It’s My Life


Dianggap tidak Sehat Jasmani
November 12, 2008, 5:45 pm
Filed under: Umum | Tag:

TERLAHIR cacat bukanlah pilihan hidup Wayan Sukarmen. Ketika lahir, kaki bocah kelahiran 4 Desember 1998 ini bengkok. Ia sering merasa kesakitan. Perkembangan tubuhnya pun sangat lambat tak seperti balita seusianya.

“Setelah berumur satu tahun, ia baru bisa belajar duduk,” ujar Nyoman Rudiawan, kakaknya. Kata dokter, Karmen menderita osteoporosis, sama seperti Rudiawan. Tulangnya rapuh. Pada usia 6 tahun, Karmen pernah diterapi di Yogyakarta selama satu bulan. Putra pasangan Nyoman Mada dan Ketut Taring ini pun bisa berjalan. “Tetapi, itu hanya sebentar. Saat di Bali, kakinya secara tak sengaja diinjak temannya. Akhirnya, ia tak lagi bisa berjalan,” tutur Rudiawan.

Sama seperti Karmen dan Rudiawan, menyandang cacat bukanlah impian kakak beradik Sang Ayu Nyoman Puspa dan Sang Ayu Made Sriani. Ketika berusia 5 tahun, Sang Ayu Nyoman terserang virus, mengalami demam tinggi hingga kejang-kejang. Diagnosa dokter, ia menderita polio. Ia pun kesulitan berjalan kaki sendiri. “Saya sering terjatuh jika berjalan kaki sendiri,” kenangnya. Karena itu, kakinya kerap bengkak dan berdarah.

Sebagai penyandang cacat fisik, menurut Sang Ayu Nyoman, masalah mental adalah masalah utama. “Orang sering menilai dari kondisi fisik terlebih dulu,” kata Sang Ayu Nyoman. Sialnya, penilaian itu selalu negatif. Pengalaman buruk pernah dialami Sang Ayu Made. Ketika duduk di bangku SD, ia selalu menjadi juara kelas. Saat kelas 5 SD, ada lomba murid teladan. “Guru saya ngomong, meski juara, bukan Sang Ayu yang dikirim karena kondisi fisik Sang Ayu tak pantas diteladani. Saya tak pernah bisa melupakan kata-kata itu,” kenang Sang Ayu Made.

Kejadian serupa juga dialami Ida Ayu Wiadnyani Manuaba yang menyandang cacat karena semua tulang persendiannya lepas. Ia selalu menjadi juara I waktu duduk di bangku SMP. “Saat ada pembukaan lowongan beasiswa, saya ikut. Waktu mendaftar, saya terpaksa keluar. Persyaratan pertama pencalonan beasiswa itu, harus sehat jasmani dan rohani. Saya dianggap tidak sehat jasmani. Perasaanku hancur, saya merasa sangat terbuang,” kisah Dayu Wiadnyani.

Terkadang, pintar juga menyulitkan jika orang di sekeliling mereka tak acuh. Itu yang dirasakan Sang Ayu Nyoman. “Saat SD, guru saya sering memberi pertanyaan sebelum pulang sekolah. Siapa yang bisa menjawab soal dengan betul lebih dulu, boleh pulang lebih awal. Saya selalu bisa menjawab pertanyaan paling pertama,” tutur Sang Ayu Nyoman. Ia paling tidak menyenangi kegiatan ‘siapa betul boleh pulang’ itu. Meski rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari rumah, ia tak bisa sampai di rumah lebih dulu. “Teman-teman sudah 30 menit di sampai di rumah, saya masih di jalan. Kalau pulang lebih dulu, saya ditinggal teman-teman,” katanya.

Dukungan yang keliru dari orang terdekat juga bisa memberatkan hidup penyandang cacat. “Kami tak pernah dimotivasi oleh orangtua untuk mandiri. Kalau dilihat mencuci pakaian sendiri, saya langsung disuruh berhenti dan pakaian saya dicucikan,” kata Sang Ayu Nyoman. Kasih sayang yang berlebih dan keliru, membuat mereka makin tak berdaya.

“Orangtua saya terlalu sayang, takut saya makin menderita. Karena itu, saya tak boleh ke mana-mana. Mereka bilang, kasihan kalau melepas anak saya, dia tak bisa melakukan apa-apa,” tutur Dayu Wiadnyani. Pemikiran seperti ini, menurutnya, makin mengecilkan mental penyandang cacat.

“Sikap itu membuat kami seperti tak berharga, malah membuat saya ingin cepat mati. Saya malu dilihat orang. Kalau dipandang orang, saya ingin menangis. Sepertinya mereka mau menelan saya,” ujar Sang Ayu Nyoman. Karena penilaian negatif itu, ia pernah berniat bunuh diri. Ia pernah menonton tayangan televisi, kalau bunuh diri bisa dengan minum Baygon. “Tetapi, itu hanya bisa menjadi niat belaka. Saya tidak bisa keluar rumah, tidak bisa membeli Baygon sendiri. Kalau menyuruh orang lain kan ketahuan kalau mau bunuh diri,” katanya sembari tertawa.

Menemukan Komunitas

Untunglah, niat buruk itu tak pernah terlaksana. Tahun 2001, Dayu Wiadnyani, Sang Ayu Made dan Sang Ayu Nyoman menemukan komunitasnya. Seorang penyandang cacat yang juga pelukis, Putu Suriadi mengawali pertemuan 15 penyandang cacat sebagai ajang berbagi di rumahnya. “Kami hanya berkumpul dan saling bercerita,” ujar Sang Ayu Made. Lama kelamaan, kegiatan itu diminati warga penyandang cacat. Peserta pertemuan itu pun makin banyak. Kegiatan yang dilakukan pun makin variatif seperti berenang, membuat keramik, dan jalan-jalan ke tempat wisata. Kegiatan yang didanai masing-masing peserta itu berjalan hingga dua tahun. “Kami berpikir, kami memerlukan wadah bagi penyandang cacat. Keinginan untuk bergabung dengan Yayasan Bali Hati tidak dikabulkan karena mereka memfokuskan pada bidang pendidikan bagi orang miskin. Kami disarankan membuat yayasan sendiri,” paparnya.

Dua tahun kemudian, tepatnya 5 Mei 2003, mereka mendirikan Yayasan Senang Hati, dengan harapan organisasi ini bisa memberi rasa senang dan bahagia. Mereka mendapat sumbangan tempat di Jalan Sasibrata, Tampaksiring, Gianyar beberapa waktu setelah berdiri. Sumbangan Glen Adams, dari Amerika Serikat itu berupa hak pakai terhadap bangunan dan gedung dengan sisa masa kontrak hingga akhir tahun 2008.

Mereka juga mendirikan Panti Guna Senang Hati pada 14 Februari 2005 untuk mengasramakan anggota mereka. Dari 225 anggota, 37 orang di antara bertempat tinggal di panti. Tiap hari, mereka mendapat bantuan permakanan dari pemerintah sebesar Rp 2.500/orang penghuni panti. Mereka juga mengadakan program kesehatan seperti fisioterapi secara gratis kepada penyandang cacat tiap minggu, aquatherapy di kolam renang milik salah satu sukarelawan, olah raga seperti atletik, angkat berat, catur, dan renang; program pendidikan seperti kursus komputer, bahasa Inggris, bahasa Jepang, membaca dan menulis, kejar paket A dan B, menari, dan bermain drama; program ekonomi yang meliputi kelompok menjahit, melukis, dan membuat kerajinan tangan. “Anak-anak usia sekolah kami masukkan di sekolah umum, sedangkan orang dewasa yang tidak menamatkan sekolahnya atau tidak pernah sekolah, kami ikutkan program kejar paket A dan B,” kata Sang Ayu Made, Bendahara Yayasan Senang Hati.

Kursus yang diselenggarakan di panti didukung oleh para sukarelawan. “Karena penghuni panti banyak yang tidak memiliki latar belakang pendidikan, kami tidak memaksa mengikuti kursus tertentu. Mereka bebas mengikuti kursus yang sesuai dengan minat masing-masing,’ imbuh Dayu Wiadnyani, Sekretaris Yayasan Senang Hati. Beberapa anggota mereka, berprestasi. Sang Ayu Sumiati, menjadi atlet angkat berat putri yang kerap menyumbang medali emas. Agustus lalu, anggota mereka juga berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di bawah laut. “Kami semua berlatih menyelam,” ungkap Dayu Wiadnyani. Selain itu, anggota yayasan yang berminat di bidang tari dan drama, kerap tampil di berbagai acara. Tarian Kursi Roda yang diajarkan oleh Eilat Toui dari Kanada menjadi tarian mereka. “Awalnya kami malu-malu. Tetapi berkat dorongan Eilat Toui, kami jadi percaya diri,” kata Sang Ayu Nyoman, Sekretaris Panti Guna Senang Hati.

Bagi penyandang cacat yang menekuni keterampilan menjahit, melukis, dan pembuatan kerajinan tangan, yayasan mendukung pemasarannya melalui pameran di hotel, museum, atau galeri. Yayasan juga bekerja sama dengan pengusaha dari Italia dan Belanda yang secara rutin memesan hasil karya mereka. “Dari hasil penjualan tersebut, 15% diberikan kepada yayasan untuk biaya operasional sehari-hari, 85% milik pengrajin. Jika bahan baku disediakan yayasan, maka hasilnya dibagi dua,” ujar Dayu Wiadnyani. Saat mereka mandiri, mereka bisa dilepas. Hingga awal tahun 2008, telah ada 26 anggota yang memiliki usaha sendiri.

“Kalau mereka memiliki keterampilan, minimal lulus SMA, dan tingkat kecacatan tidak terlalu parah, kami arahkan bekerja di perusahaan,” lanjutnya. FIF, Hotel Conrad, Hotel Four Season, Hotel Alila, The Bale, Hotel Amandari, Kuta Discovery Hotel, Bali Access Travel, dan Redi Print menjadi mitra mereka selama ini. “Perusahaan-perusahaan itu mau menerima penyandang cacat,” kata Dayu Wiadnyani. Yang terpenting, katanya, perusahaan tersebut mau memberi kesempatan bagi penyandang cacat untuk mencoba. “Mereka diperlakukan sama seperti pekerja lain yang tidak cacat fisik. Mereka mengikuti masa magang lebih dulu. Kalau mampu, bisa diterima. Mereka tidak menilai dari fisik tetapi kemampuan kami,” susulnya.

Kemandirian itu juga diajarkan dalam kehidupan sehari-hari. Di Yayasan Senang Hati, satu-satunya orang yang tidak cacat adalah supir yayasan. Mereka melakukan sendiri semua tugas dan tanggung jawab sehari-hari seperti memasak, membersihkan lingkungan tempat tinggal, dll.

Akses Terbatas

Suatu ketika, Sang Ayu Made bertanya kepada seorang petugas di sebuah supermarket di Ubud yang hanya memiliki tangga berundak sebagai akses pintu masuk ke toko itu. Jawaban si petugas, “Maaf Bu, penyandang cacat jumlahnya kan tidak banyak. Mungkin cuma Ibu yang cacat.” Kontan saja, Sang Ayu Made menjawab, “Bukan begitu Pak, itu karena akses bagi penyandang cacat di fasilitas umum sangat terbatas. Kalau tidak, pasti mereka keluar semua.”

Data Dinas Sosial Provinsi Bali tahun 2007, jumlah penyandang cacat di Bali mencapai 29.910 orang yang terdiri atas penyandang cacat fisik 23.913 orang, penyandang cacat mental 4.755 orang, dan 1.242 penyandang cacat ganda. Di Bali, akses bagi penyandang cacat, terutama di tempat umum, amat terbatas.

“Kalau diundang mengikuti pelatihan, saya selalu melihat WC-nya lebih dulu,” ungkap Sang Ayu Made. Jika lebar pintu kamar mandi tidak bisa dilewati kursi roda, ia tak akan mengikuti pelatihan tersebut. “Urusan ke kamar mandi sangat pribadi, tidak ada yang bisa menolong saat seperti itu. Kalau saya tidak bisa mengakses dengan mudah, bisa jadi masalah,” katanya. Lebar kamar mandi bagi pengguna kursi roda minimal 3 x 3 meter. Itu supaya mereka bisa memutar kursi roda. Di dekat WC, harus ada pegangan agar mereka berdiri sendiri. Jika bangunan berarsitektur Bali, dijamin mereka tak bisa mengaksesnya. Pintu masuknya kecil dan penuh tangga berundak. “Kami tidak bisa melalui tangga berundak,” katanya.

Sayangnya, karena hanya fasilitas umum yang minim akses bagi mereka yang tersedia, mau tak mau mereka harus menggunakannya. Suatu ketika, Sang Ayu Made pernah minta digendong supir yayasan yang mengantarnya karena sudah tak sanggup menahan kencing. “Kalau sudah selesai, saya teriak-teriak. Jika fasilitas umum di Bali seperti itu terus, kapan kami bisa mandiri?” tanyanya retoris. – rat

Media muat: Koran Tokoh, 26 Oktober 2008


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

yah standarisasi seperti inilah yang membuat bangsa kita tidak maju-maju.. sehat jasmani kan belum tentu sehat secara mental dan spiritual atau bahkan moral!!.. banyak contoh kita temui, orang yang secara jasmani dinyatakan sehat, namun bobrok di mental dan moralnya.. kenapa ga ada aturan harus sehat moral ya???? harusnya dibuat tuh.. bukan cuman buat seleksi siswa teladan, tapi mungkin bisa untuk seleksi-seleksi teladan yang lainnya..

Komentar oleh rusakparah




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: