It’s My Life


Selalu Ingat Anak
April 22, 2008, 4:51 pm
Filed under: Umum

Ingatan Sisil akan wajah ibunya terus membayang. Beberapa menit kemudian, Sisil nampak tenang. Matanya merah sembab. Berkali-kali, ia berusaha membersihkan ingus yang keluar dari hidungnya. Tak lama, ia bisa tersenyum kembali.

“Sudah Mbak, kita bisa lanjutkan cerita saya,” katanya berusaha tegar. Sisil menghela napas panjang. “Hidup di sini harus bisa pura-pura tersenyum meski sebenarnya hati kita sedang sedih Mbak,” katanya dengan mata menerawang. Sesekali, Sisil mengusap sisa air mata dengan jari tangannya. Mengenang pengalaman pertama menjadi PSK sangat berat baginya. Sejurus kemudian, ia mengingat-ingat kembali pengalaman pertamanya melayani tamu. Pesan pria pertama yang menjadi tamunya selalu diingat.

 

 

“Setelah melayani pria itu, saya kembali ke rumah Mami,” katanya. Di sana, ia sudah harus bersiap menunggu order berikutnya. “Di rumah Mami, kami hanya menunggu orderan dari calo bungalow,” kisahnya. Sisil tak perlu repot-repot menunggu calon klien. Biasanya, para tamu itu bertransaksi dengan calo. “Mereka tinggal bilang ingin wanita seperti apa, calo yang mencarikan,” ujarnya. Misalnya, pria itu minta wanita berkulit putih, mulus atau yang kuning langsat. Para calo-lah yang datang ke tempat mangkal minta disediakan oleh Mami.

 

 

Atau beberapa tamu juga biasa langsung datang ke tempat mangkal. Seperti memilih pendamping di karaoke, tamu-tamu itu memilih-milih wanita panggilan itu dari balik jendela berkaca lebar berwarna gelap. Para wanita itu hanya duduk menunggu orderan di sofa. “Waktu itu, saya langsung dapat orderan lagi Mbak,” kenangnya. Sisil cukup diminati para pria hidung belang. Hampir tak ada waktu baginya untuk beristirahat. “Selama seminggu, saya masih sangat canggung. Namun, lama-lama, saya jadi terbiasa,” tuturnya.

 

 

Menurut pengakuannya, Sisil cukup beruntung. Tamu-tamu yang menjadi pelanggannya tak pernah ada yang bertindak kasar. “Risiko jadi PSK kan banyak banget Mbak,” katanya serius. Selain penyakit kelamin, Sisil sadar, sangat riskan jika berhadapan dengan pria yang mengidap kelainan seks. Pria macam itu kerap melakukan tindak kekerasan sebelum bercinta. Atau, jika ia harus berhadapan dengan pria yang maniak seks.

 

 

“Untunglah, selama ini tamu saya baik-baik,” ujarnya. Jika ada beberapa tamu yang bersikap kasar, Sisil berusaha menghadapinya dengan kelembutan. “Kita harus bisa ngerti mau dia Mbak. Mungkin mereka sedang ada masalah atau gimana gitu,” lanjutnya. Tapi Sisil tak mau melayani jika tamunya sangat kasar. “Wah, kalau kasar-kasar sama saya, ya mendingan saya nggak dapat tamu. Nggak apa-apa deh. Daripada saya sakit semua,” katanya berusaha meyakinkan. Sisil juga berupaya menghindari tamu mabuk. “Orang mabuk itu susah dipegang. Mereka kan bertindak di luar kontrol. Buat saya, itu sangat berisiko,” katanya.

 

 

Banyak pengalaman yang didapatkannya menjadi PSK. “Pokoknya Mbak, nggak ada yang menilai bagus jadi PSK itu,” katanya. Dianggap sampah masyarakat dan dicemooh menjadi bagian hidupnya. Pernah juga Sisil mendapatkan tamu nakal yang tak membayarnya. “Kalau sudah begitu Mami yang komplin sama calo,” ujarnya. Para calo harus bertanggung jawab jika tamu tak membayar. “Tapi kalau tamunya bayar, calo kan dapat juga Mbak,” ceritanya.

 

 

 

Dari nilai pembayaran Rp 100 ribu, biasanya Sisil hanya memperoleh Rp 40 ribu. Sisanya dibagi untuk Mami, calo dan bungalow. Jika tamu yang mem-booking-nya memberi tips, Mami tak akan memintanya. “Tips itu jatah PSK. Berapa pun besarnya,” ujarnya. Umumnya, tips yang diberikan para tamu selalu lebih besar dari tarif mereka. “Mereka gengsi dong kalau ngasih tips lebih sedikit dari tarif kami,” katanya terkekeh. Dari tips itulah para PSK itu bisa memiliki uang cukup banyak.

 

 

Sadar dengan risiko profesinya yang sangat tinggi, Sisil mengaku selalu minta tamunya memakai kondom. “Kalau urusan pakai kondom, saya selalu ingat anak. Anak saya masih kecil Mbak. Kalau saya sakit parah, siapa yang akan mengurus dia nanti?” katanya setengah bertanya. Sisil tak bisa membayangkan jika ia harus terjangkit penyakit kelamin atau tertular virus HIV. “Ngeri sekali itu Mbak. Gimana anak saya nanti ya?” katanya bergidik. – (bersambung) 

 

 


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Put more endeavour in blogging and you but fantabulous :- As you can see by the
feedback from chemical group 01 and chemical group 05, you are emphatically making improvements in
your written act.

Komentar oleh Georgina




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: