It’s My Life


Menang Undian COURTS (Bagian 3): Melalui Jalan Bawah Tanah
Juli 25, 2008, 5:37 pm
Filed under: Umum

Jumat, 16 Mei. Kami terlambat setengah jam memulai acara. Setelah malam sebelumnya berdiskusi dengan tanteku yang bekerja di sana, saya berpikir mengubah agenda kegiatan hari itu.

Awalnya, saya merencanakan kunjungan ke COURTS Megastore di Tampines. Setelah saya pelajari denah perjalanannya, ternyata cukup jauh. Kami memerlukan waktu lebih kurang sejam untuk perjalanan. Padahal, waktu yang tersedia hanya 30 menit. Kami batalkan rencana itu demi bisa mengejar waktu untuk mengikuti tur ke Pulau Sentosa. Jadwal dari agen perjalanan, kami dijemput di hotel pada pukul 13.30. Jika kami terlambat, secara otomatis kami akan ditinggal dan uang yang sudah dibayarkan tak dapat ditarik kembali. Daripada kami ketinggalan bus jemputan, kami memilih bersiap di hotel pukul 13.00.  

Perjalanan pertama hari itu dimulai dengan berjalan kaki dari hotel ke Singapore Botanic Gardens di 1 Cluny Road. Hitung-hitung berolah raga, kami menyusuri jalanan yang masih sepi. Singapore Botanic Gardens ini tak lain adalah taman. Taman yang menyimpan flora tropis dengan koleksi lebih dari 10 ribu jenis tanaman. Taman ini dibuka sejak pukul 05.00 hingga tengah malam tiap hari. Itu sebabnya, saya mengajak Asih dan Toya ke kebun ini. Toh kalau pagi-pagi, belum banyak toko yang buka.

Umur taman ini mencapai 148 tahun. Di dalamnya terdapat pameran berbagai jenis anggrek yang terletak di National Orchid Garden dan Cool House yang menyerupai hutan pegunungan tropis lengkap dengan batu berlumut dan pepohonan. National Orchid Garden dibuka mulai pukul 08.30 sampai 19.00 dan dikenakan biaya masuk sebesar 5 dolar Singapura (dewasa) dan 1 dolar Singapura (pelajar dan lansia).

Banyak orang yang berolah raga di sini. Jogging track-nya bagus. Beberapa pasangan muda terlihat berlari-lari kecil sambil mendorong kereta bayi mereka. Kami tak menyempatkan diri menyusuri seluruh taman. Kami hanya berhenti di depan Swan Lake dan berfoto di depan gazebo yang terbuat dari besi cor yang bergaya Victoria.

Gazebo itu dibuat pada tahun 1850-an dan berdiri di Old Admiralty House di Grange Road selama bertahun-tahun. Pada tahun 1969, gazebo ini dibongkar dan didirikan ulang di kebun di pintu masuk Rain Forest. Pada tahun 2001, gazebo ini dipindahkan ke lokasi sekarang yang bisa digunakan untuk memperhatikan pemandangan di Swan Lake yang dipenuhi dengan ikan.

Perjalanan berikutnya kami lanjutkan ke Merlion Park. Tempat ini harus dikunjungi karena patung singa menjadi ikon Singapura. Rasanya belum sah berkunjung ke Singapura kalau belum berkunjung ke sini. Dari Singapore Botanic Gardens, kami menuju halte bus terdekat, di depan Gleneagles Hospital. Naik bus adalah salah satu cara untuk berkeliling kota dengan mudah, apalagi sarana transportasi di Singapura terbilang baik. Di sana, ada panduan rute dan nomor bus yang harus kami naiki lengkap dengan tarifnya.

Ups, tak ada bus yang langsung berhenti di depan Merlion Park. “Sorry, today is Friday. You can choose this one,” jawab seorang bapak yang kutanyai. Bus bernomor NR08 melayani rute hingga Esplanade Bridge, sangat dekat dengan Merlion Park. Bus itu hanya beroperasi tiap Jumat hingga Minggu. Tetapi, bus yang kami tunggu tak jua muncul. Alhasil, saya mengajak Asih dan Toya naik bus 106 yang berhenti di Suntec City and Convention Centre. Dari sana, kami masih harus berjalan kaki agak jauh.

“Kita nikmati hari ini. Kapan lagi bisa naik bus. Kalau di Bali nggak bakal pernah naik bus,” kataku. Asih memasukkan uang pembayaran ke kotak pembayaran, masing-masing sebesar 1,10 dolar Singapura. Penumpang bisa juga membayar dengan Standard Card yang sudah dibeli sebelumnya. Kami memilih membayar dengan uang tunai saja meski sedikit lebih mahal. Di bus itu, tidak ada kondektur.

Bus yang kami tumpangi penuh, tak ada kursi yang kosong. Kami terpaksa berdiri. “Permisi,” ujar seorang ibu yang berhenti di halte bus Orchard. Kami kaget. Ternyata, dia orang Indonesia yang sedang tugas belajar ke Singapura selama dua bulan. “Tuhan memberkati ya,” katanya sambil menyentuh pundakku, sesaat sebelum turun dari bus. Toya dan Asih pun bisa duduk.

Di halte bus Suntec City, kami turun. Hari masih terlalu pagi. Agar bisa sampai di Merlion Park, kami harus melalui jalan bawah tanah yang menghubungkan Suntec City dan Esplanade. Jalan bawah tanah itu tidak seram, malah berupa mal. Jalan bawah tanah itu menghubungkan beberapa tempat sekaligus, yaitu Raffles City, Marina Square, stasiun MRT (mass rapid transit), Suntec City, dan Esplanade Theater on the Bay.

Saat menuruni tangga eskalator menuju Esplanade, Asih mulai ragu-ragu. “Kenapa sepi ya? Kok nggak ada orang lain yang ke arah sini?” tanyanya. Pertanyaannya itu sempat bikin saya ikut ragu. Apalagi, pintu penghubungnya seperti bukan pintu otomatis. Bentuknya berbeda dibandingkan pintu otomatis kebanyakan di Bali. Kami mulai curiga. Tiba-tiba ada seorang perempuan yang mendahului kami. Olala, pintu itu terbuka secara otomatis. “Hahaha, dasar katrok. Gini dah kalau nggak tahu,” ujar Asih sembari tertawa. Kami menertawakan kebodohan pagi hari itu.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: