It’s My Life


Mengupas Berita, Menguak Akar Permasalahan Bangsa
November 12, 2008, 5:50 pm
Filed under: Umum | Tag:

Judul : Behind Indonesia’s Headlines (Mengungkap Cerita di Balik Berita: 50 Kasus Asli Indonesia)

Penulis : Christovita Wiloto

Tebal : 265 halaman

Penerbit : PowerPR Global Publishing

Upaya Christovita Wiloto menulis dan mengungkap cerita di balik berita 50 kasus Indonesia yang dimuat di berbagai media massa menjadi sebuah pengingat, penggugah, dan pemberi solusi atas masalah-masalah yang terjadi di Indonesia. Berita-berita yang dimuat di berbagai media massa, bagi praktisi public relations yang juga pendiri PowerPR itu, tak cukup dibaca begitu saja.

Jurnalisme adalah bercerita dengan suatu tujuan. Dalam cerita atau berita itu tersirat pesan yang ingin disampaikan wartawan kepada pembacanya. Begitu kata Luwi Ishwara dalam buku “Catatan-catatan Jurnalisme Dasar”. Bagi Christovita, dalam berita, ada masalah lain yang harus dikupas dan itu menjadi sebuah cerminan kejadian sesungguhnya.

Dalam berita ada karakteristik intrinsik yang dikenal sebagai nilai berita (news value), lanjut Luwi Ishwara. Nilai berita ini menjadi ukuran yang berguna, atau yang biasa diterapkan, untuk menentukan layak berita (newsworthy). Kedekatan antara pembaca dengan media massa juga menentukan berita yang diturunkan. Seperti yang tercermin dalam tulisan pertama Christovita dalam buku ini, “Pandangan Nasional vs Internasional”. Begitu banyak isu dan kejadian yang terjadi di Indonesia. Tetapi, terjadi perbedaan dalam pengutamaan pemuatan isu. Isu berkategori luar biasa tapi tak tersaji secara menarik di media nasional adalah diizinkannya Indonesia membangun reaktor nuklir oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan diharapkan paling lambat pada 2016, Indonesia sudah membangun empat pusat listrik tenaga nuklir berdaya 1.000 Megawatt. Isu ini mencuri perhatian publik internasional secara luar biasa, sama halnya dengan isu kerja sama antara Indonesia dan Rusia yang bekerja sama dalam pembangunan Stasiun Peluncur Roket Luar Angkasa di Biak, Papua dan penemuan puluhan spesies baru dan spesies amat langka oleh tim peneliti gabungan Conservation International Indonesia bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Cendrawasih (Uncen), dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Papua I di Pegunungan Foja, Mamberamo, Papua.

What do you know about Indonesia? If you’ve never been there before, you might recall the following stories from Australian news media..Terrorism! The largest muslim population in the world, right on our doorstep. Religious schools throughout the country preaching violent jihad, world domination and extreme sharia law where hands are chopped off petty thieves. Bombs in Bali.. Pretty terrifying. What else? Disasters! Erupting volcanoes, floods, earthquake, and of course, tsunamis. Villager paddling canoes through rivers used to be streets. Malaria. Bird flu. Continuing… The death penalty. “Hapless” Australian drug traffickers stuck in Indonesian jails. Corruption,” tulis Eli Court mengawali artikelnya berjudul “Beyond the Headlines” (Indonews, No. 3, Agustus-September 2008).

“Lalu, sekarang, apa persepsi kita sendiri terhadap Indonesia? Apakah yang terpikir di kepala kita masih gambaran Indonesia yang penduduknya penuh keramahan? Indonesia sebagai negara yang kaya sumber daya alam dan makmur, gemah ripah loh jinawi? Dulu kita disegani oleh bangsa-bangsa lain. Tak cuma di kawasan Asia dan Afrika, tapi juga seluruh dunia. Walaupun sebagai bangsa yang baru merdeka, kita sangat disegani dunia, bahkan menjadi inspirasi bagi kemerdekaan bagi bangsa-bangsa lain di dunia. Saat itu, Indonesia memegang peranan penting dalam percaturan politik dunia. Setiap kepala negara merasa berkepentingan untuk dekat dan mendapat dukungan dari Indonesia. Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah kejayaan itu kini sudah tinggal sejarah?” kata Christovita dalam “Reposisi Indonesia”. Peristiwa yang terjadi di Tanah Air, baik atau buruk, juga menjadi incaran media massa luar negeri. Jika terlalu banyak peristiwa buruk yang terjadi di Indonesia, tentu akan berdampak pada citra Indonesia apalagi jika media massa tersebut menganut konsep bad news is good news. Publik internasional akan menilai Indonesia dalam citra yang negatif. Persepsi negatif tentang Indonesia akan memengaruhi reputasi produk, perusahaan, iklim bisnis dan segala hal yang berkaitan dengan Indonesia menjadi buruk.

Karena itu, ia menilai kita perlu mem-PR-kan Indonesia secara positif. “Caranya, marilah kita memulainya dengan hal-hal sederhana. Tak usahlah berpikir terlalu muluk, apa yang bisa kita sumbangkan kepada dunia, tapi mulailah dengan menumbuhkan budaya malu. Jangan menjadi katak dalam tempurung,” kiat Christovita. Dalam tulisan “Kontroversi Media Asing”, ia menambahkan, kampanye berkelanjutan untuk membangun citra positif Indonesia dengan kerja keras, dan dedikasi penuh pada kejayaan negeri ini.

“Hafalkah kita dengan syair Indonesia Raya?” tanya Christovita dalam “Indonesia Raya”. Jawabannya pasti beragam. Beberapa kali, tiap kali bangsa ini merayakan Hari Kemerdekaannya, media massa kita – khususnya televisi – menyiarkan tayangan yang meminta seseorang menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ada yang bisa, ada pula yang tersipu-sipu karena lupa berapa kali harus melagukan refrain-nya. Pada masa kini, nasionalisme kita dipertanyakan. Kebanggaan kita pada Tanah Air dipertanyakan. Contoh kecil, budaya konsumerisme yang mengagungkan produk luar negeri makin dipuja. “Lagu Indonesia Raya bisa menjadi salah satu instrumen perekat untuk meningkatkan kecintaan kita pada Tanah Air,” kata Christovita.

Jika begitu banyak masalah yang terjadi di Indonesia, apakah rakyat Indonesia masih saling peduli? Jawabannya, ya. “Solidaritas spontan yang ditunjukkan masyarakat, tak peduli ras, suku, agama maupun stasus sosial secara konkret menunjukkan betapa bangsa ini sebenarnya masih memiliki ikatan kekeluargaan yang amat kuat,” tulis Christovita dalam “Mega Tsunami” yang membahas peristiwa tsunami di Aceh, 26 Desember 2004.

Menggugah Generasi Penerus

Christovita mengungkap berbagai macam kasus dalam buku yang mendapat rekor Muri “Buku dengan Komentator Terbanyak 70 Tokoh” ini antara lain masalah pendidikan, sosial, politik dan ekonomi. Mengupas nilai intrinsik di balik berita yang terjadi Tanah Air yang dimuat media massa ibarat menguak tabir akar permasalahan yang melilit bangsa Indonesia dan Christovita berhasil menunjukkannya. Ia menyatukan semua pengalaman yang dimilikinya: corporate communications, analisa keuangan dan investor relations, serta keahlian dalam bidang komunikasi. Melalui buku yang merupakan buku lanjutan dari buku pertamanya, “The Power of Public Relations” ini, Christovita berusaha menggugah generasi penerus bangsa ini agar kian peduli terhadap kemajuan bangsa Indonesia. “Di tangan generasi muda-lah, Indonesia akan mampu menjadi bangsa yang adil dan makmur,” tulisnya dalam kata pengantar.

Ada saran penting saat membaca buku ini: untuk lebih memahami setiap tulisan, perhatikan tanggal, konteks, sebelum, saat, dan setelah tulisan ini dimuat. Jika diabaikan, bisa dipastikan pembaca akan mengajukan “komplain” karena tulisan dalam ini buku terasa terlambat diberitakan seperti yang termuat dalam tulisan “Kampanye” berikut: “Pertempuran besar untuk memenangkan Pemilu 2004 sudah di depan mata.” Jika tak teliti, pembaca akan komplain karena saat ini kita tengah menanti Pemilu 2009.

Tulisan yang dimuat dalam buku ini merupakan kumpulan artikel yang ditulis Christovita mulai 24 Agustus 2003 sampai 23 Maret 2008. Meski begitu, tulisan ini masih relevan dengan peristiwa yang tengah terjadi saat ini. Artikel pertama, “Pandangan Nasional vs Internasional” yang ditulis 12 Maret 2006 sepertinya sengaja ditempatkan sebagai artikel pertama untuk menunjukkan adanya perbedaan persepsi media massa terhadap kejadian yang dimuat sebagai berita utama walau itu menjadi satu-satunya artikel yang dimuat tidak berurutan sesuai tanggal penulisan. Kesalahan yang tampak pada buku ini adalah kekeliruan mencantumkan tanggal penulisan artikel berjudul “Mega – Tsunami”. Tsunami Aceh terjadi pada 26 Desember 2004 tetapi tanggal penulisan artikel tercantum 9 Januari 2004. (Ratna Hidayati)

**Dalam versi asli, belum disunting. Dimuat di Bali Post Minggu, 2 November 2008


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Hello para pembaca, memang biasanya kata-kata “Tak dikenal, maka tak disayangi”, merupakan slogan yang sangat berarti. Saya belum kenal dengan Christovita, tapi sudah mendalami isi hatinya sebagai seorang yang peduli bangsa. Orang-orang seperti itu bisa dihitung dengan jari-jari, karena di dalam kondisi Indonesia masa kini menjadi . Tulisan-tulisan menrupakan isi yang pada kebanyakan peristiwa akan selalu berkonotasi . Ada hal yang perlu diperhatikan, maafklan bila kata-kata saya kurang berkenan bagi yang masih belum . Saya sering mempertanyakan hal itu, apakah tidak ada kemungkinan, bahwa pada umumnya kita mempunyai konotasi yang ??? Sifat positif maupun negatif sangat tergantung dari suatu dari unsur , yang sering kali . Saya ini, sejak lama sekali (kini mencapai umur 83) menjadi dari perilaku sang manusia, baik dibidang nasional maupun internasional.

Cetusan pikiran yang saya tuangkan pada artikel di-kolom pada web Indosiar sejak k.l. enam tahun silam,merupakan yang ingin melihat dunia ini menjadi suatu .

Kini telah diketemukan melalui suatu riset yang mengungkapkan kondisi dunia kini merupakan kita semua, baik yang berkuasa maupun yang tidak dan membentuk yang dinamakan pada atmosfir dan diluar itu. Untuk mengerti serta mendapatkan persepsi yang murni, kita harus terlatih terlebih dahulu pada suatu yang dinamakan . Apa itu??? Silahkan akses webnya Indosiar tersebut dan buka , para pembaca akan ketemu dengan “Magic Brain” dan mengikuti judul-judul yang menyangkut hal kondisi tersebut.

Sdr(i) Christovita, marilah kita bekerja berkesinambungan untuk merubah kondisi dunia. Ada saja orang-orang yang berkeinginan demikian, tapi kebanyakan tidak mempunyai dana cukup untuk investasi suatu pelatihan mental yang dapat disamakan dengan belajar bela diri ‘karate atau kungfu’ yang kategorinya masih Fisik dan ‘Obyektif’. Kemudian unutk mengelola suatu web khusus seperti a.l. dan lainya yang mengarah kesemuanya pada tujuan yang sama.
Ketahuilah, bahwa apapun dan untuk apapun penggunaan indra-indra. Kemurnianya tergantung dari kondisi yang , yang hanya dapat difungsikan, bila ada keseimbangan antara kondisi dan , dimana yang terakhir disebut, tidak dapat diganggu oleh provokasi apapun yang berkonotasi negatif.

Demikianlah Kenyataanya,
See You,
Lasmono Dyar.

Komentar oleh L.Abdulrify D.




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: