It’s My Life


Jalan-jalan ke Singapura (Bagian 3): Everything is Fine in Singapura
Maret 21, 2008, 7:44 am
Filed under: Umum

Jika memiliki kebiasaan merokok, berhati-hatilah. Singapura sangat ketat menerapkan peraturan. Merokok di kendaraan umum, museum, perpustakaan, lift, teater, bioskop, restoran berpendingin, salon rambut, supermarket, department store, dan kantor-kantor pemerintah tidak diizinkan. Pelanggar dapat dikenakan denda hingga SGD 1.000.

Tiap kali usai makan, Joni selalu keluar restoran untuk merokok. Untungnya, Yusoff sang guide setia menemani. Yang paling aneh, tempat merokok di MacKENZIE REX Restaurant. Letaknya di teras restoran, diberi garis berwarna kuning. “Ini area merokok,” jelas Yusoff. “Lalu, apa bedanya dengan yang ini?” tanyaku sambil menunjuk deretan meja dan kursi tanpa garis kuning. Yusoff tertawa. “Aku juga nggak tahu,” kelakarnya. Masalahnya, tak ada batas ruangan antara meja tempat merokok dan meja di sebelahnya. Meski duduk di luar garis kuning, tamu restoran itu pasti kena asap rokok dari meja tetangga.

Selain itu, meludah di tempat umum juga merupakan suatu pelanggaran. Jika ingin meludah, tiru saja Yusoff. Saat berada di Ovspring Developmental Clinic, dia meludah di tong sampah yang dilapisi plastik. Aman dari pelanggaran.

Everything is fine in Singapura,begitu candaku dengan Sahar, supir yang mengantarkan kami selama kunjungan. Kalau di Singapura, jangan langsung senang mendengar kata ‘fine’. Fine bisa berarti ‘baik’, dapat pula bermakna ‘denda’. Ya, banyak peraturan dengan denda yang tak sedikit di negara ini.

Tiap pengendara mobil harus memasang piranti cash card di atas dash board mobil. Jika tidak, mereka dikenakan sebesar SGD 500, setara Rp 3 juta. Tak cukup sampai di situ, cash card yang dimiliki pun jangan pernah terlewatkan untuk dimasukkan ke alat yang dimaksud. “Saat parkir, kita cukup lubangi kertas parkir dan letakkan di atas dash board mobil. Berapa lama kita parkir, nampak dari bulatan yang kita lubangi. Jika sudah selesai parkir, jangan lupa memasukkan cash card ke device untuk melakukan pembayaran,” urai Sahar.

Bila Anda tak melakukannya, siap-siap kena denda sebesar SGD 10. Cash card juga berfungsi saat melintasi jalan yang menerapkan ERP (Electronic Road Pricing), sejenis biaya jalan tol. Bedanya, di Singapura tak ada petugas yang melayani. Semuanya tersistem secara elektronik. Di ruas-ruas jalan di Singapura, ada kamera pemantau. Jika lewat jalan bertanda ERP dan tulisan “In Operational” menyala, itu berarti tiap mobil yang melintas otomatis membayar sebesar SGD 1,5 melalui cash card. “Daripada didenda, lebih baik saya terus-menerus memasukkan cash card ke alatnya. Kalau pas lupa, langsung kena denda,” aku Sahar. Jika dana di cash card habis, harus segera diisi kembali. Caranya, bayar saja ke kantor pos.

Menariknya, di Singapura kami susah melihat polisi di jalanan. Kata Sahar, polisi lebih banyak bekerja di kantor. Warga di Singapura bisa ‘otomatis’ menjadi polisi. “Kalau ada mobil di depan kami membuang puntung rokok sembarangan dan mengenai mobil di belakangnya, kami bisa langsung telepon polisi dengan menyebutkan nomor polisi kendaraan tersebut dan tempat kejadian,” papar bapak dua anak itu.

Polisi pun tak perlu repot mengontrol lalu lintas. Selain ada kamera pengawas, masyarakat tak mau kena denda. Di beberapa ruas jalan, ada kotak bergaris pinggir kuning dan bertanda silang di tengahnya. Walau tak ada polisi, pengendara mobil lain tak akan berhenti di tengah kotak kuning itu jika mobil di depannya berhenti tepat di belakang kotak. “Itu ruang untuk mobil dari sisi lain memutar,” kata Yusoff.

Urusan denda juga bisa dikenakan kepada warga yang memetik bunga atau buah yang berada di pohon pinggir jalan. “Kalau di depan rumah kita ada pohon mangga berbuah lebat, biarkan saja buah itu sampai busuk. Kalau kita petik, kita bisa kena denda,” kata Sahar. Pepohonan yang ditanam oleh National Park -dinas pertamanan Singapura- adalah milik pemerintah. Karena itu, masyarakat tak boleh memetik bunga atau buah seenaknya.

Tapi jangan terlalu takut. National Park juga bisa diajak bekerja sama. Kalau ada pohon yang dinilai membahayakan, masyarakat bisa menginformasikan ke National Park agar segera ditebang. Daun-daun pepohonan di pinggir jalan pun tak ada yang menghalangi pengguna jalan. “National Park secara berkala memangkas daun-daun yang mengganggu pemakai jalan,” bisik Sahar.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: