It’s My Life


Seperti Orang Gila
September 28, 2008, 9:13 pm
Filed under: Umum | Tag:

“NAMAMU siapa?” tanya Pak Polisi yang mengantar wartawati Koran Tokoh ke rumah I Ketut Renyeng (40) di Dusun Bantas, Desa Baturinggit, Kecamatan Kubu, Karangasem. Bocah lelaki itu menjawab, “Wayan Indrajaya Kusuma Dewa Pertikayasa.” Dia lalu tersenyum. Nama yang panjang sekali. “Niru nama dari radio,” katanya, lagi-lagi dengan menyunggingkan senyum di wajahnya.

Indra bersama tiga kakaknya berada di teras rumah ketika kami datang. “Bapak di mana?” tanya Pak Polisi lagi. “Di kantor polisi. Bapak dihukum,” jawabnya. “Bapak nggak ditengok?” Indra menyahut, “Bosan.”

I Nyoman Sura (45), ayah mereka, saat itu memang berada di kantor polisi. Ia menjalani pemeriksaan terkait kasus penganiayaan yang dilakukan terhadap istrinya. Hari itu, Renyeng hanya bisa tergeletak di dipan yang terletak di ruang tamu berukuran 2 m x 3 m itu. Saat kami temui, ia kesulitan bangun dari tempat tidurnya. Wajahnya lebam bekas pukulan. Di kepalanya, ada 17 tusukan. Ada satu luka robek yang besar, berdiameter lebih kurang 3 Cm, bernanah, dan berulat di kepalanya. Dua luka di dengan diameter yang lebih kecil, juga terlihat belum benar-benar kering.

Ampurayang, mata saya tidak bisa melihat dengan jelas,” tutur ibu 11 anak itu. Pendengarannya juga terganggu. “Badan saya sakit semua. Kepala pusing terus. Sakit di kepala ini perihnya minta ampun. Punggung saya juga sakit semua. Di telinga saya seperti ada bisul, kenyut-kenyut. Renyeng juga tak bisa makan dan minum dengan lancar. Tenggorokannya sakit jika dipakai menelan.

Ini adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga yang kedua kalinya dilakukan oleh Sura. Tahun 2005, ia melakukan kekerasan serupa terhadap Renyeng. Saat itu, Sura divonis hukuman penjara delapan bulan oleh hakim. Pengalaman itu, tak membuat Sura jera.

Malam itu, anak-anak mereka menginap di rumah kerabat. Hanya tersisa Indra yang tak ikut berlibur ke rumah pamannya. Pukul 01.00, gairah seksual Sura muncul. Renyeng yang kecapekan setelah bekerja di ladang seharian, tak meladeninya. Sura memaksa tetapi tak digubris Renyeng. Sura tersinggung. Ia marah. Renyeng dipukulinya. Renyeng hanya berusaha mengelak namun tak berhasil. “Saya tidak sempat menghindar karena tubuh saya sudah dicengkeram dari belakang dengan kuat. Leher dicekik dan dada saya ditekan,” kisah Renyeng. Ia pun berusaha menyelamatkan diri dengan berlari ke luar rumah.

Renyeng tertangkap. Ia jatuh tertelungkup di halaman rumahnya yang gelap. Sura gelap mata. Kepala istrinya ditusuk menggunakan sebilah kayu. ”Setelah itu, saya tak ingat apa-apa lagi. Saya pingsan,” ujar Renyeng. Melihat istrinya tak berdaya, Sura takut. Ia menggendong Indra dan membawanya pergi dari rumah. Tak ada yang mengetahui kasus itu kalau anak-anak mereka tak pulang dari rumah kerabat. Rumah mereka berada di tengah-tengah tegalan dan berjarak 2 Km dari jalan raya Kubu. Tak ada rumah penduduk di sekitar rumah mereka. Renyeng yang tergolek lemas segera dilarikan ke rumah sakit.

Tabiat buruk Sura mulai keluar sejak lima tahun terakhir. ”Suami saya tidak bekerja apa pun. Dia seperti orang gila,” kata Renyeng dengan suara parau. Meski tak bekerja, tiap hari, Sura tak pernah ada di rumah. Entahlah, dia pergi ke mana. Tiap pulang, Sura sering marah-marah. ”Kalau galaknya kumat, biasanya saya menghindar dengan berlari dan bersembunyi ke abian,” lanjutnya. Terkadang, Sura juga tak pergi ke mana-mana. Di rumah, ia tak berhenti marah-marah dan mengamuk.

Anak-anak mereka yang sebagian masih kecil-kecil, kerap menjadi sasaran kemarahan Sura. ”Kepala anak-anak sering dibentur-benturkan ke tembok rumah. Kadang-kadang, dia menakuti anak-anak dengan sebilah pisau. Kalau sudah begitu, biasanya anak-anak juga berlari menghindar,” lanjut Renyeng.

Tak pernah ada yang tahu, mengapa Sura bisa berkelakukan kasar seperti itu. ”Bapak selalu begitu meski berkali-kali diingatkan,” ujar Nyoman Dastra (23), anak ketiga pasutri tersebut. Tahun 2005, Sura pernah diperiksakan di Rumah Sakit Jiwa di Bangli. Kata dokter, tak ada kelainan yang dialami Sura.

Tahun 1999, Sura pernah mengalami sakit seperti sakit kuning. Berkali-kali berobat, baik medis dan nonmedis, tetap tak ada hasilnya. Sampai-sampai, rumah dan sumur mereka menjadi korban. ”Menurut balian, lokasi rumah dan sumur kami tidak pas. Ia menyuruh kami membongkar rumah dan menutup sumur agar bapak sembuh,” kata Dastra. Saran itu sudah dituruti namun sampai sekarang, ayah mereka belum kunjung sembuh. ”Kami malah kehilangan rumah,” ujar Dastra. Rumah yang kini mereka tempati, hasil bantuan dari anak pertama Sura dan Renyeng.

”Selama ini, saya dan dua kakak yang membantu orangtua,” kata Dastra. Dastra yang hanya bersekolah sampai kelas 5 SD itu bekerja sebagai tukang masak di sebuah restoran di Kuta. ”Sekarang saya dipecat karena tidak bisa bekerja. Saya harus mengurus ibu dan adik-adik,” susulnya. Biasanya, kalau ibu tidak sakit, adiknya yang duduk di bangku kelas 3 SD yang membantu di rumah. Dia memasak dan menemani adik-adik.

Kondisi mereka memprihatinkan. Luka di kepala ibunya, hanya dibersihkan menggunakan bulu ayam. ”Kami tak memunyai uang. Waktu membuka jahitan di kepala ibu, kami harus memanggil dokter ke rumah. Itu pun setelah saya berhasil meminjam uang. Yang penting ibu cepat sembuh,” katanya.

Kini, Sura tak bisa lari dari jeratan hukum. Ia harus menghadapi proses hukum. –rat, ard

Media muat: Koran Tokoh Edisi 506, Minggu (21/9).


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

kenapa karangasem selalu dan tetap menyimpan kepedihan sepetti ini? sekilan kilometer dari jalan, tak ada air, tanah kering? deskripsi yang terus ada di setiap berita? sementara pak bupati masih sibuk mengurus villa, lapangan golf di bukbuk, pelabuhan kapal pesiar di pdangbai?

Komentar oleh lodegen

betul. aku juga heran, tiap liputan masalah berat, selalu ke karangasem. mungkin ada korelasi dengan tingginya jumlah penduduk miskin di daerah itu.

Komentar oleh Ratna




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: