It’s My Life


Jalan-jalan ke Singapura (Bagian 6-Habis): Bandara pun Disulap Jadi Tempat Wisata
Maret 21, 2008, 7:51 am
Filed under: Umum

Saking dekatnya dengan Indonesia, tak sedikit orang Indonesia yang berjalan-jalan ke Singapura. Sebagian lagi memilih bekerja di sana. Fenny Ng dari Medan memutuskan bekerja di Thomson Medical Centre. Begitu pula Lilian Yanti Jusup dan Winny Soenaryo yang bekerja di Ovspring Developmental Clinic.

Bagi orang Indonesia di sana, bertemu dengan sesama warga se-Tanah Air bisa jadi peristiwa menyenangkan. Tak perlu unggah-ungguh, begitu mendengar orang bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia, langsung ditanyai. Itu terjadi pada saya dan Irene.

Ketika berbelanja di Mustafa Centre, seorang pria bertanya, “Dari mana?” Saya menoleh, bengong. “Dari mana?” tanyanya lagi. Saya langsung mengerti. Bahasa Indonesianya sangat kental. “Aha, Anda orang Indonesia ya?” Laki-laki itu mengangguk. Ia bekerja sebagai dosen di sebuah universitas. Baru dua tahun ia tinggal di Singapura. Lima tahun sebelumnya, dia bekerja di Kairo. Makanya, dia senang bertemu orang Indonesia. Pengalaman serupa dialami Joni ketika di Bugis Street. “Tadi ngobrol sama orang Bandung,” katanya.

Di Merlion Park, kami bertemu dengan beberapa orang Indonesia. “Potret aku di bawah plang Merlion Park ini,” dengarku. Ketika saya dan Karnadi menuju Esplanade, seseorang di depan kami hampir saja tertabrak sepeda gayung. Kontan, saya berteriak, “Awas!” Saya yang tersadar, tertawa. Kenapa ngomong ‘awas’, harusnya be careful. Tak dinyana, gadis yang saya peringatkan berkata, “Kaget gue.” Rupanya dia orang Jakarta. Tak sulit membedakan orang Indonesia dengan orang Singapura.

Ada hal lain yang menarik. Beberapa kali, saya mendengar orang Singapura mengatakan bahasa Indonesia dengan sebutan ‘bahasa’. “I’m sorry, I can’t talk in bahasa,” ujar Christine Tan sebelum presentasi di Ovspring Developmental Clinic. Professor Michael Caleb dari The Heart Institute pun demikian. “My ‘bahasa’ is not very good. Rani will help me to translate,” katanya ketika kami berkunjung di National University Hospital.

Berbeda dengan beberapa orang Indonesia yang menetap di sana. Entahlah, apakah karena mereka berada dalam wilayah kerja yang sama atau bukan. Pertama, Lilis. Dia bekerja di sebuah perusahaan perekrut tenaga kerja Indonesia di Singapura. Dia banyak menyalurkan pekerja rumah tangga dari Indonesia. “I’m happy to meet you. Sama-sama orang Indon, senang rasanya bisa bertemu,” katanya. Logatnya sudah kental Melayu, bercampur dengan bahasa Inggrisnya. Kedua, ketika saya bertemu seorang pekerja rumah tangga dari Banyuwangi di Bandara Changi, 30 menit sebelum memasuki pesawat. Dia yang kelihatan bingung, saya sapa. “Wah, ternyata orang Indon. Dari tadi saya pikir mbak orang Cina. Tahu gitu saya sapa,” sesalnya. Geli. Kata ‘Indonesia’ nggak panjang-panjang amat, kok ya disingkat juga.

Tapi, kalau ingin berbahasa Indonesia dengan orang Melayu, berhati-hatilah agar tak salah arti. Seperti yang terjadi denganku dan Sahar. “Pak, tolong antar kami ke Merlion Park saja. Setelah itu, kita ke bandara,” pintaku. 19 April, saya dan Karnadi menjadi peserta yang terakhir pulang. Itu pun dengan penerbangan malam. Yusoff tak bisa lagi menemani kami. Beruntung masih ada Pak Sahar yang bisa mengantar menghabiskan waktu yang tersisa.

“Merlion Park itu sudah di bandar,” katanya bingung. “Oya?” tanyaku. Setahuku, Merlion Park itu agak jauh dari Bandara Changi. Tapi sudahlah, diiyakan saja. Kali kedua, Karnadi meminta pada Pak Sahar agar kami diantarkan ke bandara. Pak Sahar bingung. Saya tertawa. “Airport pak,” tegasku. Bandar dalam bahasa Melayu berarti kota. Merlion Park memang di tengah kota, tapi bukan di bandara.

“Kita pusing-pusing dulu di sini, baru berangkat lagi,” katanya. Karnadi tertawa. “Bisa sakit kepala dong,” selorohnya. “Kalau pusing-pusing dalam bahasa Indonesia artinya apa?” tanya Pak Sahar. “Keliling,” jawabku. “Nah, kalau pusing artinya apa?” tanyanya lagi. “Sakit kepala,” jawabku enteng. Pak Sahar terkejut. “Jauh sekali,” gumamnya.Begitulah Singapura. Sekarang, Singapura menjual segala macam keunikannya.

Uniquely Singapura, itu tagline mereka. Bandara Changi pun dibuat sebagai tempat wisata belanja. Changi dilengkapi lebih dari 100 toko bebas pajak, lebih dari 30 gerai makan, plus pusat kebugaran, kolam renang, jacuzzi, arena bermain anak, 146 kamar hotel transit, bank, kantor pos, telepon umum gratis untuk sambungan lokal sampai fasilitas internet gratis. Bagi ibu menyusui, disediakan ruang ibu dan anak lengkap ruang menyusui pribadi. Capek berjalan-jalan? Nikmati pijat refleksi gratis dengan alat pemijat elektronik. Jangan lupa, gunakan skytrain yang menghubungkan terminal 1 dan terminal 2 dalam waktu kurang dari 2 menit untuk mengurangi rasa penat.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: