It’s My Life


Kita Belajar Ya Bu Guru
Agustus 3, 2008, 5:35 am
Filed under: Umum | Tag:

DINUL memang bukan Inul. Dinul Qayyinah tak bisa goyang ngebor ala Inul Daratista, artis asal Pasuruan, Jawa Timur, itu. Meski bukan artis dan tak bisa goyang ngebor, Dinul dan Inul sama-sama punya fans. Bedanya, fans Dinul tak berteriak “one more, satu lagu lagi!” seperti fans Inul. Di sepanjang jalan setapak di antara ladang jagung, fans Dinul akan berteriak, “Bu Guru, Bu Guru, kita ngaji hari ini? Kita belajar ya Bu Guru.”

Sambil berteriak, anak-anak itu mengerubungi Dinul. Dua anak mengapit Dinul dan memegang tangannya. Mereka berharap, hari itu mereka belajar lagi. Oleh karena kesibukan di kampusnya, lebih dari satu bulan Dinul tak bisa mengajar di pemukiman yang dihuni 120 rumah tangga itu. Itu sebabnya, ketika Dinul datang, mereka berharap bisa belajar lagi.

Kampung Siomay, demikian julukan untuk pemukiman tempat anak-anak itu bertempat tinggal. Disebut begitu karena hampir 50% kepala keluarga yang bertempat tinggal di sana bekerja sebagai pedagang siomay. Lebih kurang 100 keluarga merupakan pendatang berasal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pemukiman di kawasan elite Renon, Denpasar Selatan,  itu terkesan kumuh. Bangunan yang didirikan berupa bangunan semi-permanen; separuh batako dan separuh lagi gedek (anyaman bambu) atau seluruhnya hanya gedek. Rumah-rumah petak berdiri berjejer saling berhimpitan. Satu ruang digunakan bermacam fungsi; kamar tidur, kamar tamu, ruang keluarga, atau ruang makan. Jika mereka memiliki ruang sebagai dapur, itu sudah lumayan. Beberapa warga malah memasak menggunakan kayu bakar dan mencuci perabotan di dekat pintu masuk rumah mereka.

Saban hari, pedagang siomay itu berjualan mulai pukul 08.00. Usai berdagang, selalu di atas pukul 22.00. Kesibukan orangtua mengais rezeki di daerah rantau, membuat anak-anak mereka hampir tak terurus. Sebagai pedagang siomay keliling, mereka harus siap digusur kapan saja atau dikejar-kejar satuan polisi pamong praja. Pasaiyah, warga Kampung Siomay pernah mengalaminya. Ia kehilangan delapan gerobak dagangannya karena diambil petugas dan tak boleh ditebus.

Mereka juga dihadapkan pada ketidakpastian bisa bertempat tinggal di kawasan itu dalam jangka waktu panjang. Meski ada warga yang telah menempati tanah negara itu lebih dari 20 tahun dan mengantongi kartu tanda penduduk dari Banjar Jayagiri, Renon, mereka selalu mendapat peringatan penggusuran tiap tahun. Itu sebabnya, mereka lebih peduli terhadap upaya mendapatkan penghasilan.

Kegiatan anak-anak Kampung Siomay sehari-hari pun menjadi tak jelas. Jika bertemu anak-anak yang belum mandi, bertelanjang badan, dengan tubuh penuh debu pada sore hari, tak perlu heran. Kebutuhan mereka akan pendidikan pun, tak terpenuhi.

Kondisi seperti itu membuat Dinul tersentuh. Pertemanannya dengan Nining, Riza, dan Yani di kelompok pengajian di Universitas Udayana melahirkan kesepakatan membuat Taman Belajar Azzahra, Februari 2003. Dalam bahasa Arab, azzahra berarti bunga. Mereka berharap, taman belajar yang didirikan itu bisa seperti bunga yang harum semerbak. “Guru mengaji kami menceritakan tentang kondisi anak-anak di Kampung Siomay,” ujar Dinul, mahasiswa Fakultas Sastra Unud yang kini sedang sibuk menyusun skripsi. Mereka pun berinisiatif, ingin membantu anak-anak tersebut dengan memberikan pendidikan gratis.

Langkah awal yang dilakukan, perempuan kelahiran Palembang, 30 Agustus 1984 itu pura-pura mencari tempat kos di kampung tersebut. Tetapi, ia dilarang warga karena lingkungan di sana dianggap terlalu buruk untuknya. Ketika itu, ada sekelompok preman bertempat tinggal di sana. Triknya mendekati warga tak berhasil. Alhasil, Dinul dkk. langsung mengutarakan niat mereka, meluangkan waktu untuk mengajar anak-anak di sana.

Kontan, sikap itu dianggap aneh oleh warga Kampung Siomay. Dinul juga dicurigai. Preman-preman di sana menggodanya. Syukurlah, ada Diana, seorang waria yang membantunya. Diana memandang anak-anak itu perlu mendapatkan pendidikan. Apalagi, sikap anak-anak di sana, liar. Dinul dkk. mendapat tempat di sebuah bekas bangunan yang sudah roboh. Tempat itu biasa dipakai menjemur kerupuk saat matahari sedang terik. Jika hujan tiba, Diana tak segan meminjamkan kamarnya sebagai tempat belajar.

Meski mendapat bantuan, bukan berarti niat Dinul itu berjalan mulus. Anak-anak sangat sulit dikumpulkan. “Kalau mau mengajar pukul 16.00, kami harus sudah tiba pukul 15.00 atau bahkan pukul 14.30,” kata alumnus Madrasah Muhammadiyah Yogyakarta ini. Jika sudah berhasil dikumpulkan, proses belajar-mengajar pun tak serta-merta berlangsung lancar. Anak-anak itu gampang tersulut emosi. Mereka kerap berkelahi dan susah diatur.

“Kami sempat merasa patah arang. Kondisinya benar-benar parah,” kata Dinul. Tetapi, perasaan kasihan dan kepedulian mereka terhadap masa depan anak-anak itu, membuat Dinul, Nining, Riza, dan Yani bertahan. Untuk mengatasinya, mereka selalu mengajar bersama. Minimal, ada tiga orang yang bertugas mengajar pada satu kesempatan. Kalau tidak, bisa dipastikan proses belajar-mengajar menjadi sangat kacau.

“Kami mengutamakan pelajaran yang membuat mereka bisa membaca, menulis, dan berhitung,” kata Nining Palupi. Bahasa Indonesia, matematika, bahasa Inggris, mengaji, dan menyanyi menjadi mata ajar utama. Lama-kelamaan, anak-anak itu mulai berubah. Semangat belajar mereka timbul. Mereka juga kreatif. Dinul pernah mengikutsertakan beberapa anak-anak dalam berbagai lomba dan mereka menang.

Agar lebih optimal, Dinul dkk. mulai berjuang mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Jika mengandalkan uang mereka, dirasa tak bisa mencukupi. Tahun 2004, mereka mendapat bantuan berupa pembangunan tempat belajar semi-permanen yang dipakai hingga kini dan buku-buku dari individu-individu yang peduli. Proposal yang diajukan kepada Dinas Sosial tak pernah mendapat tanggapan. Beberapa mahasiswa dari Institut Seni Indonesia Denpasar pun turut bergabung menjadi relawan.

Mereka mendorong anak-anak yang cerdas bersekolah di sekolah umum. “Anak-anak itu ingin bersekolah, tetapi tak berani mengatakan kepada orangtuanya. Kalau sudah begitu, mereka meminta kami yang mengatakannya,” kata Dinul. Sebagian dari mereka, merasa malu bersekolah. “Saya sudah besar, masak sekelas dengan anak-anak yang masih kecil,” kata Rona Lestari (10). Meski begitu, Rona tetap ingin bisa belajar. Harapan Dinul saat ini, anak-anak tersebut bisa mengikuti ujian kesetaran meski tak belajar di sekolah umum. Ia ingin melihat Rona, Rosa, Novi, dan anak lainnya memiliki bekal untuk masa depannya.

“Bu Guru, dengarkan saya bernyanyi,” ujar Rona. Ia meminjam telepon genggam milik Dinul, memutar dan mengikuti lagu milik Titi Kamal dalam album “Jablay” yang tersimpan di perangkat itu. Kata orang, di atas bumi kita semua sama; Kata orang, di mata Tuhan tak ada yang miskin dan kaya; Katanya, katanya…

Koran Tokoh, Edisi 500, Minggu (3/8 )


8 Komentar so far
Tinggalkan komentar

tulisan yg uapik tenan. rapi jali. apalagi foto headernya. uayu tenan.😀

Komentar oleh anton

tengkyu mas. ayu lek fotone bintik-bintik😀

Komentar oleh Ratna

iya loooooo. top markotop. masih ada sambungannya ga?? **ngarep

Komentar oleh luhde

saya jadi inget kisah seorang anak pembantu yang umur 6 tahun baru masuk SD tanpa TK karena ibunya tak kuat membiayai, ternyata teman2nya sudah jauh lebih pintar menulis, guru2nya pun gak pernah mengenalkan alphabet karena menganggap semua muridnya sudah tahu, maka si anak itu pun hanya bisa diam di kelas, bahkan angka dan huruf pun tak ia kenal

Komentar oleh wku

thanks luh de. ini kan hasil referensimu hehehe sambungannya nggak ada. referensikan yang lain lagi ya🙂

Komentar oleh Ratna

halo mas kurniawan, bagus tuh ceritanya ditulis. makasih dah mampir ya. salam kenal.

Komentar oleh Ratna

Lalu Dinul ini siapanya Inul sebenarnya? Harus ada hubungannya nih *maksa

Komentar oleh okanegara

Dinul itu kakaknya Inul. Soale namanya lebih banyak hurufnya😀

*maksa juga🙂

Komentar oleh Ratna




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: