sini. Ada masakan Cina, Melayu, India, dan Eropa. Tapi tetap saja, tak banyak yang berhasil menikmati beragam makanan itu. “Kalau nggak pernah, aku nggak mau coba,” kata Yonni dari Manado Post.

17 April, pukul 19.00. Teman-teman mulai gelisah. “Kita cari tempat makan ala Indonesia aja,” pinta Andri. Jadwal makan ke Cafeela dibatalkan. Kami meluncur ke restoran Hajjah Maimunah yang menjual masakan Padang. “Ini baru menggugah selera,” celutuk Yonni. Dari enam restoran yang kami datangi, ini tempat makan yang bercita rasa asli Indonesia. Pemiliknya berasal dari Bogor. Tahu-telur kecap, paru goreng, lodeh nangka, dan tiga menu lainnya disantap dalam sekejab.

Tempat makan lainnya yang menjual makanan Indonesia, seperti The Rice Table Indonesian Restaurant di 360 Orchard Road, International Building #02-09/10 dan Ulu-ulu Restaurant di kawasan Night Safari Singapura, sudah kehilangan keindonesiaannya. Rasa bumbunya bercampur dengan cita rasa Singapura.

Rombongan dari Indonesia benar-benar ‘cinta’ Tanah Air. Selain urusan makan yang berharap menu negeri sendiri, beli air minum pun memilih merek Aqua. “Aneh sekali orang Indonesia. Air pun dibeli. Orang Singapura aja cukup minum dari air keran,” celoteh Yusoff saat kami minta berhenti di sebuah toko 24 jam, 7 Eleven.

“Kebiasaan kampung,” jawabku sekenanya. Saya dan Irene, wartawan dari Majalah Parenting Jakarta sibuk mencari air mineral. “Wah, yang ini mahal,” katanya sambil menunjuk botol Evian. Harganya SGD 2,3. Kalau dikurskan, setara Rp 13.800 per 500 ml. Kami lebih rela merogoh SGD 2 untuk merek Aqua. “Daripada minum new water Singapura, mending beli Aqua deh,” kataku.

New water, begitu sebutan air di Singapura. Air itu disuling dari berbagai macam limbah, termasuk air seni dan tinja manusia, untuk dimanfaatkan kembali. Walau tidak melihat prosesnya, tetap saja kami tak nyaman meminumnya.

Dari tujuh wartawan, yang paling cinta produk buatan Indonesia adalah Joni Rizal. Meski rokok Sampoerna Mild isi 12 batang harganya mencapai Rp 75.000 per bungkus, dia tetap beli. “Nggak nikmat kalau nggak ngerokok,” katanya.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: