It’s My Life


Sosok TKW (Bagian 1): Menangis di Bandara
Maret 21, 2008, 8:37 am
Filed under: Umum

Di ruang tunggu keberangkatan bandara Soekarno-Hatta Jakarta, Jumat (26/10) Siti -bukan nama sebenarnya- kelihatan linglung. Setelah terdiam beberapa saat, ia mendekatiku.

“Mbak, mana jalan ke pesawat?” tanyanya. Ia, saya, dan penumpang Garuda lainnya sedang menunggu jadwal keberangkatan menuju Kuala Lumpur. “Tunggu saja di sini, nanti dipanggil,” jawabku.

“Saya kebingungan,” katanya tanpa kutanya. Buku “Integritas” yang sedang saya baca, saya tutup. “Memangnya kenapa?” sahutku. “Saya baru pertama kali berangkat sendiri, nggak tahu jalan,” akunya. Matanya berkaca-kaca. Buku karangan Dr. Henry Cloud yang masih kupegang, saya masukkan ke dalam tas. Tanpa ditanya lebih jauh, Siti bercerita.

“Emak ada di bawah. Tadi emak dan anak sama-sama nangis,” tuturnya dalam logat Melayu bercampur Tegal. Siti adalah salah seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Kuala Lumpur sebagai pekerja rumah tangga. Hari itu, ia hendak kembali ke rumah majikannya.

“Kasihan emak,” katanya sambil menangis. Emaknya tak rela Siti bekerja di negeri orang. Dua tahun lalu, ia pergi dari rumahnya tanpa pamit dan menjadi TKI. Banyak yang bilang, ia minggat karena ribut dengan pacarnya. Tetapi, Siti tak mau mengaku.  

Karena kepergiannya yang tanpa berita, bapaknya sakit-sakitan dan meninggal dunia. Sekarang, emaknya tinggal seorang diri di rumah. “Emak minta saya di rumah saja, mengurus rumah. Emak punya sedikit sawah tapi saya tak mau,” lanjutnya. Emaknya juga mulai sakit-sakitan. Kakinya sering terasa nyeri jika dipakai berjalan. Meski demikian, mau tak mau ia harus ke sawah.

“Tadi pagi, emak minta mengantar saya ke bandara padahal kakinya sakit. Kami naik Damri,” kata Siti yang asal Brebes, Jawa Tengah itu. Emaknya tak tega melihat Siti kembali ke Malaysia. Melihat emaknya menangis, Siti tak kuasa. Jadilah ibu dan anak saling menangisi di terminal keberangkatan. Semua gajinya selama di Kuala Lumpur, diserahkan pada emaknya. Biaya kepulangan ke Tanah Air dan keberangkatan ke Malaysia, ditanggung majikannya. Siti tak berpikir, ia memerlukan uang cadangan untuk berjaga-jaga bila ada keperluan mendadak.

“Ternyata saya masih harus bayar,” katanya. Pembayaran fiskalnya sudah diselesaikan majikan. Tetapi, Siti tak tahu kalau ia masih harus mengeluarkan uang sebesar Rp 100.000 untuk airport tax. Ia kebingungan. Beruntung, Siti ditolong seorang bapak yang mau membayarinya.

Setelah melewati pemeriksaan fiskal, Siti kebingungan lagi. Kali ini bukan karena urusan uang. Tiap orang yang hendak bepergian ke luar negeri, wajib mengisi keterangan di kartu imigrasi. Begitu pula Siti. “Saya sudah mengisi sesuai paspor tapi kata petugas imigrasi, isian saya salah,” ceritanya. Ia pun makin kebingungan. “Saya benar-benar bingung, apa lagi yang salah. Saya tanya, katanya cuma salah aja,” paparnya. Lagi-lagi Siti beruntung. Seorang bapak memberitahunya, tak ada yang salah dengan isian kartu imigrasinya. Siti pun bisa melewati petugas imigrasi secepatnya.

“Waktu pulang ke Indonesia saya pun dikerjain orang. Mereka pakai baju petugas bandara, katanya mau mengantar pulang, tak tahunya preman,” ungkapnya. Di mobil, laki-laki itu bilang, cuaca panas dan memintanya melepas sepatu. Siti tak mau. Sebagian uang hasil kerjanya ditaruh di sepatu ketsnya. Sepertinya, laki-laki itu sudah tahu. Siti dimintai uang jasa mengantar sebesar Rp 1,5 juta. “Saya tak mau. Saya sudah bayar ketika di airport. Masak dimintain uang lagi,” ujarnya. Saat Siti menjawab semua uang sudah dikirim kepada emaknya, laki-laki itu minta alamat rumahnya.

Ini kali pertama Siti berangkat ke Kuala Lumpur seorang diri. Dua tahun lalu, ia pergi bersama agennya. Semua diurus agen. Sekarang, jalan menuju ruang tunggu pun ia tak tahu. Jarak dari ruang imigrasi di terminal 2F ke pintu E3 lumayan jauh. Mendengar ceritanya, saya keheranan. Sudah banyak cerita tentang TKI yang bermasalah di Malaysia. Eh, Siti malah berangkat ke negeri jiran itu tanpa bekal memadai.

“Mbak ke Kuala Lumpur juga ya?” Saya mengangguk. “Sudah sering ke sana ya mbak?” susulnya. “Nggak, baru pertama kali,” sahutku. “Tapi mbak kok sepertinya sudah tahu ya,” ujarnya heran. Saya tertawa. “Bukan tahu, tapi sok tahu,” jawabku. Siti mulai menggali informasi tentang diriku.

“Mbak pasti pegawai kantoran ya,” ucapnya. “Saya ingin sekali bisa kerja kantoran. Kayaknya keren. Duitnya juga banyak. Tetapi, mana mungkin saya bisa diterima kerja kantoran,” sambungnya tanpa meminta jawabanku. Siti hanya lulus SMP. Ia tak bisa meneruskan pendidikannya karena orangtuanya tak punya cukup uang.

“Saya sadar, orangtua saya miskin. Padahal, saya ingin sekali bisa sekolah. Dulu, kalau lihat ada anak sekolah, saya iri tapi saya pendam dalam hati. Saya ingin pakai seragam sekolah. Ingin sekolah tinggi-tinggi tapi nggak mungkin. Saya harus bantu orangtua supaya bisa mengurus keluarga. Pikiran saya kerja saja biar dapat uang,” tuturnya.

Lama-lama, Siti mulai terbuka. Jatah cuti selama dua minggu, tak diambilnya semua. “Saya nggak betah di rumah. Pacar saya sudah menikah dengan orang lain. Bohong. Katanya cuma cinta sama saya,” sungutnya. Mantan pacarnya tak lain tetangganya sendiri. Tiap hari, Siti terpaksa harus melihat sepasang pengantin baru itu. Situasi itu membuatnya tak bisa bertahan  lebih lama di kampung halaman. “Mending saya balik saja ke Malaysia, biar nggak lihat dia lagi,” akunya.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: