It’s My Life


Menang Undian COURTS (Bagian 4): Dilarang Makan di Taksi
Juli 25, 2008, 5:40 pm
Filed under: Umum

Di lorong bawah tanah menuju Esplanade, terdapat pameran seni rupa. Bagus sekali. Pagi itu, tak ada orang lain yang melintas lagi selain kami. Sembari berjalan kaki, kami bisa memuaskan diri melihat-lihat karya yang dipajang. Di lobi Esplanade, kami berhenti sebentar. Toya mulai lelah. Kakinya juga mulai lecet karena ia tak memakai kaus kaki. Ia berharap, bisa berganti sandal.

“Nanti saja kita beli sandal ya,” rayu Asih. Toya mengangguk. Ia mengerti kalau toko-toko masih tutup. Keluar dari Esplanade Theater on the Bay, kami menyusuri Esplanade Bridge menuju Merlion Park. Toya makin tak kuasa menahan sakit. Di sekitar sana, tak ada yang menjual sandal. Kami berusaha melupakan sakitnya dengan mengajaknya mengelilingi Singapore River dengan perahu selama 30 menit.

Berlayar bersama Singapore River Cruise adalah salah satu cara tercepat mengetahui beberapa tempat sekaligus di tengah Kota Singapura. Dari atas perahu, kami dapat melihat Esplanade, Merlion Park, Clarke Quay, Riverside Point, Asian Civilisations Museum, dan Parliament House. Di Clarke Quay, ada Lotus Grill Restaurant yang juga ada di Nusa Dua. Dulu, sungai yang membelah kota ini merupakan sumber penghidupan warga Singapura.

Rupanya, kegiatan itu tak bisa membuat Toya senang. Turun dari perahu, ia kian cemberut. Tepat di bawah Jembatan Esplanade, Toya menangis. Kakinya benar-benar sakit. Asih dan saya jadi kebingungan. Di situ benar-benar tak ada toko yang menjual sandal. Akhirnya, kami memilih beristirahat sejenak di Starbuck Coffee. Toya disogok tiramisu.

Sambil menunggu Toya makan kue, kami berpikir tujuan berikutnya. Jika memungkinkan, kami akan ke Bugis Street untuk belanja. Informasi dari petugas kafe, jarak ke Bugis agak jauh. Kami diminta naik MRT karena tak ada taksi di sekitar Esplanade Bridge. Itu terlalu jauh. Waktu kami makin mepet. “Kita ke Esplanade aja, mampir ke Esplanade Shop,” ajak Asih. Sogokan tiramisu tak cukup kuat melupakan rasa sakit Toya. “Mau digendong?” kataku menawari. Alhasil, Asih menggendongnya di sepanjang Jembatan Esplanade.

Masalah baru muncul di jalan bawah tanah menuju Suntec City, di Citylink Mall. Toko-toko sudah buka. Tiap ada toko sandal, kami memasukinya. “Beli satu sandal, Ibu bisa beli sandal tipe Brasil dengan harga 10 dolar Singapura,” bujuk salah satu penjaga toko. Harga sandal lainnya paling murah 29,5 dolar Singapura. “Masak beli sandal jepit aja Rp 300 ribu?” kata Asih. Sandal tipe Brasil itu saja yang memiliki ukuran paling kecil walau agak kebesaran buat Toya. Tetapi, Toya tak suka. Mungkin karena modelnya seperti seragam kesebelasan sepak bola Brasil.

Kami mencari toko sandal lainnya. Di Singapura, susah sekali mencari sandal untuk anak-anak. “Mbak, di sini kan jarang ada anak kecil. Pasarnya nggak ada, bisa jadi karena itu susah nyari sandal buat anak-anak,” kataku berspekulasi. Kami mulai lupa soal sandal. Beberapa toko yang memberi diskon hingga 70 persen, kami datangi. Sampai saya tersadar, rasanya kami sudah salah arah.

“Mbak, kayaknya ini bukan jalan yang tadi pagi kita lalui deh. Coba lihat toko-tokonya. Beda banget,” kataku sambil memandangi sekitar. “Tadi kan belum buka,” sergah Asih. Saya mulai ragu. “Menurutmu gimana Toya?” tanyaku pada Toya. Saya percaya, anak kecil memiliki kemampuan mengingat lebih baik dibandingkan orang dewasa. “Memang bukan lewat sini tante,” jawabnya. Saya memercayai jawaban Toya. Saya minta kepada Asih dan Toya menunggu sebentar, sementara saya berlari mencari papan petunjuk. “Kita salah arah,” teriakku.

Kami mempercepat laju perjalanan. Waktunya makin mepet. Kami harus tiba di hotel pukul 13.00. Pukul 11.30 kami berhasil sampai di Suntec City. “Kita mampir ke Fountain of Wealth sebentar. Itu air mancur kemakmuran. Biar kita makmur terus,” ajakku. Kalau kita menyentuh airnya dan berjalan mengitari air mancur itu sambil membuat permintaan, konon, doa kita bisa terkabul.

Tak bisa berlama-lama, kami meninggalkan Fountain of Wealth. “Kita belum makan siang. Waktu kita tinggal 30 menit. Tempat makan terdekat yang enak di sini, Secret Recipe. Atau, kalau mau lebih hemat waktu, kita beli makanan di KFC, Mc Donald’s atau Burger King, kita makan di taksi. Gimana?” tanyaku. Asih setuju. Burger King jadi pilihan.

Meski praktis, ternyata pilihan itu tak sepenuhnya tepat. Saat Asih menyuap kentang goreng ke mulut Toya, supir taksi menegur. “Dilarang makan di taksi. Nanti penumpang berikutnya bisa komplain kalau taksi ini berbau,” katanya. Yah, kami terpaksa menahan lapar. Burger, kentang goreng, dan susu Milo itu pun hanya bisa kami pandangi.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: