It’s My Life


Kelak, tak Ada lagi Putu di Bali
September 28, 2008, 9:15 pm
Filed under: Umum | Tag: ,

“KALAU Tuhan mau mencabut nyawa saya, jangan sekarang. Saya mau berjuang untuk anak. Kalau saya mati, siapa yang mengurus anakku. Andai saya mati 20 tahun lagi, anak saya sudah besar, dia sudah bisa membawa diri,” harap Wayan, ibu rumah tangga yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Wayan tak pernah tahu, di dalam tubuhnya bersarang virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia itu. Sejak mengandung anak pertamanya, kesehatan Wayan memburuk. Memasuki usia kehamilan tiga bulan, ia sudah tak berdaya. “Kalau makan, saya disuapi. Mau mandi, harus dipapah. Saya sampai tak bisa bangun,” tuturnya.

Keluarga dan orang-orang di sekitarnya menganggap ia terkena guna-guna. Maka, keluarganya mengajak Wayan berobat ke balian. Oleh dukun itu, ia diberi daun-daunan bercampur air. Tetapi, tak pernah ada hasilnya. “Semua orang mengira saya mau mati,” kisahnya.

Kondisi Wayan kian parah. Selama itu, mereka tak pernah mengetahui penyakit Wayan sebenarnya. Ketika masa kehamilan tujuh bulan, Wayan mengalami pendarahan. Ia dilarikan ke RS Sanglah. Dokter menyarankan ia segera menjalani operasi. Karena kondisinya sangat lemah, Wayan tak bisa meninggalkan rumah sakit. Ia juga harus menunggui bayinya yang mendapat perawatan karena lahir prematur. Minggu ketiga, jahitan bekas operasi yang dijalaninya, terbuka.

“Saat itu, seorang dokter mengajak saya berbicara. Saya diajak ke ruangannya dan disarankan mengikuti tes HIV. Kata dokter itu, kondisi saya sangat lemah,” ujar Wayan. Bersama suaminya, Wayan menjalani tes HIV. Wayan dan suaminya harus menanti dua minggu di Denpasar untuk mengetahui hasil tes tersebut. Ketika diberi tahu dokter, Wayan kaget bukan kepalang. “Saya benar-benar tidak bisa menerima ketika dokter mengatakan, saya terinfeksi HIV,” kenangnya. Suaminya, tidak terinfeksi. Wayan stres. Ia tak mau menemui bayi, suami, atau mendekati orang-orang di sekitarnya. “Saya takut mereka tertular jika berdekatan denganku,” ujarnya. Wayan hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Ia tak habis pikir, bagaimana ia bisa tertular virus itu.

Perlu waktu satu bulan agar Wayan mau berdekatan dengan orang lain. “Saya benar-benar takut,” katanya. Jika kebanyakan orang berpikir, seseorang akan terinfeksi HIV jika berganti-ganti pasangan seksual, Wayan bahkan tak pernah melakukannya. Wayan yang tamatan SMP ini menikah dua kali. Perkawinan pertamanya hanya bertahan dua tahun. Ia dipaksa bercerai karena mertuanya tak senang padanya. Pernikahan keduanya ini baru berjalan 1,5 tahun. “Suami saya tahu bagaimana pergaulan saya sebelum menikah. Saya tidak pernah ke mana-mana,” katanya. Suami pertamanya meninggal setelah mereka bercerai. “Kata orang-orang, ia meninggal karena paru-parunya sisa segini, sedikit sekali,” kisahnya sambil mengepalkan tangan.

Takut Diketahui

Rumah Wayan di Karangasem jauh dari kota. Jangankan ke Denpasar, ke Kota Amlapura saja ia memerlukan waktu lebih kurang satu jam. Dari jalanan utama di desanya, Wayan harus berjalan kaki sejauh lebih kurang 4 km. Ia harus melewati ladang milik orang lain, tanah-tanah tandus ditutupi daun bambu yang mengering, dan mendaki jalanan penuh bebatuan.

Wayan dan Putu, anaknya yang kini berusia enam bulan bertempat tinggal di tegalan milik mertuanya. Suaminya bekerja sebagai buruh di Kota Amlapura. Jika memiliki uang lebih, suaminya akan pulang tiap dua minggu. Jika tidak, cukup pulang tiap bulan.

Di rumah berbilik bambu berukuran 4 m x 4 m itu, hidup tiga keluarga sekaligus. Di dalam rumah berlantai tanah, ditempatkan dua tempat tidur. Satu tempat tidur untuk dia dan anaknya, satu lagi untuk keluarga iparnya. Jika malam, laki-laki dewasa tidur di luar, ditutupi terpal.

“Ya, beginilah kondisi kami, mau diapakan lagi,” ujar Wayan yang kini berusia 24 tahun. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Wayan berusaha dengan membuat tikar untuk sanggah. Biasanya, dalam dua hari dia hanya bisa menyelesaikan 50 tikar yang laku dijual Rp 10.000. “Sekarang ada Putu, saya harus mengasuh dia juga. Kalau dulu, saya bisa membuat 50 tikar dalam sehari, dari bangun tidur sampai larut malam. Itu pun kalau Putu tidak rewel,” ucapnya.

Kalau lancar, ia bisa mendapatkan hasil jualan tikar Rp 150 ribu sebulan. “Hasil itu saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” katanya. Di daerahnya, untuk mendapatkan air bersih, mereka harus membeli. Harganya Rp 100 ribu sekali angkut. Jika tidak memiliki uang, kemenakannya akan berjalan kaki sejauh 3 km ke arah desa, mencari air dua jerigen. Air itu mereka bagi untuk tiga keluarga dan tiga ekor sapi milik mertua.

Jika dikumpulkan, pendapatannya dan suaminya tak pernah bisa membiayai pengobatan Wayan. Menurut Prof. Dr. dr. K. Tuti Parwati Merati, idealnya, biaya pengobatan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) mencakup pengobatan penyakit yang berhubungan dengan HIV dan infeksi oportunistik yang dialaminya. Biaya hidup ODHA pun tidak bisa sesuai dengan orang sehat karena mereka memerlukan lebih banyak asupan bergizi atau suplemen makanan lainnya. Obat antiretrovirus (ARV) bisa didapatkan secara gratis. Tetapi, tidak demikian halnya dengan obat karena infeksi oportunistik yang dialami ODHA. Misalnya, jika ODHA terkena infeksi jamur. Harga satu kapsul bisa Rp 150 ribu – Rp 200 ribu. Satu hari, dosisnya bisa 2 kali dan harus diminum selama dua minggu sampai satu bulan. Itu baru satu kapsul. Kalau parah dan perlu injeksi, harga satu kali suntikan bisa mencapai Rp 300 ribu dan perlu selama 3-5 hari. Sistem kekebalan tubuh Wayan yang rendah, membuatnya harus rutin melakukan pemeriksaan fungsi hati, dll.

Menurut Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Karangasem, dr. Ida Bagus Putra Udaya, M. Repro., saat ini rumah sakit satu-satunya di kabupaten itu belum bisa memberikan pengobatan ARV dan subspesialistik. Karena itu, pasien dirujuk ke RS Sanglah di Denpasar.

“Hasil kerja kami untuk beli lombok saja rasanya kurang,” kata Wayan. Di tegal sekitar rumahnya, ia menanam singkong. Jika sudah layak panen, singkong itu dimasak bercampur beras. “Kalau ada beras 1 kg, kami campur singkong supaya bisa dimakan dua kali,” ujarnya.

Sebagai penduduk miskin, Wayan mendapat kesempatan berobat secara gratis di RSUD Karangasem atau RS Sanglah di Denpasar. Program pemerintah berupa jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas) yang diperuntukkan bagi pasien miskin guna mendapatkan perawatan dan pengobatan secara gratis. “Jika pasien benar-benar miskin, mereka dapat menggunakan surat keterangan tidak mampu dari Sekretaris Daerah Kabupaten Karangasem,” ujar Dr. I Gusti Made Tirtayana, M.M. Direktur RSUD Karangasem. Tetapi, menurut Suparni, aktivis perempuan di Karangasem, program pemerintah daerah itu hanya menyiapkan dana Rp 3 juta tiap pasien.

Sayangnya, pendataan warga miskin untuk program jamkesmas berdasarkan data penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) juga tidak valid. Alhasil, ketika Wayan mengalami sesak napas yang teramat parah, ia tak bisa mendapatkan pengobatan secara gratis. “Ia diminta mengurus status sebagai keluarga miskin. Daripada keduluan mati, terpaksa ia didaftarkan sebagai pasien umum,” ungkap Putri, pendampingnya selama ini. Suatu ketika, ia datang ke RS Sanglah membawa uang Rp 20 ribu. “Saya terpaksa pulang kembali untuk meminjam uang agar bisa membayar biaya pemeriksaan laboratorium Rp 80 ribu,” ungkap Wayan.

Selama ini, Wayan tak pernah mau berobat ke RSUD Karangasem. “Sejak pertama diketahui terinfeksi HIV, saya berobat di RS Sanglah. Mereka sudah tahu status saya. Kalau saya datang, mereka tidak menanyakan apa-apa lagi,” kata Wayan. Ia khawatir, jika berobat ke RSUD Karangasem, petugas di sana akan bertanya-tanya lagi tentang dirinya. Jika demikian, akan makin banyak orang tahu kondisinya. “Saya bertempat tinggal di desa. Kalau semua orang tahu, apa jadinya? Saya bisa dijauhi,” katanya.

Jangankan orang lain, di rumahnya, hanya suaminya yang mengetahui status Wayan. Jika ia harus berobat ke RS Sanglah, Wayan mengatakan, ia mengontrol penyakit sesak napasnya. Label botol obat yang dibawanya, dilepas. Ia mengatakan, itu obat sesak napas. Wayan menghapal obat yang harus diminum pukul 8 pagi/malam dan pukul 13.00 dari bentuk botolnya.

Masalah Serius

Wayan bukan satu-satunya orang yang terinfeksi HIV di Karangasem. Data KPA Karangasem, kasus HIV/AIDS mencapai 39 orang. Kasus HIV/AIDS di Bali mencapai 2.112 hingga 31 Mei 2008 dan kelompok terbesar berada di rentang usia 20-29 tahun, yaitu 1.076 orang. Wayan menerka-nerka penyebab penularan HIV dalam dirinya. “Mungkin saya ditulari mantan suami. Mungkin saja, dia tak bisa menahan nafsu ketika bekerja di Badung,” tebaknya.

Mungkin saja, pemikiran Wayan benar. Sebanyak 1.215 kasus HIV/AIDS di Bali ditularkan melalui hubungan heteroseksual, mengalahkan penularan melalui pengguna jarum suntik (narkoba) yang selama ini mendominasi. Catatan Dinas Kesehatan Provinsi Bali hingga 30 November 2007, dari 441 ODHA perempuan, ‘hanya’ 120 yang tercatat sebagai PSK. Jika begitu, masalah HIV/AIDS ini seharusnya tak dianggap main-main. Pemerintah harusnya memberi anggaran yang memadai terhadap penanggulangan masalah ini. Tahun 2008, anggaran Pemerintah Provinsi Bali untuk penanggulangan HIV/AIDS Rp 1.147.110.500, baru sebesar 0,2% dibandingkan anggaran belanja pegawai (Rp 475.053.786.439) atau hanya 0,07% dibandingkan total anggaran belanja daerah (Rp 1.660.843.041.982). Padahal, HIV/AIDS bukan lagi menyerang kelompok berisiko tinggi yang kerap berganti-ganti pasangan. HIV/AIDS telah menyasar kelompok ibu rumah tangga yang juga berpotensi menulari virus itu kepada bayi-bayi mereka dan mengancam keberlangsungan masa depan mereka. Jika dibiarkan begini terus, kelak, tak ada lagi Putu di Bali. – rat

Media Muat: Koran Tokoh Edisi 507, Minggu (28/9).


8 Komentar so far
Tinggalkan komentar

welldone mbak. saya harus banyak belajar dari anda. tolong sebarluaskan ke milis2 lain khususnya aids-ina dan bali-aids. biar nasib wayan tak berlalu begitu saja lewat koran. kalau ndak ikut milisnya, bisa lewat saya ya.

Komentar oleh lodegen

artikel/feature menggugak mbak..
salut, semoga bisa tetep menulis yang sebagus ini…
menulis, adalah salah satu upaya juga menmberikan kontribusi buat sesama…minmal informasi itu membangkitkan kesempatan!

Komentar oleh rusle

makasih semua. buat luh de, silakan saja disebarkan ke milis-milis yang dimaksud. aku nggak tergabung dalam milis tersebut soale. tengkyu. selamat lebaran. mohon maaf lahir dan batin.

*mudik dulu…

Komentar oleh Ratna

keren, 2 thumbs up!
judulnya mengundang plus data2nya lumayan komplit, dan yg penting amat berimbang, pros-cons, etc

Komentar oleh Jiwa Musik

Nama suami pertama dan kedua siapa ya, kalau boleh tahu berapa usianya?

Komentar oleh johnherf

makasih jiwa musik. mas djoni, dalam liputan ini aku sudah berjanji merahasiakan nama-nama mereka. lokasi pun aku hanya sebut kabupaten. usia wayan 24 tahun sekarang.

Komentar oleh Ratna

Klo ga ada free sex mungkin ga akan ada HIV/AIDS…

Komentar oleh mamas86

saya salut dengan story mba..salut..salut…semoga apa yang menjadi harapan mba juga menjadi rencana tuhan yang maha pengasih..

Komentar oleh udhin kendari




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: