It’s My Life


Pak Semar
April 16, 2008, 5:47 pm
Filed under: Personal

Tiba-tiba saja aku rindu pada Pak Semar. Hmm..apa kabar dia ya. Sudah lama tak mendengar beritanya. Kabar terakhir, Pak Semar sekarang jadi pemangku. Aku pengen ke rumahnya, nyambangi mantan orang nomor satu di SMAN 3 Denpasar itu.

Pak Semar, begitu kebanyakan orang memanggilnya. Namanya sih bukan Semar tapi Sumarabawa. Saking galaknya, teman-teman lebih senang memanggilnya Semar. Nggak ada hubungannya dengan lakon Semar di pewayangan itu. Memanggil dengan nama Semar, sepertinya lebih enak didengar.

Zaman dulu, Pak Semar dikenal sebagai kepsek yang supergalak. Huh, aku juga pernah bete karenanya. Waktu itu, aku masih kelas 1 SMA. Cuma karena kakak kelas tahu aku mantan pemimpin redaksi Gema Siswa di SMPN 1 Denpasar, aku diajak bergabung di Madyapadma, majalah sekolah Trisma. Nggak tahu kenapa juga, tiba-tiba namaku bisa muncul sebagai seksi majalah di OSIS. Nah, inilah awalnya aku kena semprotan Pak Semar.

Suatu hari, ada kegiatan yang tidak kami hadiri. Aku tak tahu kalau ada kegiatan itu. Pak Semar marah. Aku ketiban sial. Omelan panjang keluar dari mulutnya. Huh, aku benar-benar jengkel. Mana ada kepsek galak kayak gitu. Sejak itu, aku berjanji, kelak, bapak akan dekat sama aku.

Dasar anak nakal, niat usil itu mulai muncul. Selang sehari, aku nongol di ruangannya. Tok tok tok.

Pak Semar terkejut. “Ada apa?” tanyanya. “Kangen,” jawabku asal. Dia tersontak. Aku dipanggil, diajak ngobrol. Setelah beberapa waktu, dia tersadar, “Kamu kok di luar kelas? Memangnya nggak ada pelajaran?”

“Ada apa, tapi saya mbolos, aja,” kataku. Wah, sontak Pak Semar marah. Aku dihukum, disuruh baca buku di perpustakaan sampai jam pelajaran berganti.

Kelakuan nyelenehku itu bolak-balik kulakukan. Abisnya, dia benar-benar galak, aku nggak suka orang galak.

Kegokilanku akhirnya berbuah, Pak Semar jadi baik sama aku. Dari obrolanku dengannya, aku baru mengerti, dia terlalu bersikap keras -sekeras-kerasnya- sampai-sampai orang tak paham dengan keinginannya. Orang hanya memandang dia itu terlalu galak, tidak bisa mendengarkan orang, nggak mau meneruskan tradisi kedisiplinan Trisma yang kental waktu itu. Ups, ternyata salah. Dia malah sebaliknya. Dia ingin meneruskan tradisi itu, tapi orang telanjur nggak suka sama dia.

Alhasil, aku dianggap anaknya oleh banyak orang. Aku dianggap orang yang paling disayang. Kalau ada masalah dengannya, aku disuruh maju. Minta tanda tangan Pak Semar, aku maju. Sampai-sampai, aku minta sekolah diliburkan dua hari untuk merayakan Bulan Bahasa dengan mengadakan berbagai pagelaran dan lomba, permintaanku disetujui.

Ah, Pak Semar memang baik. Dia orang yang selalu ngingatin aku kalau aku lagi bete. Bete karena waktu itu rumah bukan tempat yang asyik buatku. Pak Semar selalu dukung aku. Bahkan ketika kelas 3 SMA, ketika pembina Madyapadma tak mengizinkan aku mengikuti pendidikan jurnalistik tingkat lanjut di Akademika Unud, Pak Semar yang bantu.

“Saya nggak diizinkan ikut pak. Katanya, karena saya sudah kelas 3. Percuma dibiayai. Nanti juga pergi. Padahal, peserta yang bisa ikut adalah peserta yang sudah pernah ikut pendidikan jurnalistik tingkat dasar. Kan cuma saya. Bayarin dong pak, saya kan mau jadi wartawan kelak,” kataku setengah komplain.

Tak lama, Pak Suyastra, ngomel. “Gitu aja pakai lapor bapak,” katanya.

“Abis, bapak nggak ngizinin sih. Coba dikasih, kan nggak minta Pak Semar,” kataku senang.

Saya kualat dengan ucapan itu. Delapan tahun bekerja tak sebagai wartawan, akhirnya aku balik kandang, jadi wartawan hehehe

Jadi ingat, waktu teman-temanku demo karena kenaikan uang SPP dan nggak mau dipaksa belajar, aku yang kena. Kelas Fisika 1, kelasku,  menjadi harapan sekolah melahirkan peraih NEM tertinggi. Coretan di papan dan ruang OSIS jadi bukti demonstrasi itu. Aku yang dipanggil. Aduh, padahal aku cuma nonton. Kok ya bisa dianggap biang keladinya. Kalau urusan nggak bisa bayar uang SPP, buatku tak masalah. Guru-guruku superbaik. Bu Sumadi, wali kelasku waktu kelas 1, pernah membayarkan uang BP 3 ku. Aku tak bisa bayar. Kalau nggak punya uang lagi, aku bilang Pak Semar hehehe

Meski Pak Semar disebut supergalak, tapi lihat saja prestasi Trisma. Di bawah kepemimpinannya, Trisma meraih puncak prestasinya. Setelah itu, melorot-lorot nggak karuan.

Pak Semar, apa kabarmu kini?

 

 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: