It’s My Life


Sosok TKW (Bagian 2-Habis): Diajak Kawin Kontrak
Maret 21, 2008, 8:45 am
Filed under: Umum

Sebelum ke Malaysia, Siti pernah bekerja dengan seorang dokter di Jakarta. Dokter ini pernah mengajaknya ke Batam. Ia diperkenalkan dengan seorang teman.

“Saya benci benar dengan orang itu,” sungutnya. Siti yang lugu, diajak kawin. Tentu saja Siti terheran-heran. “Maksud bapak apa?” tanyanya. “Ya kamu kawin dengan saya,” jawab teman dokter itu. “Kawin gimana pak? Kawin atau nikah? Saya nggak mau, saya mau bekerja saja,” sergahnya.

“Kawin atau nikah sama saja,” jawab teman dokter tadi. “Kalau di kampung saya, kawin sama nikah itu beda pak. Pokoknya saya nggak mau,” katanya. Menurut Siti, anggapan masyarakat di kampungnya, kawin itu hanya ditiduri saja tanpa ada surat-surat. Kalau menikah itu resmi.

Ia pun ditunjukkan apartemen berperabotan lengkap. “Nanti kalau kamu kawin sama saya, saya kasih tempat ini. Uang bulanan pun saya beri,” rayu laki-laki itu. Siti tetap tak menerima. Ia diajak kawin kontrak selama setahun. Habis masa kontraknya, habis pula semuanya. “Saya tak mau. Gila apa. Masak saya cuma mau ditiduri aja,” katanya kesal. Siti heran, ada pula laki-laki seperti itu. “Padahal saya lihat foto istrinya, cantik amat. Kok bisa-bisanya dia minta ngawinin saya. Katanya, dia tak bisa puas bercinta dengan istrinya. Tapi kan masak seperti itu,” omelnya.

Siti kini berusia 23 tahun. Waktu berangkat jadi TKI ke Malaysia, ia mengaku umurnya dituakan menjadi 26 tahun. Katanya, kalau mau jadi TKI minimal harus berusia 24 tahun. Bila tak mencukupi, ia tak bisa bekerja ke negeri itu.

Selama di Kuala Lumpur, ia bertugas di rumah seorang direktur yang sangat sibuk. “Saya sering diajak pergi oleh tuan. Sesekali jalan-jalan ke Singapura,” ceritanya. Tuannya sangat sibuk, sering tugas ke luar negeri. Istrinya ibu rumah tangga tapi tak pernah mengurus anak. “Hampir semua sudut rumah dipasangi CCTV,” ungkapnya.

Tiap kali pulang dari luar negeri, pasangan suami-istri itu selalu cekcok. “Tuan menonton semua yang ada di CCTV. Tuan marah-marah setelah itu,” katanya. Menurut Siti, tuannya sangat baik padanya. Namun, tak demikian halnya dengan istrinya. “Dia sering marah-marah sama saya,” ceritanya.

Pernah, suatu kali Siti bosan dimarahi. Waktu itu tuannya tak ada di rumah. “Diam-diam, saya minum wine yang ada di bar. Saya mabuk malam-malam,” ujarnya. PRT lain yang ada di rumah itu langsung menghadap ke majikan perempuannya. “Dia bilang kalau saya mabuk. Dia tanya ke nyonya, apakah saya dimarahi lagi, kenapa sampai mabuk begitu,” susulnya. Nyonyanya terkejut. Ia langsung mendatangi Siti. “Saya ditanya, apa lagi yang kurang, kenapa saya mabuk. Saya diam saja,” lanjutnya.

Ketika tuannya pulang, Siti ditanya. “Saya cuma ingin tahu rasanya tuan,” jawabnya asal. Ia tak mau pasutri itu cekcok lagi. Siti bosan mendengar pertengkaran keduanya.  

Suatu ketika, tuannya menggoda Siti. “Siti, kamu menikah saja dengan saya ya,” rayunya. Siti kaget. “Tuan ini ada-ada aja. Nyonya tuh cantik amat tuan. Jangan begitu,” katanya. Siti mengaku, tuannya sering ngobrol dengan dirinya.

Siti pernah iseng juga. Dia bilang pada tuannya, “Tuan, yuk kita menikah,” godanya. Tak dinyana, si tuan serius. Dia balik bertanya, mau menikah di mana, Indonesia atau Malaysia. Siti jawab, di Indonesia aja agar emaknya juga tahu. Si tuan tak mau, dia minta menikah di Malaysia agar istrinya tahu. “Saya terkejut, kenapa dia jadi serius ya. Saya kan cuma bercanda. Langsung saja saya bilang tak nak (tak mau),” tuturnya.

Pernah, pada saat sedang ngobrol santai, Siti juga bilang kalau dia sering mencuri pada tuannya. “Kalau tuan tak percaya, tuan bisa cek di CCTV,” kata Siti. Tuannya tak marah. “Kalau kamu mengambil makanan di kulkas dan itu kamu sebut mencuri, terserah. Itu bukan mencuri. Makanan dibeli memang untuk dimakan. Memangnya mau dibiarkan busuk?” jawab tuannya.

Siti betah bekerja pada tuannya karena laki-laki itu baik. Tetapi, Siti berharap ia bisa memperpanjang kontraknya setahun saja kali ini. “Kalau ingat emak, saya ingin pulang kampung saja,” katanya.

Percakapan itu terpaksa terhenti. Kami segera berangkat. “Mbak dekat saya saja ya,” pintanya. Saya perhatikan nomor tempat duduknya. Jauh. Saya di bangku 18A, dia di kursi 22F.

Di bandara, saya kehilangan dia sejak mampir ke toilet. Beruntung, kami bertemu lagi di tempat pengambilan bagasi. “Aduh mbak, dari tadi saya cari-cari mbak. Saya bingung cari jalan keluar,” katanya senang. Ia tak mau saya ajak naik KLIA Express menuju KL Central. “Saya naik taksi langganan tuan saja. Ada nomor teleponnya. Nanti biar tuan yang bayar,” katanya. Seorang laki-laki Melayu mendekati kami. Kebetulan. Saya pinjam saja telepon genggamnya untuk menelepon taksi langganannya. “Angke, tolong jemput saya di airport,” pinta Siti. Setelah itu, kami tak bertemu lagi.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: