It’s My Life


Pengalaman Mudik (2): Bulu Babi di Pasir Putih
Mei 4, 2008, 8:12 am
Filed under: Umum | Tag:

DALAM bayangan kami, Kediri sudah di depan mata. Menjelang mudik, pusat pabrik rokok Gudang Garam itu tengah berstatus waspada. Gunung Kelud yang berjarak 30 km dari rumah mertuaku sedang bergejolak.

“Hati-hati Gunung Kelud,” begitu pesan yang kuterima lewat SMS dari Denpasar. Jika Gunung Kelud meletus, rumah kami terbilang aman. Paling-paling hanya dilewati lahar dingin. Tetapi, tentu saja kami berharap Gunung Kelud tak meletus. Kalau gunung itu “baik-baik saja”, kami tertarik mengunjunginya. Kata adikku, gunung itu sangat eksotis. Sejak 4-5 tahun yang lalu, Gunung Kelud dijadikan tempat wisata. Pemda Kediri membangun jalan ke puncaknya. Kabarnya, Gunung Kelud memiliki kekuatan ‘lain’.

Kekuatan lainnya, mobil dalam kondisi mesin tak menyala, bisa berjalan sendiri ke atas. Kebenarannya, saya tak tahu. Tetapi, berita itu sangat santer. Kami berdebat soal itu. Kalau disebut gaya gravitasi, menurutku itu tak mungkin. Gaya gravitasi menarik ke bawah, bukan ke atas. Mungkin medan elektromagnetik? Hmm…sepertinya terlalu sok tahu. Ketika disebut air mineral dalam botol juga bisa tertarik, adikku langsung berkata, “Wah, kalau itu mungkin benar-benar dunia lain,” ujarnya disusul tawa kami. Jika sudah tak mampu menjawabnya secara ilmiah, ujung-ujungnya kami berpikir mistis.

Pagi itu, bukan bahaya Gunung Kelud yang kami takuti. Saat di Hutan Baluran, mataku menangkap jarum penunjuk radiator di posisi yang tak semestinya. Jarumnya mendekati warna merah. Kontan saja, saya mengingatkan Nursalim. Kalau dibiarkan, mesin mobil bisa jebol. Rumah kakakku di Asembagus, Situbondo, menjadi tempat pemberhentian. Oh, rupanya air radiator habis. Setelah radiator terisi, perjalanan kami teruskan. Belum jauh, jarum penunjuk memberi peringatan lagi.

Beruntung, nomor telepon posko siaga Suzuki di Pasir Putih sudah kucatat. “Saluran radiatornya bermasalah. Ini harus diperbaiki,” ujar petugas di posko. Katanya, kami harus menantinya hingga sore, lebih kurang lima jam. Itu terlalu lama. Usai memeriksa ulang, petugas meralatnya. “Kami bisa percepat, maksimal tiga  jam,” ujarnya. Kami setuju.

Berkali-kali melewati Pantai Pasir Putih, kami tak pernah mampir. Ini saatnya menikmati pemandangan meskipun panas matahari sedang terik. Tawaran seorang pemilik jukung untuk melihat pesona wisata bawah laut, kami terima. Anggap saja tamasya, daripada capek menunggu.

Pak Nadin, pemilik jukung bernama “Lorena” meyakinkanku bahwa perjalanan kami akan aman. Perahunya punya keseimbangan. Sisi kanan dan kirinya dilengkapi kayu besar. Layarnya berukuran 46 meter persegi. Kami akan dibawanya berkeliling hingga batas laut dalam dan dangkal. Saya berusaha memastikan omongannya. Urusan naik jukung, saya masih takut. Tahun lalu, kami naik perahu motor di Pantai Popoh Tulungagung. Kata penyedia jasa, kami berperahu hingga batas laut lepas. Belum sampai batas laut lepas, gelombang tinggi terus menyapu perahu kami. Eh, di tengah laut mereka bilang, ya memang kondisinya seperti itu. Buatku dan Salma, itu mengkhawatirkan. Apalagi saat itu isu tsunami masih kencang.

Pemandangan bawah laut Pasir Putih kami nikmati dengan bantuan kotak kayu yang dilengkapi kaca cembung. Beratnya minta ampun. Keker yang disebut Pak Nadin sebelum naik jukung, berbeda dengan bayanganku. Saat ayah tiga anak itu bilang keker-nya kami injak, kami terkejut. “Ya itu keker-nya,” sahut Pak Nadin yang merangsang gelak kami.

Pak Nadin mengajak kami ke Batu Pintu 1. Dalam pelayaran, ia akan memberi tahu kami tempat-tempat yang enak dipandang. Salma berteriak-teriak takjub, “Ada ikan biru, ada ikan biru.” Ikan biru disebut blau oleh masyarakat setempat. Ada juga bulu babi. Saya juga baru tahu. Saat SD, saya pernah melihat telapak kaki bapakku tertusuk bulu babi. Sekarang, saya baru tahu bentuk aslinya.

Sayang, terumbu karang di Pasir Putih rusak. Menurut Pak Nadin, terumbu karang di sana rusak berat sejak empat tahun yang lalu dan makin parah ketika dua tahun yang lalu terkena sapuan banjir bandang. “Maafkan saya ya Pak. Bukannya gimana-gimana. Waktu zamannya Pak Harto, terumbu karang dilindungi. Ada orang jualan saja ditangkap. Sekarang malah dicuri. Orang jualan juga nggak apa-apa. Saya jangan dimarahi ya Pak. Sejak gonta-ganti presiden, ini malah nggak bener. Eman banget,” tuturnya.

Batu Pintu 1 yang dimaksud Pak Nadin berbentuk batu besar. Lebarnya 25 m, tinggi 6 m. Ada ‘pintu’ di dinding batu besar itu. “Itu namanya kabut air,” kata Pak Nadin sambil menunjuk kabut berwarna merah kecoklatan yang melintas di depan kami. “Kabut air itu bisa mendatangkan penyakit,” imbuhnya. Kontan Nursalim menarik tangannya dari air. “Wah, terus gimana ini pak? Dari tadi saya sudah pegang-pegang air,” katanya.

“Bukan penyakit manusia Pak tetapi penyakit terumbu karang. Karang-karang itu bisa mati kena kabut air,” jelasnya. Kabut air itu sangat dingin, perpaduan air tawar dan air laut.

 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: