It’s My Life


Saya Mau Dinikahi bukan Jadi Simpanan
April 22, 2008, 5:03 pm
Filed under: Umum

Bulu kuduk Sisil berdiri membayangkan jika dirinya mengalami sakit parah akibat profesinya sebagai PSK. Tak terbayang bagaimana kehidupan anaknya yang masih kecil jika ia terserang HIV/AIDS atau penyakit lainnya.

“Selain selalu pakai kondom, saya rajin memeriksakan kesehatan,” jelas Sisil. Tiap minggu, Sisil selalu ke klinik langganannya. Tiap minggu itu pula, ia harus minum antibiotik agar tak menderita suatu penyakit. “PSK yang membayar sendiri biaya pemeriksaan kesehatan itu Mbak,” ujar Sisil yang juga rutin memeriksakan sampel darahnya. Buat Sisil yang sadar betul risiko sebagai PSK, ia tak keberatan mengeluarkan sejumlah uang untuk itu. “Daripada ketahuan ada penyakit kalau sudah berat, mendingan tahu di awal,” katanya yakin.

 

Risiko tertular penyakit dari para pria hidung belang itu tak bisa ditebak. “Sekarang ini saya hanya melayani lima tamu per hari,” katanya. Jika diantara mereka memiliki penyakit kelamin, Sisil tak pernah tahu. “Itu sudah jauh berkurang Mbak. Dulu saya bisa meladeni 10 sampai 15 orang per hari,” katanya meyakinkan. Agar tetap fit, Sisil rajin mengkonsumsi jamu dengan campuran madu dan kuning telur.

 

Seperti pegawai kantoran, Sisil juga punya jam kerja khusus. Di tempat mangkalnya, Sisil harus stand by pada pukul 13.00 – 16.00. Tak sedikit tamu yang mem-booking-nya siang hari. Setelah itu, mereka diberi waktu istirahat selama tiga jam. Pada pukul 19.00 – 01.00 mereka harus siap bertugas kembali. “Kan banyak juga tamu yang nggak tahan lama Mbak. Jadi mainnya sebentar saja,” ujarnya sambil tersenyum simpul. Sering, Sisil menerima tawaran menginap. Kalau sudah begitu, ia di-booking sampai pagi hari. “Tarifnya beda Mbak. Sekali booking, minimal Rp 500 ribu. Kalau short time kan cuma Rp 100 ribu,” paparnya.

 

Sebulan, Sisil bisa mengumpulkan uang hingga Rp 5 juta. “Tiap tamu selalu memberi tip. Minimal Rp 150 ribu. Tapi, pendapatan saya sudah berkurang, hanya Rp 2 juta per bulan sekarang,” kisahnya. Sebagian penghasilannya itu ditabung. “Cukup untuk biaya hidup keluarga di kampung dan menabung,” ujarnya. Sisil mengaku, ia tak mengikuti gaya hidup sesama PSK yang kerap jor-joran, saling pamer dengan barang mahal.

 

“Tiap bulan saya ngirim uang Rp 1 juta ke kampung Mbak,” katanya. Kalau dipakai jor-joran, ia yakin tak bisa mencukupi kebutuhannya dan keluarga. “Sampai kapan sih saya bisa bekerja seperti ini Mbak?” tanyanya retoris. Dengan menabung, Sisil mulai bersiap agar ia tak terus menerus bekerja sebagai PSK. “Saya ingin punya toko kecil di Semarang. Saya ingin pulang kampung dan hidup normal,” tandasnya.

 

Sampai sekarang, tak banyak yang tahu ia bekerja sebagai PSK di Bali. Hanya ayah dan adik keduanya yang tahu. “Pertama kali ayah tahu, ia memaki saya. Tak pernah satu kali pun ayah mengharapkan saya bekerja sebagai PSK,” kenangnya. Kecurigaan ayahnya timbul karena uang yang dikirim ke kampung selalu banyak. Tak mungkin bekerja di salon bisa mendapatkan jutaan rupiah per bulan.

 

Begitu pun adiknya yang nomor dua. “Saya kasih tahu dia karena dia yang mengurus keluarga di Semarang,” ucap Sisil. Ia terbayang ketika adiknya menangis tersedu-sedu mengetahui kakaknya bekerja sebagai PSK. “Saya bilang padanya, kalau nggak begini, bagaimana bisa memenuhi kebutuhan hidup yang besar. Untuk sekolah adik-adik, makan dan kebutuhan anak saya,” kisahnya. Sisil pun meminta adiknya itu merahasiakan profesinya pada siapa pun.

 

“Suatu saat nanti, saya ingin menikah lagi,” harapnya. Sampai sekarang, harapannya belum bisa diwujudkan. “Sudah beberapa pria yang mengajak saya menikah Mbak,” sambungnya. Tapi Sisil tahu, ajakan nikah yang diterimanya selama ini hanya omong kosong. Tiap kali diseriusin, ternyata hanya janji gombal pria hidung belang. Mereka hanya tertarik pada kemolekan tubuh Sisil. Paling banter, Sisil mendapat kesempatan jadi simpanan. “Nggaklah Mbak. Saya mau dinikahi, bukan jadi simpanan,” tegasnya.

Jika pria yang mengajaknya menikah berusaha meyakinkan Sisil, ia dijadikan istrinya yang sah, Sisil menantangnya memberi modal untuk membuka toko kelontong. “Kalau sudah begitu, ketahuan mereka tak pernah serius,” katanya mantap. Sisil mengaku, ia benar-benar berniat mencari suami bukan pacar. “Buat apa cari pacar Mbak, cuma ngabisin duit aja,” tandasnya. Daripada uangnya dihamburkan untuk pacar, Sisil memilih memberikan pada keluarganya. “Siapa sih yang nggak perlu pria? Tapi kalau harus keluar uang, nanti dulu deh,” katanya tertawa.

 

Sejurus kemudian Sisil menghentikan pembicaraan. “Sudah dulu ya Mbak. Saya di-SMS istri orang nih. Pasti suaminya menyimpan nomor HP saya. Kalau ketahuan, saya didamprat. Sudah biasa, bagian dari profesi juga. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan aja, daripada sakit hati,” katanya. – (tamat)

 


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

kasian ya!

Komentar oleh komang




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: