It’s My Life


Wujudkan Denpasar Bebas Sampah, Dukung Pariwisata
Juli 26, 2008, 10:55 pm
Filed under: Umum

Sampah, meski klasik, tetap saja menjadi masalah. Sampah tak akan pernah hilang dari kehidupan ini karena hampir tiap aktivitas manusia menghasilkan sampah. Tingginya volume sampah tergantung pada jumlah penduduk dan gaya hidup. Makin modern gaya hidup manusia, makin beragam sampah yang dihasilkan.

Menurut studi PPP-SWM, sumber sampah rumah tangga di Denpasar, berada dalam kisaran 2,75 – 3,25 liter/orang/hari, atau sebesar 2,17 liter/orang/hari berdasarkan SK SNI.S.04-1993-03.¹ Pada tahun 2002, volume sampah rumah tangga di Denpasar mencapai 1.904 m³/hari.² Tahun 2004, volume sampah rumah tangga di Denpasar menembus angka 2.200 m³/hari. Artinya, selama dua tahun, kenaikan volume sampah rumah tangga di Denpasar mencapai 15,5%, berjumlah hingga 550 ton per hari.

Dari jumlah tersebut, Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) setempat menangani produksi sampah sebesar 75%. Penanganan sisanya dilakukan secara swakelola (16%), oleh PD Pasar (7%) dan swasta (2%). Sampah yang terkumpul, diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung. Hingga kini, timbunan sampah di TPA Suwung mencapai luas areal 24 hektar. Gunungan sampah itu menimbulkan masalah yang harus segera ditangani.

Pertama, lokasi TPA Suwung yang merupakan perambahan hutan bakau milik negara sudah penuh. Di kabupaten lain, seperti Badung, pemerintah daerah membeli tanah seluas dua hektar yang diperuntukkan sebagai TPA. Sayangnya, TPA di Canggu tersebut penuh dalam waktu singkat. Akhirnya, Badung pun ikut membuang sampah di TPA Suwung. Sesuai aturan “Tri Mandala” di Bali, bagian hilir merupakan tempat membuang yang kotor dan hulu merupakan tempat suci. Tak mungkin jika membuat TPA ke arah Bali Utara, karena merupakan bagian hulu. Sedangkan TPA Suwung, merupakan hilir dan berbatasan dengan laut yang dipercaya sebagai tempat pembersihan dari leteh (sesuatu yang kotor).

Kedua, timbunan sampah di TPA Suwung menghasilkan air lindi (cairan rembesan sampah) yang mencemari laut. Selain itu, tak jarang sampah berterbangan ke laut. Sampah plastik sangat mengganggu biota laut, terutama terumbu karang. Berbagai organisme laut termasuk ikan bisa mati sehingga beberapa jenis ikan bisa lenyap. Padahal, sembilan dari 15 objek wisata di Bali merupakan wisata bahari. Jika hal tersebut terus berlangsung, dapat memberi pengaruh buruk pada pariwisata.

Ketiga, bau tak sedap dari timbunan sampah di TPA Suwung mengganggu warga sekitar. Jika arah angin ke timur, udara di Pulau Serangan yang berdekatan dengan TPA berbau busuk, khas sampah. Sebaliknya, jika angin bertiup ke arah barat, wilayah Pesanggaran dan sekitarnya merasakan hal yang sama. Hal ini memberi dampak buruk bagi kesehatan dalam jangka pendek dan panjang.

Keempat, masyarakat belum memiliki kesadaran dalam pengelolaan sampah yang baik. Pasalnya, sampah yang dibuang tak dipisahkan; sampah organik dan anorganik. Nilai dari material yang masih bermanfaat dapat rusak dan berkurang jika sampah dibuang tercampur. Bahan organik mencemari bahan yang bisa didaur ulang dan racun dapat menghancurkan kegunaan keduanya. Alam juga perlu waktu untuk untuk mencerna sampah. Contohnya, perlu waktu satu bulan untuk mengurai kertas koran atau tisu, perlu waktu satu tahun untuk mengurai tali sumbu dan perlu waktu 20 sampai 40 tahun untuk mengurai kayu yang dicat.

 

Alternatif Pemecahan

Menyelesaikan masalah sampah perlu tindakan holistik. Sampah tak hanya berhubungan dengan lingkungan, namun juga kesehatan, pendidikan, keadaan sosial dan ekonomi. Ada beberapa alternatif yang bisa memecahkan permasalahan tersebut.

Pertama, alternatif pemecahan dalam jangka pendek. Masalah sampah timbul karena kurangnya kepedulian masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Masih banyak anggota masyarakat yang membuang sampah sembarangan, baik di sekolah, kantor atau tempat-tempat umum. Selain itu, masyarakat juga tak terbiasa mengurangi jumlah material yang digunakan. Makin banyak barang yang digunakan, makin banyak sampah yang dihasilkan. Sudah sewajarnya, siapa yang menghasilkan sampah, merekalah yang bertanggung jawab.

Pemerintah harus merumuskan tindakan tegas yang dituangkan dalam peraturan daerah yang memberi sanksi kepada anggota masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Memberlakukan restribusi kebersihan, jangan setengah-setengah. Selama ini, tidak jelas, daerah mana saja yang dikenai restribusi. Besarannya pun flat, tak berdasarkan jumlah sampah yang dibuang. Masyarakat tak akan menghiraukan ajakan mengurangi sampah jika perlakuannya seperti itu. Ibarat biaya listrik, masyarakat akan berusaha meminimalisir penggunaan jika merasakan dampaknya secara langsung. Kalau itu diberlakukan, pastikan telah dibuat sistem yang tepat agar bebas dari KKN.

Tindakan jangka pendek lainnya, menyerahkan sistem penanganan sampah kepada desa pekraman. Di Bali, hal ini sangat efektif. Seperti yang dilakukan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali di Jalan Hang Tuah, Gang Mawar dan Gang Nuri, Sanur. PPLH masuk melalui kegiatan arisan yang diadakan kelompok ibu-ibu di daerah tersebut. Sebagai pilot project yang disponsori AusAID, PPLH memberikan 100 pasang tong sampah kepada 100 kepala keluarga. Tong sampah tersebut terdiri atas dua warna; merah dan biru. Merah untuk sampah organik dan biru untuk sampah anorganik. Masing-masing keluarga diminta memilah sampah berdasarkan jenisnya. Sampah-sampah tersebut diangkut seorang petugas kebersihan yang ditunjuk guna dibawa ke depo yang berada di Gang Nuri.

Sesampainya di depo, sampah anorganik dipisahkan lagi berdasarkan bahan bakunya, seperti kaleng, kaca, plastik, kertas dan logam. Sisanya berupa residu sampah seperti pampers, pembalut wanita dan lainnya, dikirim ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Sedangkan sampah organik, diolah menjadi kompos. Sampah anorganik yang bisa dijual tersebut selama enam bulan telah menghasilkan lebih kurang Rp 2 juta. Kompos yang dibuat, dikembalikan kepada masyarakat. Dalam jangka panjang, masyarakat diberikan pendidikan pemanfaatan lahan sempit dengan menanam tanaman obat sehingga kompos bisa digunakan langsung.

Kondisi ini jika diterapkan di semua desa, akan memberikan banyak manfaat. Pertama, nilai ekonomis. Sampah yang dianggap tak berguna dapat menjadi salah satu sumber dana desa. Kedua, kalau tak dimasukkan kas desa, kegiatan itu bernilai sosial. Desa bisa meminta kelompok pemulung untuk mengurus pengangkutan dari rumah-rumah sampai ke depo. Hasil yang diperoleh, menjadi hak mereka. Ketiga, nilai pendidikan. Masyarakat memperoleh wawasan pentingnya membuang sampah secara benar. Mereka juga bisa merasakan nilai ekonomis dengan pemanfaatan lahan sempit. Dengan menanam cabai, tomat dan tanaman lainnya, mereka tak perlu membeli lagi. Lingkungan pun terjaga.

Jika masyarakat sudah biasa membedakan jenis sampah, pemerintah harus menyiapkan TPS dan truk pengangkut sampah berdasarkan jenis sampah. Pemilahan sampah yang dilakukan masyarakat tak akan banyak artinya tanpa dukungan pemerintah.

Kedua, alternatif pemecahan jangka menengah. Saat ini pemerintah telah berusaha mengatasi masalah sampah di TPA Suwung dengan menerapkan sistem pengelolaan persampahan secara regional (wilayah Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan) dan terpusat dengan aplikasi teknologi pengolahan sampah terpadu (disebut IPST, Instalasi Pengelohan Sampah Terpadu).

Alternatif ini tentu memiliki manfaat. Dari pengolahannya, diharapkan menghasilkan biogas. Biogas ini dimasukkan dulu ke dalam fasilitas gas treatment sebelum menjadi bahan bakar bagi mesin pembangkit listrik. Pada dasar tumpukan sampah lama yang telah mencapai luas areal 24 hektar tersebut dipasang sistem jaringan pipa untuk menangkap gas metan yang dihasilkan dari proses pembusukan tanah. Dalam waktu 10 sampai 20 tahun, sampah tersebut akan membusuk, menyusut dan membaur dengan tanah. Tindakan ini mencegah perambahan hutan bakau dalam jangka panjang dan mencegah pencemaran laut serta polusi udara yang dirasakan masyarakat sekitar. Dari pengolahan sampah baru akan dihasilkan gas metan dan kompos (sebagai produk sampingan) setelah memilah barang-barang yang bisa didaur ulang.

Alternatif ini dapat mengurangi perluasan landfill, meminimalisir dampak dan merehabilitir lahan TPA, memberi peluang kerja bagi masyarakat dan menambah ketersediaan kapasitas listrik di Bali. Hasil produksi pupuk organik digunakan untuk memulihkan kondisi fisik-kimia tanah guna meningkatkan produksi pertanian sekaligus mewujudkan pertanian organik. Meski demikian, sebagai pilot project (mengingat Indonesia belum mempunyai pengalaman dalam sektor ini, khususnya dalam skala kota), efek samping dari teknologi perlu dicermati.

Ketiga, alternatif pemecahan jangka panjang. Jerman memerlukan waktu hingga 25 tahun mendidik warganya menjaga kebersihan dan membuang sampah secara benar. Jepang perlu waktu 50 tahun untuk itu. Edukasi terus menerus harus dilakukan segenap komponen masyarakat dan pemerintah agar tercipta Denpasar yang bersih. Tanpa ada kerja sama yang baik, tujuan itu tak akan pernah terwujud. Gerakan 3R (reduce, reuse dan recycle) harus terus diajarkan dan diterapkan di seluruh wilayah.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik telah menyatakan, menjadikan Bali lokomotif utama pariwisata Indonesia. Turis mancanegara yang datang ke Bali umumnya berasal dari negara maju yang umumnya mereka sangat peduli pada kebersihan lingkungan. Meski Bali memiliki pemandangan yang sangat indah dan kebudayaan yang khas, kebersihan adalah salah satu faktor mutlak yang menyebabkan turis betah tinggal di Bali. Turis mancanegara umumnya sangat peka terhadap soal kebersihan mengingat kebersihan sangat erat terkait dengan kesehatan. Lingkungan yang bersih membawa dampak yang positif terhadap ketenangan, kenyamanan dan keasrian lingkungan. Selain itu, dalam penerapan ISO 1400, untuk memperoleh rekomendasi daerah wisata yang ramah lingkungan, kebersihan dan higienis menjadi syarat mutlak. Jika kebersihan lingkungan tak diperhatikan, sampah bisa menjadi bom kedua bagi Bali. Akhirnya, tak hanya warga Denpasar, masyarakat Bali secara menyeluruh merasakan dampak buruknya. Bahkan, jika pariwisata Bali sebagai lokomotif utamanya merosot, bagaimana dengan “gerbong-gerbong”-nya?

Ternyata, tindakan kecil dari rumah kita, mempengaruhi perekonomian seluruh wilayah Indonesia. Think globally, act locally.

 

 

 

Sumber bacaan:

¹ Volume dan Karakteristik Sampah Dikelola, Badan Pengelola Kebersihan SARBAGITA (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan).

²  Data dan Informasi Tahun 2003, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Denpasar.

 

 


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Ini serupa dengan tulisan perpustakaan. Aku tulis tahun 2004, belum pernah aku muat. Gimana masalah sampah di Denpasar sekarang?

Komentar oleh erhanana




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: