It’s My Life


Buruknya Transportasi Umum di Denpasar: Tarif Bemo Selangit, Ibu-ibu Ngirit
Juli 25, 2008, 5:50 pm
Filed under: Umum

HIDUP di Denpasar tanpa memiliki kendaraan pribadi, minimal sebuah sepeda motor, sungguh terasa berat. Kendaraan umum di Ibu Kota Provinsi Bali ini tidak memadai, terutama dari sisi ongkos, sarana, dan jadwal operasional. Apalagi, setelah kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang diumumkan pemerintah sejak 23 Mei lalu.

Sebagai contoh, bemo jurusan Kereneng-Sanur p.p. kini mengenakan biaya Rp 6.000 per orang sekali jalan, sama dengan biaya satu liter bensin. Harga sebelumnya, Rp 4.000. Kalau jarak dekat, biayanya jadi separuh harga bensin, sebesar Rp 3.000 per orang. “Kalau dari Pantai Sanur ke Tanjungbungkak, tarifnya Rp 5.000,” ujar Ketut, sebut saja begitu, pengemudi bemo jurusan Kereneng-Sanur p.p. Jarak dari Pantai Sanur ke Tanjungbungkak lebih kurang hanya 3 Km. Alasan Ketut, dari Sanur ke Tanjungbungkak, sama artinya lebih dari separuh perjalanan yang jaraknya lebih kurang 5 Km. Jika ada penumpang yang minta diantarkan ke tempat pemberhentian yang tidak dilewati trayeknya namun berada di radius yang tak terlalu jauh, Ketut akan mengenakan ongkos tambahan, minimal Rp 1.000.

Sabtu (24/5) Ketut dikomplain oleh penumpangnya. “Ketika saya bilang tarifnya Rp 3.000 dalam jarak dekat, dia keberatan. Saya jelaskan saja, harga bensin sudah naik. Kalau harga bensin nggak naik, tentu tarif bemo tidak naik juga. Toh bukan saya yang menaikkan harga bensin,” tuturnya. Penumpang itu menjawab, dia tak akan lagi menumpang bemo. “Mau gimana lagi, ya tidak apa-apa,” imbuh Ketut. Minggu (25/5) Ketut mulai beroperasi pukul 07.00. Dari Kereneng, ia nekat berkeliling. “Sepi sekali, saya tidak dapat penumpang satu orang pun,” kisahnya. Meski begitu, ia tak mau berputus asa. Ketut berputar lagi, dari Sanur ke Kereneng. Pukul 11.00 di depan Hotel Hyatt, ia mulai mendapat penumpang. Tiga penumpang laki-laki duduk di belakang. “Ini baru dapat penumpang,” ujarnya sambil menunjukkan tempat meletakkan uangnya yang masih kosong.

Di depan Pasar Sindhu, ia dapat tiga penumpang lagi. Ibu-ibu pedagang. Dua orang turun di Jalan Danau Buyan, satu orang lagi minta diantar ke Jalan Tukad Bilok Intaran. “Saya mau mengantar ibu ini dulu ya, dekat kok,” katanya pada penumpang. Tiga penumpang laki-laki itu tak keberatan. Mereka hendak turun di terminal Kereneng, jadi tak ada masalah jika Pak Supir berjalan tak sesuai trayek. Daripada memutar, Ketut memilih jalan tembus, lewat jalan kecil yang keluarnya di Tukad Yeh Penet Renon.

Menurut Ketut, dalam kondisi sepi penumpang seperti ini, sekarang pemerintah malah mengeluarkan izin operasional Taksi Motor. Taksi Motor itu tak ada bedanya dengan ojek. Kendaraannya menggunakan sepeda motor bebek bermerek Vega. Bedanya, Taksi Motor ini tak perlu ngetem di pangkalan ojek. Kantornya di bilangan Renon. Taksi Motor itu sudah beroperasi sejak sebulan yang lalu. “Penumpang tinggal telepon, pihak Taksi Motor akan menjemput dan mengantarkan ke tujuan. Biayanya setahu saya, Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu untuk dalam kota. Penumpang bemo bisa makin sepi,” keluhnya. “Susahnya, kalau hujan mereka tetap saja basah,” susulnya menghibur diri.

Kondisi sepi penumpang juga dialami Wayan, supir bemo dengan trayek yang sama. Pukul 06.00, ia sudah menunggu penumpang di depan Kantor Pos di Jalan Kamboja Kereneng. Terminal bemo di Pasar Kereneng sudah tak berfungsi lagi. “Ngapain antre di sana, nggak ada penumpang juga,” kata bapak tiga anak ini. Pukul 12.00, ia baru dapat penumpang. “Saya nggak berani nekat keliling, takut tambah rugi,” katanya.

Perhitungannya, minimal ada dua penumpang, ia akan berangkat. Tujuannya, menutup biaya pengeluaran bensin. Wayan membawa bemo keluaran tahun 1981. Kondisi bemonya sudah parah. Bodi mobilnya berkarat di mana-mana. Bungkus langit-langit mobilnya jebol, robek dan ditahan dengan dua kayu agar tak menggelantung. Pintu bemo di bagian depan, hanya bisa dibuka oleh supirnya. Pegangan pintu sudah tak ada. Pun demikian dengan pegangan pembuka jendela. Jika dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan penumpang, kondisi itu tentu tak layak.

“Kalau bemo ini diperbaiki, biayanya bisa lebih mahal dibandingkan mobil baru, bahkan biayanya berlipat-lipat,” katanya. Dalam sehari, minimal Wayan mengeluarkan biaya sebesar Rp 70 ribu. “Rp 20 ribu untuk uang setoran, yang Rp 50 ribu saya pakai beli bensin,” ungkapnya. Wayan tak berani berspekulasi karena takut merugi. “Jatah bensin maksimal Rp 50 ribu. Saya sesuaikan sendiri mau jalan atau tidak. Kalau terlalu sepi penumpang, uang bensin saya turunkan, misalnya jadi Rp 40 ribu. Bila keesokan hari dapat penumpang lebih banyak, uang bensin saya naikkan. Begitu terus agar seimbang,” ceritanya.

Upaya itu juga dilakukan agar ia tak mengeluarkan uang pribadinya. Anaknya tiga, seorang masih duduk di bangku SMA, seorang lagi di bangku SMP, dan satu lagi masih berusia 1,5 tahun. Istrinya tidak bekerja. “Saya juga harus memikirkan pengeluaran keluarga,” ucapnya. Ketut yang membawa bemo keluaran tahun 1989 juga berusaha menekan biaya pengeluaran bensin. “Rata-rata saya beli bensin 15 liter. Kadang-kadang, saya beli Rp 85 ribu. Dengan uang sebesar itu, sekarang saya cuma dapat 14 liter. Pokoknya, saya berhitung agar tidak merugi dan bisa menutup biaya bensin kalau benar-benar apes,” jelasnya.

Tingginya tarif yang dikenakan kepada penumpang merupakan salah satu penyebab rendahnya minat warga menggunakan transportasi umum. Seperti yang diungkapkan Sri Rahayuningtyas, ibu rumah tangga yang tinggal di Sanur. “Lebih baik naik sepeda motor daripada naik bemo,” kata ibu dua anak; Eka dan Renaldy itu. Alasannya, menggunakan sepeda motor pribadi buatnya lebih irit. “Bandingkan saja, jika kita bepergian dari Sanur ke Poltabes Denpasar,” kata salah satu pengurus Bhayangkari Cabang Denpasar itu.

Kalau naik bemo, Bu Wirawan, begitu panggilan karibnya, harus berganti-ganti bemo. Dari Sanur, ia naik bemo jurusan Kereneng. Setelah itu, ganti bemo. “Saya malah nggak tahu trayek bemo ke mana saja. Nanti malah nyasar,” katanya. Kalau harus ganti dua bemo sekali jalan, dengan tarif Rp 6.000 sekali jalan, berarti ia harus mengeluarkan ongkos sebesar Rp 12.000, belum ditambah biaya kepulangan. Jika dianggap pengeluarannya sama, berarti untuk satu tujuan ia mengeluarkan ongkos Rp 24.000 pergi-pulang. “Kalau pakai sepeda motor sendiri, uang segitu cukup dipakai untuk membiayai pengeluaran bensin saya selama seminggu,” tutur istri I Gede Wirawan itu.

Selain ongkos yang mahal, Bu Wirawan menilai jadwal operasional bemo di Denpasar tidak jelas. “Kita malah tidak hemat waktu kalau naik bemo,” ujarnya. Bu Wirawan juga keberatan dengan kondisi bemo yang dianggapnya tak sesuai dengan ongkos yang dikeluarkan. “Bemonya sudah tua, nggak ada yang baru, banyak yang sudah jelek. Kalau naik bemo jadi tidak nyaman,” ujarnya.

Wayan dan Ketut mengakui, kini sudah tak ada lagi bemo baru. “Mau diremajakan gimana lagi? Bemo yang paling bagus mungkin keluaran tahun 1990-an,” kata Ketut. Menurut Wayan, kondisi itu lagi-lagi disebabkan minimnya penumpang. “Bukannya diremajakan, bemo sekarang terus berkurang. Ada yang dipakai di daerah lain atau dijual oleh pemiliknya. Mereka tentu juga merugi dengan setoran yang sedikit. Belum lagi sekarang orang mudah mendapatkan sepeda motor baru. Cukup bayar Rp 500 ribu, sudah dapat sepeda motor. Orang tentu memilih beli sepeda motor. Pelajar saja sedikit yang naik bemo, paling-paling mereka diantar-jemput atau membawa sepeda motor sendiri,” kata Wayan yang menjadi supir bemo sejak tahun 1986 itu.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: