It’s My Life


Menang Undian COURTS (Bagian 1): Terasa bak Artis
Juli 25, 2008, 5:23 pm
Filed under: Umum

BERBELANJA membawa keberuntungan. Itulah yang dialami Ni Nyoman Sumerta Asih, pemenang undian “COURTS Romantic Tour to Singapore”. Bersama putri ketiganya, Made Victoria Haryono, ia melakukan perjalanan tiga hari dua malam ke Singapura. Selain berwisata ke Sentosa Island, Asih berhak atas akomodasi di hotel berbintang lima, uang fiskal, tiket pesawat Garuda Denpasar-Singapura p.p., dan uang saku Rp 3 juta. Berikut liputan Ratna Hidayati, wartawati Koran Tokoh yang menemani mereka selama perjalanan.

Kamis, 17 Mei. Sehari sebelum berangkat, kami sepakat langsung bertemu di terminal keberangkatan internasional Bandara Ngurah Rai. Tetapi, COURTS menawarkan perubahan. Kami dijemput pihak COURTS di rumah masing-masing. Pukul 12.30, Widyastuti, Media Buying Manager COURTS bersama saya dan tiga rekan dari COURTS meluncur ke rumah Asih, panggilan karib Sumerta Asih, di Suwung.

Asih dan Toya, begitu Victoria biasa dipanggil, sudah siap. Asih sudah menyiapkan sebuah kopor besar. ”Sudah siap belanja banyak nih,” goda Widyastuti alias Wiwit. Asih tertawa. I Gusti Putu Marwatha, staf COURTS sibuk mendokumentasikan penjemputan tersebut.  Pukul 13.30, kami meluncur ke bandara.

”Rasanya terlalu awal ke bandara jam segini,” kataku setengah keberatan. Pesawat berangkat pukul 15.40. ”Lebih baik berangkat lebih awal,” sahut Wiwit. Rupanya, COURTS sedang menyiapkan kejutan berikutnya. Tiba di terminal keberangkatan internasional, tim pemasaran COURTS siap menyambut kedatangan kami. Purwanto Sudjianto, National Marketing Manager COURTS langsung menyalami kami sesaat setelah turun dari mobil. Wah, terasa bak artis. Apalagi saat kami berfoto bersama. Orang-orang yang berada di areal itu memandangi kami. Mungkin karena seragam kami sama; sama-sama bergambar bus SIA Hop On, patung singa yang menjadi ikon Singapura dan bertuliskan “Pemenang COURTS Romantic Tour to Singapore” serta kehebohan dadakan yang terjadi.

Pukul 15.40 GA 840 yang kami tumpangi lepas landas. ”Rasanya senang sekali bisa menang undian. Saya belum pernah seberuntung ini. Ini pertama kali saya memenangi undian,” ujar Asih. Perjalanan ini pun menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi Toya yang baru berusia 7 tahun itu.

”Akhirnya Toya naik pesawat juga. Kata Koko (panggilan kakak laki-lakinya, red.), di pesawat kami dapat makan,” celotehnya. Dalam perjalanan itu, Toya duduk di tengah, di bangku 14E. Permen yang disuguhkan pramugari Garuda diambilnya. ”Sebaiknya emut permen kalau kita lepas landas, biar telinga kita nggak sakit,” kataku.

”Tante, gimana cara pakai ini?” tanyanya padaku ketika ia akan memasang sabuk pengaman. ”Tante, ini untuk apa?” ujarnya sambil menunjuk ”meja makan” yang nempel di kursi. ”Tante, ini apa?” tanyanya sambil melihat tempat sampah supermini di pegangan kursi pesawat. Toya terus saja bertanya berbagai macam hal sampai dia kelihatan tidak enak badan. Mukanya agak memerah. ”Toya sakit?” tanyaku. Oh, rupanya, Toya sakit kepala. Dia mabuk perjalanan meski tak sampai muntah. Mamanya minta dia bersandar, tidur. Tetap saja, Toya tak bisa tidur. Dia bisa melupakan sakit kepalanya, dengan ngobrol lagi, bertanya lagi.

”Kita menembus awan,” kataku. Toya takjub. Ini pengalaman pertamanya dekat dengan awan. Wajahnya berubah ketika pesawat yang kami tumpangi mengalami goncangan karena cuaca buruk. Namun, itu hanya sesaat. ”Tante, kata Koko, kalau mau mendarat pesawatnya muter-muter dulu ya?” tanya Toya. Saya mengiyakan. ”Iya, pesawatnya menyesuaikan dengan arah angin, biar tidak terempas,” jawabku. Sebelum mendarat, telinga Toya mulai berdengung. ”Dipakai menguap saja, biar hilang,” saranku. Toya tak paham. ”Tutup hidungnya, terus seperti niup,” ajar Asih.

Pukul 18.10 – waktu Singapura sama dengan waktu Bali – setelah melakukan dua jam perjalanan, kami mendarat di Bandara Changi Singapura. Ketika berhenti di depan lorong toilet sambil menanti Asih yang mampir ke kamar kecil, Toya memperhatikan seseorang yang sedang minum air dari kran. ”Tante, lihat orang itu. Masak dia minum air kran?” katanya dengan ekspresi keheranan. Saya tertawa. ”Iya, itu air kran untuk minum,” jawabku. ”Loh, bukannya nanti malah sakit perut? Gimana sih?” katanya bernada protes. Jawabannya mengundang tawaku. ”Kalau air kran di sini bisa langsung diminum sayang,” kataku memberi tahu. ”Tante gimana sih, kalau minum air kran kita bisa sakit perut,” katanya ngeyel. Ya sudahlah, terserah Toya. Saya ajak dia mendekati kran air minum itu. Toya memencet-mencet kran. Airnya tak keluar. ”Kok nggak keluar juga?” tanyanya bingung. ”Pencet tombol di bawah ini, dekatkan mulutmu ke arah kran,” ucapku. Eh, Toya malah main air.


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

With havin so much content do you ever run into any problems of plagorism or copyright infringement?
My blog has a lot of exclusive content I’ve either written myself or outsourced but it appears a lot of it is popping it up all over the internet without my permission. Do you know any ways to help reduce content from being ripped off? I’d definitely appreciate
it.

Komentar oleh best e cigarettes

This design is incredible! You definitely know how to keep a reader amused.
Between your wit and your videos, I was almost moved to start my own blog
(well, almost…HaHa!) Excellent job. I really enjoyed what you had to say,
and more than that, how you presented it. Too cool!

Komentar oleh Shauna




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: