It’s My Life


Amelia Manuaba: Teruskan Hikmah Masa Sulit Dalam Berkesenian
Juli 26, 2008, 10:59 pm
Filed under: Umum | Tag:

“Coba ulangi sekali lagi,” potong Marianne Dorothea Amelia Hutagalung yang karib disapa Amelia Manuaba, pendiri Bina Vokalia Bali. Di tangan perempuan kelahiran Surabaya, 2 Maret 1935 ini, selalu ada yang perlu dibenahi saat berlatih olah vokal. “Mungkin karena saya perfeksionis. Jadinya, selalu tahu jika ada kejanggalan saat bernyanyi,” ujarnya tertawa.

Istri Prof. Drs. Ida Bagus Manuaba, Hon. FErg.S ini mendedikasikan hidupnya bagi perkembangan seni suara di Bali dengan mendirikan Bina Vokalia Bali pada 10 Agustus 1976. “Saya melihat potensi anak-anak Bali cukup baik. Mereka perlu wadah untuk menyalurkan bakat atau kemauannya,” tuturnya.

Amelia sendiri memiliki hobi menyanyi sejak muda. Pelajaran seni suara pertama didapatkannya dari N. Simanungkalit, pemimpin paduan suara gereja Batak di Yogyakarta. Ketika itu, ia tinggal di pengungsian bersama ibu, nenek, dan lima adik laki-lakinya karena ditinggal ayahnya bergerilya di Gunung Sumbing dan Merapi Merbabu Komplek. Setelah ayahnya turun gunung, dan mereka pindah ke Kebayoran Baru, Jakarta, Amelia berguru vokal pada Botterweg Schwieden, seorang wanita berkebangsaan Jerman. Concone, panduan latihan suara tinggi, menjadi buku pelajaran wajibnya. Ia juga tak melewatkan kesempatan mengikuti kursus vokal secara privat pada Effy Tjoa dan kursus piano pada Liem Kek Han dan di Jakarta Music Foundation pimpinan Zabo.

“Saat lajang, saya mengikuti berbagai keterampilan, seperti les piano, menyanyi, menjahit, dan memasak,” akunya. Meski lahir di lingkungan keluarga kaya raya, Amelia bukan gadis manja. Ia terbiasa dididik dengan penuh kedisiplinan dan kerja keras. “Saya merasakan pahitnya masa penjajahan Jepang, dan susahnya hidup pada masa perjuangan,” kenangnya. Ia juga terlatih mengurus rumah tangga, dengan satu alasan; jika orangtuanya dibunuh oleh tentara Jepang, ia-lah yang bertanggung jawab atas hidup adik-adiknya. Ayahnya, dr. Williater Hutagalung dan ibunya, Maria Doortye Elfrinkhoeff, yang berpendidikan, sangat dibenci tentara Jepang. “Seluruh paman saya tewas ditembak tentara Jepang. Tapi ayah saya berhasil lolos,” kisahnya.

Pada tahun 1945-1950, ayahnya sebagai pendiri Tentara Kedaulatan Rakyat, diperbantukan di dinas militer. Karenanya, saat Inggris mengebom Surabaya, beliau ikut bertempur. 11 November 1945, keluarga Amelia harus meninggalkan rumah dan semua harta berharga di Karang Menjangan. Pesan ayahnya hanya satu, “Jangan membawa apa pun dari rumah ini. Kita akan berjuang.” Sejak itu, kehidupan Amelia berubah drastis. “Kami mengungsi hingga 14 kali dan terakhir di Yogyakarta,” imbuhnya.

Hidup dalam kemiskinan membuatnya harus pintar memutar otak. Kekayaan mereka lenyap dalam sekejab. “Kami sangat melarat. Yang tersisa hanyalah baju di badan,” tuturnya. Untunglah, seorang teman sejawat ayahnya, mengetahui kondisi tersebut dan membantu mereka. Pada tahun 1948, Amelia bahkan pernah mengikuti kursus piano privat di Magelang. “Setelah ayah turun gunung, kami menata hidup sekali lagi dan saya mendapat banyak kesempatan untuk mengikuti berbagai macam keterampilan,” sambungnya.

Rupanya, kegiatan membekali diri tersebut sangat berguna saat ia menikah. Adnyana Manuaba yang bekerja sebagai asisten dosen di FKUI dengan gaji Rp 250 ribu ketika itu, wanti-wanti agar Amelia bisa mengatur keuangan keluarga. “Saya diminta bersyukur dan mengatur gajinya agar cukup untuk biaya hidup sebulan karena ia tak mau korupsi,” ungkapnya. Tentu saja, uang itu tak mencukupinya.

Amelia pun memanfaatkan berbagai keterampilan yang dimilikinya, salah satunya dengan memberikan pelajaran seni suara kepada mahasiswa Fakultas Kedokteran Unud, tempat suaminya bekerja sejak 1962. Pada 1964, Amelia membantu stasiun RRI Denpasar membina orang-orang yang akan mengikuti lomba “Bintang Radio”.

Muridnya bertambah banyak ketika sanggar vokalnya resmi berdiri. Ia juga mencetak bibit unggul yang kerap menjuarai lomba menyanyi. “Saat berdiri, anggota kami hanya 20 orang. Tapi kini Bina Vokalia Bali sudah mencetak lebih dari 6.000 orang dengan kualitas terbaik,” katanya bangga. Baginya, yang penting adalah tekad, bukan bakat. “Yang harus dimiliki adalah kemauan, disiplin, kerja keras, dan tahan banting,” tandas Amelia yang mendidik anak-anak sampai orang dewasa ini.

Karena prinsip itu, Bina Vokalia Bali mencetak hasil gemilang. Tahun 1980, pertama kali ikut dalam lomba paduan suara tingkat nasional di Surabaya, berhasil menyabet gelar juara 3 setelah Surabaya dan DKI Jakarta. Keberhasilan itu membuat tim Amelia ditunjuk sebagai penyelenggara kegiatan serupa tahun berikutnya. Pada tahun yang sama, Amelia pun diminta mengisi acara “Ayo Menyanyi” di TVRI Stasiun Denpasar, hingga 1986. Dalam lomba Bina Vokalia Tingkat Nasional di Denpasar, Bina Vokalia Bali keluar sebagai juara umum. Lagu ciptaannya berjudul “Ibu Nan Tabah” yang merupakan inspirasinya tentang sosok ibu di masa sulit,  menjadi lagu wajib dalam lomba itu.

Nama Bina Vokalia Bali makin berkibar. Muridnya mencapai ratusan. Mereka pun bisa go international. Tahun 1983, tim Bina Vokalia Bali tampil dalam “Australian Youth Music Festival” di Melbourne, Australia. ”Anak didik saya harus membawakan 90 judul lagu dalam bahasa daerah, Indonesia dan asing,” kenangnya. Hasilnya, penampilan mereka menyabet gelar juara Favorit II setelah Jepang. Rombongan itu juga mengadakan konser di Collins Palace Hall dan Robert Blackwood Hall di Melbourne, serta di Bendigo, Victoria. Setelah itu, lawatan ke berbagai belahan dunia pun ditempuh Bina Vokalia Bali. Saat tampil dalam “The Intenational Festival of Musical Folklore” yang diadakan di Bucharest, Rumania pada 6-8 Agustus 1993, tim Bina Vokalia Bali meraih penghargaan tertinggi dan melakukan rekaman di Radio Televisi Rumania. Selain itu, Bina Vokalia Bali juga melahirkan jawara nyanyi di berbagai ajang lomba.

“Jika tidak bisa disiplin, kerja keras dan tidak tahan banting, tak akan mungkin mereka bisa meraih semua itu. Hikmah selama masa sulit itu kini saya teruskan kepada mereka. Harapan saya, karena hal itu, mereka bisa jadi penyanyi tangguh kelak,” katanya serius. Amelia menilai, saat ini banyak penyanyi instan yang tak menguasai teknik menyanyi dengan baik dan benar. “Belajar apa pun harus displin dan mempelajarinya sampai tuntas, jangan setengah-setengah,” tegas Amelia yang kerap menemani suaminya tugas ke luar negeri.

Sampai saat ini, Amelia Manuaba tak pernah mampu menilai kesuksesan yang telah diraihnya. “Hanya orang lain yang dapat menilai, apakah saya termasuk orang sukses atau tidak. Yang jelas, dalam setiap pekerjaan yang saya lakukan, semuanya saya laksanakan dengan sepenuh hati, dan penuh kasih sayang. Tampillah sebagai yang terbaik, untuk dipuji, dihargai, dihormati, dan dikenang sepanjang masa,” ajaknya.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: