It’s My Life


Jalan-jalan ke Singapura (Bagian 4): Tak Bawa Dolar, Rupiah pun Diterima
Maret 21, 2008, 7:48 am
Filed under: Umum

Selain dikenal sebagai destinasi wisata kuliner, Singapura juga dikenal sebagai surga belanja. Pusat perbelanjaan bertebar di mana-mana.

Satu-satunya shopping centre yang buka 24 jam adalah Mustafa Centre di 145 Syed Alwi Road. Jaringan perusahaan Mohamed Mustafa dan Samsuddin ini terkenal sebagai tempat belanja coklat yang murah dan berada di kawasan Little India. Jika ingin bertemu sebagian dari 8 persen penduduk Singapura berdarah India, datang saja ke sini.

Namanya juga toko serba-ada, apa pun yang kita inginkan, ada di Mustafa Centre. Kalau ingin beli kain sari khas India atau kain seragam pramugari Singapore Airlines, datang ke sini. Semua barang dijual dengan harga pas. Sebelum kembali ke Indonesia, kami menyempatkan diri datang ke toko ini. Selain coklat, gantungan kunci, miniatur Merlion, kaus dan sepatu menjadi incaran.

Ada juga kawasan belanja Bugis Street. Konon, ini dulu wilayah orang Bugis. Hingga kini Bugis Street terkenal dengan pedagang kaki limanya. Kalau memutuskan belanja barang di sini, jangan lupa untuk menawar. Lucunya, kalau kepepet tak bawa dolar Singapura, mata uang Indonesia pun diterima. Itu yang dialami Joni Rizal saat membeli boneka untuk putrinya. “Orang Singapura nggak peduli, asal uang, pasti diterima,” seloroh Yusoff.

Bugis Street menjadi tempat satu-satunya yang kami kunjungi yang terlihat agak kumuh dibandingkan tempat lain di Singapura. Di Bugis Mall, toiletnya berbau pesing. Beberapa helai tisu tergeletak di lantai kamar mandi. “Ternyata ada juga tempat yang kotor di Singapura,” kataku yang langsung diamini Irene.

Tak hanya kawasan Little India dan Bugis Street, Chinatown juga menjadi pilihan para pengunjung. Kompleks ini merupakan pusat budaya imigran Cina. Oleh Yusoff, kami diajak mengunjungi toko ‘3 for 10’. Di toko itu, kami cukup membayar SGD 10 untuk 3 barang apa saja. Segala macam pernak-pernik ala Singapura dan Cina ada di sini. Di kawasan yang terletak di antara Upper Pickering Street, Cantonment Road, New Bridge Road dan South Bridge Road ini terlihat pemandangan khas Negeri Tirai Bambu. Lampion merah bertulis warna emas terbentang di sepanjang jalan. Sayang, kami tak bisa berlama-lama di tempat ini.

Waktu bersenang-senang sangat terbatas. Maklum, tujuan utama kami datang ke Singapura adalah untuk mengunjungi beberapa rumah sakit di sana. Agar bisa mengetahui tempat lainnya, kami tak bisa berlama-lama di satu tempat.

Night Safari Singapore menjadi pilihan. Kebun binatang malam pertama di dunia ini dihuni oleh lebih dari 900 satwa dari 132 spesies. Setelah menikmati makan malam di Ulu-ulu Restaurant, salah satu tempat makan di kawasan wisata ini, kami menikmati perjalanan di tengah hutan dengan trem terbuka. Muhammad Ilham, wartawan dari Harian Fajar Makassar berebut ingin duduk di pinggir trem. “Wah, aku nyesel nih duduk di pinggir,” keluhnya. Dia memintaku memangku tas kerja yang aku taruh di antara kami. Rupanya, Ilham takut. Perjalanan melihat satwa berkeliaran bebas merupakan pengalaman pertama kalinya. “Hati-hati, di sebelahmu ada serigala,” kataku menakuti-nakuti.

Aku tak begitu tertarik. Night Safari Singapore mirip dengan Taman Safari Indonesia di Cisarua, Bogor dan Taman Safari Indonesia di Prigen, Pasuruan, Jawa Timur yang berkali-kali aku kunjungi. Tiap hari mulai pukul 20.00, 21.00, dan 22.00 waktu Singapura diadakan pertunjukkan satwa di amphitheatre, gratis. Hewan yang pentas berubah-ubah, tergantung temperamennya.

Satu tempat lain yang wajib dikunjungi di Singapura adalah Merlion Park. Merlion -patung berkepala singa dan berbadan ikan- dan ‘anaknya’ Cub, menjadi ikon negara berpenduduk terpadat di dunia ini. Oleh Mr. Fraser Brunner, anggota panitia suvenir dan kurator di Van Kleef Aquarium, kepala singa melambangkan hewan yang menyerupai singa yang dilihat Pangeran Sang Nila Utama dari Sumatera pada tahun 11 M. Ekor ikan melambangkan kota kuno “Temasek” (berarti ‘laut’ dalam bahasa Jawa).

Bobot Merlion mencapai 70 ton dan tinggi 8,6 m. Patung ini dibuat oleh Mr. Lim Nang Seng dari campuran semen. Sedangkan Cub berukuran tinggi 2 m, bobot 3 ton. Badan Cub dibuat dari semen, kulitnya berpelat porselen dan matanya dari cangkir teh kecil berwarna merah.

Lebih kurang 300 m  dari Merlion Park ada Esplanade Theaters on the Bay. Esplanade adalah pusat pertunjukkan seni di Singapura. Sejak 23 Maret lalu, di teater ini digelar “The Phantom of the Opera” karya Andrew Lloyd Webber. Pementasan musikal yang telah ditonton lebih dari 80 juta orang di dunia itu dijual dengan harga tiket termurah sebesar SGD 70. Di depan spanduk hasil cetakan digital pagelaran itu, kami berpotret bersama. “Pura-pura habis nonton opera,” celetukku.


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

monaco is the highest density country in the world.yup,bugis st is very stink.i can’t hold my breath for a long time,hence i just walk away from that place.

Komentar oleh achtung




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: