It’s My Life


Dr. Ir. Fadel Muhammad: Berani Berbeda asal demi Rakyat
Juli 25, 2008, 5:58 pm
Filed under: Umum | Tag:

GUBERNUR Jagung, begitu sebutan Dr. Ir. Fadel Muhammad, Gubernur Gorontalo. Lelaki kelahiran Ternate, 20 Mei 1952 ini berhasil mengubah daerah minus menjadi daerah yang mencapai pertumbuhan ekonomi 7-8 persen, jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional dengan – salah satunya – mendongkrak produktivitas daerah dalam menanam jagung. Lalu, bagaimana kepeduliannya terhadap dunia pendidikan dan kesehatan di Gorontalo?

“Pendidikan adalah hal yang paling pokok,” tegas doktor dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Bidang Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini. Ketika ia ditetapkan sebagai Gubernur Gorontalo pada 10 Desember 2001, Fadel melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah di provinsi ke-32 itu selama enam bulan berturut-turut. “Saya menemukan guru-guru mengajarkan hal-hal yang terlalu umum, yang belum ada aplikasinya di Gorontalo,” ungkapnya. Contoh, dalam pelajaran yang berhubungan dengan ilmu mekanik, mereka mengajarkan ilmu tentang mesin kereta api.

“Saya bertanya kepada gurunya, Anda pernah naik kereta api atau tidak. Dia menjawab, jangankan naik, lihat kereta api saja saya belum pernah. Kalau Anda belum pernah naik kereta api, mengapa Anda mengajar mesin kereta api. Saya cek lagi di sekolah yang lain. Begitu banyak yang seperti itu. Akhirnya saya rombak,” tutur Mahasiswa Teladan/Tokoh Mahasiswa ITB Tahun 1975 itu. Fadel pun membawa tim dari Jakarta. Tim ini dibentuknya bersama-sama dengan (dulu) IKIP Gorontalo untuk membuat studi. Fadel menamakannya, pendidikan berbasis kawasan.

“Saya mengubah kurikulumnya, memasukkan kurikulum lokal dari SD sampai ke perguruan tinggi,” imbuhnya. Dampaknya, pengetahuan yang diterima para murid adalah wawasan yang aplikatif di daerah. “Orang-orang di Gorontalo tahu mengenai jagung atau mesin tempel di perahu bukan kereta api. Jadi, pengetahuan itu yang harus diajarkan agar bisa diterapkan. Ke arah sana berpikirnya. Misalnya kalau di Bali, semua orang diajarkan tentang pertanian atau pariwisata, harus sesuatu yang ada di daerah itu,” sambungnya lagi.

Sebagai bentuk kepeduliannya terhadap dunia pendidikan, mantan anggota MPR RI tahun 1992-1997 dari Utusan Golongan ini pun memberi beasiswa kepada 11 ribu sampai 12 ribu orang tiap tahun. Pelajar atau mahasiswa yang berprestasi, otomatis diberikan beasiswa pendidikan tersebut. Murid-murid SMA yang berasal dari daerah terpencil dan melanjutkan pendidikannya di kota, diberikan beasiswa dan tunjangan indekos. Perhatian itu juga diberikan kepada guru-guru berupa pemberian insentif. “Kami juga memberikan pelatihan-pelatihan, pendidikan tambahan dan sebagainya,” kata penerima penghargaan Lee Kwan Yew Fellowship Award dari pemerintah Singapura tahun 1994 itu.

Saat musim libur sekolah seperti sekarang ini, guru-guru diberikan pelatihan seperti pelatihan pola pikir. Guru-guru yang berkualitas diikutkan dalam program pertukaran guru dan dikirim ke Yogyakarta. “Guru yang bagus di Yogyakarta, dikirim ke Gorontalo. Demikian sebaliknya. Ini kami lakukan agar ada pertukaran wawasan,” kata Fadel. Selain itu, pemerintah Gorontalo juga menyiapkan insentif bagi guru-guru di daerah terpencil.

Di bidang kesehatan, Fadel bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya melakukan survei. Simpulan survei tersebut, kalau pemerintah mau memberikan pelayanan di bidang kesehatan, harus ada intervensi, ada campur tangan pemerintah. Mereka mengusulkan dibentuknya sebuah badan yang bertugas menangani kesehatan bagi orang miskin. Fadel setuju. Ia pun menerbitkan peraturan daerah tentang pembentukan Badan Pelayanan Kesehatan Mandiri yang khusus menangani masalah kesehatan bagi orang miskin dan membiayai pendiriannya. Badan yang berdiri di bawah gubernur ini bertugas menjangkau orang miskin dan memberikan akses kesehatan seluas-luasnya kepada rakyat miskin.

“Kami ingin mengatur masalah kesehatan ini secara baik. Tujuan pembentukan badan ini tak lain adalah adanya intervensi dari pemerintah kepada orang miskin. Kalau tidak ada intervensi, susah,” kata penerima anugerah Satya Lencana Wira Karya Tahun 2005 dari Presiden RI atas jasa-jasanya di bidang Keluarga Berencana Nasional itu. Fadel melihat, iklim birokrasi yang terlalu struktural tak memungkinkannya bekerja maksimal. “Kepala dinas bekerja secara struktural, semua struktural. Saya pikir-pikir, kalau begitu, rakyat saya susah dijangkau. Itu sebabnya, saya membuat Badan Pelayanan Kesehatan Mandiri. Ini yang saya sebut intervensi. Dengan demikian, saya bisa mengetahui kondisi kesehatan masyarakat miskin di Gorontalo secara cepat,” paparnya.

Tiap tiga bulan, ia mendatangkan tim dokter dari Jakarta dan Makasar. “Badan ini menerobos sampai lini terbawah agar tidak birokratis,” susulnya. Pelayanan kesehatan yang diberikan pun menyeluruh. “Kalau sakitnya berat, dikirim ke Surabaya. Semuanya gratis,” ungkapnya. RS Angkatan Laut Surabaya menjadi mitranya. “Kepala angkatan laut di sana teman baik saya, itu sebabnya kami bisa bekerja sama,” katanya sembari tersenyum.

Di bawah kendali Tim Penggerak PKK Gorontalo, posyandu dijalankan. Ada satu program tambahan yang diterapkan Fadel di provinsi hasil pemekaran Provinsi Sulawesi Utara pada tahun 2001 itu, yaitu program pemberian vitamin bagi ibu-ibu yang mengandung tujuh bulan. “Saya menemukan fakta, begitu banyak ibu-ibu hamil tujuh bulan yang tubuhnya kurus-kurus karena kekurangan gizi. Nah, saya meminta kepada tim penggerak PKK mencari ibu-ibu hamil dengan kondisi seperti itu. Kami membiayai sampai ibu tersebut melahirkan,” ucap pendiri PT Bukaka Teknik Utama ini. Anggaran untuk itu ia siapkan melalui APBD.

Melalui tim penggerak PKK pula Fadel mendorong pemberdayaan perempuan di bidang kerajinan, kebudayaan, atau pun pertanian. “Di pemerintahan, saya membentuk biro khusus pemberdayaan perempuan untuk mendukung upaya tersebut. Saya tak mau menggabungkannya dengan biro-biro yang lain karena menurut saya, pemberdayaan perempuan adalah hal yang sangat penting,” katanya serius.

 

Memanfaatkan Camat

Kemampuan Fadel memetakan masalah dan menelurkan solusi tak lain berkat pemanfaatan peran para camat dan kepala desa di wilayahnya. “Saya tidak mau melepas para camat dan kepala desa begitu saja. Saya memanfaatkan mereka dengan memberikan tunjangan kinerja. Yang paling tahu rakyat adalah camat dan kepala desa,” kata penerima penghargaan Satya Lencana Pembangunan Tahun 2007 dari Presiden RI ini. Di Gorontalo, camat membuat laporan kerja kepada bupati dan gubernur. “Saya menjadi lebih dekat dan tahu kondisi di lapangan,” lanjutnya.

Menurut Fadel, apa yang dilakukannya selama ini berideologi pada UUD 1945, khususnya pasal 31 dan 32 tentang pendidikan dan kebudayaan serta pasal 33 dan 34 tentang perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial. Tugas pemerintah bukan hanya memberikan demokrasi politik atau sipil tetapi juga demokrasi ekonomi, pemenuhan hak sosial dan kesehatan rakyat. Ini disebutnya limited government intervention, yaitu campur tangan terbatas pemerintah.

“Dasar pelaksanaannya sudah ada, tinggal mencari teknisnya. Kalau kita tidak memikirkan sampai di sana, pemerintahan tidak berjalan,” katanya. Buatnya, inovasi adalah penting. “Kita harus berbuat lebih baik. Itu sebabnya, saat bekerja kita harus membuat terobosan. Jadinya mikir terus, networking. Ketika saya membuat studi tentang pertanian agropolitan, saya minta bantuan teman-teman dari IPB. Bicara kesehatan, saya dibantu teman-teman dari Unair. Itu pentingnya berjejaring,” tandasnya.

Jejaring ini benar-benar dijaga oleh Fadel. Ia juga aktif mencari informasi terbaru melalui internet. “Saya pernah membaca di situs, UNDP mengenalkan sistem baru, yaitu perencanaan berdasarkan Human Development Index (HDI) sejak tiga tahun lalu,” ucapnya. Daerah yang memiliki nilai HDI yang rendah, diberikan treatment tersendiri, pemerintah melakukan intervensi. “Saya pikir, itu benar. Saya mengundang UNDP untuk berbicara, bekerja sama dengan pemerintah Gorontalo membuat pemetaan. Hasilnya, membuat saya terkaget-kaget,” katanya. Dari pemetaan tersebut, Fadel menemukan 15 kecamatan dengan nilai HDI rendah. Ia disarankan melakukan penanganan khusus terhadap 15 kecamatan ini jika mau mengatasi kemiskinan. “Saya panggil Bappeda dan minta UNDP memberikan ceramah pada mereka. Saya menemani saja dan tinggal mengatakan, itu benar. Saya tidak memerlukan pengetahuan lain. Itu ide mereka dan saya memberanikan diri mengintervensi untuk kepentingan rakyat,” papar Fadel yang diundang ke Maroko untuk berpresentasi karena keberhasilan memimpin Gorontalo.

Fadel mengaku, apa yang dilakukan bukanlah murni idenya. “Saya hanya membaca buku, mereka memberi penjelasan. Secara detail, saya tidak paham. Tetapi, saya tahu, kalau programnya bagus, saya memberikan dukungan penuh. Itu tugas terbesar seorang pemimpin,” tegasnya. Sikap berbeda berani ia lakukan asal demi kepentingan rakyat. “Seperti perencanaan berbasis HDI. Pemerintah pusat belum membuat yang seperti itu. Ada saran, jangan dilakukan karena belum ada peraturan pemerintah atau surat keputusan. Kalau begitu terus, kapan negeri ini maju?” katanya retoris. Fadel mengatakan, apa pun yang diyakininya bagus dan demi kepentingan rakyat, ia akan melaksanakan programnya. “Kelemahan kita dalam membangun, banyak pemimpin daerah yang tidak punya ideologi. Pemihakannya harus jelas dan itu dalam bentuk intervensi,” ujarnya.

Pada saat awal penerapan kebijakannya, ada orang-orang yang belum mengerti. “Kalau ada penentangan, saya memilih berkomunikasi dengan mereka,” kata Fadel yang dalam masa kepemimpinannya berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 72 persen menjadi 33 persen. Saban minggu, ia berdialog melalui program “Halo Gubernur” di televisi, berdialog melalui “Warung Kopi” di pasar-pasar yang disiarkan melalui radio, membuka layanan SMS di media cetak atau menjabarkan programnya melalui tulisannya di media cetak. “Saya juga menerima SMS dari masyarakat langsung melalui nomor telepon genggam. Saya berupaya semaksimal mungkin menjawab semua SMS yang masuk,” katanya. Konsepnya, ada ideologi, ada program, dan ada komunikasi politik.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: