It’s My Life


Pengalaman Mudik (3–Habis): Taruhan Makan Klepon
Mei 4, 2008, 8:14 am
Filed under: Umum | Tag:

SUASANA Lebaran di kampung bersama keluarga sangat mengesankan. Usai salat Idulfitri, kami saling mengunjungi. Sungkem dengan kedua orangtua, saudara, setelah itu kerabat dekat, tetangga, hingga saudara jauh, menjadi tradisi. Agar bisa mengunjungi sebagian dari mereka, kami perlu waktu dua hari.

Ini bagian yang paling menyenangkan buat Salma dan keponakanku yang berjumlah delapan orang. Mereka saling menghitung jumlah uang yang diterima dari para orang tua. Suasana desa yang susah ditemui di kota, menjadi daya tarik kami. Saat berkunjung di salah satu rumah saudara di Bulu Mukuh, Pagu, Kediri, kami minta izin mencabut bengkuang. Kami hanya tahu buahnya tetapi tak pernah mengenal tanamannya. Salma dan saudaranya berebut memanen paksa bengkuang yang baru berusia tiga bulan itu. Seharusnya, bengkuang bisa dipanen saat berusia tanam empat bulan. Bulu Mukuh adalah daerah penghasil bengkuang di Kediri. Kata sepupuku, bengkuang bisa hidup di tanah kering. “Tanam bijinya yang tua. Setelah panen, tanahnya bisa langsung ditanami lagi. Tak dipupuk juga tidak apa-apa. Yang paling kami takuti hanya hama tikus,” tuturnya.

Jika datang ke Kediri, kami juga tak akan melewatkan menyantap klepon “Miroso” di Wonosari, Pagu. Warung kecil di Gang Klepon ini dikenal sebagai penjual klepon pertama di Kediri. “Saya nggak tahu sejak kapan Mbah Buyut jualan klepon,” ujar gadis cantik yang melayani kami. Sudah tiga generasi keluarga itu menjual klepon. Saat Lebaran, mereka menghabiskan 10 kg ketan. Kalau diladeni, bisa habis 20 kg ketan sehari. Seporsi berisi lima butir klepon dan lupis dijual seharga Rp 1.500. Buat oleh-oleh, klepon itu dapat bertahan hingga dua hari.

Banyak orang menjadikan klepon Pak Ji To sebagai sarana taruhan. Siapa yang bisa makan klepon paling banyak, jadi pemenang. Rekor terbanyak terjadi tahun 1984. Waktu itu, pemenangnya bisa makan 19 piring klepon. Normalnya, makan sepiring saja sudah ‘mabuk’.

Bagi umat Nasrani, di Kediri ada tempat ziarah Katolik Puhsarang. Banyak orang menyebutnya sebagai gereja tua. Gereja Puhsarang didirikan tahun 1936 dan merupakan karya Ir. Henricus Maclaine Pont, Pastor H. Wolters, CM dan penduduk setempat. Bangunan gereja ini sangat unik karena reng dan usuk atap gereja terbuat dari kawat baja, gentingnya khusus, dan bangunannya dari batu. Dalam gereja ada relief batu tentang lambang penulis Injil.

Ada juga tiga patung Bunda Maria di Puhsarang, yaitu di Gua Maria di sebelah kiri gereja, di Gua Maria dekat gedung serbaguna dan di Gua Maria Lourdes. Di tempat ini ada sumber air yang disebut-sebut membawa kesembuhan dan berkat. Peziarah banyak yang membawa air dengan jerigen. Di jerigen putih yang banyak dijual di sekitar tempat itu tertulis “Air Kehidupan”. Kondisi ini mirip tempat ziarah Katolik di Candi Hati Kudus Yesus di Ganjuran, Yogyakarta. Gua Maria Lourdes merupakan tiruan dari Gua Lourdes Prancis, tempat melakukan misa Novena Bunda Maria dan misa tirakatan Jumat Legi.

Selain di Puhsarang, masyarakat juga memadati Loka Muksa Sang Prabu Sri Aji Jayabaya di Pamenang tiap malam Jumat Legi. Petilasan yang berjarak 9 km dari kota Kediri ini merupakan bekas wilayah keraton Kediri pada zaman dahulu dan salah seorang rajanya, Sang Prabu Sri Aji Jayabaya, menjalani moksa di tempat ini. Jayabaya terkenal dengan ramalannya yang kerap dipakai hingga saat ini. Diperkirakan, ia memerintah Kerajaan Kediri tahun 1135-1157 M dan dipercayai sebagai penjelmaan Wisnu Murti.

Beberapa peziarah sempat berkeinginan memugar tempat ini namun tak berhasil. Bahkan sebagian di antara mereka meninggal ketika memasuki tahap awal pemugaran. Jadilah petilasan itu tempat keramat. Pada 28 Januari 1973, R. Shaidi S. dkk. mengambil benda pusaka yang ada di pohon Kesambi, di tengah petilasan. Tugas itu diamanatkan kepadanya melalui mimpi. Jika berhasil, keluarga Hondodento, Yogyakarta, diperkenankan memugar bangunan tersebut. Ternyata misi itu sukses. Petilasan itu dipugar 22 Februari 1975.

Ada tiga bangunan pokok, yaitu Loka Muksa (tempat moksa Sri Aji Jayabaya), Loka Busana (lambang tempat busana diletakkan sebelum moksa), dan Loka Mahkota (lambang tempat mahkota diletakkan sebelum moksa). Monumen spiritual itu diwujudkan setelah menerima dawuh dari Sri Aji Jayabaya melalui Ki Wiriodikarso alias Mbah Plered. Petunjuknya, bahan loka moksa harus dari batu Gunung Merapi yang diukir manusia dan bentuknya memiliki nilai filsafat yang tinggi.

Menurut Pak Misri, juru kunci petilasan, batu Gunung Merapi itu beratnya mencapai 2,5 ton. “Batu itu tidak bisa diangkat. 25 orang saja nggak kuat. Ternyata ada syaratnya, cukup diangkat 8 orang dengan bambu apus. Enteng,” kisahnya. Loka muksa berbentuk lingga dan yoni yang diberi manik (batu bulat berlubang di tengahnya seperti mata). Manik menandakan kewaskitaan yang dimiliki Jayabaya. Beberapa utusan presiden Indonesia pernah datang ke tempat ini untuk meminta petunjuk.

Tak jauh dari petilasan, ada Pura Hyang Empu Barada dan Sendang Tirta Kamandanu. Air sendang tersebut dipercayai punya keistimewaan, yaitu menambah kekuatan lahir dan batin manusia.


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Hello! This is kind of off topic but I need some help from an established blog.
Is it very difficult to set up your own blog? I’m not very techincal but I
can figure things out pretty fast. I’m thinking about setting up my
own but I’m not sure where to begin. Do you have any ideas or
suggestions? Thank you

Komentar oleh Novena Dental




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: