It’s My Life


Kalau Bisa Dipersulit, Kenapa Dipermudah?
Agustus 30, 2008, 8:17 am
Filed under: Personal | Tag:

Aku memang harus berterima kasih pada Pak Puasa, Kepala Biro Humas Pemprov Bali. Di tengah kejengkelan menghadapi sikap para birokrat yang berbelit-belit, Pak Puasa mau membantu.

13 Agustus, aku mengajukan surat permintaan data APBD Bali kepada Kepala Biro Keuangan Pemprov Bali. Sebenarnya, aku berharap bisa bertemu saja dengannya agar bisa mendapatkan data lebih cepat. Tetapi, sistem di sana tidak memungkinkan. Kalau mau minta data, harus pakai surat. Sistem ini yang paling aku hindari karena sudah tahu akan seperti apa jadinya surat yang aku kirim itu. Data ini untuk kepentingan penulisan. Jika data secara umum, aku bisa mendapatkannya melalui Biro Pusat Statistik tapi harus puas menerima data tahun 2007 (syukur-syukur kalau data itu sudah ada pula).

15 Agustus, surat itu sudah disampaikan kepada Kepala Biro Keuangan melalui bagian tata usaha. Tetapi, tidak semudah yang dibayangkan. Seperti surat-surat lain yang aku kirim sebelumnya, menindaklanjuti sebuah surat bisa memerlukan waktu berhari-hari. Tiap kali menelepon, disuruh ke bagian A, bagian B, bagian C, bagian D, sampai bagian Z. Ujung-ujungnya, surat itu belum turun juga. Aku harus menanyakan kembali, berulang-ulang.

“Silakan cek di ekstensi 317,” kata orang di ekstensi 325. Aku menelepon ulang, mencari petugas di ekstensi 317.

“Oh, belum ada di sini. Coba cek di ekstensi 311,” kata orang di ekstensi 317.

“Suratnya belum sampai di sini. Tolong dicek ke ekstensi 326,” kata petugas di ekstensi 311.

“Nanti saya cek lagi ya. Di sini sibuk sekali. Nanti tolong telepon kembali,” kata petugas di ekstensi 326.

26 Agustus, saya menelepon lagi.

“Suratnya sudah di pimpinan. Silakan cek ke sekretaris pribadinya di ekstensi 311,” kata petugas di ekstensi 317.

“Saya belum menerima. Coba cek di ekstensi 321,” kata sekretaris pimpinan itu.

“Ibu dari mana? Suratnya tidak ada di sini. Coba cek ke 318,” kata petugas di ekstensi 321.

Saya menelepon lagi ke ekstensi 318. “Kan sudah saya kasih tahu, suratnya sudah di pimpinan. Kenapa menelepon ke sini lagi? Saya transfer ke 311 ya,” jawab petugas.

“Ibu gimana sih? Sudah saya katakan, suratnya belum sampai di bapak,” kata sekretaris yang bertugas di 311.

“Saya sudah hubungi petugas di tata usaha, surat itu sudah sampai ke bapak tanggal 15 Agustus. Sampai sekarang belum turun,” jawabku.

“Surat itu tidak ada di sini. Telepon saja ke 317,” katanya jengkel.

Huh, aku makin sebal. Menelepon ke petugas tata usaha malah diomeli. “Ibu, surat itu sudah di pimpinan. Silakan ditanyakan di sana. Kenapa bertanya ke sini lagi?”

Aku langsung emosi. “Saya sudah bertanya ke sana, jawabannya tidak ada. Saya disuruh bertanya ke mana-mana, tidak ada juga. Lalu saya harus bagaimana?” kataku kesal.

27 Agustus, aku menelepon lagi. “Silakan cek di 321 ya. Sudah turun ke kepala bagian,” kata sekretaris di 311. Sampai di ekstensi 321, “Saya cari dulu ya. Siapa yang bilang suratnya sampai di sini?”

Aduh, ini pemerintahan yang menyebalkan. Mereka perlu direformasi. Gaji dapat dari pajak-pajak masyarakat malah nggak becus melayani masyarakat. Mereka persis iklan rokok, kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah? Coba kalau untuk kepentingan mereka sendiri, pasti segala sesuatunya cepat beres.

Aku harus bolak-balik menanyakan ke 321 karena kata petugas yang berganti-ganti menerima telepon di sana, mereka sangat sibuk. Sibuk jalan-jalan ke mal? Aku udah ingin marah. Petugas kelima yang menerima teleponku mengatakan, “Suratnya sudah di pimpinan. Tunggu saja ya.” Sampai kapan? Nggak jelas. Terserah pimpinan mau kapan menurunkan ke stafnya. Bisa sebulan, dua bulan, setahun, atau malah menghilang seperti temanku yang kehilangan suratnya dan harus mengulang dari awal. Tentu saja aku ngomel.

Di tengah kejengkelan, aku mengirim SMS kepada Pak Puasa. “Pak Puasa, minta tolong sekali lagi. Saya belum mendapatkan data APBD yang saya inginkan. Surat sudah sampai di turun ke kepala bagian. Saya disuruh menunggu lagi. Saya tidak bisa menulis dengan baik tanpa data yang akurat. Mohon dibantu, terima kasih.”

Tak lama, Pak Puasa menelepon. “Surat sudah dibawa ke ruangan saya. Bagaimana sebaiknya?”

“Terima kasih Pak Puasa. Saya akan ke kantor bapak pukul 14.30. Makasih banyak ya.”

Duh, kenapa tidak semua pegawai negeri seperti Pak Puasa ya?


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: