It’s My Life


Susahnya Mau Jadi Gubernur
Juni 5, 2008, 7:46 pm
Filed under: Umum

Sejak awal, perjuangan Winasa untuk menjadi Gubernur Bali periode 2008 – 2013 rasanya berat sekali. Pertama, susah sekali baginya dapat rekomendasi menjadi calon gubernur dari PDIP, partai tempatnya bernaung ketika itu. Rekomendasi DPP PDIP akhirnya jatuh ke tangan Mangku Pastika, yang bukan kader partai.

 

Waktu itu, keputusan itu membuat masyarakat umum terheran-heran. “Kader partai yang baik tapi kok nggak dipilih?” Seorang bapak-bapak yang kutemui di Warung Mek Liong ngomel panjang-lebar gara-gara keputusan yang dianggapnya nyeleneh itu.

 

Beberapa waktu kemudian, ketika aku bertemu dengan seorang kader PDIP lainnya, aku bertanya, “Kenapa memilih Mangku Pastika, bukan Winasa? Bukankah dia kader yang potensial? Banyak yang bertanya-tanya mengenai itu.” Jawabannya simpel. “Sesungguhnya, itu bagian strategi dari partai. Winasa sesungguhnya lebih cocok jadi menteri. Dia hebat, pintar. Sekarang tinggal dijalani aja. Siapa pun yang menang, toh bagian dari PDIP,” katanya diplomatis. Sesederhana itu? Rasanya tidak.

 

Winasa memilih keluar dari PDIP setelah dia memutuskan diri tetap maju dalam pencalonan pilkada Bali tahun ini. Setelah Partai Golkar menetapkan kadernya sebagai calon gubernur, Winasa harus berjuang habis-habisan mengumpulkan dukungan. Syarat 15% dukungan harus dipenuhinya, karena jika tidak, dia tak bisa mencalonkan diri. Dukungan PDIP sebesar 51,34%, suara Partai Golkar bergabung dengan Partai Karya Peduli Bangsa, Partai Nasional Indonesia Marhaenisme, Partai Perhimpunan Indonesia Baru, dan Partai Persatuan Pembangunan sebesar 29,54%. Koalisi Bali Dwipa yang mengusung Suweta dalam konvensi calon gubernur sebelumnya pun pecah. Sebagian suaranya lari ke Koalisi Kebangkitan Bali, koalisi yang terbentuk dari 13 partai kecil yang mendukung Winasa. Ia pun bisa mendapat dukungan sebesar 16,37% suara. Dukungan terbesar datang dari Partai Demokrat, yaitu 5,53%.

 

Winasa sudah aman? Tidak juga. Bagaimana pun, di masyarakat muncul pandangan, sesungguhnya pilkada Bali tahun ini adalah “pertarungan” Mangku Pastika dan Winasa. Mengapa? Keberhasilan Winasa memimpin Jembrana menjadi salah satu daya tarik masyarakat melirik Winasa. Kabupaten yang miskin, tapi mampu membawa daerah yang dipimpinnya jadi lebih maju, membebaskan biaya pendidikan, membebaskan biaya kesehatan dasar, membebaskan pajak bagi petani, memberi bantuan bergulir, dll. Siapa yang tak tertarik?

 

Sebagian orang mengatakan, Winasa tak disukai elit politik. Entahlah, apa alasannya. Tetapi, Winasa disukai oleh massa di akar rumput. Itu artinya, massa Winasa tak sedikit. Apalagi, pilkada secara langsung bukan lagi memilih partai tapi figur. Lihat saja, di beberapa daerah kekalahan telak partai-partai besar dalam beberapa kali pilkada. Pilihan Winasa maju sebagai calon gubernur mau tak mau berebut suara dengan PDIP, partai dengan suara terbesar di Bali. Apalagi, dia mantan orang PDIP.

 

Kesulitan Winasa sudah berakhir? Ternyata belum. Kali ini, Winasa tak punya pilihan lain kecuali harus menjadi gubernur. Jika tidak, sisa masa kerjanya sebagai bupati tidak akan pernah tenang. Sutoro Eko mengatakan, Jembrana memiliki sistem demokrasi lokal yang sentrifetal dan stabil sekaligus didukung oleh modal politik yang kuat. Sejak 1999, kepartaian dan parlemen di Jembrana didominasi oleh PDIP, di mana I Gede Winasa (bupati) juga bertindak sebagai ketua DPC PDIP. Sistem yang sentrifetal (jika bukan dominatif) ini memungkinkan proses politik formal dalam tubuh eksekutif-legislatif berjalan mulus, tanpa gangguan politik yang mengarah pada demokrasi sentrifugal. (Kalau Mau Pasti Bisa, Komunitas Kertas Budaya, 1996). Jika eksekutif dan dan legislatif dari partai mayoritas yang sama, tentu akan ada dukung-mendukung. Kalau ekskutif adalah partai minoritas dan legislatif adalah partai mayoritas, tentu yang terjadi adalah sebaliknya. PDIP memiliki 60% suara di DPRD Jembrana, dan kini, Winasa bukan lagi bagian dari mereka.

 

Kini, Winasa harus berhadapan dengan DPRD Jembrana. Seperti diberitakan Bali Post, (4/6), interpelasi terhadap Bupati Jembrana I Gede Winasa akhirnya ditetapkan dalam rapat paripurna, Senin (2/6). Ketua DPRD Jembrana Made Kembang Hartawan, Selasa (3/6) kemarin mengatakan usulan interpelasi oleh 22 anggota Dewan pada rapat paripurna pekan lalu ditetapkan dan secara resmi Dewan mengirim surat kepada Bupati, Rabu (4/6) hari ini….

 

Dewan menganggap, Winasa harus mempertanggungjawabkan kebijakan yang telah diambilnya selama ini, yang dinilai ada penyelewengan-penyelewengan. Pertanyaannya, mengapa dewan baru bersuara lantang sekarang? Mengapa mereka menunggu waktu bertahun-tahun hanya untuk bertanya? Winasa bahkan hampir menyelesaikan tugasnya sebagai Bupati Jembrana selama dua periode.

 

Belum lagi, “gebrakan” lawan politik yang memunculkan isu perbedaan agama antara Winasa dan Ratna Anie Lestari, Bupati Banyuwangi, yang juga istri Winasa. Winasa disebut memiliki dua agama; Hindu dan Islam. Mengapa politik harus membenturkan soal agama?

 

Saya tidak akan pernah lupa, seorang kader partai bercerita padaku di rumahnya. “Saya nggak suka Ratna. Dia tidak pantas jadi pemimpin. Mana boleh perempuan jadi pemimpin? Mau jadi apa dia punya suami yang beda agama? Suaminya Hindu, dia Islam. Saya tidak akan pernah mendukung keduanya. Dulu waktu Ratna maju jadi bupati, saya sudah berusaha agar pelantikannya dibatalkan. Saya bayar orang agar ke Jakarta, membawa setumpuk bukti “kesalahan” yang dilakukan Ratna. Saya kasih mereka uang Rp 2 juta. Sial, usaha saya gagal.” Ups, kader politik perempuan, yang harusnya mendukung perempuan, malah berusaha menjatuhkannya.

 

Kini, manuver yang sama diterapkan terhadap Winasa. Winasa disebut mendua agama. Di Bali beragama Hindu, di Banyuwangi beragama Islam. Padahal jelas-jelas, ketika manuver itu diterapkan pada Ratna, dia menyebut Winasa beragama Hindu. Itu di Banyuwangi. Ratna “digoyang” karena suaminya beragama Hindu. Itu ucapan dari politisi yang sama. Gila. Teganya politisi membentur-benturkan umat hanya karena kepentingan pribadi mereka.

 

Pada suatu kesempatan, Winasa berkata, “Apa salahnya saya menghormati umat lain jika hanya menggunakan kopiah?” Toh, itu bukan berarti punya dua agama. Di Bali, tak sedikit umat lain berpakaian adat Bali untuk menunjukkan toleransi beragama pada suatu kegiatan. Umat non-Hindu juga tidak merasa mendua agama karena bersikap seperti itu. Ini sebuah toleransi, saling menghargai, dan kebersamaan. Dalam bahasa public relations, lambang bermakna sama. Seseorang akan diterima di sebuah kelompok jika dia bersikap atau berpakaian yang sama seperti orang-orang di kelompok tersebut.

 

Masalah-masalah pribadi menjadi isu murahan. Bukankah yang terpenting adalah memilih pemimpin yang profesional dan memiliki kemampuan meningkatkan kesejahteraan bagi warganya? Tak sedikit orang berbeda agama menikah dan tetap mempertahankan agama masing-masing. Lidya Kandou dan Jamal Mirdad pun begitu. Apakah mereka diserang karena perbedaan agama tersebut? Tidak. Tak sedikit yang mengatakan, bagus. Itu bukti toleransi yang kuat apalagi mereka bisa mempertahankan hubungan dalam suasana yang harmonis. Mengapa mereka tidak diserang? Karena mereka tidak mencalonkan diri jadi gubernur.

 

Duh, susahnya mau jadi gubernur.

 


17 Komentar so far
Tinggalkan komentar

*Pertanyaannya, mengapa dewan baru bersuara lantang sekarang? ….

Itu pasti, karena mereka merasa terancam jika jagonya kalah, mereka akan habis karena tidak bisa mengemban amanat atasan…
Yang diatas angin saat ini justru kader PDIP diluar anggota dewan, jika Winasa menang mereka tidak akan dimintai pertanggungjawaban, justru mereka akan naik (menggantikan kader Dewan sekarang) dan jika Winasa kalah mereka tetap jaya karena tetap sebagai bagian dari PDIP yang notabene memenangkan pertarungan…he.he.

Komentar oleh artana

mana pernah mendaki gunung akan mudah jalannya ? angin pasti bertiup kencang, pijakan seringkali terpelesetkan butiran pasir kecil

Komentar oleh joze

Ini ceritanya mendukung siapa? Ato siapa mendukung siapa? Ato tidak mendukung?
Ah jadi pemilih juga menjadi susah……….
Salam kenal….

Komentar oleh Dek Didi

namanya juga perjuangan. Pasti ada penghalang. Aku rasa semua calon juga berjuang kok. Buktinya calon independen saja sampai mem PTUN kan KPU Bali karena ga dilolodkan jadi calon Gubernur. Begitulah politik. Akan jadi teman saat menguntungkan kita dan jadi musuh walaupun tadianya yeman kita. Bingung kan???
salam kenal

Komentar oleh eka

di luar intrik politiknya di jembrana sana, saya jadi simpati sama winasa karena upaya menyerang dia dengan agama, dan istrinya. beberapa kali hal ini jadi jurus buat oposannya di depan publik. toh, winasa bisa menangkisnya dengan cukup logis. memang belum ada yang berani duel dengan dia pake jurus strategi pembangunan.

Komentar oleh luhde

salam kenal yangbelum kenal. thanks dah urun rembuk. iya, aku juga bete karena oposan mereka pake agama buat nyerang. ketahuan buruknya kualitas mereka jadi politisi.

Komentar oleh erhanana

dg ujian yg berat saat perjuangan, nantinya Winasa lebih ringan saat memimpin Bali. Beratnya ‘obok2’ dr lawan2 politiknya itu pertanda Winasa sangat diperhitungkan kans-nya. yg sy kagumi pada winasa, wlo diterjang badai penghancuran kiri kanan, disikat dr atas bawah tp tetap saja TEGAR, Ruar Biasa!!!

Komentar oleh polos gen

Jujur, satu hal yang saya nilai dari diri Winasa adalah seorang pribadi yang super ambisius. Pribadi yang seperti ini akan menjalani apapun untuk bisa mencapai tujuannya. Tak dapat restu, kabur cari dukungan parpol gurem. Jika dari disiplin partai, tentu ini memang tidak dibenarkan karena begitulah karakter partai. Kedua, saya rasa masyarakat Bali harus was-was jika memang mendapatkan janji dari seorang gubernur seperti Winasa. Semuanya serba bebas! Apa iya? Belum tentu juga toh! lihatlah kinerja Winasa semasa jadi Bupati jembrana sampai kini, sebagian juga banyak yang tidak rebes (eh beres). Cuma saja, patron serba bebas oleh Winasa ini cukup ampuh untuk mencuci otak warga di Bali, mungkin karena kebanyakan masyarakat di bali sebenarnya miskin ya. Ketiga, pada dasarnya saya tidak mempermasalahkan Winasa beragama atau tidak beragama sekalipun, yang penting dalam memimpin Bali memang harus profesional dan proporsional. Dan ternyata yang lebih penting lagi, adat Budaya Bali yang sangat domina ternyata tidak mampu menerima calon-calon yang terbukti mempunyai agama diluar agama Hindu. Ini bisa ditanyakan lewat seribu polling, “Relakah Bali dipimpin umat Muslim?” saya yakin jawabannya Tidak. saya setuju agama tidak usahlah dibawa dalam ranah politik, tetapi mau bagaimana, wong domain adat dan budaya bali yang mengharuskan adanya penolakan (jika ada bukti).

Komentar oleh Putu Nano Putra Surya

Agama memang sebaiknya dipisahkan dari politik. Akan tetapi seseorang yg menukar2x agama sesuai dgn kebutuhannya, saat nikah Islam, saat jadi Bupati Jembrana HIndu, saat istri jadi bupati Banyuwangi kemudian sendiri2x agamanya, tentunya kita patut mempertanyakan kejujuran dari kandidat ini. Orang yg terlalu ambisius dan menggunakan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan, bukanlah orang yg tepat untuk memimpin Bali. Suruh aja dia ke Jakarta, dan biarkan dia bertarung di sana. Namun jangan obok2x Bali dgn attitude spt ini.

Komentar oleh frekbodong

Lho? kan memang susah jadi gubernur..

Komentar oleh okanegara

Winasa itu orangnya memang terbukti memanfaatkan agama untuk berkuasa. Hati-hati dengan programnya yang bombastis dan terbukti dari kajian orang akademis dan intelektual menganggap pendidikan gratis yang dia gembar-gemborkan itu sebagai hal yang tidak mungkin dilakukan. Waktu jadi bupati saja wartawan pada ditangkap, apalagi setelah jadi gubernur Ratna Hidayati yang wartawan Tokoh bisa dibui oleh dia. Rapat paripurna di DPRD Jembrana tidak pernah datang, pemimpin apa itu? Arogan dan tidak mengerti hukum tata negara dan tata pemerintahan. Proyeknya banyak yang mangkrak. PNS di Jembrana menderita dipimpin Winasa. Pengobatan gratis? ga lah yao.. Pasiennya kalau dirujuk ke RSUP Sanglah dimintai biaya kok. Gambaran ini bisa dipakai sebagai bahan renungan..hati-hati dalam memilih. Kalu saya sendiri sih GOLPUT. Tidak memilih dan memihak siapapun.

Komentar oleh Dony Wiguna

Wah kalo saya bingung harus milih yg manan, semuanya pada umbar janji….
Setelah ada di Podium, Janjinya ditinggal saja…

Komentar oleh Uyax

makanya negara ini ga maju2. masih saja ribut soal identitas, bukan kualitas. capek deh..

Komentar oleh anton

karena winasa lebih punya taste ^_^
http://winap.blogspot.com

Komentar oleh nugraha

hahaha terlepas setuju atau tidak, tapi aku suka isi blog winap di blogspot. lucu meski tidak sepenuhnya orisinil😛

Komentar oleh Ratna

ada ga yang bahagia(rakyat negara) setelah dipimpin bpk winasa ?

Komentar oleh dodi

ya itulah politik bukan terjadi di indonesia saja tetapi juga terjadi di banyak negara, di negara yang sdh lebih dulu demokrasi saja masih begitu apalagi indonesia. kalau golput itu wajar krn para kandidat tidak ada yang cocok dengan hati nurani tapi jangan golput selamanya donk. isu agama dan gender sdh kuno di jaman modern sekarang.jadi pemimpin tdk perlu pintar tapi bisa melayani masyarakat dan tidak korupsi, kalau pintar hanya nilai plus saja……saya tidak setuju agama dan gender di bawa2 ke urusan politik, bali di pimpin dengan beragama islam, kristen,hindu,budha terserah yg penting ada agamanya dan tidak korupsi….

Komentar oleh GoMe




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: