It’s My Life


Menang Undian COURTS (Bagian 2): Jalan-jalan di Orchard Road
Juli 25, 2008, 5:33 pm
Filed under: Umum

Supir dari agen perjalanan yang bertugas menjemput kami sudah siap di pintu keluar di terminal kedatangan Bandara Changi. Baru juga mendudukkan badan di jok mobil, ia memberi kami cinderamata, jadwal tur ke Sentosa Island, dan jadwal penjemputan menjelang kepulangan ke Bali. Selain ke Sentosa Island, kami tidak memiliki agenda lain dari agen perjalanan. Acaranya bebas. Karena itu, selain meliput, saya bertugas ganda: sebagai tour leader plus mengemas kegiatan agar waktu yang tersedia bisa dioptimalkan untuk berjalan-jalan. Saya bertanggung jawab atas kegiatan Asih dan putrinya selama di Singapura. Itu pesan dari COURTS.

Perkiraan waktu kedatangan di hotel meleset. Dengan jadwal pendaratan pukul 18.10, kami estimasi bisa sampai di Orchard Hotel paling lambat pukul 19.30. Ternyata, kami baru sampai di hotel pukul 20.00. Itu pun harus terpotong urusan check in. Terpaksa, kami memulai acara malam itu pada pukul 20.30. Untunglah, tempat menginap kami berada di Orchard Road, kawasan perbelanjaan yang ramai hingga malam hari.

Agar tak terlalu lelah, saya menawarkan dua alternatif pada Asih: makan malam di sekitar Orchard Road setelah itu berjalan-jalan di sekitarnya dan berhenti di Bideford Junction untuk berfoto atau makan malam di Clarke Quay di Singapore River, pulangnya mampir di Orchard Road. Asih memilih di berjalan-jalan Orchard Road saja. Tujuan pertama, beli kartu telepon di toko Seven Eleven. Beli kartu perdana Singtel seharga 15 dolar Singapura, kami dapat bonus enam kaleng minuman ringan. Lumayan. Setelah itu kami fokus ke arah Lucky Plaza, tempat makan malam. Asih terpikat mengunjungi department store ISETAN yang sedang obral. “Sekarang makan malam dulu, nanti baru mikir belanja,” ingatku. Asih tertawa.

Di Singapura, pejalan kaki pun harus taat aturan. Kalau mau menyeberang, harus di tempat penyeberangan. Meski Lucky Plaza berada di sisi yang sama dengan kami, tetapi karena harus mengikuti tempat penyeberangan, kami harus menyeberang ke sisi yang lain. Tepat di depan Lucky Plaza, kami mulai berpikir praktis. Kami melihat beberapa orang di sana menyeberang bukan pada tempatnya. “Ini melanggar nggak ya?” tanya Asih. Aku perhatikan orang-orang yang menyeberang. “Kalaupun ini melanggar, kita melanggar ramai-ramai. Anggap saja nggak apa-apa,” kataku seraya tertawa. Kami pun buru-buru menyeberang.

Sudah jauh-jauh sampai di Singapura, makanan yang dicari pun tetap masakan Indonesia. Saya makan nasi uduk dengan ayam tulang lunak, Asih membeli nasi goreng. “Rasanya nggak enak,” katanya. Toya pun enggan menikmati makanan itu.

Waktu cepat berlalu. Kami harus bergegas kembali ke hotel. Sebelum itu, kami agendakan berfoto di Bideford Junction, perempatan yang diapit oleh Paragon, Park Hotel at Orchard, Ngee Ann City dan Meritus Mandarin Hotel. Dari situs Visit Singapore yang saya jelajahi, di Bideford Junction ada permainan tata cahaya tiap hari mulai pukul 19.30 hingga pukul 24.00. Tiap 30 menit, lalu lintas di persimpangan akan berhenti selama satu menit. Pengunjung pun dapat menikmati tata cahaya dengan tema berbeda, yaitu, “Singapura Kota Taman”, “Berjalan di Air”, “Aurora (Cahaya Kutub Utara)”, dan “Langit Malam Berbintang”. Tepat pukul 21.30, kami berada di dekat Bideford Junction. “Eh, kok nggak ada juga permainan lampunya ya?” tanya Asih. Saya juga bingung. Kami tak mau menunggu terlalu lama. “Foto dulu di sini, biar ada bukti sudah sampai di Orchard,” godaku.

Kami putuskan untuk segera kembali ke hotel. “Mampir dulu di ISETAN,” pinta Asih. Saya setuju. Toya yang gemar es krim, langsung minta dibelikan saat kami melintas di depan stan Mc Donald. “Rasanya kok lain? Lebih enak di Indonesia,” protes Asih pada penjualnya. “Iya, maaf bu. Kami kehabisan bahan,” jawab si penjual. Dari cara bertuturnya, rasanya dia orang Indonesia. “Yah, si abang. Kalau habis, mengapa masih jualan?” tanyaku yang cuma dibalas senyuman.

Obral yang ditawarkan ISETAN tak ada yang berhasil memikat Asih. Praktis, malam itu kami hanya window shopping. “Kita pulang saja, besok kita harus bangun pagi. Pukul 07.30 kita harus sudah memulai perjalanan,” ajakku.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: