It’s My Life


Kiadan Menjawab Kegelisahan: Petani Kopi Jadi Pemandu Wisata
Oktober 9, 2008, 8:50 am
Filed under: Umum

UNTUK apa bekerja di luar desa, begitu simpulan yang didapat I Gede Wirata, petani kopi, sejak Dusun Kiadan, Desa Pelaga, Kabupaten Badung, tergabung dalam Jaringan Ekowisata Desa (JED) bersama tiga desa lainnya yaitu Tenganan Pegringsingan (Karangasem), Nusa Ceningan (Klungkung), dan Sibetan (Karangasem), akhir Februari 2002.

Pemikiran itu tak pernah terlintas dalam benak Wirata sebelumnya. Seperti pemuda desa lainnya, setelah tamat dari SMA 1 Abiansemal tahun 1990, ia berharap bisa bekerja di sektor pariwisata. Tak ada pekerjaan yang bisa diharapkan di desanya. Tiap hari selama enam bulan, Wirata membaca iklan lowongan pekerjaan di koran.

Beruntung, salah seorang kerabat mengajak lelaki kelahiran 5 Juli 1970 ini bekerja sebagai pemandu pariwisata. “Saya diajari memandu turis secara langsung,” tutur Wirata. Teknik memandu turis dan memperdalam bahasa Inggris dilakoninya saban hari. Setelah dirasa mampu, Wirata dilepas. Ia menjadi pemandu wisata paruh waktu. Kalau ada pesanan, ia baru bekerja.

Kegiatan itu dijalaninya setahun. Meski jauh dari Irak, pariwisata di Bali mengalami goncangan ketika perang di negara itu berkobar. Kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali menurun drastis. Situasi seperti itu berpengaruh secara langsung terhadap kehidupan Wirata. Ia tak lagi menerima pesanan. Padahal, ia tetap harus mendapatkan uang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Ia memilih pulang kampung, berpikir apa yang bisa dilakukan di desanya. “Akhirnya, saya memutuskan berjualan sayur-mayur ke kota,” kisah ayah dua anak ini.

Tahun 1999, ada pendekatan dari Yayasan Wisnu, organisasi nirlaba yang bergerak di bidang lingkungan yang memperkenalkan konsep ekowisata. Tujuan jaringan ini menciptakan masyarakat lokal yang kuat dan berdaya sehingga mampu berperan aktif dalam pengambilan keputusan tentang tata ruang dan kebijakan sumber dayanya dalam upaya mewujudkan pelestarian dan pemanfaatan lingkungan, budaya, sosial, dan ekonomi berbasis masyarakat. Setahun kemudian, mulai ada pendekatan lebih intensif. Warga Kiadan diberi pelatihan. Wirata ditunjuk mengikuti pelatihan pemandu ekowisata karena ia memiliki kemampuan berbahasa Inggris.

“Awalnya, kami memetakan terlebih dahulu potensi daerah yang kami miliki,” ujar Wayan Sukadana, warga Kiadan. Selama enam bulan, mereka turun ke lapangan, mendata wilayahnya. “Sejak itu kami baru sadar, betapa besar potensi alam yang kami miliki yang ternyata sangat berharga,” ujar Sukadana. Di Kiadan, ada sarang burung walet yang kerap dilirik orang luar. “Sebelum pemetaan, kami membiarkan mereka mencari sarang burung walet karena kami pikir itu tak penting. Sekarang kami melindunginya karena kami tahu betapa berharganya keberadaan burung walet di desa kami,” kata Sukadana.

Menjaga Lingkungan

Berbekal hasil pemetaan tersebut, mereka bergerak. “Kegiatan ini menjadi sebuah proses belajar masyarakat tentang lingkungan dan budaya lokal,” ujar Japa. Secara otomatis, mereka memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan seperti menebang kayu yang benar-benar layak tebang dan menanam pohon kembali, menghindari penggundulan tanah, dan penanaman dengan sistem teras siring di lahan miring. Warga Kiadan pun membuat jalan-jalan setapak untuk memperlancar sirkulasi barang pertanian di sepanjang jalur perkebunan dan persawahannya. Saat ada turis berkunjung, jalur distribusi barang pertanian itu berubah fungsi menjadi jalur trekking.

Jika ada tamu, Wirata didapuk menjadi pemandu wisata bersama lima orang penduduk lainnya. Mereka dilatih secara khusus menjadi pemandu wisata. Pilihan kegiatan diserahkan kepada turis yang menginap. “Hari pertama, kami menginformasikan semua yang ada di Kiadan kepada tamu. Setelah itu, mereka bisa memutuskan, kegiatan apa yang dipilih,” ujar Sukadana. Trekking, ikut menanam sayur atau memanen kopi, menjadi pilihan kegiatan. Ada dua alternatif jalur trekking yang bisa dilakoni: jalur pendek atau jalur panjang. Belajar di kebun kopi saja bisa memerlukan waktu berjam-jam.

Warga Kiadan menanam kopi jenis robusta sejak awal abad ke-20 yang dikenalkan pemerintah Belanda. Tahun 1980-an, pemerintah Indonesia mulai mengenalkan kopi jenis arabica kepada masyarakat. Usai berkeliling kebun kopi, paling tidak turis tahu berbagai jenis kopi, cara menanam hingga memanen sampai pengolahannya. “Pernah ada tamu dari Venezuela yang datang ke sini dengan membawa biji kopi mereka agar bisa dibandingkan secara langsung,” tutur Sukadana.

Selain kopi, masyarakat Kiadan juga menanam palawija dan sayur-sayuran. Tamu-tamu yang berkunjung ke Kiadan dapat mengetahui apa menu yang akan disajikan dengan melihat kebun-kebun sayur yang ada. “Kami memberi tahu sebelumnya karena semua makanan yang disajikan diambil dari kebun,” lanjutnya.

Kini, mereka juga mengembangkan padi gaga sebagai potensi lokal. Padi yang dikembangkan jenis beras merah. “Hal itu sebagai salah satu upaya mempertahankan ritual tradisi, yang berkaitan dengan upacara keagamaan,” ujar Made Japa.

Selain pemandu wisata, tukang masak dan bagian penataan kamar pun dilatih ahlinya dari manajemen Accor. “Lidah turis tak kuat terhadap masakan kami yang pedas. Karena itu, kami diajari cara meramu menu hingga penyajiannya,” ungkap Wirata. Sebagai pengelola ekowisata Kiadan, mereka tak digaji tiap bulan. Kalau ada tamu, mereka baru diberi bayaran. Mereka melakukan pertanggungjawaban keuangan kepada pihak banjar.

Akhir tahun 2007, terdapat sisa hasil usaha Rp 19 juta. Turis yang berkunjung pada tahun tersebut tercatat 127 orang. Tahun 2008 hingga Juni, sudah ada 200 turis yang berkunjung ke Kiadan. Pengunjung dari Inggris, Belanda, Hawaii, Australia, pernah menjadi tamu-tamu mereka. Tak sedikit yang datang untuk melakukan studi banding, terutama pekerja lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang yang sama.

Meski tak pernah mendapat bantuan pemerintah daerah seperti proyek agrowisata di Desa Beloksidan, desa tetangga mereka yang kini menyisakan onggokan restoran dan penginapan, Kiadan kian dilirik orang. “Kami hanya melakukan apa yang seharusnya kami lakukan. Kalau tidak ada kebersamaan di masyarakat, rasanya mustahil bisa seperti sekarang ini,” kata Jutak.

Modal Kerja Keras

Meski tak segemerlap pariwisata di Bali Selatan, aktivitas pariwisata di Kiadan menjawab pertanyaan besar atas kegelisahan terhadap keuntungan sektor pariwisata di Bali seperti yang disampaikan Kepala Bappeda Bali tahun 1991 dan dilontarkan banyak pihak hingga kini. Ketika melakukan kajian ulang atas Rencana Induk Kepariwisataan Bali yang disusun SCETO yang telah berumur 20 tahunan, ia mengemukakan, masyarakat Bali yang sebagian besar petani yang bertempat tinggal di pedesaan mengalami disparitas penghasilan yang demikian besar dibandingkan mereka yang bekerja di luar pertanian. Mereka hanya bisa mengejar sapi dan kerbau yang minum air kali atau telabah. Mereka tidak mampu mengejar ‘kuda’ atau ‘kijang’ bahkan ‘bebek’ yang minum bensin. Selain itu, masyarakat Bali mempertanyakan hasil kepariwisataan Bali yang begitu gemerlap. Mereka bertanya, apakah Bali untuk pariwisata atau pariwisata untuk Bali? I Gede Ardika, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia ketika itu pun tersentak. (Ekowisata Kerakyatan, Memiliki Kembali Bali: Wisnu Press dan Matamera Book).

“Ekowisata yang ditawarkan Kiadan tak mengubah pola hidup masyarakatnya,” ujar Made Japa, Kepala Dusun Kiadan. Kegelisahan masyarakat mengenai siapa sesungguhnya yang diuntungkan atas gemerlap dunia pariwisata tak terjadi di sini. “Kami tak memiliki investor. Pemilik dan pengelola pariwisata di Kiadan tak lain seluruh warga kami,” sambung Japa. Oleh karena itu, mereka tak beramai-ramai menjual tanah milik mereka seperti yang banyak terjadi di Badung Selatan.

Luas wilayah Kiadan 242,3 ha dengan keliling 8,49 Km. 3,48% dimanfaatkan sebagai pemukiman, 76,40% sebagai perkebunan, 5,39% hutan bambu sebagai daerah perlindungan jurang, dan 14,73% tanah negara yang digunakan sebagai kawasan hutan. Sebanyak 170 KK di Kiadan rata-rata memiliki lahan 0,5 ha per KK. Hingga saat ini, hanya 4 ha dari 180 ha tanah pribadi yang beralih hak milik ke tangan orang lain. “Ini juga karena kami menuruti pesan leluhur. Jangan pernah menjual tanah ayahan desa kepada orang lain. Jika mau dijual, sebaiknya dijual semuanya sekaligus,” ungkap Ketua Subak Abian Sari Boga, Nyoman Jutak. Tidak menjual tanah menjadi komitmen tak tertulis di kalangan warga Kiadan. Menurut Jutak, kondisi itu juga dikarenakan warga Kiadan yang mayoritas bekerja sebagai petani sangat rajin bekerja, turun ke kebun. “Modal kami hanya kerja keras. Kami tak punya uang banyak seperti investor umumnya,” lanjut Jutak.

Sebagai destinasi pariwisata potensial, Kiadan hanya menyiapkan rumah penduduk sebagai penginapan. Di kamar bertehel cokelat itu hanya dilengkapi dua tempat tidur ukuran satu orang yang terbuat dari bambu hitam yang dipelitur agar kealamiannya tetap terjaga. Di sudut barat daya kamar itu, ditempatkan almari pakaian setinggi 1,5 meter, berbahan bambu yang dibelah kecil-kecil dan dijejer bercelah-celah.

Kiadan tak punya Waterbom atau lobi hotel plus pelayan yang siap menjamu tamu yang baru datang dengan segelas jus jeruk. Kiadan hanya punya kandang sapi, air terjun, sawah bertingkat, kebun kopi, dan wantilan Subak Abian Sari Boga. Di wantilan milik masyarakat ini, para turis yang datang dijamu welcome drink secangkir kopi ‘look’ yang dimasak di tungku berbahan baku tanah liat, tepat di pintu masuk wantilan. Kopi asli Kiadan ini terasa lebih nikmat dan bercampur aroma kayu kopi yang dipakai sebagai bahan bakarnya.

Ekowisata yang ditawarkan Kiadan menjadi sebuah perjalanan wisata yang bertanggung jawab. “Kami tak meninggalkan pekerjaan kami sebagai petani, tetapi kedatangan turis menjadi sebuah bonus bagi kami,” ujar Wirata. – rat

Media muat: Koran Tokoh, Minggu (5/11)


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: