It’s My Life


Bapak Bahasa dengan Kunci Buku Pintar
Juli 28, 2008, 7:34 pm
Filed under: Umum | Tag:

“I hate Monday” tak ada dalam kamus kami, awak media Koran Mingguan Tokoh. Kami adalah bagian orang-orang yang “like Monday”. Pasalnya, Senin adalah hari paling “senggang” buat kami karena masa stres kami pada hari Kamis hingga Sabtu pagi. Akan tetapi, meski suka pada hari Senin, kami selalu “waswas” tiap pukul 09.00 sampai 10.00. Saat itu adalah waktu untuk mengevaluasi koran Tokoh yang terbit pada hari Minggu. Tak hanya staf redaksi, staf sekretariat dan desain grafis pun harus bersiap-siap mendapat teguran jika melakukan kesalahan. Bukan karena takut disalahkan, tapi karena kami malu berbuat salah.

Mungkin kami jarang (atau mungkin tak akan) mendapat teguran serupa di tempat lain. Apalagi, yang dievaluasi adalah kesalahan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Widminarko, Pemimpin Redaksi Koran Tokoh, dengan kecermatannya kerap menemukan kesalahan-kesalahan “kecil” yang kami lakukan.

“Ini memalukan. Apa tidak ada yang mengoreksi tulisan ini? Staf desain grafis jangan cuma me-lay out, tapi juga harus bisa mengoreksi,” tegasnya. Pagi itu, ia kecewa karena kami melakukan kesalahan menulis kata ‘menggalakkan’. Kami kekurangan satu huruf k.

Pada kesempatan yang lain, Pak Wid, begitu ia karib disapa, tak segan-segan mengoreksi hasil editing redaktur yang dianggapnya salah kaprah. “Coba rasakan, mana yang lebih benar, tak heran atau tak mengherankan. Jangan asal-asalan menggunakan bahasa,” katanya serius.

Penggunaan huruf besar dan kecil juga sering mendapat sorotannya. “Kata partikel di tengah kalimat dalam judul selalu menggunakan huruf kecil, bukan huruf besar,” tandasnya. Jangan sampai tak tahu mana yang disebut kata partikel, karena jika mengulangi kesalahan yang sama, Pak Wid hapal siapa pelakunya.

Karena kecermatannya dalam berbahasa, di kantor kami sering ‘ribut’ hanya karena huruf besar, huruf kecil, tanda baca, penulisan yang benar dsb. “Kata ‘jangan-jangan’ dalam judul harus pakai huruf kecil. Kalau kata ‘jangan’, pakai huruf besar atau kecil?” tanya staf desain grafis. Ia sudah membolak-balik Buku Pintar, tapi yang ditemukan adalah kata ‘jangan-jangan’ saja dalam daftar kata partikel.

Kami juga akan sibuk membuka kamus untuk memastikan, apakah kata yang betul sopir atau supir, apotik atau apotek, sekedar atau sekadar, malapraktik atau malpraktek, Perancis atau Prancis. Pak Wid juga tak segan-segan mencoret artikel yang dikoreksinya, plus catatan: “Usahakan menggunakan struktur kalimat yang benar. Subyeknya mana?”

 Tak ketinggalan, staf di level mana pun harus berhati-hati jika mengirim surat kepadanya. “Dengan hormat tidak perlu diakhiri dengan tanda koma. Nya adalah kata yang menunjukkan orang ketiga. Karena itu, jangan tulis ‘terima kasih atas perhatiannya’, tapi ‘perhatian Bapak/Ibu’. Kalian menulis surat untuk pihak kedua, bukan ketiga. Jangan lupa Bapak/Ibu ditulis dalam huruf besar. Hindari menggunakan kata Anda karena terkesan ada jarak dengan pengirim surat,” koreksinya panjang lebar.

Kesan yang saya tangkap pertama kali mendapat koreksi dari Pak Wid adalah, “Betapa susahnya berbahasa Indonesia.” Padahal, bahasa ini sudah saya pakai sejak pertama kali belajar berbicara! Itulah sebabnya, saya harus hunting beberapa judul buku yang mengulas tata bahasa, kelas kata, dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pesannya pun tak akan dilewatkan begitu saja, “Letakkan kamus, buku pintar, peta, atau apa pun yang diperlukan di dekat meja komputer.”

Begitulah Widminarko, pria kelahiran Banyuwangi, 8 April 1942 yang memulai kariernya sebagai korektor tahun 1965. Berbahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi salah satu perhatiannya. Melalui media massa yang kerap dituding sebagai salah satu sumber berkembangnya penggunaan bahasa yang salah kaprah, ia ingin memperbaiki cara kita berbahasa Indonesia.

Wartawan bukanlah cita-citanya. Ia ingin menjadi pemusik. Tapi nasib berkata lain. Ia malah mengakhiri masa kerjanya di Harian Bali Post sebagai staf direksi. Pada masa pensiun, kepiawaian lelaki humoris ini masih diperlukan. Karenanya, ia ditugaskan menjabat sebagai pemimpin redaksi sekaligus pemimpin umum di Koran Tokoh.

Menurutnya, salah satu syarat menjadi wartawan yang berkualitas adalah memiliki penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ketepatan, keserasian, dan kecermatan dalam berbahasa Indonesia harus diperhatikan. “Yang penting berkualitas, apa pun pendidikannya, bukan sekadar pintar,” katanya. Karena itu, dia selalu menyarankan kami untuk selalu aktif bermasyarakat agar mendapatkan ilmu lebih.

Ia dikenal sebagai sosok yang paling peduli terhadap bahasa. Kami menyebutnya sebagai Bapak Bahasa. “Ketika saya di bawah bimbingan beliau, wah, rasanya menjengkelkan. Sedikit-sedikit salah. Eh, tapi terasa saat ditinggal. Beliau memang benar-benar hebat,” begitu komentar salah satu wartawan senior yang sempat dididiknya.

Mantan Ketua PWI Cabang Bali periode 1983-1987 dan 1987-1991 ini pun sempat khatam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Itu terjadi saat ia menyusun Buku Pintar tentang kata atau istilah yang sering ditulis salah, agar tidak terulang kesalahan penulisan yang sama. Berbagai petunjuk praktis dirangkumnya dalam diktat yang ‘diwariskan’ turun-temurun kepada tiap reporter baru di lingkungan kami.

“Kuncinya adalah Buku Pintar. Jangan hanya di lingkungan pers, tapi juga harus diterapkan di lingkungan terkecil, termasuk di kantor pemerintah dan swasta serta lembaga pendidikan,” begitu pesannya agar kita menghindari penggunaan bahasa yang salah kaprah. Ia juga berharap, buku-buku pelajaran yang kini dianggapnya kerap mengabaikan penggunaan bahasa yang baik dan benar dibenahi. “Kita sendiri yang merusak bahasa nasional. Seharusnya, peran Balai Bahasa dan fakultas sastra tak ditunjukkan saat perayaan bulan bahasa saja,” kritiknya.

Hidup baginya adalah tantangan yang harus ditaklukkan. Itu pula yang mendorongnya untuk terus-menerus menurunkan sebagian kepintarannya berbahasa agar penggunaan bahasa salah kaprah bisa dikurangi. Konon, bahasa menunjukkan bangsa. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan peduli?


5 Komentar so far
Tinggalkan komentar

1 agustus, pak wid merayakan ultah perkawinan safir. selamat ya pak😀

Komentar oleh erhanana

Basi banget seh, melototin huruf atu-atu. Perasaan kita yang baca koran engga perduli deh sama kesalahan sepele begitu. Kirain cuma guru bahasa indonesia jaman gue SD doank yang suka masalahin kesalahan begini.

Komentar oleh unduk

kalo nggak pengen bahasa indonesia punah, emang kudu begitu caranya. coba kalo bahasa inggris salah huruf satu aja, bisa beda artinya kan? kenapa kita hanya menghargai bahasa asing dan merasa bahasa indonesia tak berharga? satu rahasia ya, siswa-siswa yang hobi baca koran, mereka belajar bahasa indonesia dari media cetak juga. kalau bahasa media massa salah, ya mereka ngikuti yang salah itu..

Komentar oleh Ratna

saya lupa, bahasa Indonesia baku sekarang ini apa masih menggunakan EYD atau ada lagi yang baru? yang jamannya van Ophuysen keren juga ada dj, oe, tj..

Komentar oleh okanegara

masih eyd kok hehehe

Komentar oleh Ratna




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: