It’s My Life


Pengalaman Mudik (Bagian 1): Menyalip Kendaraan 1 Km
Mei 4, 2008, 8:07 am
Filed under: Umum | Tag:

BAGI sebagian kaum perantau, pulang kampung kelahiran atau kampung orangtua menjelang Lebaran adalah hal wajib. Kata suami saya, Nursalim, kurang afdal rasanya kalau tidak merayakan Lebaran di tanah kelahirannya. Begitu pula menurut anakku, Salma. Jika saya menawarinya untuk tidak mudik sekali saja, dia memilih pergi bersama bapaknya ke Kediri, Jawa Timur, dan rela membiarkan saya tinggal di rumah. Alasannya, dia hanya bisa bertemu saudara sepupunya setahun sekali dan tiap Lebaran, dia bisa panen uang saku dari kerabat.

“Dasar orang nggak punya kampung,” ejek Nursalim. Kampungku memang tidak jelas: Bali atau Jawa. Mamaku hanya mengaku orang Surabaya karena dia lahir dan besar di Kota Pahlawan itu. Orangtuanya malah dari Belanda dan Manado. Bapakku mengaku orang Kraksaan, Probolinggo, karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di kota itu. Ayahnya dari Sidoarjo, ibunya dari Madura. Saya? Tiap kali ditanya, saya memilih menyebut diri orang Indonesia. Tetapi, si penanya pasti menguber. Kalau di Bali, saya bilang orang Jawa. Kalau di Jawa, saya bilang orang Bali. Memang tidak jelas. Sudah tiga generasi keluarga kami bertempat tinggal dan lahir di Denpasar. Kampung kelahiran dan kampung halamanku sekarang ini ya Bali. Tetapi, karena saya tidak berdarah Bali, pastilah saya tak diakui menjadi orang Bali, apalagi disebut putra daerah.

“Rasakan nikmatnya mudik,” kata Nursalim. Sejak di Tabanan mobil yang kami tumpangi hanya bisa merambat pelan. Mudik pada malam hari adalah pilihan kami tahun ini. Tahun lalu, kami terjebak macet di Pelabuhan Gilimanuk pukul 08.00 hingga 14.00. Bukan macetnya yang membuat kami tak tahan tetapi terik matahari yang terlalu menyengat. Itu sebabnya tahun ini kami memilih berangkat pada malam hari.

Iring-iringan kendaraan yang cukup padat sejak di Tabanan membuat saya khawatir. Jika deretan kendaraan itu bermuara di Gilimanuk, bisa-bisa kami antri dua hari dua malam di pelabuhan. Hari itu masih tiga hari sebelum Lebaran. Memacu kendaraan juga bukan pilihan karena pemudik berkendaraan sepeda motor cukup banyak. Belum lagi mereka menguasai semua jalur: samping kanan-kiri dan tengah. Ini tentu membuat kami harus lebih berhati-hati.

“Kalau mudik, semuanya asyik aja,” sahut Nursalim ketika saya membayangkan repotnya mudik menggunakan sepeda motor. Tak sedikit dari pemudik itu yang membawa muatan berlebihan. Di antara jok dan stang dipenuhi dus. Sadel bagian belakang disambung kayu juga penuh muatan. Satu sepeda motor bisa mengangkut tiga sampai empat penumpang. Jika harus memilih, saya akan menggunakan bus ketimbang sepeda motor.

“Itu kalau kamu punya uang,” jawab Nursalim. “Kalau mau irit, aku pilih pakai sepeda motor,” susulnya. Untungnya lagi, kalau naik sepeda motor bisa berhenti di mana saja ketika capek. Apa pun pilihannya, bagiku semuanya harus disiapkan dengan baik.

Malam itu, hujan deras tiba-tiba turun. Banyak pengendara sepeda motor yang tak membawa jas hujan. Sebagian memilih berteduh, sebagian lagi memilih berbasah-basah di tengah guyuran hujan. “Itu orangtua egois, masak bawa anak nggak berteduh,” gerutuku. Sudah malam hari, pasti dinginnya menembus tulang.

Hujan deras itu menguntungkan pengendara mobil. Kami berusaha menyalip beberapa kendaraan. Ah, rupanya iring-iringan kendaraan itu tak sampai Gilimanuk, cuma perbatasan Tabanan-Jembrana. Itu karena pimpinan iring-iringan adalah truk penuh muatan yang tak bisa cepat melaju.

Kesenangan itu ternyata hanya sesaat. Lebih kurang 5 km sebelum pelabuhan, antrian panjang sudah terlihat. Satu badan jalan dipenuhi tiga lajur kendaraan yang antri sejak pukul 16.00. Kami tertawa. Ya sudah, nikmati saja. Mau gimana lagi. Toh semua orang juga antri. Jarum jam menunjukkan pukul 23.00. Macet ini sudah pasti berkepanjangan.

Tiba-tiba, ada bus Indonesia Abadi melaju di sisi kanan kami. Lajur keempat memang kosong. Beberapa mobil kontan mengikutinya. Begitu pun kami. Suamiku banting setir ke kanan, langsung melaju. Meski sebenarnya tidak adil bagi pemudik yang antri sejak sore, kami merasa beruntung karena bisa menyalip kendaraan sepanjang lebih kurang 1 km. Itu sama saja dengan diskon 2-3 jam antri.

Perasaan lelah mengantri terbayar ketika kami menjejakkan kaki di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, pukul 07.30 keesokan harinya. Rasanya kami sudah tiba. Padahal perjalanan ke Kediri masih 325 km. Hutan Baluran yang selalu dilewati jika menuju Surabaya dari Ketapang kali ini meranggas. Pohon jati di sepanjang hutan berjarak 25 km itu botak. Maklum, masih musim kemarau. Jika musim hujan tiba, daun-daun itu akan tumbuh lagi. Itu kalau musim hujan tiba. Dewasa ini, iklim makin tak menentu. Saat musim kemarau pun, hujan bisa turun deras, demikian pula sebaliknya.

 

 


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

waduh lama banget ya

http://www.myspacenote.co.cc

Komentar oleh legiunnaire




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: