It’s My Life


Menang Undian COURTS (Bagian 6): Terpisah di Mustafa Centre
Juli 25, 2008, 5:44 pm
Filed under: Umum

Mustafa Centre adalah pusat perbelanjaan yang buka selama 24 jam nonstop. Berbagai barang dagangan dijual di sini. Tujuanku tiap kali ke sini adalah membeli cokelat. Itu pula yang kusarankan pada Asih. Di gedung bertingkat lima ini, kami terpisah. Sial. Saya tak menyimpan nomor telepon Asih. Mustafa Centre juga tak memiliki stan informasi yang bisa menyiarkan pengunjung yang terpisah dari rombongan. Pukul 23.30, saya berinisiatif menunggu mereka di depan pintu keluar. Setengah jam, Asih dan Toya belum juga kelihatan. Saya mulai khawatir.

Daripada stres, saya memilih masuk ke pertokoan itu lagi. Berputar-putar, mencari mereka. Semua lantai saya datangi. Wajah mereka tak jua kelihatan. Saya mulai menerka-nerka, stan apa yang kira-kira mereka datangi. Stan baju, cokelat, suvenir. Mereka tak ada. Percuma saja saya berputar jika kami semua juga sama-sama bergerak, entah di mana. Apalagi tokonya sangat luas. Saya memilih kembali ke pintu keluar.

Nomor telepon yang saya miliki adalah nomor telepon Haryono, suami Asih yang sedang berada di Australia. Asih sempat menggunakan telepon saya ketika menghubungi suaminya karena teleponnya tak juga terkoneksi. “Mohon info nomor hp Ibu Asih Pak. Kami terpisah,” begitu bunyi SMSku. Tak ada jawaban. Saya mulai gelisah lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 24.00. Saya khawatir Toya kelelahan. Dia masih berusia 7 tahun. Lagi-lagi, saya berputar di Mustafa Centre, tetap saja tak ada hasil.

Saya menelepon ke hotel, berharap Asih sudah kembali. Telepon di kamarnya tak ada yang mengangkat. Berarti dia belum pulang. Saya bertahan di pintu keluar. Pukul 00.30, saya putuskan kembali ke hotel. Bel di depan pintu kamarnya saya pencet dua kali. Tak ada jawaban. Mereka belum pulang. Dari bawah pintu, saya sisipkan kertas kecil. Isinya, jika sudah sampai di hotel, hubungi saya di kamar. Saya mulai mengira-ngira nomor telepon Asih. Kartu perdana itu kami beli bersamaan. Kemungkinan, nomornya hanya selisih satu angka. Saya cek nomor telepon yang saya bawa, kemudian saya tambahkan satu angka. Salah. Belakangan saya tahu, nomornya selisih dua angka.

Saya benar-benar gelisah, takut kalau terjadi masalah dengan mereka. Malam-malam saya mengirim selarik SMS pada Purwanto, manajer COURTS di Bali, mengungkapkan kegelisahanku. Dia malah tertawa. Pukul 02.00, saya menelepon kamar Asih. Ada jawaban.

“Ke mana aja tadi? Aku cari ke mana-mana nggak ketemu juga,” kataku begitu bertemu Asih dan Toya. Ternyata, mereka juga kebingungan mencariku. “Saya di stan sepatu dan cokelat,” tutur Asih. Ah, stan sepatu itu yang tidak saya kunjungi tadi. Asih membeli beberapa pasang sepatu dan sandal sebagai oleh-oleh. Kopornya penuh sesak dengan sepatu. Malam itu kami harus berkemas-kemas. Keesokan hari, kami berencana check out dari hotel usai sarapan. “Lebih baik kita check out pagi-pagi daripada harus kembali ke hotel pas makan siang hanya untuk mengembalikan kunci,” kataku. Toya terlihat lelah. “Toya tidur saja dulu. Besok pagi, kita jalan-jalan lagi,” ujarku lagi.

17 Mei. Pilihan kunjungan hari itu adalah ke Chinatown dan Bugis Street. Pukul 16.00 pihak biro perjalanan akan menjemput kami di lobi hotel guna diantar menuju bandara. Pagi itu kami memilih taksi sebagai moda transportasi tercepat; naik dan turun tepat di tempat yang kami tuju. Kami menjadi lebih hemat waktu walau tarifnya lebih mahal.

Tujuan kami pertama adalah ke Chinatown. Pagi itu, kami mengunjungi Sri Mariamman Temple di South Bridge Road. Kuil Hindu tertua di Singapura ini mirip Sri Mariamman Temple di Chinatown di Kuala Lumpur. Keinginan Asih bersembahyang di sana dibatalkannya karena tata cara persembahyangan yang berbeda dibandingkan sembahyang di Pura-pura di Bali.

Dari sana kami meluncur ke Pagoda Street. Hasrat Asih untuk berbelanja mulai disalurkan. Di sini dijual berbagai barang dengan harga murah. Toko pertama yang kami lihat, kami singgahi. Asih mulai tawar-menawar sarung bantal sofa. “Give me more discount please,” kata Asih kepada si penjual. Ia tertarik membeli sarung bantal itu dalam jumlah banyak.

“Tante, panggilin mama dong,” rengek Toya. “Mamamu sedang sibuk berbelanja,” sahutku. “Mama tuh kok belanja melulu sih,” keluhnya. “Ada apa Toya?” tanyaku lagi. Rupanya, Toya ingin membeli mainan. “Ayo, sama tante aja. Nanti minta uang sama mamamu,” ajakku. Mainan yang diharap Toya dijual juga di Denpasar. Harganya pun lebih murah. “Mendingan beli di Bali, lebih murah,” kataku pada Toya. Toya tak keberatan. Kami hanya melihat-lihat isi toko lainnya.

Sebelum melanjutkan perburuan di sekitar Pagoda Street, saya mengajak Asih ke Buddha Tooth Relic Temple, kuil Buddha yang terletak tiga blok dari tempat kami berbelanja. Mumpung masih pagi dan belanjaan belum banyak, saya memilih berkunjung ke tempat-tempat wisata dulu.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: