It’s My Life


Adu Strategi dengan Mendekor Mumi
Mei 4, 2008, 8:27 am
Filed under: Umum | Tag:

BANYAK perusahaan besar memilih outbound sebagai sarana menyegarkan semangat bekerja seluruh jajaran manajemen dan staf. Outbound tak sekadar jalan-jalan atau piknik, melainkan bermain sambil mengevaluasi dan mengisi ulang energi teamwork yang mungkin saja mulai terkikis. Banyak hal yang bisa dipelajari saat outbound, salah satunya, team building.

Menurut Adi Soenarno dalam bukunya, team building adalah bentuk kerja sama dalam satu tim. Para ahli yang berpengalaman berpendapat, satu tim yang memunyai satu hati dan satu tekad akan bisa melakukan apa pun. Suatu organisasi yang mempunyai jiwa team building akan mampu mencapai tujuan bersama.

Team building bukan sekadar teamwork. Team-work merupakan unsur aksi secara aktif dalam momen tertentu. Team building jangka waktunya lebih abadi. Pada team building, ada proses saling mengenal, proses belajar, trial and error, ada pengalaman kebersamaan yang saling dirasakan manfaatnya serta saling memunyai komitmen demi tim yang satu.

Suatu perusahaan kadang-kadang menemui persoalan yang tak bisa diselesaikan satu departemen, sehingga perlu melibatkan semua staf dari seluruh departemen. Misalnya, masalah menghadapi biaya perusahaan yang terus membengkak. Brainstorming, workout, atau focus group, adalah cara yang bisa ditempuh pemimpin guna mendapatkan berbagai masukan. Nah, dalam team building, permainan “Solusi Duduk” adalah salah satu upaya melibatkan semua anggota tim untuk mencari solusi menyeluruh.

“Semua peserta harus duduk, tetapi tidak boleh menyentuh tanah, tidak boleh ada alat bantu, dan tidak boleh ada yang berdiri,” begitu aba-abaku sebagai penanggung jawab kegiatan outbond Koran Tokoh setelah awak koran mingguan ini dibagi dua tim saat berlangsung outbound di Kebun Raya Bedugul. Dengan sigap kedua tim membentuk lingkaran dan masing-masing duduk dengan kaki melingkar di bawah pantat. “Itu artinya pantat masih menyentuh tanah. Berpikir dulu, kalau sudah ketemu jawabannya baru diperagakan,” susulnya.

Dalam permainan itu anggota tim belajar, apa yang harus dilakukan pertama kali agar diskusi efektif, siapa yang harus memimpin diskusi, cara menampung ide, dan menentukan ide mana yang paling tepat diterapkan. Mereka harus berpacu dengan waktu.

Demikian pula saat permainan “Kumpul Sapi” yang melatih kepekaan untuk membentuk suatu tim berdasarkan kesamaan yang dimiliki para anggotanya. Masing-masing peserta mendapat kertas yang bertuliskan “Ngaaa”, “Ngooo”, “Nguuu”. Kertas diselipkan di saku kaus dan tak boleh dibuka sebelum ada aba-aba. “Sekarang bentuk kelompok berdasarkan kata yang kalian peroleh. Tidak ada yang boleh berbicara kecuali mengucapkan kata yang sudah ditentukan,” ujar Ratna.

Alhasil, permainan “Kumpul Sapi” itu pun penuh gelak tawa. Tim “Ngaaa” yang lebih dulu berhasil membentuk kelompok. Sedangkan tim “Nguuu” dan “Ngooo” kebingungan mencari anggota. Keduanya bahkan saling tertukar anggota tim.

Dalam permainan ini, peserta belajar mengenali karakter masing-masing anggota tim. Tidak mudah mengenali suara masing-masing peserta karena tiap peserta berteriak-teriak. Suara sejenis merupakan gambaran kebersamaan dalam satu tim. Jika suatu tim terbentuk cukup lama tetapi belum kompak, mungkin saja itu suatu pertanda bahwa ada unsur kepekaan yang tidak ditumbuhkembangkan dalam perusahaan.

Berpikir kreatif dengan memperhitungkan strategi secara matang juga diperlukan dalam sebuah perusahaan. Untuk itulah, tim Koran Tokoh ditantang mendekor mumi dengan dua rol tisu gulung. Syaratnya, salah seorang anggota tim harus berhasil dibalut seperti mumi dengan dua rol tisu serapi mungkin dalam waktu 10 menit.

Kalau mereka salah menentukan strategi sejak awal, mereka tak akan bisa membuat mumi dengan sempurna. Tiga kelompok Koran Tokoh sama-sama berhasil menentukan strategi paling tepat, yaitu mencari peserta terkecil di tiap kelompok. Uniknya, tiap mumi yang dibuat sesuai dengan pekerjaan mereka sehari-hari. Wartawan yang kerap menulis tentang perkembangan fashion, membuat mumi fashionable; wartawan kesehatan membuat mumi ejakulasi dini. Satu kelompok lagi membuat mumi “merah putih”.

Permainan “Follow the Leader” juga menjadi agenda. Setelah semua peserta membentuk lingkaran, mereka diminta mengikuti orang yang berada di tengah lingkaran. Setelah melakukan gerakan tertentu, orang itu harus menunjuk salah satu peserta lainnya tampil. Permainan yang melatih mental menjadi seorang pemimpin yang akan menjadi anutan bagi orang sekitarnya ini mengasyikkan. Tiap gerakan pemimpin ditiru peserta lain.

Begitu pula dalam kenyataan sehari-hari. Pemimpin adalah sosok yang paling sering ditiru anak buahnya. Dalam permainan ini ada yang istimewa. Gerakan yang dimulai pertama kali akan ditiru hingga peserta terakhir. Ketika aku memberi contoh gerakan melompat-lompat, gerakan peserta berikutnya tak jauh dari senam kesegaran jasmani. Yang mengasyikkan, semua orang bisa membuat gerakan mengejutkan, termasuk orang yang dikenal kalem. Tiap gerakan disambut tawa, teriak kegirangan karena belum tentu mereka bisa melakukan hal serupa dalam keseharian.

 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: