It’s My Life


Menunggu Datangnya “Tsunami” HIV/AIDS
Agustus 31, 2008, 9:10 am
Filed under: Umum | Tag: ,

Baca berita koran pagi ini bikin aku terheran-heran. Kompleks pelacuran di Sanur maupun tempat lokalisasi lainnya akan ditutup. Alasannya, prostitusi adalah penyakit masyarakat. Sejak kapan di Sanur ada lokalisasi pelacuran? Sejak dahulu kala, di Sanur tidak ada lokalisasi pelacuran. Jika daerah Sanur disebut sebagai lokalisasi pelacuran, berarti di sana sebuah kompleks yang terdiri atas germo, pekerja seks komersial (PSK), dsb. yang tinggal dalam satu wilayah. Nyatanya, yang ada di daerah pelacuran di Sanur adalah germo, PSK, calo PSK, dan masyarakat sebagai penyedia bungalo-bungalo yang bisa disewa short time atau dipakai menginap. Mereka tidak berada di satu lokalisasi. Pemilik bungalo dan germo memang bertempat tinggal di Sanur. Tetapi, tidak demikian dengan PSK. Mereka menyebar, tidak tinggal bersama muncikari. Sebagian mereka memang bertempat tinggal di Sanur tetapi sebagian lagi menyebar, kos di daerah lain, seperti di Denpasar. Layaknya pekerja kantoran, mereka hanya datang ke daerah pelacuran itu pada saat jam kerja.

“Daerah pelacuran” di Sanur juga bukan hanya untuk PSK. Siapa saja ingin menyewa bungalo yang milik masyarakat sekitar itu bisa menyewa. Bayarannya juga murah. Kamar dengan fasilitas kamar mandi dengan bath tub, air panas-dingin, kamar berpengatur suhu udara bisa dipakai dengan membayar Rp 50 ribu, short time. Berapa lama ukuran short time? Nggak pasti. Sejam, dua jam, tiga jam, lima jam bisa disebut short time asal tidak menginap.

Tiap Jumat, bungalo-bungalo berkode XX ini kerap dipakai PNS yang ingin bercinta dengan kekasihnya. Itu sebabnya, ada sebutan “Jumat PNS”. Atau, ada juga pasangan anak SMA, anak pejabat Pemda Bali yang tertangkap merayakan kenaikan kelas dengan bercinta di lokasi itu. Kalau tidak memiliki pasangan tetapi tetap ingin melampiaskan nafsu birahi di lokasi ini, tinggal hubungi calo PSK yang biasanya berdiri di depan bungalo. Atau, sudah punya pasangan? Tinggal SMS, tunggu dia datang ke kamar. Bisa juga, datang bersama pacar bersamaan.

Kalau bungalo-bungalo itu yang akan ditutup oleh pemerintah, dijamin akan ada masalah di Sanur. Rantai penyewaan bungalo itu melibatkan ratusan orang, bukan satu-dua germo, melibatkan masyarakat Sanur dan sekitarnya. Pedagang kecil yang berusaha hidup dengan membuka warung di sekitar, pedagang barang kredit yang berkeliling di sekitar tempat itu, pemilik kendaraan sepeda motor yang disewakan, dsb. Ini masalah perekonomian daerah. Masalah ketenagakerjaan.

Di Sanur tidakada lokalisasi seperti lokalisasi Padang Bulan di Banyuwangi atau Dolly di Surabaya. Well, anggap saja rumah germo yang dihuni oleh para PSK adalah tempat pelacuran itu ditutup, apa yang akan dilakukan pemerintah terhadap mereka?

Ketika memecahkan masalah ini dari sisi norma, agama, dsb. akan menjadi polemik berkepanjangan yang tak pernah ada hasilnya. Pemerintah tidak berani menetapkan secara terbuka, Sanur sebagai lokalisasi pelacuran. Saat akan menutup, barulah disebut lokalisasi pelacuran. Bagaimana bisa?

Penyelesaian masalah ini harusnya tidak dipandang dari sisi penyakit masyarakat semata. Ini masalah perilaku. Pemerintah tak perlu munafik. Di pemberitaan media massa, beberapa pejabat daerah juga tercatat melakukan hubungan seksual di luar nikah. Sekali lagi, ini masalah perilaku, tak peduli ia orang kaya atau miskin, pejabat atau pemulung, berpendidikan atau tidak berpendidikan. Bagaimana bisa pemerintah mengontrol perilaku masyarakatnya?

Di sisi lain, kita menghadapi tantangan penyebaran HIV/AIDS. Saat ini, penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual sudah mengalahkan penularan HIV/AIDS melalui jarum suntik (dalam hal ini pengguna narkoba). Persentase peningkatannya, 17% heteroseksual, 3% jarum suntik. Di Bali, hampir semua kabupaten telah memberikan “sumbangan” berupa orang yang telah terinfeksi HIV. Kalau saja tes HIV itu sifatnya bisa wajib bagi semua orang, jangan-jangan di tiap banjar di Bali sudah ada yang terinfeksi HIV. Siapa tahu?

HIV menular tanpa memberi gejala. Virus ini tidak seperti cirus demam berdarah yang langsung memberi tanda-tanda demam, mual, atau muntah. Virus ini akan “bersemayam” lima hingga 10 tahun dan menyerang sistem kekebalan tubuh secara perlahan-lahan. Saat seseorang itu sakit-sakitan dan tak bisa disembuhkan, barulah mulai direka-reka kalau ia terinfeksi virus itu.

Bulan lalu, aku berkunjung ke Karangasem mengunjungi orang-orang yang terinfeksi HIV. Mereka ibu rumah tangga, yang tak pernah mengenal daerah pelacuran, tak pernah mengenal ingar-bingar hidup di kota. Satu di antara mereka, memiliki bayi yang baru berumur enam bulan dan tertular HIV dari ibunya, karena ibunya tertular dari suaminya.

HIV/AIDS sudah merambah desa-desa, bukan hanya lokalisasi pelacuran. Jika pelacuran disebut sebagai salah satu sumber penyebaran HIV/AIDS, mengapa pemerintah tidak berani menetapkan Sanur, misalnya sebagai kompleks pelacuran? Dengan menetapkan pembatasan lokasi, pemerintah lebih mudah mengontrol mereka termasuk memberikan penyuluhan kesehatan ataupun pembinaan dengan pelajaran keterampilan. Aku yakin, mereka juga tak bisa bertahan lama sebagai PSK. Secara alami, PSK yang mulai berumur akan tidak diminati pelanggan dan pada saat itu, mereka memerlukan pegangan, baik itu keterampilan atau modal, agar bisa bertahan hidup. Toh menutup bungalo-bungalo itu tak akan memberi kontribusi positif pada penurunan angka HIV/AIDS di Bali. Mereka bisa ngeseks di mana-mana, tidak hanya di bungalo di Sanur. Mereka bisa ngeseks di kamar kos, toh masyarakat bersikap cuek terhadap hal itu. Bagaimana pemerintah mengontrol orang ngeseks di mana-mana yang disebutnya sebagai penyakit masyarakat itu?

Aha, aku tahu. Pemerintah takut dibilang tidak normatif, tidak sesuai kaidah agama. Mungkin pemerintah akan berubah pikiran kalau di antara keluarga mereka, anak, istri, keponakan, saudara atau dirinya yang sudah terinfeksi HIV. Sekarang, tanpa sadar kita sedang menunggu datangnya “tsunami” HIV/AIDS di pulau ini.


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

saya juga dari karangasem.. Ternyata ada yah pengidap HIV di sana?? Berapa banyak yang terdata??
salam

Komentar oleh eka

subsidi screening darah juga akan dihapus. arrrgghhh..

Komentar oleh okanegara




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: