It’s My Life


Menang Undian COURTS (Bagian 7 – Habis): Lihat Sumatera dari Singapura
Juli 25, 2008, 5:47 pm
Filed under: Umum

DI Buddha Tooth Relic Temple pagi itu sangat ramai. Biksu-biksu terlihat sibuk. Di depan kuil itu, ada enam orang berpakaian adat. Sepertinya, mereka sedang menunggu tamu penting. Seorang petugas keamanan yang kami tanyakan, tak menjelaskan kegiatan yang sedang diadakan di sana.

Dari salah seorang yang membawa gendang, saya melihat tulisan “Gangarama Temple Colombo 02 Srilanka”. Mungkin saja itu para buddhis dari Srilanka. Kami sempatkan diri berfoto-foto sebentar di sana dan kembali melanjutkan perburuan barang-barang berharga murah di sekitar Chinatown.

“Saya harus menukar uang. Dolar Singapuraku sudah habis,” ujar Asih. Sembari menunggu money changer di Temple Street buka, kami menyusuri toko-toko di sana. Suvenir ala Cina menjadi salah satu alternatif pilihan belanja kami hari itu. Chinatown Heritage Center, museum tentang sejarah imigran Cina di Singapura yang terletak di Pagoda Street tak kami singgahi. “Kita ke Bugis Street aja,” pinta Asih.

Kami ingin berhemat dengan menaiki MRT ke Bugis Street. Tetapi, sesampai di stasiun bawah tanah, niat itu kami urungkan. “Naik taksi saja biar lebih cepat,” ajak Asih.

Bugis Street tak jauh berbeda dengan Chinatown. Harga barang-barang di sini juga relatif murah. Kami mampir di Toko Bee Cheng Hiang, tempat yang menjual babi asap yang terkenal, membeli oleh-oleh.

“Barang dagangan di sini nggak jauh beda,” kata Asih ketika kami berjalan-jalan di sepanjang Bugis Street. Kawasan belanja ini mirip dengan Pasar Melawai di Blok M, Jakarta Selatan. Kalau dibandingkan dengan harga di Jakarta, tentu harganya lebih mahal di Singapura. Asih hanya mencoba-coba pakaian tradisional ala Cina dan membeli dompet sebagai oleh-oleh.

Dari Bugis Street, kami menyeberang jalan ke Bugis Junction, kawasan pertokoan dengan kualitas yang lebih baik dan harga lebih mahal. Kami mulai lelah. “Kita duduk dulu di sini sebentar,” ajakku. Di sebelahku, ada seorang bapak tua. Tiba-tiba, dia mengajakku berkomunikasi dan meminjam telepon genggamku. Otakku berputar. Telepon genggamku memang tak mahal, tetapi sangat berharga jika tak dikembalikannya. Kalau dilihat dari usianya, ia tak mungkin bisa berlari kencang. Namun, siapa yang tahu? Akhirnya, aku memilih berbicara dengan anak lelakinya, yang ditunggunya.

Di Bugis Junction, Asih memasuki toko pakaian. Dia tertarik membeli celana pendek berwarna putih. Sesaat kemudian, niat itu diurungkannya. “Beli di Indonesia aja,” katanya. Jam masih menunjukkan pukul 12.00. Kami berniat ke Suntec City guna mengunjungi toko COURTS di sana.

Di dalam taksi, kami berubah haluan. “Kalian sudah di sini, lebih baik mampir ke Singapore Flyer. Dekat kok,” kata supir taksi yang kami tumpangi. Aku meyakinkan Asih untuk mencoba permainan roda berputar tertinggi di dunia ini. “Kita hanya duduk di dalamnya mbak,” kataku. Asih menolak, ia takut berada di ketinggian. Pengalamannya bermain Halilintar, roller coaster di Dunia Fantasi, Ancol Jakarta membuatnya trauma. “Ini nggak seperti bermain roller coaster,” kataku berusaha meyakinkannya.

Singapore Flyer ini adalah sebuah permainan roda berputar yang baru diluncurkan di Singapura. Tingginya mencapai 165 meter, lebih tinggi dibandingkan Eye of London terdiri atas 42 kapsul. Satu kapsul bisa memuat 28 orang. Letaknya di Marina Bay. Dari Singapore Flyer, kami bisa menikmati pemandangan kota Singapura dan sekitarnya. “Kalau cuaca sedang cerah, kita juga bisa melihat Indonesia,” kata petugas di bagian penjualan tiket. Indonesia yang dimaksud tentu saja pulau-pulau terdekat dengan Singapura seperti Batam dan Sumatera. Hari itu, cuaca sedang bagus. Kami melihat Sumatera dari kejauhan. Tiket sekali permainan seharga 29,50 dolar Singapura (dewasa) dan 20,65 dolar Singapura (anak-anak). Hari itu, Asih beruntung. Tiap pembelian dua tiket dewasa, gratis satu tiket untuk anak-anak. Toya pun bisa masuk tanpa membayar tiket.

Ternyata, kondisi fisik kami benar-benar mulai menurun. Kami lelah setelah tiga hari berwisata. Keinginan meneruskan perjalanan ke Suntec City kami batalkan. Kami hanya menyempatkan diri ke Marina Square untuk membeli kunci kopor, makan siang di Orchard Road dan kembali ke hotel.

“Saatnya pulang,” kata Asih ketika supir yang menjemput kami datang. “Ini hadiah yang menyenangkan. Terima kasih COURTS,” katanya.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: