It’s My Life


Adnyana Manuaba: Terlalu Banyak Orang Berorientasi Melulu pada Uang
Juli 26, 2008, 10:57 pm
Filed under: Umum | Tag:

“Mungkin jika saya dapat hadiah Mercedes Benz, orang lain baru peduli,” sindir Prof. dr. Ida Bagus Adnyana Manuaba, Hon. FErg.S. Perkataan pakar ergonomi kelahiran Yogyakarta, 8 Mei 1936 sesungguhnya sebagai sebuah refleksi atas orientasi yang terjadi dalam masyarakat kita. “Terlalu banyak orang berorientasi melulu pada uang. Buat saya, berorientasi pada uang adalah sebuah nilai yang ‘aneh’,” ujarnya.

Peristiwa itu dirasakannya dalam beberapa kesempatan. Ketika baru-baru ini ia memperoleh penghargaan “International Ergonomic Association (IEA) Triennial Award” dan menjadi satu-satunya penerima penghargaan dari negara berkembang, yang ditanyakan kebanyakan orang adalah, berapa banyak uang yang didapatkannya. Tak banyak yang tahu, penghargaan itu ditujukan kepadanya untuk mengembangkan ilmu ergonomi di negara berkembang. Pengalaman ini tak jauh berbeda dengan kejadian saat ia menerima penghargaan “Consortium Medical/Health Sciences” pada tahun 1972. “Waktu itu saya dapat uang Rp 40 ribu, dan itulah yang dibanggakan orang-orang,” katanya sembari mengernyitkan dahi.

Uang memang penting, tapi tak boleh didewakan. Itu sebabnya, ia menekankan semua anggota keluarganya untuk senantiasa bersyukur atas apa yang dimiliki. “Aturlah keuangan dengan baik agar mencukupi untuk biaya hidup kita. Saya tak mau korupsi,” begitu pesannya kepada sang istri pada awal pernikahan. Karena bersyukur, meski tak punya cukup uang, berkat kepintarannya, Adnyana telah menjelajah berbagai belahan dunia bersama sang istri tercinta.

“Bagi saya, uang adalah alat. Ilmu pengetahuan-lah yang seharusnya diwariskan pada anak-anak kita. Jika kaya tetapi bodoh, kelak orang tersebut pasti akan jauh lebih miskin ketimbang orang yang pintar tetapi miskin,” tandasnya. Bagi dia pula, kerja adalah kerja, dan bukan mengejar popularitas atau penghargaan.

Boleh dikata, hampir seluruh hidupnya diabdikan untuk pendidikan. Ayahnya yang berprofesi sebagai seorang guru, menjadi inspirasi dirinya untuk menekuni dunia itu. “Keluarga saya berasal dari kalangan brahmana yang sangat peduli terhadap pendidikan. Saya ingin meneruskan nilai-nilai ini,” kata suami Marianne Dorothea Amelia Hutagalung ini.

“Sekarang saya sudah pensiun. Sebelum ‘kontrak hidup’ ini selesai, saya ingin meneruskan semua yang saya miliki kepada rekan sejawat,” kata Ketua Jurusan Fisiologi Fakultas Kedokteran Unud periode 1962-2006 ini serius. Itu sebabnya, ia rajin memperkenalkan teman-temannya dari berbagai belahan dunia kepada teman-teman seprofesi di Unud. “Mungkin ilmu kami sama. Tapi jaringan saya lebih luas. Biarlah mereka yang meneruskan kelak,” harapnya.

Ketika ia berpresentasi dalam kongres ke-16 IEA di Maastrich, Belanda beberapa waktu yang lalu, Adnyana Manuaba mengajak beberapa anggota timnya turut serta. Ia juga memberi berbagai contoh nyata penerapan ilmu ergonomi di Negeri Kincir Angin itu. Tentu saja dengan harapan, kelak, apa yang telah dikonsepnya selama bertahun-tahun bisa menjadi kenyataan di negeri sendiri.

Agustus 2006, Adnyana dan timnya menggebrak dunia dengan menggelar “International Symposium on Past, Present and Future Ergonomics, Occupational Safety and Health”. “Saya tak ingin Indonesia hanya menjadi ‘ekor’ negara lain. Kita harus ambil alih dengan menjadi ‘kepala’,” tandas Adnyana yang menjadi pelopor pendirian program S2 dan S3 ergonomi di Unud dan menjadi satu-satunya di Asia Tenggara.

Adnyana sangat ingin ilmu ergonomi dimanfaatkan oleh masyarakat luas. “Ergonomics is the other side of total quality management,” ungkapnya. Bedanya, ilmu ergonomi lebih memfokuskan pada manusia. “Manusia itu punya keterbatasan. Karena itu, ilmu ini bertujuan agar manusia dapat produktif dengan segala keterbatasannya,” imbuhnya.

Ergonomi dapat digunakan di berbagai lapisan masyarakat, mulai dari keluarga sampai negara. “Ilmu ini berkaitan dengan disain, alat, mesin, sistem, organisasi, sampai lingkungan. Jika tidak sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan manusia, bisa menimbulkan penyakit dan kecelakaan,” katanya dalam bahasa yang paling sederhana.

Beberapa tahun yang lalu, ia pernah mengubah semua konsep di Bali Hyatt Hotel di Sanur, Bali agar sesuai dengan ilmu ergonomi. Ia juga yang memberi masukan kepada sebuah pabrik rokok, untuk melakukan beberapa perubahan. Hasilnya, produktivitas buruh linting rokok meningkat hingga 50 batang rokok per hari. Jika jumlah buruh mencapai 1.000 orang dan masa kerja 6 hari, bisa dihitung berapa kenaikan produktivitas itu.

Di rumahnya, Adnyana pun menerapkan ilmunya. Alat pel, letak kompor, rak penyimpan disesuaikan tinggi tubuh pemakai, dll. “Pertama kali, istri saya komplain karena ia merasa tidak nyaman. Ternyata, dengan perubahan itu, dia merasa lebih cepat selesai bekerja dan tubuh lebih sehat,” akunya tertawa.

Dulu, orang mengira ilmu ergonomi hanya mengurus kursi yang sesuai untuk pemakai. “Sekarang, di Amerika, komisi antiteroris pun menggunakan ilmu ergonomi. Sayang, kita tak banyak memanfaatkannya,” katanya miris. Dalam sistem, ergonomi bisa digunakan untuk menempatkan orang-orang pada posisi yang tepat. Itu sebabnya, para policy maker sebenarnya wajib mempunyai wawasan ini. Pada era 1978-1980, Adnyana pernah bertugas melatih seluruh pejabat di kantor pemerintahan. “Ibarat Penataran P4, di Bali ketika itu, penataran ergonomi wajib diikuti,” ujarnya. Ia juga menjadi pembicara dalam talkshow di TVRI pada tahun 1976-1984 untuk mensosialisasikan ergonomi. “Petani pun diajari. Dengan ilmu ergonomi juga, kerusakan lingkungan bisa dicegah,” katanya serius. Pasalnya, ilmu ini dapat memprediksi apa yang akan terjadi kelak.

“Jika Anda bepergian menggunakan bus malam, jangan lupa tanyakan sang supir, sudah berapa malam dia bekerja tanpa istirahat,” anjurnya. Menurutnya, kemampuan bekerja shift yaitu dua hari kerja pagi, dua hari kerja sore, dua hari kerja malam, dan dua hari istirahat. Kalau lebih dari dua hari bekerja malam tanpa jeda, kondisi tubuh bisa menurun. “Ini membahayakan,” katanya. Itu sebabnya, Adnyana dan Amelia pernah ‘menjaga’ seorang supir bis malam yang ditumpangi agar tetap bugar selama berkendara karena saat itu si supir bekerja pada malam ketiga.

 

 


5 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Malam ini baru pulang dari acara perayaan 50 tahun perkawinan Pak Adnyana dan Bu Amelia Manuaba. Inget, ada naskah tentang mereka yang tersimpan di komputerku. Selamat ulang tahun perkawinan yang ke-50 ya Pak! Congratulation. Hebat bisa mempertahankan perkawinan begitu lama.

Komentar oleh erhanana

uang mungkin akan menjadi pemisah jarak antara penikmat dan pencari. apa kita butuh uang? butuh.. sejauh mana bisa dikatakan cukup. susah untuk dirumuskan. mungkin kita bisa belajar dari rata2 org jawa yang semakin kaya semakin merunduk layaknya padi. tp kita semakin mengangah semakin diagung2kan. maka menciptakan manusia2 mengangah tanpa bukti.. akhirnya bersindawara..

Komentar oleh ib_agung@yahoo.com

BELIAU SANGAT MENGAGUMKAN.MET ULTAH KAWIN EMAS KE 50.

Komentar oleh wanto.ms

ya Prof ” terus berjuang demi nussa dan bangsa ” valentine day ” gong Xi Fa Chai ” smg Tuhan pengabdian Prof “

Komentar oleh MANDI WIDHIANA

Saya orthodontist, tertarik ilmu ergonomi. Dimana saya bisa mendalaminya? Setuju Prof, saya juga miris dengan kondisi saat ini, dimana materi lebih dihargai. Oya, selamat atas perkawinan emasnya. Semoga perpaduan yang baik ini menginspirasi banyak orang. Astungkara.

Komentar oleh wayan wiratni




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: